A Year of Your Return

  • Tidak menyangka, setahun sudah berlalu. Ketidaanmu menorehkan titik hidup yang berliku. Tak tajam kurasa. Tapi berbeda.

Kebiasaan dimanja, dimasakkan, disiapkan, diceritakan, didengarkan oleh setumpuk kisah di area perjuangan pelan-pelan hilang. Seketika. Kecepatanku beradaptasi pun tidak sebagus yang kubayangkan. Aku sedikit tertatih. 

Kisah membekas itu, bulan Ramadhan pertama tanpamu. Aku coba siapkan bekal untuk mengganti peranmu di rumah. Dari mulai menu masak harian sampai menyiapkan suguhan untuk lebaran. Tapi malam itu, kumandang takbir sungguh mengingatkan jiwa-jiwa yang berpulang. Puing-puing kenangan mulai muncul membentuk satu kesedihan. Aku tak sanggup menahan. Tak kuasa air mata jatuh perlahan.

Ibu, engkau sudah pergi ya? Padahal aku masih membutuhkan banyak hal darimu. Banyak hal yang belum kuwujudkan, banyak hal yang belum tersampaikan, banyak hal yang belum kupersembahkanKebahagiaanmu di dunia juga belum terpuaskan. Semoga engkau damai di pangkuan Tuhan. 

Allahummaghfir la haa, warham haa, wa ‘aafi haa wa’ fu’an haa ☺

Aamiin

Demak, 28 Des 2017/9 Ba’da Mulud 1439H
 

Advertisements

Mengapa Aku Diciptakan

Masih dengan keraguan-keraguan dan pertanyaan, kenapa saya ada di sini? Tinggal di pondok pesantren. Bekerja dengan orang-orang dari banyak latar belakang. Adakah kesepakatan yang sudah saya buat dengan Tuhan sebelum saya dilahirkan?

Pertanyaan itu berhenti dengan pertanyaan, apa hakikat penciptaan manusia di dunia yang saya ajukan ke Yai Mukhtar tadi malam.

Adanya manusia di dunia adalah untuk menunjukkan kekuatan dan kebesaran Tuhan, Allah SWT. Sebagaimana saya tulis di artikel sebelum ini, bahwa tugas manusia hanya untuk beribadah. Manusia berbeda dengan mahluk lainnya. Bukan binatang yang akan berpikir tentang keilmuan untuk mengatur dunia. Bukan malaikat yang senantiasa bersujud menyembah Tuhan. Bukan setan dan iblis yang membangkang karena kesombongan. Manusia adalah manusia, yang punya nafsu dan akal.

Nafsu lah yang menjadi pembeda dengan mahluk lainnya. Nafsu penting untuk keberlangsungan manusia sebagai manusia. Nafsu makan akan mendorong manusia untuk makan dan akal akan membuat manusia memilih makanannya, bukan asal makan dan tidak tahu aturan. Nafsu syahwat, disebutkan oleh Yai Mukhtar, bahwa adanya kelahiran manusia karena nafsu syahwat. Ini pun ada aturannya, tidak sembarang bisa dilakukan dengan siapa saja melainkan dengan mahram, pasangan yang halal. Dan karena nafsu, manusia punya angan-angan dan tujuan. Punya arah tentang hal-hal yang ingin dilakukan dan dicapai. Manusia dan nafsunya, tidak perlu dimatikan tapi dikendalikan.

Nafsu itu diperlukan. Jangan dimatikan, tapi dikendalikan.

Adanya nafsu ini, manusia adalah mahluk Tuhan yang berbeda. Inilah tanda adanya kehidupan bahwa ada perbedaan. Manusia jauh lebih tinggi derajatnya dari malaikat ketika manusia (dengan nafsunya) beribadah pada Tuhan. Mengingat malaikat diciptakan hanya untuk bersujud pada Tuhan tanpa nafsu dunia sedikitpun. Sedangkan iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia sepanjang hari dan malam. Sungguh lebih buruk dari Iblis dan setan apabila manusia tidak beribadah pada Tuhan. Maka lengkap lah, kehidupan ini.

Perbedaan menciptakan dan membuktikan adanya kehidupan.

Proses perjalanan manusia lahir di dunia dan kembali ke pencipta-Nya nyatanya penuh lika-liku coba. Tidak pernah tahu akan dilahirkan dari rahim siapa dengan kondisi yang bagaimana dan dengan warna kulit dan jenis rambut seperti apa. Apakah orang tua seorang Kiai, atau bandar narkoba, petinggi negara atau penjaga biara, ibu rumah tangga atau wanita penggoda. Lahir dan besar dengan berbagai macam tantangan. Terkadang ada hal-hal yang membuat perjalanan ini menjauh dan menyepi dari keramaian memuji Tuhan. Atau sebaliknya, keraguan menumbuhkan rasa penasaran untuk mencari jalan mengenal Tuhan.

Karena hidayah adalah murni urusan Tuhan. Berbeda dengan rahmat dan ridho Tuhan. Ini ditempuh dengan cara mematuhi perintah Tuhan sebagaimana yang ada di Al Quran dan Hadits. Jalur menjadi orang beriman dan bertqawa adalah cara mendapat rahmat dan ridho-Nya di dunia dan kehidupan setelahnya. Akhir kata, ibadah apa yang bisa kita banggakan untuk-Nya.

Sungguh, jika kamu ingin menjadi orang yang alim, maka belajarlah. Ingin menjadi orang yang kaya, maka bekerjalah. Ingin mengenal pencipta, maka beribadahlah. Tidak ada yang tiba-tiba. Semua perlu proses dan usaha. Inilah letak ikhtiar manusia. Bekerja bisa jadi jalan mendekat dengan Tuhan. Belajar di kampus bisa jadi salah satu cara mengenal kebesaran Allah lewat keilmuan.

Karena surga dan neraka adalah pilihan. Dengan nafsu dan akal, mana yang akan kita pilih untuk menuju jalan pilihan. Yang utama dan yang paling utama, tujuan hidup adalah mencari ridhoNya lewat ibadah sehari-hari yang kita jalankan.

Begitulah sedikit yang saya rangkum dari Yai Mukhtar.

Bawah masjid, 17/12/17

Wallahu a’lam bishowab..

 

 

Manusia sebagai Pengatur Dunia

Malam ini adalah malam jawaban. Beliau Ustadz Mukhtar. Sedikit menyita perhatian waktu tahu pertama kali cara beliau mengajar. Ada rokok di tangan. Sedikit kukerutkan kening. Namun, ketika duduk dan merendahkan hati untuk menerima ilmu dari beliau, batin ini terus tertunduk. Sambungan kitab Nashoihul ‘Ibad dan analoginya mudah diterima dan sesuai sekali (relatable) untuk kami.

Screen-Shot-2014-12-16-at-1.42.59-PM.png

Tentang Imam Sibli yang masuk surga karena rasa kasihnya terhadap seekor kucing, beliau menyatakan bahwa surga itu mutlak hak prerogratif Allah. Manusia tidak tahu jalan atau amal apa yang akan membawa ke surga. Juga kisah Imam Ghozali, yang jalur surganya tidak disangka-sangka. Beliau membiarkan si lalat yang dahaga meminum air tinta pena saat beliau sedang belajar. Tidak ada yang tahu. Masa yang sekarang dan esok akan seperti apa.

Itulah. Tentang surga dan neraka, ada seorang teman yang tidak memercayainya. Sehingga dalam keseharian, perwujudan aktifitasnya tertuju pada dunia, apa yang bisa dilakukan agar selamat dari dunia. Ini tidak bisa disamakan saat orang memercayai bahwa ada kehidupan sesudah kematian – akhirat. Orang yang percaya akan ini, segala perbuatannya di dunia seharusnya tertuju pada akhirat – untuk ibadah.

Dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56, “Wama Kholaqtul Jinna Wal Insa Illa Liya’budun ” (dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku).

Beribadah. Manusia diciptakan untuk beribadah. Beribadah yang seperti apa? Apakah menarik diri dari lingkungan untuk khusyu’ dan fokus beribadah pada Tuhan. Sedangkan manusia kini sedang hidup dan berada di dunia. Lantas, untuk apa sih urip neng donya? Untuk apa segala pepaes (perhiasan) yang ada kalau tidak untuk manusia?

Dan segala aktifitas kalau diniatkan untuk ibadah, maka jadilah ibadah. Bahkan hal-hal yang sangat keduniaan, tapi selama ditujukan untuk kehidupan yang kekal, jadilah bekal amal. Menjadi khalifah di bumi. Pengatur kehidupan di bumi. Adalah tugas manusia.

Terasa berat di usia hidup yang tidak lama untuk memelajari dunia dan seisinya. Untuk belajar banyak hal-hal di masa-masa terdahulu. Dan jawaban-jawaban atas peristiwa-peristiwa yang penuh tanya.

Dan beliau mengatakan, khalifah di sini bukanlah dunia secara literal dunia melainkan dunia sesuai kapasitas masing-masing. Bisa jadi menjadi khalifah untuk keluarga kecil adalah kapasitasnya dan jalan yang membawanya ke surga. Bisa jadi dengan menjadi istri yang mengurus rumah tangga dengan tulus ikhlas adalah jalan menuju ridho-Nya yang membawa keberkahan dunia dan kehidupan setelahnya. Bisa jadi menjadi pemimpin di komunitasnya adalah pemberian Allah untuknya untuk menjadi khalifah bagi anggota-anggotanya. Dan begitulah yang saya dengar dari mereka.

Wallahu a’lam bishowwab..

Yogayakarta, 18/12/17

 

 

 

 

 

Ibadah, untuk apa?


“Aku lihat orang-orang yang lempeng saja, tidak beribadah, mereka pun baik-baik saja,”

Beberapa kali pembicaraanku dengan beberapa teman yang aku anggap berada dalam prosesnya mengenal Tuhan. Mereka pekerja keras, rajin dan sangat ringan tangan menolong sesama. Tapi status muslim, tidak mengharuskannya untuk beribadah – shalat.

Islam tapi tidak shalat. Banyak orang di luar sana yang pada nyatanya seperti itu. Tapi itu terasa miris apabila mereka adalah orang terdekat, teman kuliah atau teman bekerja. Bukan merasa lebih baik dari mereka, tapi seperti bingung harus melakukan apa. Justru, pikiran mulai mempertanyakan keharusanku untuk beribadah di dunia.

Dengan ridho Allah, manusia diciptakan. Tidak ada pencipta yang tidak suka dengan yang diciptakan, bukan? Pasti ada alasan dan tujuan. Yang pasti, Sang Pencipta sayang dengan apa yang diciptakan. Lalu, bagaimana tentang keberadaan surga dan neraka Tuhan? Penyiksaan di neraka, apakah itu dibenarkan? Kenapa ciptaannya disiksa?

Naik turun iman aku rasakan. Betapa mengurangi kebiasaan ibadah satu per satu itu sungguh terjadi. Yang terpenting adalah shalat, cukup. Beberapa ikhtiar rutin, seperti puasa dan dzikir mulai terhruti. Untuk apa sebenarnya ini semua? Untuk mendapat suami yang shaleh? keturunan yang alim? Hanya itu? Satu demi satu mulai terpinggirkan, hingga aku merasa baik-baik saja jika tak melakukan.

Lebih dari itu, nilai-nilai dalam melakukan ibadah pun mulai dikesekiankan. Tapi melihat antusiasme teman sekamar yang sangat menikmati setiap pertemuan dahi dan lantai, membuatku bertanya kembali, kenapa aku tidak sekonsisten mereka? Mengapa aku mengambil jalur yang sedikit berbeda? Mempertanyakan.

Yogyakarta, 18/12/17

Janjane Kepriye sih Cah Sastra Iku

“Cah sastra ki waton mlaku, ngalir.” 

“Orang yang IPK nya 4 itu bukan orang sastra,”

“Spaneng banget, cah sastra ki nyante, sik penting utekke,”

Begitulah, akhir-khir ini pikiranku bergelantung ke ayang-ayang apa maksud sebenarnya perkataaan itu. 

Aku yang seperti ini, bukan mbak-mbak yang rapih banget tatanan lemarinya dan lipatan bajunya. Bukan yang rajin banget dan tertata jadwal hariannya. Dan sekalipun iya, itu tidak bertahan lama. Juga bukan mbak-mbak yang rajin banget ngerjain tugasnya, tapi dengan menunda, kekuatan ide baru tergambar jelas di bayangan, kemudian tangan yang seketika mengetik tepat beberapa jam sebelum harus dikumpulkan.

Apakah itu gambaran cah sastra? Jawaban saya tidak. Hati saya tidak tenang menghadapi itu semua. Waktu yang cepat berjalan karena harus satu persatu tugas ditunaikam membuat otak sedikit cepat memanas di malam hari. Alhasil harusnya lembur tapi tidur karena tak kuat mengemban beban pikiran. 

Ataukah kurang aware terhadap suatu persoalan membuat luka-luka kekecewaan saat gagal kian melebar. Tak pikir kok ya demikian. Kurang perhatian. Merasa sibuk tapi memang sibuk. Tak pikir semua yo sibuk nek pingin gak dadi pengangguran. Tapi sibuknya yang jadi perhatian. Sibuknya belum tepat sasaran.

Itu, ada teman yang sanggup meluangkan waktunya pacaran. Tak tanya, mbak pernah ngga sih mikir hidup mbak untuk apa? Jawabannya tidak memuaskan. Tapi mbaknya rajin, cantik, santai, dan tenang. Ada lagi ibu-ibu yang Subhanallah profesional dalam pekerjaan, mudah menarik perhatian, mampu mencairkan ketegangan, mungkinkah dia selo sehingga bisa mengakomodir semua kalangan?

Jawabanku tidak. Belio banyak kerjaan. Harus bagi tugas rumah dan kantor. Tapi pembawaan, yang tetap tenang dan fokus bisa membawanya terlihat baik-baik saja. 

Bukan berarti sibukku ini lebih baik dari yg tidak sibuk. Tetapi apa faedah yang bisa diambil. Orang tidak sibuk tapi banyak belajar kehidupam juga banyak. Orang sibuk tapi makin liar dan ngga karuan juga banyak. Dan orang sibuk tapi tahu betul kesibukannya akan membawa perbaikan juga banyak. Tinggal pilih. Mana jalan yang baek. Yang bisa jadi tuntunan. Kata beliao sang guru, orang berilmu ya belajar. 

Akhir kata, cah sastra opo ora, sik penting reti opo iku sek mbuk lakoni. Nek gak ngerti, sekirane apik yo tetep dilakoni. Gur bab style. Gaya. Kakean gaya apik. Nek pancen gayamu iku yo rapopo. Ora kudu podo.

Ora perlu mandang wong liyo. Ngetiyo awakmu dewe. Wis reti awakmu rung? Karepe piye? Senenge piye? Pingin kaya piye uripe?

Kampus Humaniora

15 Nov 2017

Catatan santri – 12/09/2017

Mengambil pelajaran hidup itu bisa dari mana saja. Dari peristiwa yang kita alami, cerita orang lain, cerita terdahulu, dari buku, dan lain sebagiannya. Belajar tak mengenal ruang dan waktu. Manusia butuh belajar sampai bertemu ajal.

Belajar di sini, di lingkungan ini, ternyata banyak juga. Dengan catatan jika mau dan mampu. Pelajaran yang paling mengena sekarang adalah tentang olah rasa. Jumat kemarin, saya belajar dari simbah mampu mengolah rasa dengan baik. Tidak mementingkan raganya melainkan rasanya. Salah satu nasihatnya di sela-sela membuat cookies adalah bahwa dalam hidup, kita akan saling bekerja sama mencapai tujuan masing-masing, juga tujuan bersama. Dalam melakukan perbuatan yang baik, kita tidak perlu pujian. Juga dalam kesalahan, kita tidak perlu cacian. Yang dibutuhkan adalah kesabaran agar mencapai tujuan. 

Disambung dengan dhawuh Kyai dalam bandongan kitab Riyadhus Shalihin, bahwa merasa yang terbaik itu akan menurunkan derajat kita. Tetapi, merasa yang terbaik berbeda dengan melakukan yang terbaik. Kita semua perlu melakukan yang terbaik. Tapi apa-apa yang sudah kita capai, kita punya, dalam bentuk prestasi, harta dan kekayaan itu jangan sampai mebuat kita menjadi lebih baik dari pada orang lain.

Dengan begitu, timbullah sifat sombong. Sifat yang akan menjerumuskan manusia ke neraka. Tentang sombong, masih dalam bandongan, bahwa sombong itu letaknya ada di hati. Bagaimana dengan rumah mewah, pakaian bagus, gawai canggih, yang dimiliki seseorang? Itu belum tentu bagian dari sombong. Karena semua fasilitas terbaik yang kita miliki, bisa jadi alat untuk berjuang di jalan Allah. Contoh, sebagai muslim, kita wajib memuliakan tamu. Apabila punya banyak tamu, rumah mewah adalah cara untuk memuliakannya, maka itu sah sah saja. Juga berpakaian rapi dan bagus, tidak mau dicap muslim yang kumuh dan dekil bukan? Jika berpakaian rapi adalah caranya, maka itu sangat dianjurkan.

Mengolah rasa, mengolah batin adalah keahlian yang perlu dilatih. Menurut buku yang berjudul Sunan Kalijaga, itu bisa dicapai dengan riyadlah atau latihan dengan tujuan mencari jalan taqwa. Ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Kalau di pondok ini, contoh bentuk riyadloh santri di sini adalah melakukan ngrowot, mutih, bilaruh. Ibaratnya air laut yang tidak terkena ombak, maka air akan terlihat lebih bening. Juga rasa menahan nafsu untuk makan makanan yang sudah menjadi kebiasaan, itu adalah bentuk latihannya, sehingga dalam berdoa bisa lebih khusuk.

20170902_123809

Pantai Parangtritis dari Petilasa Kakek Bantal 

 

Berbicara tentang doa, itu adalah bagian dari mantra manusia dalam kehidupan sehari-hari. Doa adalah keyakinan. Dalam doa, terbesit harapan agar menjadi kenyataan. Maka dengan bahasa apapun, doa sangat mungkin qobul asalkan dengan keyakinan. Banyak doa yang tidak qobul. Bisa jadi itu berhenti di bibir saja. Tidak dengan batin, rasa. Karena keyakinan lewat kata-kata bisa menarik energi di sekitar. Dalam novel Paulo Ceilho di Alchemist,

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Akhir kata, percayalah, sangkan paran kita ada maksudnya, pesannya. Raga boleh jadi pergi kapan saja, tapi amal akan tersjaga selamanya.  

 

Di kamar pink, yang sekarang terindikasi ada tikus lagi,

Akan kubiarkan malam ini saja dia menginap

Dini hari, 12 September 2017

 

Tujuh Prinsip Wujudkan Kota Impian

Jogja yang sekarang, berbeda dengan Jogja sepuluh tahun yang lalu. Perbedaan yang mencolok adalah kondisi jalanan yang ada di kota. Dulu, tidak banyak kendaraan mobil dan motor yang menyebabkan macet. Sekarang, mudah sekali kita menemui kendaraan motor dan mobil yang memenuhi jalanan. Biasanya, ramai-ramainya jalanan jam-jam pagi dan sore saat orang-orang berangkat dan pulang dari pekerjaannya. Juga toko-toko yang semakin banyak, hotel, apartemen, dan mal yang mulai bermegah-megahan berdiri memadati kota Sleman dan Yogyakarta.

Bagaimana Jogja 10 tahun lagi? Akankan akan semakin padat dengan pembagunan infrastruktur yang besar-besaran? Ataukah berubah menjadi kota yang benar-benar nyaman ditinggali orang-orang? Tentu pertanyaan itu bisa kita ramal dengan mengamati kondisi Jogja saat ini dan bagaimana orang-orang memperlakukan Jogja. Tentang perilaku orang-orang, bukan salah perusahaan minyak menyediakan bahan bakar, bukan salah perusahaan asing pula menjadikan Indonesia pelangggan setia penjualan kendaraan, tapi perilaku dan cara orang-orang menjalani hidupnya, yang itu menimbulkan masalah bagi mereka sendiri.

“Fundamentally, the way we shape cities is a manifestation of the kinds of humanity we bring to bear,” Peter Calthorpe

Dalam pidatonya di TEDx, beliau memberi contoh negara bagian California, Amerika Serikat, yang menjadi urban sprawl. Juga China, yang 20% GDP nya dihabiskan untuk membiayai kesehatan masyarakatnya yang terkena asap dan kabut akibat polusi. Mengapa tidak menghentikan polusi saja daripada menghabiskan dana untuk mengatasi dampak polusi yang merugikan masyarakat?Screenshot_2017-09-04-11-27-12

Dengan memimpikan kota yang penuh dengan pejalan kaki, pesepeda, tegur sapa, dan lahan hijau yang cukup, bagaimana cara merubah urban sprawl menjadi kota impian? Ada 7 prinsip yang sedang diterapkan oleh pemerintah China:, yang juga menjadi prinsip umum:
1.Preserve
Dengan menjaga kondisi alam, lahan terbuka hijau, agrukultur, dan situs hijau lainnya.
2.Mix
Memadukan masyarakat dan penghasilannya merawat lingkungan yang mereka tinggali.
3.Walk
Semua orang akan suka jalan kaki, kalau tempatnya sejuk dan hijau. Di mal saja jalan kaki kan?
4.Bike
Ini akan membentuk banyak interaksi dan komunitas pesepeda. Bahkan, pemerintah China menerapkan peraturan untuk menjaga jarak 6 meter dari jalur pesepeda
5.Connect
Membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan lebih banyak oran yang tidak terhalangi oleh tembok dan blok besar.
6.Ride
Menggunakan kendaran umum untuk mengurangi jumlah kendaraan di jalan.
7.Focus
Harus bisafokus menjalankan prinsip-prinsip ini.

Kenapa 100% jalan hanya untuk kendaraan bermotor? Kenapa tidak 70% untuk pejalan kaki dan pesepeda. Sehingga kota dipenuhi dengan pejalan kaki, pesepeda dan bus umum.

Bagaimana dengan Jogja? Bisa kah?

Screenshot_2017-09-04-10-50-04

Dear My Father,

I want to talk about my life here. This week I got many classes more than usual. In fact, I give more my availability than when I study on college, this week is midterm test.

 I teach three different student in a week. Japanese, American, and Swiss-German. Japanese one is same age with me. I really like to teach student such as a friend. There is no afraid such a ‘kikuk’ sitution or ‘krikik’ moment. She is just a good student and friend.

The American, he takes 5 days course with an Indonesian living experience for 2,5 years. He really seems excited to do things in his life including to study Indonesian language. He asks for many things which becomes his problem and I would be like his facilitator to explain and add more information about his problem. Classes go well and fun.

However, this guy from Switzerland-German is like a great object to measure my teaching skill. Something I need to solve between me and him. He is a good guy. I mean his looks is quite charming for me. However, he seems silent and silent. When I ask him. He would respon and stop there. He doesn’t give any feedback question even asking about me something. Thus I ask to other teacher about him, as a silent student. They says they enjoy enough their classes. The student tell many things. One teacher says it must be knocked so that it makes sounds. Just like him. You need to ask, then he talks, a lot.

In the end of the sessions in the school, I am with two teachers who are being his teachers. One talks about her last class with him. She says many things about his questions to her. Asking about things randomly. For instance the difference of Indonesian money figure and Swiss. Study duration, president and so on. She looks really control and manage the class well. And me? I feel like I don’t have such a good humor and topic yo deliever. I assume he is a silent one but I am totally wrong. He laugh really out loud at the lunch table.

Topic to talk is an important one to define how interesting the conversation. Besides, knowledge and curiousity are main ingredients completed with communication skill.

Thus, here is my reflection during my part

Bahasa untuk Bicara

  1. Penampilan. Eeh eeh, ngomongin penampilan. Wanita yang perlu jaga penampilannya ya. 
  2. Kepribadian. Perlu dibiasakan untuk menjadi bisa. Biar rapi, mulai mendisiplinkan hal-hal kecil di sekitar kita. Belum merasa baik sih sehingga perlu membangun kebiasaan itu. Ngomongin apa sih? Itu lhoo, baju kotor yang perlu dicuci segera, jangan sampai numpuk. Itu lho, kalau naruh barang ke tempat yang semula. Itu lho, gelasnyaPagi ini adalah JumaPenampilan. Eeh eeh, ngomongin penampilan. Wanita yang perlu jaga penampilannya ya. 
  3. Kepribadian. Perlu dibiasakan untuk menjadi bisa. Biar rapi, mulai mendisiplinkan hal-hal kecil di sekitar kita. Belum merasa baik sih sehingga perlu membangun kebiasaan itu. Ngomongin apa sih? Itu lhoo, baju kotor yang perlu dicuci segera, jangan sampai numpuk. Itu lho, kalau naruh barang ke tempat yang semula. Itu lho, gelasnyaberkah. 

 Di kelas. Pak Radjaban selalu memukau dengan pengetahuan kebahasaannya. Hari ini saya belajar affixes. Masih mereview morpheme kata-kata di Bahasa Inggris. Ada 3 jenis morfim; 

  1. Free morpheme. It is a morpheme that can stand alone by itself. Ex: book, duck, cat, etc
  2. Bound morpheme. It is a morpheme that must bound to another morpheme. Ex: -s, -ed, 
  3. Zero morpheme. It is a morpheme that is not actualized into a pheme.

Kami juga membahas tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar terkait dengan afiks di Bahasa Indonesia. Memproduksi, mempopulerkan, mempraktekkan, adalah sederet kata yang seharusnya tidak ada huruf ‘p’ karena melebur pada proses asimilasi. Namun, dengan teori pembiaran, para linguist di UGM tetap mebenarkan sederet kata itu karena penutur sudah bushman dengan memroduksi kata-kata itu.

Itu membuat Bahasa Indonesia tidak konsisten sehingga sulit untuk distandarisasikan. 

Setelah itu, lanjut di perjalanan menuju kampus 1.

Merasakan Nikmat dalam Tiap Gerakan

Bergerak. Pagi ini kulakukan aktivitas bergerak yang berbeda. Otak dipaksa bergerak menganalisa pocong yang muncul di rumah Ibu Maya. Ternyata pelakunya adalah suaminya. Hmm menuntut keduniaan itu tak akan ada habisnya. Cukupkanlah. Sederhanakanlah. Manisnya dunia hanya sementara. 

Senam. Jadi ingat, dulu dan tim mewakili kecamatan senam sehat tingkat SD. DVD untuk latihan tak punya, Bapak tidak menginjinkan beli DVD walaupun untuk latihan senam. Keadaan ekonomi dan prinsipnya lah penyebabnya. Bapak orang yang teliti dan hati-hati tentang sell and purchase. Alhamdulillahnya, saya suka bergerak. Saya main ke teman saya yang punya DVD dan mengajaknya untuk latihan. Selalu seperti itu, bergant-ganti teman dari satu rumah ke rumah lain. 

Kuliah. Hari ini saya membuat nursery rhymes dengan topik time. 

Time…time..time…2x

Let’s look at the time

It’s 9 p.m. 2x

Sing nursery rhymes

Ing…ing…ing…

Pray before sleeping

Evils going…evils going…

Nice dream while sleeping

Lanjut seminar sebagai peserta dengan expert Alki, Avivah dan dan Juvita. Mmm terkantuk terkantuk sambil terdengar sayup suara presentasi mereka. Aku coba tulis apa yang bisa menjadi bahan untuk menjadi peserta aktif. Meskipun bukan yang pertama, mengangkat tangan untuk bertanya masih menjadi momok yang menyeramkan. 

Setelah itu, Bu Novi memberi komentarnya tentang presentasi mereka sampai 12.20. Padahal saya akan punya kelas 13.00 yang harus sampai di kantor 10 menit sebelumnya. Betapa ku kayuh cepat cepat Isabella. Lampu merah kusesuaikan dengan kondisi kendaraan. Aku tak mau terlambat dan kena masalah. Nafasku makin cepat saat aku lihat jarum panjang jam dinding di jalan ada di 11. Melewati Jl.C. Simanjutak. ‘Ah, mungkinkah bisa tepat waktu? Ohya, jam kantor 5 menit lebih terlambat dan jam di jalan itu lebih cepat 5-10 menit.’  Ada harapan. Tapi masih ada Jakal yang membentang, oh Allah, kakiku, nafasku, keringatku, aku harus mengejar Tuan Waktu. 

Akhirnya sampai di kantor jarum panjang 10. Fiuhh. Beneran on time. Aku taruh tas, buka masker, ambil tissue, usap keringat di kulit wajah yang memerah karena kepanasan. Buat teh tawar hangat, ambil 3 butir snack, aku buka hape berharap bisa baca balasan pesan Bu Fitri yang sudah kukirim tadi malam. Tapi tidak mungkin. Tuan waktu sudah menunggku di jam 13.00 waktu Realia.

Akari, mahasiswa Jepang itu, senang rasanya bisa mengajar kembali. Cara pengucapan, ekspresi wajah, gesture, adalah hiburan tersendiri karena itu unik dan jarang kutemui diantara penduduk negeri ini. Tentunya, mengajar tetaplah media belajar memahami kemampuanku menjadi penyalur ilmu yang bijak – menguasai materi, memahami kebutuhan dan kondisi murid.

TPA Pondok. Sudah ditunggu adik-adik di aula. Ohoho, senang senang mengajar wajah wajah polos yang cantik nan imut mut walaupun didalam rasa lapar karena sesiang belum makan. Aku sempatkan makan, aku lanjut mengajar.

Bandongan. Rutinitas ini ditunggu banyak santri. Ini karena ada nasehat Pak Yai yang sudah ditunggu-tunggu, yang paling ngena dan penawar keringnya hati. Ini sedikit hal yang bisa kutuliskan. 

Jadikanlah hubunganmu dengan orang lain haqiqi. Jadikanlah dirimu dengan syariah.

Maksdunya, menganggap orang lain itu tidak berbeda dari kita-tidak lebih rendah atau lebih tinggi. Dan memperlakukan diri sendiri dengan disiplin tinggi sesuai syariah Islam.

Misalkan, ‘Di kitab Fathul Mu’in, shalat sunnah orang yang berhutang shalat fardhu itu tidak sah. Jika ada hutang, segeralah mengqadhanya. Beruntunglah kalian ada di pesantren dan tahu akan hal itu.’

Berakhir di bandongan mengaji Fathul Qorib menyelesaikan bab shalat jenazah dan mengaji bin nadzri dengan Bu Nyai. 

Tak kuat sakitnya perut karena telat makan siang, saya buat mie untuk mengisinya. Dan menghabiskannya di kamar pengurus dibalut candaan khas di malam hari. Pelajaran yang bisa saya bagikan adalah communication is an art. Praktekanlah, pelajarilah.

Setiap gerakan ini aku nikmati, setiap nafas ini aku syukuri. Aku tak pernah tahu kapan ini akan berhenti. Maka, aku perlu berlari. Memang tak mudah menjaga frekuensi kecepatan semangat yang bisa turun kapanpun itu. Memang tak mudah menjadi gigih. Tapi dengan langkah awal, bergerak, proses itu sudah ku mulai. Jangan khawatirkan hasil. Kokohlah dengan proses itu, yang terlihat tidak pasti dan mengingkari. Kuatlah dengan tujuan itu, yang ku sebut sebagai tujuan akhir dari hidupku.

Nandan, 1 Maret 2017

#1of1000writingdays