Joint Internship with Melbourne Students

Today is the fourth day of our internship in PT. YPTI in Kalasan, Yogyakarta. The good atmosphere, we started to build among us. Gani, the guy who feel he was in the wrong place, tried to convince himself that he was in the right place which has to use all his capability to interact with others. Maya, my two other partners, looks better to express her idea. She seems more comfortable now. Me, I am trying to improve everything in my social interaction with those three Deakin students.

Starting from the first day, I feel like I am not a person who could be able awesome at the first impression. Then the next day I learn how I blend in a diverse group. I tried to arrange words to ask while working the project about the marketing research. The group analyzed the marketing of PT YPTI, particularly in mold division. We helped to add some ideas about the marketing strategy. Mr. Heru, the director of mold division, didn’t tell ask clearly about our duty. However, we kept on arranging some analysis and questions to ask the director, Mr. Petrus.

After scheduling to the director’s secretary, Mr. Pertus brought us to the factory that we could look around to see the worker, machine, and product. For me, it is the first time to be in a factory with big machines producing small parts of items with precision. By that time, the group got more information about things to do with the project. To complete the project, we would make a design of educational toys that has not existed yet. We were planning to visit one or two kindergarten to observe what educational toys they used to teach the students in a class. At the first week, we have made several ideas of educational toys and cultural merchandises.

The second week, we visit Al-Azhar kindergarten to conduct an observation. We were hosted very warm with the teachers and staff there. Mr. Dedi, the library staff, led us to look around the school. Students looked shy to see us but the teachers seemed very exciting. What a nice experience to be around the cute kindergarten children! No more tired but happy with them, but then we decided to cancel visiting Brilliant kindergarten as the next school.

Of course, we got trouble to leave without any permission before. Instead of visiting the next school which has been scheduled by UTY, we went back to the YPTI only to have lunch and play around. Personally, I felt I was mistaken to be in that such a fool situation to leave without any confirmation. However, Mr. Eko, our supervisor looked patient to solve the problem. I asked if we should reschedule to visit the next kindergarten but he recommended to cancel it.

In fact, we kept visiting the Brilliant Kindergarten as they have prepared anything for us. At that day, the teachers hosted us very amazing, They looked so exciting and full of smiling to interact with us. We were explained about the school and the classes they had as well as the educational toys they used to teach the students. Of course, taking photos was the most exciting part. The teachers were very happy to have guests like us, from overseas.

We spent our good time in a different language and culture. We might understand each our culture even though sometimes it is hard to tell why I could not give a hug or an only cheek kiss goodbye for them. The warm feeling of saying goodbye does not have to represent in that way because of a commitment and responsibility. For me, this program is the real life of my future dream. Now, I still remember my teachers’ words what to be like as a Moslem. But later, in that truth culture, who’s gonna keep me in that belief that I have been holding as strong as I can. No one could guarantee it unless God who keep and save me from all those temptations.

Nevertheless, communication and interaction are taught there. Jokes, sometimes dirty and flirty, also are important ones to build a good and memorable time.  And yes, this meeting make me missing about moments I have been done with them. Thank you, Tim, for being like a big brother and sharing as a married man. Thanks, Tegan, for understanding us when those two guys are not and giving us such a brand joke of David who. The last is David, thank you for being a nice guy with coffees in the hotel. Thank you for Maya and Gani, for being my awesome partners to do this job well.

Yogyakarta, 27 November 2016

Advertisements

Tidak Sekuat yang Kalian Kira – Kalian juga Bisa

Menimba ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Allah sudah menjanjikan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

Sesudah menyelesaikan belajar saya di fakultas Sekolah Vokasi jurusan D3 Bahasa Inggris, Universitas Gadjah Mada; saya memiliki cita-cita untuk melanjutkan studi saya ke jenjang Sarjana. Beberapa orang akan tanya kenapa dulu tidak mengambil program sarjana. Dengan tegas saya jelaskan bahwa inilah skenario Allah yang sekarang. Dari beberapa pilihan, belajar di kampus kerakyatan adalah pilihan terbaik dan tinggal di Jogja adalah kejutan istimewa-Nya.

Sejak awal saya kuliah di Jogja, tidak ada pikiran akan punya motor untuk kuliah dan jalan-jalan mengelilingi Jogja. Ternyata, sudah 3 tahun saya melewati banyak peristiwa dengan sepeda saya yang ke-2. Saya pernah mengikuti Jambore Sepeda Lipat Nasional (JAMSELINAS) bersama komunitas pecinta sepeda lipat dari banyak kota besar di Indonesia dengan Mbak Angela – dosen saya dari Amerika. Rute jambore itu mulai dari geduang gubernur sampai ke Imogiri. Sungguh hebat perjuangan pinky, melewati jalur terjal naik turun di daerah pedesaan.

Kebersamaan dengan pinky harus saya kurangi, mungkin saja saya sudahi. Setelah saya mulai membuat keputusan untuk belajar ke jenjang sarjana, saya mulai berpikir kebersamaanku dengannya. Dulu, ada dua pilihan untuk kuliah program transfer Sastra Inggris (Sasing) di Sekolah Tinggi Bahasa Asing atau universitas. Kedua perguruan tinggi itu sama dekatnya dengan pondok pesantren dan tempat kerja. Setelah survey ke kedua PT, saya putuskan untuk memilih universitas yang memiliki lingkungan kultural di sana. Betapa terkejut setelah saya konfirmasi lokasi kuliah, ternyata untuk semester 3 ke atas ada di kampus 3 yang letaknya kira-kira 9km dari pondok pesantren.

Selama survey, informasi yang saya dapatkan adalah prodi sasing sudah pindah ke kampus 1 yang dekat dengan ponpes dan tempat kerja. Namun, setelah saya her-registrasi ulang, kampus 1 hanya untuk mahasiswa baru. Sayangnya, saya bukanlah mahasiswa baru yang ‘baru’. Keadaan ‘restless’ menyertai saya seketika. Saya coba membuat beberapa kemungkinan jalan untuk melangkah. Tawaran untuk mendaftar ke universitas Malang dan tetap menimba ilmu agama yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Sempat berpikir juga, untuk memulai berkarya di Demak dan menjaga ibu di rumah. Ada pikiran bahwa inilah saatnya saya menjaga ibu, yang mungkin menginginkan anaknya untuk di rumah dan menyudahi perjuangan di tanah rantauan. Tapi bapak berkata lain. Beliau sangat mendukung saya agar menyelesaikan program sarjana. “biarlah Bapak yang menjaga ibu, kamu lanjutkan saja kuliahmu di Jogja”, kata beliau. Sosok kuat seperti beliau, adalah teladan.

Keluarga dan orang-orang dekat adalah jalan untuk berpikir jernih. Mereka lah pemberi saran dan wejangan, tapi keputusan tetaplah ada di tangan saya. Teman kampus, mbak Ima, saya tidak menyangka bahwa respon menanggapi cerita galau saya sangatlah bijak. ‘selesaikan apa yang sudah kamu awali’, sebenarnya adalah kalimat yang sudah saya ketahui. Namun di keadaan mental yang sedikit lemah, kalimat itu menjadi penawar yang mustajab. Saya putuskan untuk meneruskan perjuangan saya di kota Jogja.

14369135_164878173959957_5294073536267157504_n

Saya membeli sepeda baru. Dia bukanlah pengganti pinky, tapi generasi penerusnya. Beberapa orang menyarankan agar saya naik gojek atau naik TJ, tapi saya memilih untuk membeli sepeda gunung. Sepeda itu saya beri nama Isabelle, karena design dan warnanya yang terlihat cantik walaupun sepeda itu dirancang untuk laki-laki. Dengan harga Rp 1,63 juta, saya bisa berangkat kuliah untuk menimba ilmu. Alhamdulillah, akan selalu ada solusi kalau ada kemauan. Kondisi keuangan yang tidak cukup untuk beli sepeda itu, teman saya dengan ringan tangan melunasi jumlah uang yang harus saya bayarkan dengan akad hutang.

Setiap hari, saya berusaha istiqomah bahagia dengan keputusan-keputusan saya. Banyak respon orang-orang di sekitar dan beberapa mengkhawatirkan saya. Wajar, awalnya saya sendiri juga tidak kuat kalau membayangkan akan pulang-pergi setiap hari dari kampus-Realia-ponpes. Meskipun demikian, saya pun bisa setelah menjalaninya. Saya tidak sekuat yang mereka kira, karena tentunya mereka bisa melakukan hal yang sama. Keadaanlah yang memberi pilihan.

Yogyakarta, 12 Oktober 2016