Catatan santri – 12/09/2017

Mengambil pelajaran hidup itu bisa dari mana saja. Dari peristiwa yang kita alami, cerita orang lain, cerita terdahulu, dari buku, dan lain sebagiannya. Belajar tak mengenal ruang dan waktu. Manusia butuh belajar sampai bertemu ajal.

Belajar di sini, di lingkungan ini, ternyata banyak juga. Dengan catatan jika mau dan mampu. Pelajaran yang paling mengena sekarang adalah tentang olah rasa. Jumat kemarin, saya belajar dari simbah mampu mengolah rasa dengan baik. Tidak mementingkan raganya melainkan rasanya. Salah satu nasihatnya di sela-sela membuat cookies adalah bahwa dalam hidup, kita akan saling bekerja sama mencapai tujuan masing-masing, juga tujuan bersama. Dalam melakukan perbuatan yang baik, kita tidak perlu pujian. Juga dalam kesalahan, kita tidak perlu cacian. Yang dibutuhkan adalah kesabaran agar mencapai tujuan. 

Disambung dengan dhawuh Kyai dalam bandongan kitab Riyadhus Shalihin, bahwa merasa yang terbaik itu akan menurunkan derajat kita. Tetapi, merasa yang terbaik berbeda dengan melakukan yang terbaik. Kita semua perlu melakukan yang terbaik. Tapi apa-apa yang sudah kita capai, kita punya, dalam bentuk prestasi, harta dan kekayaan itu jangan sampai mebuat kita menjadi lebih baik dari pada orang lain.

Dengan begitu, timbullah sifat sombong. Sifat yang akan menjerumuskan manusia ke neraka. Tentang sombong, masih dalam bandongan, bahwa sombong itu letaknya ada di hati. Bagaimana dengan rumah mewah, pakaian bagus, gawai canggih, yang dimiliki seseorang? Itu belum tentu bagian dari sombong. Karena semua fasilitas terbaik yang kita miliki, bisa jadi alat untuk berjuang di jalan Allah. Contoh, sebagai muslim, kita wajib memuliakan tamu. Apabila punya banyak tamu, rumah mewah adalah cara untuk memuliakannya, maka itu sah sah saja. Juga berpakaian rapi dan bagus, tidak mau dicap muslim yang kumuh dan dekil bukan? Jika berpakaian rapi adalah caranya, maka itu sangat dianjurkan.

Mengolah rasa, mengolah batin adalah keahlian yang perlu dilatih. Menurut buku yang berjudul Sunan Kalijaga, itu bisa dicapai dengan riyadlah atau latihan dengan tujuan mencari jalan taqwa. Ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Kalau di pondok ini, contoh bentuk riyadloh santri di sini adalah melakukan ngrowot, mutih, bilaruh. Ibaratnya air laut yang tidak terkena ombak, maka air akan terlihat lebih bening. Juga rasa menahan nafsu untuk makan makanan yang sudah menjadi kebiasaan, itu adalah bentuk latihannya, sehingga dalam berdoa bisa lebih khusuk.


Pantai Parangtritis dari Petilasa Kakek Bantal 


Berbicara tentang doa, itu adalah bagian dari mantra manusia dalam kehidupan sehari-hari. Doa adalah keyakinan. Dalam doa, terbesit harapan agar menjadi kenyataan. Maka dengan bahasa apapun, doa sangat mungkin qobul asalkan dengan keyakinan. Banyak doa yang tidak qobul. Bisa jadi itu berhenti di bibir saja. Tidak dengan batin, rasa. Karena keyakinan lewat kata-kata bisa menarik energi di sekitar. Dalam novel Paulo Ceilho di Alchemist,

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Akhir kata, percayalah, sangkan paran kita ada maksudnya, pesannya. Raga boleh jadi pergi kapan saja, tapi amal akan tersjaga selamanya.  


Di kamar pink, yang sekarang terindikasi ada tikus lagi,

Akan kubiarkan malam ini saja dia menginap

Dini hari, 12 September 2017



28/07/2017 – My letter for Father

Dear Father,

This is my third week in Jogja after I met you from Idul Fitri celebration. At the first week, I had a class with a student from US. He is a musician. He has a band with underground music. What I love from him is his adventurous nature. Just like an animal person who really likes animal. That is why he is vegetarian. He has lived in many forest for many nights to live with nature, to hope nothing from a life, to pull away from a crowd. That is what I could interpret from him. 

Talking with him about being vegetarian reminds me about my friends and I while we were on fasting from animals-bilaruhi fasting-for 40 days during Idul Adha celebration. What I could say being vegetarian here is not easy. Almost food sold in warung were already obviously or invisibely contained by animals. Thus, the solution is we cook our meals by ourselves or actively asking about the ingredients of any foods we eat. 

You can assume him as Mas Rosi, coming from one concert to another in groups. We even talk about hitchhike that he often does in Indonesia. Just like me, when scouting group of UGM (Pramuka UGM) and I were hijacking right after tracking many hours to be finally arrived at our campus. It was one of amazing experiences I have with Pramuka UGM in tracking, just like him. He has travelled many places from this archipelago. Oh, how I want to travel these islands too. 

At the weekend, collegues and I were cooking together. I made ice tea and oseng-oseng kangkung among many other delicious dishes successfully provided on the table. I just remembered when Risma suprised to know how simply to put seasoning but creating a good taste on kangkung. I am very happy to have such a good time in cooking, as well as in home. Other enjoying parts are taking photos and chatting with people there. 

But the next week, I have no clear idea of what I am going to do here. My first skype class was cancelled and I turned to be free for a week. That was very terrible! I felt like I am losing my crowd. Something empty. The same situation, when I have no schedule to meet people will be always terrible.

In fact, it makes me remember random things which my bad mood comes. I remember mom and you, that I do not do important things here. I supposed to do something here. As well as your story. How you feel so sad when Risma wanted to move from her new school. I just cannot imagine your feeling is. You certainly did not want to be strict at her that always remind you to Mother, but letting her choose she wants. Thankfully she finally realize that she just needs to adjust herself in a new place around new people with new strict rules.  

Same like me, new condition without having clear plans is unconvenient. But it challenges me to do things I want. How I commit to realise my plans.  How I create creative things to do in a row. How I manage self-consistency with my big enemy, pleasure. By all the distraction on plans I make, being around people here is a gift. Even though I have no agenda to do but people here, together we move in the same mission for an increadible teacher-Pak Kyai. We walk through one duty to another in one reason. 

Helping each other. I was asked by mbak Ana to replace her in elementary school for a Quran class-TPA. I met incradible people on her own. Also, practicing my teaching skill in a big class is always interesting. One student, who cannot be silent, instead of hitting and annoying his friends during the whole class, catches my attention. It turns out that his background and daily life shapes him. His parents, both are working to earn money. Thus, he gets along with high school students to play around. Unfortunately, he sometimes becomes their assisstant to help themselves. A family, which must have more compassion rather than material, is every kids’ right. He deserves to get more attention and compassion.  

You and mother had worked hard. When I was in elementary school, to be honest, I was sad to know you being busy with your stuff rather than asking me if I have homework or not. But now I understand, making money is not easy. Running out of money is such a normal condition before end of months. However, a principal that withdrawing your transferred money is impolite. Graduated student from a university, economically, must be tough.

Besides that, pesantren, is the best place to share anything. We have lots of things to do together including food, time, story etc. We celebrated friends’ birthday. We came to a final paper presentation of our college student. This makes me know more people here and situation on how to get the rhytme to be socially connected. Furthermore, knowing how my spiritually goes so far is the other better. Not only praying for a duty but a call from the heart.  

Princess Zahra’s Final Presentation

Just like this night, a friend of mine, shared with me and other friends after my three years ignoring her so well because of her first worst impression. However, last night is the great time to know each other. We shared our story, how past shapes us. 

Deeply sharing without borders

At the weekend, I spent my time with my roomate, mbak Lian, who knows me well right now. With her, I try to build the best relations to learn mistakes from one another, to share compassion, to give a trust. It is not easy but I believe this time is the right time to the better. Soon I realise that to be always positive thinking is the key out from a conflict. 

Weekend on Opick’s concert

Today, I write this letter inspired by my lecturer, Angela Arunarsirakul, as my source of inspiration. Releasing my motto “coloring the world with my own patterns” is not a new one. It has been many years but I haven’t told anyone what the meaning is. That means, my life is colors (impression, message) for people in their life with my patterns (characters, actions) on my own. Having no idea when my life would end, thus, story is the only thing I can give to this world.
Always happy there.

Your daughter, Wirdatul Aini.

Yogyakarta, 28 July 2017

Hari Rabu

Selanjutnya adalah Memulai belajar, Pengaturannya dan Urutannya.

Hari Rabu adalah hari sempurna untuk memulai belajar. Hari itu adalah hari turunnya cahaya dari Allah. Maka, guru Syaikhul Islam Burhanuddin Rahimahullah  meriwayatkan hadits di bawah ini:

ما من شئٍ بدئَ في يوم الاربعاءِالاّ وقد تمَّ

Tiada sesuatu yang dimulai di hari Rabu melainkan pasti akan sempurna.”


Hari Rabu adalah hari yang pedih bagi kaum kafir dan penuh berkah bagi orang mukmin. Seperti Syeikh Abu Yusuf Al Hamadani Rahimahullah yang memulai seluruh amal kebaikannya di hari Rabu.

Dalam kitab Ta’lim muta’alim, secara ringkas bahwa murid baru perlu mengulang pelajaran sebanyak dua kali secara perlahan. Setelah itu tetap diulang setiap harinya. Jika dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk memahminya, misalkan perlu 10x, maka diakhir juga 10x karena sudah terbiasa dan sebaiknya tidak meninggalkan kecuali kesusahan. Murid baru juga perlu membaca kitab yang lebih mudah agar tertarik dan mudah mengena.

Namun tambahan untuk kami dari ustadz, kebiasaan mempelajari kitab memang tidak biasa bagi banyak santri di pondok kami. Menurut saya, perlu usaha membagi waktu, menghilangkan malas dan tekad yang kuat untuk belajar yang istiqomah (konsisten) dan efektif.

Wallaua’lam bishowab.

Yk, 15.03.16

Ngaji Kitab Ta’lim

Learning Ta’lim Muta’alim written in Persia language. We are usually taught by Ustdz Shobah, but on this great chance, an Ustdz who usually teaches us Tauhid sat down surprisingly in front of us.

We continued to our next material about food and beverages concerned for students. After giving meaning for each word from Arabic into Javanese pegon, Ustdz Miftah explained more the translation related to the real life. This is my resume.
Maka dari itu, disarankan untuk makan roti kering dan anggur dan sebaiknya cukup agar tidak sering haus. Lebih lanjut, karena haus akan menambah dahak.*Dikatakan: “Tujuh puluh nabi sepakat bahwa kelupaan disebabkan oleh banyaknya dahak dan banyaknya dahak disebabkan banyaknya minum, banyaknya minum disebabkan oleh banyaknya makan.”


Disarankan untuk bersiwak atau sikat gigi untuk mengurangi dahal dan menambah ingatan. Siwak adalah sunnah agar menambah pahal saat membaca A- Quran.

**Merusak banda bermaksud bahwa makan yang banyak akan menyebabkan resiko penyakit yang muncul sehingga perlu biaya untuk berobat ke dokter.

***Hukum makruh –

Cara mengurangi makan banyak yakni dengan makan sedikit yang bisa memperoleh faedah seperti tabel di atas.

Ustadz juga menambahkan, “makan setelah lapar, tidur setelah ngantuk”. Makna dari kalimat tersebut adalah berpuasa diantara kebanyakan orang lapar dan melakukan Shalat malam khususnya Tahajjud diantara lelapnya orang-orang tidur.

Diriwayatkan bahwa Syeikh Nawawi Al-Batani, mengarang kitab Syafinatun Najah, adalah guru Thariqoh yang menjadi murid Syeikh Yusup Al-Hamadani. Beliau tinggal di pesisir tetapi tidak makan ikan, atas ijazah berguru dengan Imam Nawawi.

“Memakan buah delima banyak tidak lebih baik dari memakan ikan yang sedikit”

Maksudnya, makan ikan menyebabkan kemalasan, jika dibandingkan dengan buah delima, maka lebih baik makan buah delima. Tapi untuk keutamaan makan sedikit, maka lebih baik, walaupun yang sedikit itu adalah makan ikan.

Wallahua’lam bishowab.

Yk, 15.03.16

Thank You Allah

Dear Allah,

Thank you Allah, for everything You have given to me. I believe, place I belong, people I meet, situations I undergo, friends I make, are your planning to me. Someone who came to me, and bring me in love, even for a while, I believe it comes from You. What a sin I am ignoring You sometimes, forgetting You in a hard and good time.

I am afraid, someday, I will forget you in a situation I don’t expect. I am afraid of people I will meet in the future, will make a distance between me and You. Once again, I am afraid of spouse I will have. I will live with him. I will share with him. I will make a heaven in our home. I can’t imagine one person, it’s too earlier. I don’t want to close with any guy yet, I don’t want to make a hope. I don’t want to get heartbreaking. I want to wait for your fate. I believe, Your fate is better for me. I believe You have chosen him, for my heaven, and create another heaven, even after life.

Today, I felt great. I could share part of my life with my coordinator. At first, it is very hard telling what I am doing in my Islamic boarding school. It felt like it was contrast at Realia life. However, she was nice. She just needs knowing more about what Islam is and moreover, she needs gathering with good people.

By the time, I hope I can learn more my faith in You whenever and whenever I am. Nowadays, I would try building a strong self-defense to know what I know, to do what I plan, to learn what I need, to get into You. If ‘Inayatullah is the officially place, I want to thank you for bring me here. I mean, it is not easy to blend everything, but I must. This introvert type should learn and adjust for many situations. Tomorrow, I will meet new people. I should be ready for them. I should be tough here. Focus what I learn.

Also, I felt that friends are everything. They are great. Pramuka, brought me to meet them, Iroh, Windu, and Wiji. We meet to share and to close our friendship. Thank you Allah.

So much thank you, for being here

Yogyakarta, 19-02-2016



Sentuhan Pagi di Sweet Seventy Indonesiaku

“Aku harus segera menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Berat sekali melakukannya, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.”

Pagi ini, aku lanjutkan membaca novel Tere Liye. Kisah seorang laki-laki bernama Tegar. Tentang sebuah kesempatan. Tentang kerelaan yang berujung pada pemahamam. Memahami indahnya menerima, memaafkan, tapi tidak melupakan. Sebuah kerelaan untuk menikam hati begitu dalam untuk mengambil pemahaman baru. Berdamai dengan diri sendiri dan sepotong masa lalu.

Hubbul wathaan minal iimaan. Pagi ini juga, adalah hari kemerdekaan Indonesia. Hari ini, tepat 70 tahun Indonesia merdeka. Betapa besar pengorbanan pejuang atas keringat dan darah mereka untuk memeperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pagi yang agak getir. Aku berusaha menyelipkan waktu sebelum shubuh untuk bersujud dan berkhalwat dengan-Nya. Tapi terisak oleh sempitnya waktu yang mengharuskanku sahur. Keduanya kulakukan serba ganjil. Keganjilan yang berujung dengan suara bedug di Masjid An-Namiroh. Masjid di pondok Inayatullah.

Setelah shubuh berjamaah, pak Kyai ngendikan Qur’anan untuk memperingati Kemerdekaan RI. Sejenak santri yang terlihat mengantuk bangkit dari tempatnya. Hari ini kami melakukan kegiatan yang berbeda. Jika biasanya santri putra mujahaddah dan santri putri setoran mengaji, berbeda dengan hari ini. Kami berkumpul di Aula.

Aula shubuh yang berbeda. Pak Kyai terlihat menunggu santri yang lain berdatangan. Saat mahalul Qiyam, kami meneruskan lantunan shalawat nabi dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Pak Kyai memimpin langsung para santrinya. Sungguh, lagu yang miris. Miris mengiris karena sebagai santri, aku merasa belum memberikan kontribusi konkrit untuk bangsa ini.

Juga berbeda bagi mereka yang kemarin malam tidak bandongan dan tertinggal satu rakaat shubuh berjamaah. Mereka harus bersiap menerima ta’zir dari pak Kyai. Ada tiga santri putri yang berdiri dekat jendela. Mbak Miftah dan Mbak Dilla karena tidak ijin absen mengikuti bandongan dan Mbak Tika yang tidak shubuhan di Masjid.

Aula menjadi saksinya. Mereka membacakan UUD 1945 dengan muka tersipuh malu dihadapan santri putri dan Pak Kyai. Karena masih ganjil, santri putra menyempurnakan bacaan UUD 1945. Tapi ternyata  alinea ke empat Pembukaan UUD 1945  yang dibacakan kang Ibnu semakin terasa ganjil. Kembali ke santri putri, mereka menyanyikan lagu Kebangsaan Hari Kemerdakaan ciptaan pak H. Mutahar dan Garuda Pancasila.

Riang, damai dan penuh arti. Ngendikan pak Kyai bahwa para santri lah yang memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Juga petikan obrolan SIC inspirasi center kemarin sore, bahwa nilai sabar dan ulet santri dulu, sepatutunya dicontoh oleh kalangan santri sekarang.

Semoga para pahlawan, mayoritas Muslim mendapat tempat terindah dari Allah SWT.

Semoga Indonesia bisa bangkit, ditengah krisis yang melilit.

Pagi yang penuh arti. Sebuah pemahaman baru untuk santri Nusantara.

Yogyakarta, 17 Agustus 2015

Dunia Itu Pasti


سم الله الرحمن الرحيم

Rutinitas di pondok sudah dimulai. Mulai dari kembalinya aktif kelompok piket harian dan dalem, masak, kewajiban shalat jama’ah di masjid, bandongan, madrasah diniyah, mujahddah, mengaji shubuh, hafalan dan sholawatan. Ramai penuh sesak. Kamar letter L, kamar besar, siap dihuni 10 karakter berbeda dari berbagai multidisiplin ilmu.

Bagiku, bandongan adalah aktivitas paling menarik. Bertemu langsung dengan pak Kyai Chamdani Yusuf, melantunkan kalamullah berjama’ah, membuka lembar demi lembar kitab  مختار الأ حاديث . Menerjemahkan dalam bahasa Jawa disertai analogi dan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang terlintas di benakku dan santri lainnya sering dibahas saat bandongan.

Pun bandongan edisi hari ini. Sekelumit perasaan membuncah yang terus menerus mempertanyakan kepastian. Segunung kekhawatiran yang membeku dan menerkam hati. Iya, aku tak bisa berhenti dari kekhawatiran masa depanku. Ingin sekali rasanya aku lari dan lari mengejar keinginan-keinginan itu. Tapi sekarang, ragaku mulai lelah, keinginan itu mulai pudar. Apa sebenranya yang aku inginkan? Apakah aku melupakan kebutuhan yang seharusnya aku utamakan?

Pak Kyai membuka bandongan malam mini dengan menceritakan santri putri yang meminta ijazah dengan ngrowot (tidak memakan makanan yang terbuat dari beras yang merupakan makanan pokoknya). Beliau tidak menyetujui santri tersebut karena ngrowot tidak bagus untuk rahim perempuan. Wanita bisa meminta ijazah dengan puasa, menaati peraturan pondok, shalat jama’ah, mengaji, shalat malam dan rajin belajar. Dengan niat memnita ridho Allah SWT sebagai ikhtiar prihatin atas ilmu, pasangan dan keturunan.

Selanjutnya adalah perkara rejeki.

.قال الله تعالى وما من دا بة فى الارض الا على الله رزقها.

وقال تعالى والذين اذا انفقوا لم يسرفوا ولم يقترواوكان بين ذلك قواما

(Halaman 220 – مختار الأ حاديث ~ تهذيب النفوس)

Bahwa rejeki itu dibagi menjadi dua; bil wahbi dan bil hasbi. Bil wahbi yakni rejeki peparing dari Allah SWT. Rejeki yang sudah pasti untuk mahluk-Nya. Contohnya sosok santri yang sumantri. Kalau memang sudah rejeki, dengan tidur pun rejeki makanan sering datang menghampiri. Itulah ciri khas kehidupan pondok. Penuh keprihatinan penuh keberkahan.

Yang kedua adalah bil hasbi yakni dengan usaha. Burung keluar dari sarangnya mencari makan seiring embun pagi diujung dedaunan segar. Kembali lagi ke sarang dengan perut kenyang. Esuk pun kembali menerjang awan. Rejeki atas usaha burung yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

Manusia hanya bisa ikhtiar. Ikhtiar bisa dilakukan dengan berbagai hal. Bisa dengan bekerja. Ada juga yang seharian berdzikir seharian. Yang terakhir karena salah satu usaha ketetapan iman an Islamnya. Kembali lagi, bahwa rejeki sudah ada yang menentukan.

Dunia adalah sesuatu yang pasti. Allah SWT tidak memandang mahluk-Nya yang taat dan tidak, rejeki sudah ditentukan-Nya. Tak perlu ngoyo dalam mengejarnya. Sangat keliru jika terlalu mengejar-ngejar dunia. Sampai-sampai meninggalkan shalat berjama’ah dan amal ma’ruf lainnya. Ikhtiar diniatkan untuk ketetapan iman dan Islam.

Semoga diri ini tetap istiqomah mencari ridho-Mu. Hanya ridho-Mu.

Wallahu a’alam bishowab

Ghasab yang Hampir Membudaya

Setiap bulan Ramadhan, kegiatan mengaji di Pondok Pesantren Inayatullah berbeda dengan kegiatan di bulan-bulan biasanya. Di bulan suci ini, lebih banyak kitab yang dikaji. Mulai pagi hari setelah shalat Shubuh berjamaah dan mujahaddah, para santri mengaji kitab Riyadus Shalihin. Kemudian kegiatan mengaji berlanjut pukul 09.00 WIB dengan mengaji kitab yang sama di pimpin langsung oleh Kyai Chamdani Yusuf selaku pengasuh di pondok pesantren salaf tersebut. Malamnya, setelah 30 menit melaksanakan shalat tarawih, kegiatan mengaji berlanjut pada kitab-kitab Kanzun najah, Shollu’alaih, Durorul bahiyah, Tafsir Surah Yasin, Ayyuhal Walad dan Ta’limul Muta’alim.

Hari Senin (22/5) adalah hari ke 5 bulan suci Ramdhan. Bel tanda mengaji sudah berbunyi. Para santri bersiap-siap menuju aula untuk mengaji kitab Riyadhus Shalihin. Diawali dengan tadarus al-Qur’an yang dipimpin oleh Kyai Chamdani Yusuf dan diikuti oleh seluruh santri yang hadir kecuali santri putri yang sedang udzur.

Setelah tadarus, Pak Yai, panggilan akrab Kyai Chamdani Yusuf, memulai mengkaji kitab kitab Riyadhus Shalihin halaman 123. Dengan membacakan kata per kata diikuti terjemahan dalam bahasa Jawa.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasululiah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang menganiaya – mengambil tanpa izin pemiliknya – seukuran kira-kira sejengkal tanah, maka tanah itu akan dikalungkan di lehernya dari tujuh lapis bumi — sebagai siksanya pada hari kiamat nanti.” (Muttafaq ‘alaih)

Selanjutnya Pak Yai menerangkan maksud dari hadist diatas disertai contoh dalam kehidupan sehari-hari seorang santri.

Terkait hadist di atas, Pak Yai dengan terang menjelaskan perkara Gashab yang sering sekali terjadi di kalangan santri. Dari pengertiannya, ghasab adalah menguasai hak orang lain, baik bentuknya harta atau hak guna, yang dilakukan secara paksa, tanpa alasan yang benar. Ghasab berlaku untuk semua harta dan hak guna. Ghasab hukumnya haram.

Realita yang terjadi di Pondok adalah masih ada santri yang kehilangan sandal setelah  shalat berjama’ah di masjid. Dari penjelasan Pak Yai, lebih baik nyeker atau tanpa memakai sandal daripada harus ghasab. Patutlah diacungi jempol bagi santri yang nyeker sepulang dari masjid.

Hidup secara bersama-sama, memang tidak mudah untuk menghilangkan perbuaan haram yang hampir menjadi kebiasaan tersebut. Bahkan tanpa disadari, memakai barang yang bukan hak bisa dilakuakan secara tidak sengaja yang membuat para santri dilemma. Sebuah pernyataan dari seorang santri putra di grup Facebook Santri Inyataullah berikut adalah bukti dilema santri agar bersih dari perbuatan ghasab.

 24-6 Postingan Kang Faiz

Maka, bulan Ramadhan ini adalah bulan yang tepat untuk memohon ampunan Allah swt. Seyogyanya manusia tidak perlu menginginkan hak milik orang lain. Bagi mereka yang menginginkan harta orang lain tanpa ijin, maka wajib baginya neraka dan pantang untuk ke surga. Terlebih santri yang setiap hari belajar agama dan akan menjadi contoh di masyarakat yang membutuhkan amalan ilmunya di kemudian hari.

Effective Tips to Manage My Finance

Hello! My name is Wirda. I am currently a second-year student of English study program in Gadjah Mada University. My college is located in Yogyakarta, whereas I live in Demak, Central Java. At my first year, I lived in a rent house. But, because I found that there was an Islamic boarding school, I decided to move there. At that moment, I found many differences how to organize myself between living in a rent house and an Islamic boarding school. But, I would like to say that the main different is how I manage my finance. There are three tips that I use to manage my finance; have a Daud fasting, practice a simple life style and find a job.

The first thing I do to manage my finance is doing a Daud fasting. A Daud fasting is a Muslim way to get closer with God by doing fasting in a day and the day after the next day respectively in a duration time that has defined. For example, I do fasting on Monday and I will do fasting again on Wednesday continuously in a year. From this tips, I only will spend my money to eat on the day I do not fasting because actually I have a dinner in my boarding that has provided meal for every students there in the evening.

The next is to apply a simple life style in a daily life. It means that I will not to be a hedonic person. As we know, globalization has changed many people life style. Western brings many influences of Eastern life style. I would like to say that it’s not totally wrong, but I would like suggest that Eastern should not lose their identity by this changing. For example, a shopaholic is not an Eastern lifestyle. But currently, I find my friends who are really crazy to go shopping. Thus, I choose to not follow that mainstream. I’d rather allocate my finance to complete my academic needed. Simply life is easy. It is a self-management. Priority of each person is different.

The last is finding a job. A college student, like me, has spare time outside the lectures. Many of my friends use their spare time by working part time job. For example, Kristi, who becomes a waitress in a coffee shop and Nurul, who has an online shop.  Just like me, I become an elementary teacher every Saturday. Besides I can practice my teaching skill, I also can afford salary by doing my hobby as a job.

In summary, I do a Daud fasting, simple life style and a part time job as the three tips that I can do to manage my finance. However, those trip can be suitable for college student if they have a simply life principal, just like mine. It can be start by having a good self-management to have an effective finance management.

 Yogyakarta, 13 April 2015

To Feel Alive

“You don’t have to change the world in order to have a meaningful life. You don’t always have to do things that are extreme and unbelievable and outside of the norm in order to feel alive. You can feel alive just by acknowledging your own worth and the worth of everyone around you.”


Being out of the box is a dream for some people, including me. But, it makes me trapped on a difficult situation to compare myself with others. Thus, I will not allow myself to be someone else because I have something that cannot be imitated by others. Sometime I consider myself to feel alive as my own without thinking of others’ opinions. As my recent time I have passed, I am a typically someone who cannot live monotony. I want to do things out of the box because I know that it is too common having a life like them.

Fortunately, it does. I make up my life. I am not like people in my village, people in my family even people in my study program. I am different with them. That is one of my ways to feel alive. When I try to interact all the repetitiveness as their own, I cannot feel alive. I feel losing parts of my life. For instance, I was involved all the activities in Scout UGM last year, I felt happy there. But then, I considered that I could not do more than myself challenges. However, when I decided to live in a different way by the monotony in boarding house and college, so did I. Thus, I think I need to integrate all things that make me feel alive. Put things together. All my activities are related to one another.

“Jumping out of a plane is remarkable. So is quitting your job and moving across the country, or traveling the world and living out of a backpack for several months. But these are not the only things that make you brave. These are not the only things that signify that you’re living your life right. These are not the only things that give your life meaning.”

I plan to Featured Image -- 366move across the country every year. I and mostly people think that it is a remarkable. So is my journey to Japan. That is my dream and most people. However, it has changed my mind after coming back from there. It is not about how many times I go abroad, but how many changes I have made for myself and others. Honestly, there are many plans to come back to Japan as my future plans. But, it is not about having a seminar and going around the cities, it’s more about the Muslim life as the minority, that they can take a prayer like here. Not only Japan, but I plan to go to Europe. I am sure, it will not easy as I write and post this story, but that significant dream, I will start by gathering phrases into sentences, like now.

Nowadays, the environment of making achievements are showed up. Students in college will do this and this in order to complete the requirements or just to feel a live. For instance, I, a common student, was challenged to compete with other students in an achievement student awarded or Penghargaan Mahasiswa Berprestasi of UGM. After long periods of dreaming, from a way that I have never expected, I became a candidate to be with them, achievements students in UGM. Pessimistic has changed my life, that everyone life should be surrounded by an optimistic, that you can follow your dream (read: the power of dream). The way you live your life is doing your best, for your life and your surroundings, primarily for Allah, The Most Glorified and The Most High.

In summary, feeling a live by people is different. They can do remarkable or ordinary things that make them alive. However, every option and action that we do, will signify others that we are all part of life in the different ways to feel alive.

Yogyakarta, 14 April 2015