Satu Tahun Berjalan, Bisa Berkunjung ke Negara Jepang

Akhirnya keinginan itu terwujud. Aku pergi ke Jepang. Aku tak percaya. Kupikir ini sebuah mimpi belaka.

Sudah hampir satu tahun aku belajar di UGM. Katanya, universitas ini adalah universitas sangat bagus  di Indonesia. Aku patut berbangga. Tapi, hura-hura itu hanya sementara. Aku tidak mau hanya berkuliah saja-belajar, berkegiatan dan sudah. Padahal, aku punya impian besar. Aku ingin go international. Ah, tapi nyatanya tak banyak kesempatan. Kesempatan ke luar negeri hanya untuk mereka yang belajar di program sarjana. Aku kan diploma.

Ini tentang mimpi. Ini tentang keyakinan.

Di suatu hari, leptop daringku tertuju pada satu halaman. Aku buka pelan-pelan. Ada sebuah kesempatan di kancah internasional. Ya, kesempatan itu untuk mahasiswa diploma. Syaratnya tidak menyulitkan. Tapi ternyata, itu sudah melewati batas deadline. Bagaimana ya? Sekali lagi, ini tentang mimpi yang perlu segera diwujudkan. Aku mantapkan hati untuk mendaftar dan konfirmasi ke narahubung yang tertera di informasi halaman.

Pemberkasan yang bisa dibilang mudah, sudah lengkap. Aku mulai kumpulkan tekad untuk sesi wawancara dengan wakil dekan. Ternyata, wawancara tidak sesulit yang aku bayangkan. Aku yakin, aku  bisa menjadi salah satu dari tiga orang yang berangkat ke Jepang.

Cukup singkat. Siangnya, aku ditelpon bahwa aku akan berangkat ke Jepang. Dua mahasiswa lainnya adalah Tiffany (Rekam Medis) dan Lydia (D4 Alat Berat). Kami mengurus paspor dan visa bersama. Waktu yang tidak banyak tidak membuat kami putus asa. Hanya 3 bulan, persyaratan kami ke acara International Student Organizing Committee (ISOC) di Jepang akhirnya lancar.

Sampai di Jepang, kami menjumpai banyak hal menarik yang berbeda dari apa yang biasa kita lihat. Sesudah berjalan-jalan di sore hari, kami bersiap bertemu mahasiswa lainnya dari Taiwan, Hongkong, Malaysia dan Jepang.

Hal utama yang kami kerjakan adalah membicarakan acara International Symposium on Technology for Sustainability (ISTS) dan keberlanjutannya. Itu mengapa, fakultas Sekolah Vokasi (SV) UGM mengirim 3 mahasiswanya ke sana dengan beberapa tujuan. Pertama adalah networking agar bukan hanya pihak SV yang sudah resmi bekerja sama tapi juga dari mahasiswa. Kedua adalah diskusi. Di sana, kami berdiskusi tentang persiapan acara ISTS di Taiwan. Ketiga adalah friendship. Di acara ISTS nantinya, panitia dan peserta tidak hanya dari satu negara melainkan dari beberapa negara yang punya budaya dan pola pikir yang berbeda. Itu mengapa, acara ISOC ini diadakan agar mereka bisa mengatasi benturan budaya yang sangat mungkin ada.

Jadi, bukan seberapa sulit tapi seberapa siap mewujudkan mimpi. Keberhasilan itu akan datang jika ada kesiapan dan kesempatan. Namun, energi negatif beruapa sikap pesimis dan menyalahkan keadaan bisa jadi mucul, tanpa disadari. Itu semua adalah penghambat. Buang jauh-jauh, fokuskan apa yang sudah terprogram di pikiran.

 

Joint Internship with Melbourne Students

Today is the fourth day of our internship in PT. YPTI in Kalasan, Yogyakarta. The good atmosphere, we started to build among us. Gani, the guy who feel he was in the wrong place, tried to convince himself that he was in the right place which has to use all his capability to interact with others. Maya, my two other partners, looks better to express her idea. She seems more comfortable now. Me, I am trying to improve everything in my social interaction with those three Deakin students.

Starting from the first day, I feel like I am not a person who could be able awesome at the first impression. Then the next day I learn how I blend in a diverse group. I tried to arrange words to ask while working the project about the marketing research. The group analyzed the marketing of PT YPTI, particularly in mold division. We helped to add some ideas about the marketing strategy. Mr. Heru, the director of mold division, didn’t tell ask clearly about our duty. However, we kept on arranging some analysis and questions to ask the director, Mr. Petrus.

After scheduling to the director’s secretary, Mr. Pertus brought us to the factory that we could look around to see the worker, machine, and product. For me, it is the first time to be in a factory with big machines producing small parts of items with precision. By that time, the group got more information about things to do with the project. To complete the project, we would make a design of educational toys that has not existed yet. We were planning to visit one or two kindergarten to observe what educational toys they used to teach the students in a class. At the first week, we have made several ideas of educational toys and cultural merchandises.

The second week, we visit Al-Azhar kindergarten to conduct an observation. We were hosted very warm with the teachers and staff there. Mr. Dedi, the library staff, led us to look around the school. Students looked shy to see us but the teachers seemed very exciting. What a nice experience to be around the cute kindergarten children! No more tired but happy with them, but then we decided to cancel visiting Brilliant kindergarten as the next school.

Of course, we got trouble to leave without any permission before. Instead of visiting the next school which has been scheduled by UTY, we went back to the YPTI only to have lunch and play around. Personally, I felt I was mistaken to be in that such a fool situation to leave without any confirmation. However, Mr. Eko, our supervisor looked patient to solve the problem. I asked if we should reschedule to visit the next kindergarten but he recommended to cancel it.

In fact, we kept visiting the Brilliant Kindergarten as they have prepared anything for us. At that day, the teachers hosted us very amazing, They looked so exciting and full of smiling to interact with us. We were explained about the school and the classes they had as well as the educational toys they used to teach the students. Of course, taking photos was the most exciting part. The teachers were very happy to have guests like us, from overseas.

We spent our good time in a different language and culture. We might understand each our culture even though sometimes it is hard to tell why I could not give a hug or an only cheek kiss goodbye for them. The warm feeling of saying goodbye does not have to represent in that way because of a commitment and responsibility. For me, this program is the real life of my future dream. Now, I still remember my teachers’ words what to be like as a Moslem. But later, in that truth culture, who’s gonna keep me in that belief that I have been holding as strong as I can. No one could guarantee it unless God who keep and save me from all those temptations.

Nevertheless, communication and interaction are taught there. Jokes, sometimes dirty and flirty, also are important ones to build a good and memorable time.  And yes, this meeting make me missing about moments I have been done with them. Thank you, Tim, for being like a big brother and sharing as a married man. Thanks, Tegan, for understanding us when those two guys are not and giving us such a brand joke of David who. The last is David, thank you for being a nice guy with coffees in the hotel. Thank you for Maya and Gani, for being my awesome partners to do this job well.

Yogyakarta, 27 November 2016

Tidak Sekuat yang Kalian Kira – Kalian juga Bisa

Menimba ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Allah sudah menjanjikan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

Sesudah menyelesaikan belajar saya di fakultas Sekolah Vokasi jurusan D3 Bahasa Inggris, Universitas Gadjah Mada; saya memiliki cita-cita untuk melanjutkan studi saya ke jenjang Sarjana. Beberapa orang akan tanya kenapa dulu tidak mengambil program sarjana. Dengan tegas saya jelaskan bahwa inilah skenario Allah yang sekarang. Dari beberapa pilihan, belajar di kampus kerakyatan adalah pilihan terbaik dan tinggal di Jogja adalah kejutan istimewa-Nya.

Sejak awal saya kuliah di Jogja, tidak ada pikiran akan punya motor untuk kuliah dan jalan-jalan mengelilingi Jogja. Ternyata, sudah 3 tahun saya melewati banyak peristiwa dengan sepeda saya yang ke-2. Saya pernah mengikuti Jambore Sepeda Lipat Nasional (JAMSELINAS) bersama komunitas pecinta sepeda lipat dari banyak kota besar di Indonesia dengan Mbak Angela – dosen saya dari Amerika. Rute jambore itu mulai dari geduang gubernur sampai ke Imogiri. Sungguh hebat perjuangan pinky, melewati jalur terjal naik turun di daerah pedesaan.

Kebersamaan dengan pinky harus saya kurangi, mungkin saja saya sudahi. Setelah saya mulai membuat keputusan untuk belajar ke jenjang sarjana, saya mulai berpikir kebersamaanku dengannya. Dulu, ada dua pilihan untuk kuliah program transfer Sastra Inggris (Sasing) di Sekolah Tinggi Bahasa Asing atau universitas. Kedua perguruan tinggi itu sama dekatnya dengan pondok pesantren dan tempat kerja. Setelah survey ke kedua PT, saya putuskan untuk memilih universitas yang memiliki lingkungan kultural di sana. Betapa terkejut setelah saya konfirmasi lokasi kuliah, ternyata untuk semester 3 ke atas ada di kampus 3 yang letaknya kira-kira 9km dari pondok pesantren.

Selama survey, informasi yang saya dapatkan adalah prodi sasing sudah pindah ke kampus 1 yang dekat dengan ponpes dan tempat kerja. Namun, setelah saya her-registrasi ulang, kampus 1 hanya untuk mahasiswa baru. Sayangnya, saya bukanlah mahasiswa baru yang ‘baru’. Keadaan ‘restless’ menyertai saya seketika. Saya coba membuat beberapa kemungkinan jalan untuk melangkah. Tawaran untuk mendaftar ke universitas Malang dan tetap menimba ilmu agama yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Sempat berpikir juga, untuk memulai berkarya di Demak dan menjaga ibu di rumah. Ada pikiran bahwa inilah saatnya saya menjaga ibu, yang mungkin menginginkan anaknya untuk di rumah dan menyudahi perjuangan di tanah rantauan. Tapi bapak berkata lain. Beliau sangat mendukung saya agar menyelesaikan program sarjana. “biarlah Bapak yang menjaga ibu, kamu lanjutkan saja kuliahmu di Jogja”, kata beliau. Sosok kuat seperti beliau, adalah teladan.

Keluarga dan orang-orang dekat adalah jalan untuk berpikir jernih. Mereka lah pemberi saran dan wejangan, tapi keputusan tetaplah ada di tangan saya. Teman kampus, mbak Ima, saya tidak menyangka bahwa respon menanggapi cerita galau saya sangatlah bijak. ‘selesaikan apa yang sudah kamu awali’, sebenarnya adalah kalimat yang sudah saya ketahui. Namun di keadaan mental yang sedikit lemah, kalimat itu menjadi penawar yang mustajab. Saya putuskan untuk meneruskan perjuangan saya di kota Jogja.

14369135_164878173959957_5294073536267157504_n

Saya membeli sepeda baru. Dia bukanlah pengganti pinky, tapi generasi penerusnya. Beberapa orang menyarankan agar saya naik gojek atau naik TJ, tapi saya memilih untuk membeli sepeda gunung. Sepeda itu saya beri nama Isabelle, karena design dan warnanya yang terlihat cantik walaupun sepeda itu dirancang untuk laki-laki. Dengan harga Rp 1,63 juta, saya bisa berangkat kuliah untuk menimba ilmu. Alhamdulillah, akan selalu ada solusi kalau ada kemauan. Kondisi keuangan yang tidak cukup untuk beli sepeda itu, teman saya dengan ringan tangan melunasi jumlah uang yang harus saya bayarkan dengan akad hutang.

Setiap hari, saya berusaha istiqomah bahagia dengan keputusan-keputusan saya. Banyak respon orang-orang di sekitar dan beberapa mengkhawatirkan saya. Wajar, awalnya saya sendiri juga tidak kuat kalau membayangkan akan pulang-pergi setiap hari dari kampus-Realia-ponpes. Meskipun demikian, saya pun bisa setelah menjalaninya. Saya tidak sekuat yang mereka kira, karena tentunya mereka bisa melakukan hal yang sama. Keadaanlah yang memberi pilihan.

Yogyakarta, 12 Oktober 2016

 

Hari Rabu

Selanjutnya adalah Memulai belajar, Pengaturannya dan Urutannya.

Hari Rabu adalah hari sempurna untuk memulai belajar. Hari itu adalah hari turunnya cahaya dari Allah. Maka, guru Syaikhul Islam Burhanuddin Rahimahullah  meriwayatkan hadits di bawah ini:

ما من شئٍ بدئَ في يوم الاربعاءِالاّ وقد تمَّ

Tiada sesuatu yang dimulai di hari Rabu melainkan pasti akan sempurna.”

5

Hari Rabu adalah hari yang pedih bagi kaum kafir dan penuh berkah bagi orang mukmin. Seperti Syeikh Abu Yusuf Al Hamadani Rahimahullah yang memulai seluruh amal kebaikannya di hari Rabu.

Dalam kitab Ta’lim muta’alim, secara ringkas bahwa murid baru perlu mengulang pelajaran sebanyak dua kali secara perlahan. Setelah itu tetap diulang setiap harinya. Jika dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk memahminya, misalkan perlu 10x, maka diakhir juga 10x karena sudah terbiasa dan sebaiknya tidak meninggalkan kecuali kesusahan. Murid baru juga perlu membaca kitab yang lebih mudah agar tertarik dan mudah mengena.

Namun tambahan untuk kami dari ustadz, kebiasaan mempelajari kitab memang tidak biasa bagi banyak santri di pondok kami. Menurut saya, perlu usaha membagi waktu, menghilangkan malas dan tekad yang kuat untuk belajar yang istiqomah (konsisten) dan efektif.

Wallaua’lam bishowab.

Yk, 15.03.16

Ngaji Kitab Ta’lim

Learning Ta’lim Muta’alim written in Persia language. We are usually taught by Ustdz Shobah, but on this great chance, an Ustdz who usually teaches us Tauhid sat down surprisingly in front of us.

We continued to our next material about food and beverages concerned for students. After giving meaning for each word from Arabic into Javanese pegon, Ustdz Miftah explained more the translation related to the real life. This is my resume.
Maka dari itu, disarankan untuk makan roti kering dan anggur dan sebaiknya cukup agar tidak sering haus. Lebih lanjut, karena haus akan menambah dahak.*Dikatakan: “Tujuh puluh nabi sepakat bahwa kelupaan disebabkan oleh banyaknya dahak dan banyaknya dahak disebabkan banyaknya minum, banyaknya minum disebabkan oleh banyaknya makan.”

AKHLAK

Disarankan untuk bersiwak atau sikat gigi untuk mengurangi dahal dan menambah ingatan. Siwak adalah sunnah agar menambah pahal saat membaca A- Quran.

**Merusak banda bermaksud bahwa makan yang banyak akan menyebabkan resiko penyakit yang muncul sehingga perlu biaya untuk berobat ke dokter.

***Hukum makruh –

Cara mengurangi makan banyak yakni dengan makan sedikit yang bisa memperoleh faedah seperti tabel di atas.

Ustadz juga menambahkan, “makan setelah lapar, tidur setelah ngantuk”. Makna dari kalimat tersebut adalah berpuasa diantara kebanyakan orang lapar dan melakukan Shalat malam khususnya Tahajjud diantara lelapnya orang-orang tidur.

Diriwayatkan bahwa Syeikh Nawawi Al-Batani, mengarang kitab Syafinatun Najah, adalah guru Thariqoh yang menjadi murid Syeikh Yusup Al-Hamadani. Beliau tinggal di pesisir tetapi tidak makan ikan, atas ijazah berguru dengan Imam Nawawi.

“Memakan buah delima banyak tidak lebih baik dari memakan ikan yang sedikit”

Maksudnya, makan ikan menyebabkan kemalasan, jika dibandingkan dengan buah delima, maka lebih baik makan buah delima. Tapi untuk keutamaan makan sedikit, maka lebih baik, walaupun yang sedikit itu adalah makan ikan.

Wallahua’lam bishowab.

Yk, 15.03.16

Missing my family

On the way after having interview of WRC and joining Eramus Mundus Action 2, I had the strong connection between my dream, God and myself. I said  at myself that I had only two options for this case i.e. I would or not. My big dream is heading on me.

The interviewing experience was so great. I could meet people who had almost the same vision and mission. I felt so comfortable on what we talked about. We shared our dream and feeling in facing the future. About one thing in the future that we extremely agreed was we would be the house wife. Three of us are going to be a good wife and mother. When I was interviewed by him …., he said that I was the first person who came from English department that attracted for WRC. I think It was not too bad for me because some events before, indicated that my department was different. For me, life is so big. There are so many things I should know. That is why I want to know about knowledge.

The scholarship seminar Eramus Mundus Action 2 was really amazing. The speaker named Prof. Gustavo Belforte. He talked about the Eramus Mundus project and his college Politecnico di Torino. I ever felt so sleepy because he spoke so fast but generally I got the point. The way he answered the questions was so long and clear. Most of the question came from the engineering faculty and I felt like so lost. But I considered that at least I had the same way for facing the future.

This morning I convinced myself that all those dreams might be come true. Reading the story of my friend who accepted in the leadership programme made me so envy. If he can, why I do not. We have the same goal but of course we are going to have our own ways. I am in Gadjah Mada University for Vocational School faculty is out of my plan. God makes it happened and there should be something that God will show at me. Who knows? Now I am missing my family. I realize that they are my true goal of these things. I cannot be without them. I am part of them.

About my life in Yogyakarta lately, I had problem with my new Family here. I was in a home with new friends and I should consider them as my new family but it is a little bit hard for me. They are so different with people who I would like to have. I cannot mix with their soul and actually it is only few of them. Now I do not like to spend much of my time in a home besides the distance is far from my campus. I just want to be an active student who dedicate herself for the future.

Yogyakarta, 11 October 2013

Thank You Allah

Dear Allah,

Thank you Allah, for everything You have given to me. I believe, place I belong, people I meet, situations I undergo, friends I make, are your planning to me. Someone who came to me, and bring me in love, even for a while, I believe it comes from You. What a sin I am ignoring You sometimes, forgetting You in a hard and good time.

I am afraid, someday, I will forget you in a situation I don’t expect. I am afraid of people I will meet in the future, will make a distance between me and You. Once again, I am afraid of spouse I will have. I will live with him. I will share with him. I will make a heaven in our home. I can’t imagine one person, it’s too earlier. I don’t want to close with any guy yet, I don’t want to make a hope. I don’t want to get heartbreaking. I want to wait for your fate. I believe, Your fate is better for me. I believe You have chosen him, for my heaven, and create another heaven, even after life.

Today, I felt great. I could share part of my life with my coordinator. At first, it is very hard telling what I am doing in my Islamic boarding school. It felt like it was contrast at Realia life. However, she was nice. She just needs knowing more about what Islam is and moreover, she needs gathering with good people.

By the time, I hope I can learn more my faith in You whenever and whenever I am. Nowadays, I would try building a strong self-defense to know what I know, to do what I plan, to learn what I need, to get into You. If ‘Inayatullah is the officially place, I want to thank you for bring me here. I mean, it is not easy to blend everything, but I must. This introvert type should learn and adjust for many situations. Tomorrow, I will meet new people. I should be ready for them. I should be tough here. Focus what I learn.

Also, I felt that friends are everything. They are great. Pramuka, brought me to meet them, Iroh, Windu, and Wiji. We meet to share and to close our friendship. Thank you Allah.

So much thank you, for being here

Yogyakarta, 19-02-2016

.

 

Sentuhan Pagi di Sweet Seventy Indonesiaku

“Aku harus segera menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Berat sekali melakukannya, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.”

Pagi ini, aku lanjutkan membaca novel Tere Liye. Kisah seorang laki-laki bernama Tegar. Tentang sebuah kesempatan. Tentang kerelaan yang berujung pada pemahamam. Memahami indahnya menerima, memaafkan, tapi tidak melupakan. Sebuah kerelaan untuk menikam hati begitu dalam untuk mengambil pemahaman baru. Berdamai dengan diri sendiri dan sepotong masa lalu.

Hubbul wathaan minal iimaan. Pagi ini juga, adalah hari kemerdekaan Indonesia. Hari ini, tepat 70 tahun Indonesia merdeka. Betapa besar pengorbanan pejuang atas keringat dan darah mereka untuk memeperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pagi yang agak getir. Aku berusaha menyelipkan waktu sebelum shubuh untuk bersujud dan berkhalwat dengan-Nya. Tapi terisak oleh sempitnya waktu yang mengharuskanku sahur. Keduanya kulakukan serba ganjil. Keganjilan yang berujung dengan suara bedug di Masjid An-Namiroh. Masjid di pondok Inayatullah.

Setelah shubuh berjamaah, pak Kyai ngendikan Qur’anan untuk memperingati Kemerdekaan RI. Sejenak santri yang terlihat mengantuk bangkit dari tempatnya. Hari ini kami melakukan kegiatan yang berbeda. Jika biasanya santri putra mujahaddah dan santri putri setoran mengaji, berbeda dengan hari ini. Kami berkumpul di Aula.

Aula shubuh yang berbeda. Pak Kyai terlihat menunggu santri yang lain berdatangan. Saat mahalul Qiyam, kami meneruskan lantunan shalawat nabi dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Pak Kyai memimpin langsung para santrinya. Sungguh, lagu yang miris. Miris mengiris karena sebagai santri, aku merasa belum memberikan kontribusi konkrit untuk bangsa ini.

Juga berbeda bagi mereka yang kemarin malam tidak bandongan dan tertinggal satu rakaat shubuh berjamaah. Mereka harus bersiap menerima ta’zir dari pak Kyai. Ada tiga santri putri yang berdiri dekat jendela. Mbak Miftah dan Mbak Dilla karena tidak ijin absen mengikuti bandongan dan Mbak Tika yang tidak shubuhan di Masjid.

Aula menjadi saksinya. Mereka membacakan UUD 1945 dengan muka tersipuh malu dihadapan santri putri dan Pak Kyai. Karena masih ganjil, santri putra menyempurnakan bacaan UUD 1945. Tapi ternyata  alinea ke empat Pembukaan UUD 1945  yang dibacakan kang Ibnu semakin terasa ganjil. Kembali ke santri putri, mereka menyanyikan lagu Kebangsaan Hari Kemerdakaan ciptaan pak H. Mutahar dan Garuda Pancasila.

Riang, damai dan penuh arti. Ngendikan pak Kyai bahwa para santri lah yang memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Juga petikan obrolan SIC inspirasi center kemarin sore, bahwa nilai sabar dan ulet santri dulu, sepatutunya dicontoh oleh kalangan santri sekarang.

Semoga para pahlawan, mayoritas Muslim mendapat tempat terindah dari Allah SWT.

Semoga Indonesia bisa bangkit, ditengah krisis yang melilit.

Pagi yang penuh arti. Sebuah pemahaman baru untuk santri Nusantara.

Yogyakarta, 17 Agustus 2015

To Feel Alive

“You don’t have to change the world in order to have a meaningful life. You don’t always have to do things that are extreme and unbelievable and outside of the norm in order to feel alive. You can feel alive just by acknowledging your own worth and the worth of everyone around you.”

journey

Being out of the box is a dream for some people, including me. But, it makes me trapped on a difficult situation to compare myself with others. Thus, I will not allow myself to be someone else because I have something that cannot be imitated by others. Sometime I consider myself to feel alive as my own without thinking of others’ opinions. As my recent time I have passed, I am a typically someone who cannot live monotony. I want to do things out of the box because I know that it is too common having a life like them.

Fortunately, it does. I make up my life. I am not like people in my village, people in my family even people in my study program. I am different with them. That is one of my ways to feel alive. When I try to interact all the repetitiveness as their own, I cannot feel alive. I feel losing parts of my life. For instance, I was involved all the activities in Scout UGM last year, I felt happy there. But then, I considered that I could not do more than myself challenges. However, when I decided to live in a different way by the monotony in boarding house and college, so did I. Thus, I think I need to integrate all things that make me feel alive. Put things together. All my activities are related to one another.

“Jumping out of a plane is remarkable. So is quitting your job and moving across the country, or traveling the world and living out of a backpack for several months. But these are not the only things that make you brave. These are not the only things that signify that you’re living your life right. These are not the only things that give your life meaning.”

I plan to Featured Image -- 366move across the country every year. I and mostly people think that it is a remarkable. So is my journey to Japan. That is my dream and most people. However, it has changed my mind after coming back from there. It is not about how many times I go abroad, but how many changes I have made for myself and others. Honestly, there are many plans to come back to Japan as my future plans. But, it is not about having a seminar and going around the cities, it’s more about the Muslim life as the minority, that they can take a prayer like here. Not only Japan, but I plan to go to Europe. I am sure, it will not easy as I write and post this story, but that significant dream, I will start by gathering phrases into sentences, like now.

Nowadays, the environment of making achievements are showed up. Students in college will do this and this in order to complete the requirements or just to feel a live. For instance, I, a common student, was challenged to compete with other students in an achievement student awarded or Penghargaan Mahasiswa Berprestasi of UGM. After long periods of dreaming, from a way that I have never expected, I became a candidate to be with them, achievements students in UGM. Pessimistic has changed my life, that everyone life should be surrounded by an optimistic, that you can follow your dream (read: the power of dream). The way you live your life is doing your best, for your life and your surroundings, primarily for Allah, The Most Glorified and The Most High.

In summary, feeling a live by people is different. They can do remarkable or ordinary things that make them alive. However, every option and action that we do, will signify others that we are all part of life in the different ways to feel alive.

Yogyakarta, 14 April 2015

Reference:

http://thoughtcatalog.com/kim-quindlen/2015/04/you-have-more-choices-than-being-either-boring-or-extraordinary/