Kampung Warna Warni Jodipan

Itu looh kampung warna di Malang. Kalau kamu naik kereta, itu pemandangan yang bisa kamu lihat. Menarik kan?

Kampung warna warni yang aku kunjungi ini ada di Jodipan, Kota Malang. Kampung warna memang jadi daya tarik wisatawan di banyak kota di Indonesia. Terbukti dari kebiasaan cekrak cekrik lalu unggah ke medsos, anak muda memang target destinasi ini. Ada 9 kota di Indonesia dengan konsep kampung warna, yang tetap menarik wisatawan.

Waktu kamu mau berkunjung ke kampung ini, bisa jadi kamu akan lewat pasar loak. Itu artinya kamu hampir sampai atau sudah sampai. Masuklah. Dengan karcis sekaligus stiker seharga Rp 2.000, kamu bisa lihat warna-warni dinding rumah, lantai, genting, pagar, jalan, bahkan sepeda yang sudah rusak yang diabadikan. Murah kan. 😆😆😆

Kampung ini sangat recommended untuk berfoto ala ala orang sekarang, selfie dan wefie. Karena 15 warna lebih dari Indana paint bisa memberi kesan menarik bagi mata yang memandang. Juga cocok untuk penikmat seni. Berbagai lukisan dinding yang memiliki nilai seni, indah untuk dimuseumkan di kamera ponsel pintar. 

Kampung ini dimunculkan atas ide mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai tugas praktikum kelompok. Kampung yang kumuh disulap jadi warna warni. Berkat kerjasama sponsor, Indana Paint dalam proyek “Decofresh Warnai Jodipan” dengan dana CSR, mahasiswa UMM itu sukses melaksanakan proyeknya. Dibantu oleh TNI, POLRI, warga, dan 10 tukang cat, renovasi kampung ini terlaksana. 

Kampung warna warni Jodipan. Lihat ini, ide kreatif yang digerakkan dan didukung banyak pihak. Mengagumkan!

Berkunjung ke Malang, tak lengkap kalau belum masuk ke kampung warna warni Jodipan. 😉 Berikut dokumentasi kunjungan yang hanya sebentar karena sudah cukup kelelahan seharian.

Ke Blitar, Apa Yang Kukejar

Semarang – Solo – Blitar

Rindu. Aku merindukan atmosfir perjalanan. Suasana keramaian stasiun kereta menjelang keberangkatan. Hiruk pikuk orang yang silih berganti berdatangan. Macam-macam gaya pakaian orang saat bepergian. Dan kesepian yang tiba-tiba datang.

Pembelajaran. Aku ingin belajar dari sebuah perjalanan. Mulai dari persiapan sampai akhir tujuan. Aku ingin tahu lebih banyak hal yang tak sampai bisa ku bayangkan. Sampai benar-benar tersadar, bahwa diri ini hanyalah mahluk Tuhan yang  masih butuh banyak belajar. Maka hilanglah rasa kesombongan. Maka hilanglah rasa kepintaran. Maka hilanglah rasa percaya diri yang berlelebihan. Aku ingin tahu lebih banyak tentang aku. Yang terkadang hilang.

Kesalahan. Aku ingin tahu kesalahan demi kesalahan yang sangat mungkin aku lakukan. Biar jadi pembelajaran. Biar jadi pendewasaan. Biar tidak berulang. Biar jadi cerita di masa yang mungkin datang. Dari sini, aku akan lebih tahu, bagaimana aku dan logikaku. Aku dan keputusanku. Aku dan perasaanku. Yang mereka saling berkaitan. Yang mereka punya andil atas aku yang sekarang. Dan mungkin di masa depan.

Perkenalan. Sangat indah mengenal orang lebih dalam. Tak sekedar bercakap. Tak sekedar berjalan-jalan. Tapi tahu latar belakang yang sungguhan. Agar tak mudah buat penilaian, atas keburukan yang nampak di depan. Bahwa hidup adalah perkenalan yang sebentar. Tak punya waktu lama agar bisa mengenal banyak orang. Yang suatu saat akan dikenal. Bahkan oleh yang tak mengenal. Maka, kenallah. Kenallah atas orang lain. Bisa jadi ini jalan mengenal diriku. Utamanya Tuhanku.

Spiritual. Perjalanan membuatku berpikir. Atas ritual keagamaan yang aku praktikkan. Sudah benarkah? Lantas mengapa itu aku kerjakan? Ada kemudahan. Oh, inikah keindahan lainnya. Bertuhan.

🚈Blitar, East Java

The Unpredictable Life “40 Hari Ibu”

 

wirda

Khawatir.

Sebagai manusia biasa, saya ingin bercerita. Sekarang ini, saya sedang bercerita lewat keyboard di depan komputer layar besar yang membuatku nyaman.

Ya, aku akan menceritakan orang-orang yang ku sayangi. Dia yang menyayangiku tanpa syarat. Walaupun aku bukan manusia yang baik, tapi dia yakin aku akan jadi seseorang, seseorang yang lebih baik dan patut dibanggakan.

Dia yang menggendongku waktu aku jadi manusia kecil ‘bodoh’ yang menjahit tangannya karena ingin melihat warna-warni benang di telunjuknya. Dia menangis. Dia tak sanggup melepaskan cengkraman mesin jahit itu dari jariku. Dia mengambilku dan membawaku ke mantri. Dibawah jatunya air hujan, di tengah remang-remang cahaya Magrib. Dia memelukku dan menangis. Syukurlah aku tak apa.

Ada waktu, di kala banyak PR yang belum aku kerjakan. Lembaan LKS yang berisi pulihan soal, aku keluhkan padanya. Jika dia tak bisa, aku akan merengek untuk memaksa agar dia bisa. Semua PR ku, aku keluhkan padanya. Beruntungnya, aku berhasil mengerjakan PR tepat waktu. Aku berangkat setiap hari ke sekolah dengan kondisi yang terbaik. Aku sudah sarapan. Aku memakai seragam yang bersih dan rapi. Aku siap belajar dan menjadi juara bertahan di SD N Gajah 1. Aku yakin, itu berkat do’a dia setiap harinya. Yang menyetrikakan seragam, menyiapkan makanan, dan mengerjakan PRku di tengah-tengah kesibukannya mencari nafkah.

Samapai SMA pun, dia yang membangunkanku di kala Shubuh datang. Meski aku tak menjawab karena aku pura-pura tak mendengar, dia tetap sabar. Dia menggoreng bakwan, kering tahu, membungkus nasi kucing, dan siap-siap berjualan karena Bapak sudah menanti kedatangan barang dagangan.

Ya, dia Ibuku. Tepat kemarin (16/02) adalah 40 hari Ibu meninggalkan dunia ini. Selama 10 tahun, dia hidup bersama Diabetes di dalam tubuhnya. Dan di tahun ke10 nya, dia mulai merasakan tubuhnya yang berat. Keluar masuk rumah sakit. Tak sadarkan diri, dan pulang. Aku tak menyangka Ibu akan pulang secepat ini. Aku ingin dia menungguku pulang setelah UAS ku selesaikan. Tapi, Allah ingin segera bertemu ibu.

Pagi itu, aku rapikan kamar untuk bersiap ujian, tapi ternyata, itu lah ujian yang sebenarnya. Aku pulang dengan Mbak Zen, teman pondok, menemui Ibu. Kulihat ibu dengan tubuhnya yang kaku. Aku ingin memeluknya. Tapi tidak dengan air mata. Aku menciumnya. Tapi dia tak berdaya. Dia tak bergerak Ya Allah. Secepat inikah? Iya, waktu tak bisa berulang. Tak ada lagi sosok yang dengan tulus memperhatikan baju yang ku kenakan, membuat sarapan, mendengar curhatan anak rantauan. Ibu, aku di sini untuk Ibu, langakah yang kutapaki adalah untukmu. Ketulusan dan keikhlasan merawat dan membesarkanku, tak akan pernah terbayar oleh apapun dariku. Maafkan aku, atas dosa-dosa yang pernah ku perbuat padamu.

Yogyakarta, 17 February 2017

 

 

 

Missing my family

On the way after having interview of WRC and joining Eramus Mundus Action 2, I had the strong connection between my dream, God and myself. I said  at myself that I had only two options for this case i.e. I would or not. My big dream is heading on me.

The interviewing experience was so great. I could meet people who had almost the same vision and mission. I felt so comfortable on what we talked about. We shared our dream and feeling in facing the future. About one thing in the future that we extremely agreed was we would be the house wife. Three of us are going to be a good wife and mother. When I was interviewed by him …., he said that I was the first person who came from English department that attracted for WRC. I think It was not too bad for me because some events before, indicated that my department was different. For me, life is so big. There are so many things I should know. That is why I want to know about knowledge.

The scholarship seminar Eramus Mundus Action 2 was really amazing. The speaker named Prof. Gustavo Belforte. He talked about the Eramus Mundus project and his college Politecnico di Torino. I ever felt so sleepy because he spoke so fast but generally I got the point. The way he answered the questions was so long and clear. Most of the question came from the engineering faculty and I felt like so lost. But I considered that at least I had the same way for facing the future.

This morning I convinced myself that all those dreams might be come true. Reading the story of my friend who accepted in the leadership programme made me so envy. If he can, why I do not. We have the same goal but of course we are going to have our own ways. I am in Gadjah Mada University for Vocational School faculty is out of my plan. God makes it happened and there should be something that God will show at me. Who knows? Now I am missing my family. I realize that they are my true goal of these things. I cannot be without them. I am part of them.

About my life in Yogyakarta lately, I had problem with my new Family here. I was in a home with new friends and I should consider them as my new family but it is a little bit hard for me. They are so different with people who I would like to have. I cannot mix with their soul and actually it is only few of them. Now I do not like to spend much of my time in a home besides the distance is far from my campus. I just want to be an active student who dedicate herself for the future.

Yogyakarta, 11 October 2013