The Unpredictable Life “40 Hari Ibu”

 

wirda

Khawatir.

Sebagai manusia biasa, saya ingin bercerita. Sekarang ini, saya sedang bercerita lewat keyboard di depan komputer layar besar yang membuatku nyaman.

Ya, aku akan menceritakan orang-orang yang ku sayangi. Dia yang menyayangiku tanpa syarat. Walaupun aku bukan manusia yang baik, tapi dia yakin aku akan jadi seseorang, seseorang yang lebih baik dan patut dibanggakan.

Dia yang menggendongku waktu aku jadi manusia kecil ‘bodoh’ yang menjahit tangannya karena ingin melihat warna-warni benang di telunjuknya. Dia menangis. Dia tak sanggup melepaskan cengkraman mesin jahit itu dari jariku. Dia mengambilku dan membawaku ke mantri. Dibawah jatunya air hujan, di tengah remang-remang cahaya Magrib. Dia memelukku dan menangis. Syukurlah aku tak apa.

Ada waktu, di kala banyak PR yang belum aku kerjakan. Lembaan LKS yang berisi pulihan soal, aku keluhkan padanya. Jika dia tak bisa, aku akan merengek untuk memaksa agar dia bisa. Semua PR ku, aku keluhkan padanya. Beruntungnya, aku berhasil mengerjakan PR tepat waktu. Aku berangkat setiap hari ke sekolah dengan kondisi yang terbaik. Aku sudah sarapan. Aku memakai seragam yang bersih dan rapi. Aku siap belajar dan menjadi juara bertahan di SD N Gajah 1. Aku yakin, itu berkat do’a dia setiap harinya. Yang menyetrikakan seragam, menyiapkan makanan, dan mengerjakan PRku di tengah-tengah kesibukannya mencari nafkah.

Samapai SMA pun, dia yang membangunkanku di kala Shubuh datang. Meski aku tak menjawab karena aku pura-pura tak mendengar, dia tetap sabar. Dia menggoreng bakwan, kering tahu, membungkus nasi kucing, dan siap-siap berjualan karena Bapak sudah menanti kedatangan barang dagangan.

Ya, dia Ibuku. Tepat kemarin (16/02) adalah 40 hari Ibu meninggalkan dunia ini. Selama 10 tahun, dia hidup bersama Diabetes di dalam tubuhnya. Dan di tahun ke10 nya, dia mulai merasakan tubuhnya yang berat. Keluar masuk rumah sakit. Tak sadarkan diri, dan pulang. Aku tak menyangka Ibu akan pulang secepat ini. Aku ingin dia menungguku pulang setelah UAS ku selesaikan. Tapi, Allah ingin segera bertemu ibu.

Pagi itu, aku rapikan kamar untuk bersiap ujian, tapi ternyata, itu lah ujian yang sebenarnya. Aku pulang dengan Mbak Zen, teman pondok, menemui Ibu. Kulihat ibu dengan tubuhnya yang kaku. Aku ingin memeluknya. Tapi tidak dengan air mata. Aku menciumnya. Tapi dia tak berdaya. Dia tak bergerak Ya Allah. Secepat inikah? Iya, waktu tak bisa berulang. Tak ada lagi sosok yang dengan tulus memperhatikan baju yang ku kenakan, membuat sarapan, mendengar curhatan anak rantauan. Ibu, aku di sini untuk Ibu, langakah yang kutapaki adalah untukmu. Ketulusan dan keikhlasan merawat dan membesarkanku, tak akan pernah terbayar oleh apapun dariku. Maafkan aku, atas dosa-dosa yang pernah ku perbuat padamu.

Yogyakarta, 17 February 2017

 

 

 

Advertisements

Play Work Pray at Rumah TahfidzQu

_dsc0411

English Camp Ramdhan #3

Tawaran manis berupa goresan coklat pekat yang cocok untuk dirawat. Ya, menjadi tutor di kelas Bahasa Inggris Mr. Bob Kampung Inggris Pare yang bekerja sama denga Rumah Tahfidz berbuah keluarga yang harmonis.

Rasa nyaman sudah muncul dari awal bertemu santri kilat di asrama Rumah Tahfidz, Deresan. Makin lengkap bertemu dengan tutor tutor hebat dari berbagai latar belakang. Mulai dari kalangan hits bulu mata indah seperti adik Tsaqib, koordinator cantik yang insyaAllah berjodoh dengan Hafidz, Nes yang menghilang karena sayang duit, Vina yang ngehits tapi banyak haters karena banyak gossip, mas Ferdy yang sibuk dengan UAS jadi harus mobat mabit, Emma yang tiba-tiba diem tapi sebenernya suka tomat wkwkwkwk

Sungguh, enam hari bersama kalian itu sesuatu banget. Merasakan indahnya perjuangan ditengah-tengah barakah bulan Ramadhan, relakan ngaji dengan pak Kyai untuk bertemu kalian. Kayuhan sepeda di buru waktu adzan yang harus ku kejar. Hari demi hari mengajar dan evaluasi, semakin hari semakin kita polesi dengan perubahan yang lebih baik. Mulai dari tertukarnya jadwal, kelasku yang kupulangkan karena blank tak ada lagi ide dadakan, sampe kontrol waktu yang masih perlu ada perbaikan.

Semua harus sadari kekurangan, agar kelak murid bisa dapatkan ilmu yang optimal. Terlebih kepercayaan orang tua yang sudah titipkan anak mereka ke pangkuan pengajar. Sungguh, luar biasa kita niatkan bukan hanya untuk masa sekarang, tapi keberlanjutan ilmu yang mereka akan dapatkan.

Banyak murid-murid yang mengesankan. Dari yang suka berjoget honey-shake ala Kiky, Fadhl yang nerocoh karena sumpek lihat anak-anak jail, Alfian yang prospektif jadi pemimpin, Bila yang polos dan ngga mau diem, ah dan masih banyak lagi anak-anak kece yang siap terjun di peradaban zaman.

Intinya, berkesan berkesan berkesan. Seperti yang kutulis saat kuingat pasti wajah-wajah kalian, “Alhamdulillah, ada kesempatan dapat keluarga baru di Deresan, waktu 6 hari yang indah tuk dikenang, tak cukup hanya mengajar, tapi tentang masa depan, bersama Islam dan Iman. Maaf atas segala kekhilafan dalam balutan canda dan ungkapan spontan semua untuk mencairkan agar suasana terasa menyenangkan.”

 

Yogyakarta, 25 Juni 2016 ~ 20 Ramadhan 1437

The Upbringing for Children

 

images

“You’d better not come to school today if you do not recite the Iqro first,” she scolded

That is a part of words that a mother said to her daughter that I heard this morning . She was more likely angry because her daughter does not behave what she wants. Her daughter prefers playing than reciting Quran. What the mother does is to remind her. She was mad at her. The daughter cried out loud and tried to make a deal with her mother so that her mother do not get mad at her. Then, she pronounced the Arabic letter  weepingly to follow her mother words. Yes, her mother wants her to recite and concern more about Quran than her formal school.

That was possible to do for her as a teacher of Quran. She knows her children well and wants her children being more concern with Quran than dunya. Her children are the next generation to be good leaders in the future. However, there are several principals that make me think about Islamic parenting i.e. children are born pure and will imitate their parents as role models.

Children have no sin when they come to this life. “No child is born except on al-fitra (Islam or primordial human nature) and then his parents make him Jewish, Christian or Magian, as an animal produces a perfect young animal: do you see any part of its body amputated?” [Sahih Muslim] They are born pure. If they misbehave, they imitate what they see and hear. Thus, parents do not have to blame or grumble because the children implement what they have seen, heard and felt to their environment.

Reference:

http://productivemuslim.com/islamic-parenting/

Yogyakarta, 6/12/16

Joint Internship with Melbourne Students

Today is the fourth day of our internship in PT. YPTI in Kalasan, Yogyakarta. The good atmosphere, we started to build among us. Gani, the guy who feel he was in the wrong place, tried to convince himself that he was in the right place which has to use all his capability to interact with others. Maya, my two other partners, looks better to express her idea. She seems more comfortable now. Me, I am trying to improve everything in my social interaction with those three Deakin students.

Starting from the first day, I feel like I am not a person who could be able awesome at the first impression. Then the next day I learn how I blend in a diverse group. I tried to arrange words to ask while working the project about the marketing research. The group analyzed the marketing of PT YPTI, particularly in mold division. We helped to add some ideas about the marketing strategy. Mr. Heru, the director of mold division, didn’t tell ask clearly about our duty. However, we kept on arranging some analysis and questions to ask the director, Mr. Petrus.

After scheduling to the director’s secretary, Mr. Pertus brought us to the factory that we could look around to see the worker, machine, and product. For me, it is the first time to be in a factory with big machines producing small parts of items with precision. By that time, the group got more information about things to do with the project. To complete the project, we would make a design of educational toys that has not existed yet. We were planning to visit one or two kindergarten to observe what educational toys they used to teach the students in a class. At the first week, we have made several ideas of educational toys and cultural merchandises.

The second week, we visit Al-Azhar kindergarten to conduct an observation. We were hosted very warm with the teachers and staff there. Mr. Dedi, the library staff, led us to look around the school. Students looked shy to see us but the teachers seemed very exciting. What a nice experience to be around the cute kindergarten children! No more tired but happy with them, but then we decided to cancel visiting Brilliant kindergarten as the next school.

Of course, we got trouble to leave without any permission before. Instead of visiting the next school which has been scheduled by UTY, we went back to the YPTI only to have lunch and play around. Personally, I felt I was mistaken to be in that such a fool situation to leave without any confirmation. However, Mr. Eko, our supervisor looked patient to solve the problem. I asked if we should reschedule to visit the next kindergarten but he recommended to cancel it.

In fact, we kept visiting the Brilliant Kindergarten as they have prepared anything for us. At that day, the teachers hosted us very amazing, They looked so exciting and full of smiling to interact with us. We were explained about the school and the classes they had as well as the educational toys they used to teach the students. Of course, taking photos was the most exciting part. The teachers were very happy to have guests like us, from overseas.

We spent our good time in a different language and culture. We might understand each our culture even though sometimes it is hard to tell why I could not give a hug or an only cheek kiss goodbye for them. The warm feeling of saying goodbye does not have to represent in that way because of a commitment and responsibility. For me, this program is the real life of my future dream. Now, I still remember my teachers’ words what to be like as a Moslem. But later, in that truth culture, who’s gonna keep me in that belief that I have been holding as strong as I can. No one could guarantee it unless God who keep and save me from all those temptations.

Nevertheless, communication and interaction are taught there. Jokes, sometimes dirty and flirty, also are important ones to build a good and memorable time.  And yes, this meeting make me missing about moments I have been done with them. Thank you, Tim, for being like a big brother and sharing as a married man. Thanks, Tegan, for understanding us when those two guys are not and giving us such a brand joke of David who. The last is David, thank you for being a nice guy with coffees in the hotel. Thank you for Maya and Gani, for being my awesome partners to do this job well.

Yogyakarta, 27 November 2016

Tidak Sekuat yang Kalian Kira – Kalian juga Bisa

Menimba ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Allah sudah menjanjikan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

Sesudah menyelesaikan belajar saya di fakultas Sekolah Vokasi jurusan D3 Bahasa Inggris, Universitas Gadjah Mada; saya memiliki cita-cita untuk melanjutkan studi saya ke jenjang Sarjana. Beberapa orang akan tanya kenapa dulu tidak mengambil program sarjana. Dengan tegas saya jelaskan bahwa inilah skenario Allah yang sekarang. Dari beberapa pilihan, belajar di kampus kerakyatan adalah pilihan terbaik dan tinggal di Jogja adalah kejutan istimewa-Nya.

Sejak awal saya kuliah di Jogja, tidak ada pikiran akan punya motor untuk kuliah dan jalan-jalan mengelilingi Jogja. Ternyata, sudah 3 tahun saya melewati banyak peristiwa dengan sepeda saya yang ke-2. Saya pernah mengikuti Jambore Sepeda Lipat Nasional (JAMSELINAS) bersama komunitas pecinta sepeda lipat dari banyak kota besar di Indonesia dengan Mbak Angela – dosen saya dari Amerika. Rute jambore itu mulai dari geduang gubernur sampai ke Imogiri. Sungguh hebat perjuangan pinky, melewati jalur terjal naik turun di daerah pedesaan.

Kebersamaan dengan pinky harus saya kurangi, mungkin saja saya sudahi. Setelah saya mulai membuat keputusan untuk belajar ke jenjang sarjana, saya mulai berpikir kebersamaanku dengannya. Dulu, ada dua pilihan untuk kuliah program transfer Sastra Inggris (Sasing) di Sekolah Tinggi Bahasa Asing atau universitas. Kedua perguruan tinggi itu sama dekatnya dengan pondok pesantren dan tempat kerja. Setelah survey ke kedua PT, saya putuskan untuk memilih universitas yang memiliki lingkungan kultural di sana. Betapa terkejut setelah saya konfirmasi lokasi kuliah, ternyata untuk semester 3 ke atas ada di kampus 3 yang letaknya kira-kira 9km dari pondok pesantren.

Selama survey, informasi yang saya dapatkan adalah prodi sasing sudah pindah ke kampus 1 yang dekat dengan ponpes dan tempat kerja. Namun, setelah saya her-registrasi ulang, kampus 1 hanya untuk mahasiswa baru. Sayangnya, saya bukanlah mahasiswa baru yang ‘baru’. Keadaan ‘restless’ menyertai saya seketika. Saya coba membuat beberapa kemungkinan jalan untuk melangkah. Tawaran untuk mendaftar ke universitas Malang dan tetap menimba ilmu agama yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Sempat berpikir juga, untuk memulai berkarya di Demak dan menjaga ibu di rumah. Ada pikiran bahwa inilah saatnya saya menjaga ibu, yang mungkin menginginkan anaknya untuk di rumah dan menyudahi perjuangan di tanah rantauan. Tapi bapak berkata lain. Beliau sangat mendukung saya agar menyelesaikan program sarjana. “biarlah Bapak yang menjaga ibu, kamu lanjutkan saja kuliahmu di Jogja”, kata beliau. Sosok kuat seperti beliau, adalah teladan.

Keluarga dan orang-orang dekat adalah jalan untuk berpikir jernih. Mereka lah pemberi saran dan wejangan, tapi keputusan tetaplah ada di tangan saya. Teman kampus, mbak Ima, saya tidak menyangka bahwa respon menanggapi cerita galau saya sangatlah bijak. ‘selesaikan apa yang sudah kamu awali’, sebenarnya adalah kalimat yang sudah saya ketahui. Namun di keadaan mental yang sedikit lemah, kalimat itu menjadi penawar yang mustajab. Saya putuskan untuk meneruskan perjuangan saya di kota Jogja.

14369135_164878173959957_5294073536267157504_n

Saya membeli sepeda baru. Dia bukanlah pengganti pinky, tapi generasi penerusnya. Beberapa orang menyarankan agar saya naik gojek atau naik TJ, tapi saya memilih untuk membeli sepeda gunung. Sepeda itu saya beri nama Isabelle, karena design dan warnanya yang terlihat cantik walaupun sepeda itu dirancang untuk laki-laki. Dengan harga Rp 1,63 juta, saya bisa berangkat kuliah untuk menimba ilmu. Alhamdulillah, akan selalu ada solusi kalau ada kemauan. Kondisi keuangan yang tidak cukup untuk beli sepeda itu, teman saya dengan ringan tangan melunasi jumlah uang yang harus saya bayarkan dengan akad hutang.

Setiap hari, saya berusaha istiqomah bahagia dengan keputusan-keputusan saya. Banyak respon orang-orang di sekitar dan beberapa mengkhawatirkan saya. Wajar, awalnya saya sendiri juga tidak kuat kalau membayangkan akan pulang-pergi setiap hari dari kampus-Realia-ponpes. Meskipun demikian, saya pun bisa setelah menjalaninya. Saya tidak sekuat yang mereka kira, karena tentunya mereka bisa melakukan hal yang sama. Keadaanlah yang memberi pilihan.

Yogyakarta, 12 Oktober 2016

 

Candi Sambisari – Kecantikan yang Lama Terpendam

Perjalanan kami mulai di Candi Sambisari. Dari Realia, makan waktu 30 menit untuk sampai di candi yang terletak di Desa Sambisari, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman Jogjakarta.

slide1

Menurut informasi yang saya kumpulkan, candi Sambisari ditemukan oleh petani pada tahun 1966. Waktu itu, dia sedang mencangkul sawah. Kemudian dia menemukan bongkahan batu yang mempunyai ukiran. Setelah itu, Dinas Purbakala melakukan penelitian. Ternyata, bongkahan batu itu adalah pecahan dari komplek candi yang sekarang bernama Candi Sambisari.

Kita dapat melihat keindahan candi Sambisari yang terletak di bawah permukaan tanah. Dikelilingi oleh hijaunya taman dan sawah, candi ini sangat menarik untuk dijadikan lokasi berfoto. Pemandangan aktifitas warga di sekitar juga bisa kita lihat karena lokasinya yang dekat dengan pemukiman warga.

Tidak terbayang bahwa material vulkanik 6.5 meter telah menimbun peradaban abad ke-9 pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung selama 1000 tahun lebih. Sekarang candi ini sudah menampakkan keanggunannya yang yang tersembunyi selama 1000 tahun lebih.

Tiket masuk ke candi ini Rp 5.000 untuk turis lokal dan Rp 10.000 untuk turis asing. Namun, saya dan teman saya yang kebetulan turis asing, membayar masing-masing Rp 5.000. Mungkin dia tidak terlihat seperti bule. Entahlah.

Perjalanan selanjutnya ke Candi Sari.

Yogyakarta, 4 Oktober 2016

 

 

The Culture Reflection by The Language Used

world_handsMorning light didn’t make me feel okay. Getting up with a heavy body, I was starting this day to spread a good energy. I would have an Indonesian course today without my coordinator. She was taking a vacation while her job is replaced by Mbak Endah, the accountant. Today is a national holiday. Some staff have taken a holiday for two days. However, two students have class with 4 different teachers.

Arriving at Realia, I saw Mbak Endah was sitting at the teacher table, alone. She seemed ready to a course coordinator. Two students did not arrive yet. There was Mas Richards who became the first teacher of Pak Ben while I would teach him for the second session. A new book would be started today but Richards, looked like not ready for his morning classroom because he didn’t update of what the last class happened.

I came to Pak Ben and Mas David when the time was exactly at 8 a.m. However, they were in a good conversation, like always. I asked him, “pagi Pak Ben?” “Pagi Wirda, apa kabar?” “Baik, apa kabar Pak Ben?” “Aku baik.” “Are you on the teacher list?” “Ya, saya guru Anda.”
Just like what I have talked to you yesterday, he is a student who tries to find a learning method based on his ways. He has much talks in the class and has few of practical Indonesian language. He tends to more compare using another language of his to make him noticeable about his new words.

In the middle of our conversation, he was talking about Indonesian people and language. “So, I can conclude that there are only two words I need to live in Indonesia; “habis” and “belum”. Cause when I ordered something in a restaurant, they would say, habis atau belum. Or they would say InsyaAllah. But for me, an InsyaAllah response doesn’t make sense that God will permit to let that happened; because, in fact, he could not provide four cigarettes at that day. What answer I would expect that is “Okay, I am the owner of this shop, so I would make sure that in three days, I would provide four cigarettes. Instead of they say, InshaAllah”.

What I could explain to him was, the word InsyaAllah has become our culture since Moslem is the majority religion in Indonesia. When I explain to him that actually, people would make an effort when they say insyaAllah, he didn’t believe it, because,  he didn’t find an effort to provide the cigarettes.

Oh, language reflects a culture. In fact, not only Moslem who use the word InsyaAllah for to promise but also non-Moslem is one of Indonesian culture through a language. However, the word InsyaAllah which is interpreted to the willingness and agreement has been misunderstood that it is a doubt response instead of yes.

About for two hours in the class with Pak Ben, seems not long for me. I didn’t feel anxious like my other classes before, just because I confuse what topic I would like to talk about. That makes me feel like okay to teach him. And he seems friendly with other people. So, let’s see today of my last class with him because next week, Martha doesn’t give me classes with him.

Yogyakarta, 5May 2016

Go Out and See the World

go and travel the worldhttp://pinterest.com/

This morning, exactly on 8 a.m – 10 a.m, I had a class with Mr. Ben Kramer. I call him Pak Ben for short because it is an Indonesian class. Yeay, I am one of the teachers team for his study in Realia Language and Culture Center. Today is my second meeting with him in a classroom after Friday afternoon class. I remember that day, it was a formal meeting at first minutes of my classroom. But when I went to the book, he told some facts which I considered, he liked talking and an interesting person. However, today is more flowing with many interesting topics and few of personal conversation.

At the first minutes, I asked about his holiday at the weekend. He told it was fine and he said that Jogja is a quite city. He could not find beer in a resataurant. There were no clubs or young people who got drinking or dancing until morning. He wondered where the young people are. I answered that actually in Jogja, there are several clubs and some students go there to drink or dance, but not much.

Going to the exercise about Tidak dan Bukan concept, overall he was okay to understand it. However, he forgot some vocabularies interchangeably. At the question number 2, the sentences states about the cars brand. And I was asked about the cars coming from Japan and Germany. My God, I didn’t really know about it. “Your class is not intersting,” he said.  I was surprised to hear that. I said that I was not interested to find out about the cars. “How come? You are a teacher,” he said. “Okay, I will find about the car after this.” Then, he explained me more about cars in many countries. I just didn’t have any pictures in my mind about it.

At the middle of our conversation, he asked, “when will you get marriage?” “Me?” It was his second surprised question. I answer that I made a plan to get marriage before 25 years old. And then he suggest me that I need to travel and see the world. “You can learn many thing including language and cultures when you are outside your countries.” However, I told him that the problem-probably most of Indonesian people- is the money that we needed to survive there. And we have family that we need to take care of them.

He was the one who had been travelled in many countries and able to speak some languages  “By making a timeline, you can decide when you will learn your job, then you can travel, to Singapore, or  to Saudi Arabia where you can teach English for the women. Being a professional one. Which country next? Then you will tell people around you, that there are a lot of differences in this world.” That is what I could parapharse for his suggestion.

His son is also in the same ages like me, and now he was just graduated. “Now he is in South Africa with his friends. Find a girl and travel again. I let him go. It is your choice. I don’t know it is only my suggestion because I don’t know what is your parents would like to,” he added.

Sounds like it is my part of my own life. Travelling and learning. Staying at the same place doesn’t make me any choices to live unless I have a strong intention why am I there. Probably, it could be happened and God let it happen. But, it seems I need to arrange the path I would like to take. It doesn’t come alone, it comes with your courage and enthusiasm. God knows which ones is better and proper.

Yogyakarta, 02.05.16

Hari Rabu

Selanjutnya adalah Memulai belajar, Pengaturannya dan Urutannya.

Hari Rabu adalah hari sempurna untuk memulai belajar. Hari itu adalah hari turunnya cahaya dari Allah. Maka, guru Syaikhul Islam Burhanuddin Rahimahullah  meriwayatkan hadits di bawah ini:

ما من شئٍ بدئَ في يوم الاربعاءِالاّ وقد تمَّ

Tiada sesuatu yang dimulai di hari Rabu melainkan pasti akan sempurna.”

5

Hari Rabu adalah hari yang pedih bagi kaum kafir dan penuh berkah bagi orang mukmin. Seperti Syeikh Abu Yusuf Al Hamadani Rahimahullah yang memulai seluruh amal kebaikannya di hari Rabu.

Dalam kitab Ta’lim muta’alim, secara ringkas bahwa murid baru perlu mengulang pelajaran sebanyak dua kali secara perlahan. Setelah itu tetap diulang setiap harinya. Jika dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk memahminya, misalkan perlu 10x, maka diakhir juga 10x karena sudah terbiasa dan sebaiknya tidak meninggalkan kecuali kesusahan. Murid baru juga perlu membaca kitab yang lebih mudah agar tertarik dan mudah mengena.

Namun tambahan untuk kami dari ustadz, kebiasaan mempelajari kitab memang tidak biasa bagi banyak santri di pondok kami. Menurut saya, perlu usaha membagi waktu, menghilangkan malas dan tekad yang kuat untuk belajar yang istiqomah (konsisten) dan efektif.

Wallaua’lam bishowab.

Yk, 15.03.16

Ngaji Kitab Ta’lim

Learning Ta’lim Muta’alim written in Persia language. We are usually taught by Ustdz Shobah, but on this great chance, an Ustdz who usually teaches us Tauhid sat down surprisingly in front of us.

We continued to our next material about food and beverages concerned for students. After giving meaning for each word from Arabic into Javanese pegon, Ustdz Miftah explained more the translation related to the real life. This is my resume.
Maka dari itu, disarankan untuk makan roti kering dan anggur dan sebaiknya cukup agar tidak sering haus. Lebih lanjut, karena haus akan menambah dahak.*Dikatakan: “Tujuh puluh nabi sepakat bahwa kelupaan disebabkan oleh banyaknya dahak dan banyaknya dahak disebabkan banyaknya minum, banyaknya minum disebabkan oleh banyaknya makan.”

AKHLAK

Disarankan untuk bersiwak atau sikat gigi untuk mengurangi dahal dan menambah ingatan. Siwak adalah sunnah agar menambah pahal saat membaca A- Quran.

**Merusak banda bermaksud bahwa makan yang banyak akan menyebabkan resiko penyakit yang muncul sehingga perlu biaya untuk berobat ke dokter.

***Hukum makruh –

Cara mengurangi makan banyak yakni dengan makan sedikit yang bisa memperoleh faedah seperti tabel di atas.

Ustadz juga menambahkan, “makan setelah lapar, tidur setelah ngantuk”. Makna dari kalimat tersebut adalah berpuasa diantara kebanyakan orang lapar dan melakukan Shalat malam khususnya Tahajjud diantara lelapnya orang-orang tidur.

Diriwayatkan bahwa Syeikh Nawawi Al-Batani, mengarang kitab Syafinatun Najah, adalah guru Thariqoh yang menjadi murid Syeikh Yusup Al-Hamadani. Beliau tinggal di pesisir tetapi tidak makan ikan, atas ijazah berguru dengan Imam Nawawi.

“Memakan buah delima banyak tidak lebih baik dari memakan ikan yang sedikit”

Maksudnya, makan ikan menyebabkan kemalasan, jika dibandingkan dengan buah delima, maka lebih baik makan buah delima. Tapi untuk keutamaan makan sedikit, maka lebih baik, walaupun yang sedikit itu adalah makan ikan.

Wallahua’lam bishowab.

Yk, 15.03.16