Mengapa Aku Diciptakan

Masih dengan keraguan-keraguan dan pertanyaan, kenapa saya ada di sini? Tinggal di pondok pesantren. Bekerja dengan orang-orang dari banyak latar belakang. Adakah kesepakatan yang sudah saya buat dengan Tuhan sebelum saya dilahirkan?

Pertanyaan itu berhenti dengan pertanyaan, apa hakikat penciptaan manusia di dunia yang saya ajukan ke Yai Mukhtar tadi malam.

Adanya manusia di dunia adalah untuk menunjukkan kekuatan dan kebesaran Tuhan, Allah SWT. Sebagaimana saya tulis di artikel sebelum ini, bahwa tugas manusia hanya untuk beribadah. Manusia berbeda dengan mahluk lainnya. Bukan binatang yang akan berpikir tentang keilmuan untuk mengatur dunia. Bukan malaikat yang senantiasa bersujud menyembah Tuhan. Bukan setan dan iblis yang membangkang karena kesombongan. Manusia adalah manusia, yang punya nafsu dan akal.

Nafsu lah yang menjadi pembeda dengan mahluk lainnya. Nafsu penting untuk keberlangsungan manusia sebagai manusia. Nafsu makan akan mendorong manusia untuk makan dan akal akan membuat manusia memilih makanannya, bukan asal makan dan tidak tahu aturan. Nafsu syahwat, disebutkan oleh Yai Mukhtar, bahwa adanya kelahiran manusia karena nafsu syahwat. Ini pun ada aturannya, tidak sembarang bisa dilakukan dengan siapa saja melainkan dengan mahram, pasangan yang halal. Dan karena nafsu, manusia punya angan-angan dan tujuan. Punya arah tentang hal-hal yang ingin dilakukan dan dicapai. Manusia dan nafsunya, tidak perlu dimatikan tapi dikendalikan.

Nafsu itu diperlukan. Jangan dimatikan, tapi dikendalikan.

Adanya nafsu ini, manusia adalah mahluk Tuhan yang berbeda. Inilah tanda adanya kehidupan bahwa ada perbedaan. Manusia jauh lebih tinggi derajatnya dari malaikat ketika manusia (dengan nafsunya) beribadah pada Tuhan. Mengingat malaikat diciptakan hanya untuk bersujud pada Tuhan tanpa nafsu dunia sedikitpun. Sedangkan iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia sepanjang hari dan malam. Sungguh lebih buruk dari Iblis dan setan apabila manusia tidak beribadah pada Tuhan. Maka lengkap lah, kehidupan ini.

Perbedaan menciptakan dan membuktikan adanya kehidupan.

Proses perjalanan manusia lahir di dunia dan kembali ke pencipta-Nya nyatanya penuh lika-liku coba. Tidak pernah tahu akan dilahirkan dari rahim siapa dengan kondisi yang bagaimana dan dengan warna kulit dan jenis rambut seperti apa. Apakah orang tua seorang Kiai, atau bandar narkoba, petinggi negara atau penjaga biara, ibu rumah tangga atau wanita penggoda. Lahir dan besar dengan berbagai macam tantangan. Terkadang ada hal-hal yang membuat perjalanan ini menjauh dan menyepi dari keramaian memuji Tuhan. Atau sebaliknya, keraguan menumbuhkan rasa penasaran untuk mencari jalan mengenal Tuhan.

Karena hidayah adalah murni urusan Tuhan. Berbeda dengan rahmat dan ridho Tuhan. Ini ditempuh dengan cara mematuhi perintah Tuhan sebagaimana yang ada di Al Quran dan Hadits. Jalur menjadi orang beriman dan bertqawa adalah cara mendapat rahmat dan ridho-Nya di dunia dan kehidupan setelahnya. Akhir kata, ibadah apa yang bisa kita banggakan untuk-Nya.

Sungguh, jika kamu ingin menjadi orang yang alim, maka belajarlah. Ingin menjadi orang yang kaya, maka bekerjalah. Ingin mengenal pencipta, maka beribadahlah. Tidak ada yang tiba-tiba. Semua perlu proses dan usaha. Inilah letak ikhtiar manusia. Bekerja bisa jadi jalan mendekat dengan Tuhan. Belajar di kampus bisa jadi salah satu cara mengenal kebesaran Allah lewat keilmuan.

Karena surga dan neraka adalah pilihan. Dengan nafsu dan akal, mana yang akan kita pilih untuk menuju jalan pilihan. Yang utama dan yang paling utama, tujuan hidup adalah mencari ridhoNya lewat ibadah sehari-hari yang kita jalankan.

Begitulah sedikit yang saya rangkum dari Yai Mukhtar.

Bawah masjid, 17/12/17

Wallahu a’lam bishowab..

 

 

Advertisements

Pingin Sakit, Sudah Bosan Sehat

Sakit. Sudah sejak lama aku menginginkannya. Entah kenapa, rasa rindu sakit datang saat melihat teman sakit. Rindu merasakan sakit. Rindu mendapat perhatian dan kasih dari orang terdekat. Rindu, rindu istirahat sejenak dari khayalan dan harapan yang tak kunjung datang. Rindu untuk hanya berpikir, aku pasti akan sehat. Rindu dengan ibu. Kata kata yang terdengar dari mulutnya di saat raga lemas tanpa daya. Rindu saat Ibu memintaku minum obat, tapi aku hanya bilang keroan saja sudah cukup.

Kali ini, rindu itu terwujud. Rasa sakit. Sakit fisik. Sakit yang tidak biasa kurasakan di kala aku sehat. Sudah beberapa hari ada rasa yang tidak biasa di badan. Mual, mudah pusing, dan lemas. Secara sadar, ini karena kelelahan akibat begadang. Yang ku sambungkan dengan kopi. Hasilnya, seharian tidur tanpa makan. Mulailah dari situ. Bersepeda ke kampus aku ganti denga Trans Jogja (TJ), satu-satunya transportasi publik yang memungkinkan kujangkau. Puasa ku hentikan dulu. Alih-alih mau mendapat fisik yang membaik. Mengatur alarm untuk tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Semua karena aku ingin merasakan sehat lagi. Rasa rindu akan sakit sudah terobati. 

Saat sehat sudah hampir datang, tiba-tiba muncul sakit lain di bagian badan yang lain. Ini membuatku benar-benar berpikir, dosa apa yang telah kuperbuat. Apakah ada hak-hak orang lain yang kuambil? Apakah ada kewajiban yang belum kutunaikan?

Mulai berpikir. Sampai pagi ini, aku membuka buku ‘Uncommon Sense’ oleh Dr. Mel Gill. Halaman pertama yang terbuka di pelupuk mata tentang Pain. This might be the answer, dalam hati. Aku baca berulang dengan seksama.

Buku ini masih minjem, tapi aku mau punya sendiri; Uncommon sense, buku sakti!

Rasa sakit, bisa jadi tanda untuk tubuh berteriak meminta perhatian. Beberapa orang akan mengaku kuat, sehingga mengabaikan rasa sakitnya. Tapi nyatanya, rasa sakit adalah tanda tubuh minta perhatian, nutrisi atau sesuatu yang belum ia terima.

Terkadang itu tanda stres dan hanya perlu waktu istirahat. Nyatanya, sakit mental dan emosi adalah dua hal beda tapi saling berhubungan. Salah satu penyebab sakit adalah harapan yang belum juga datang. Rindu akan orang-orang tersayang. Ya, aku rindu keluargaku. Orang-orang yang bersamaku, ada untukku, waktu aku kecil dulu. Kenangan itu muncul dan seakan aku ingin kembali ke masa itu. Saat masa-masa kecilku, dengan ibu bapak dan kakak adik di rumah.

Rasa rasa kehilangan mulai muncul saat kakak pergi ke pondok dan pulang hanya sekali sebulan. Keberangkatannya selalu jadi pilu tersendiri di hati. Tapi waktu menenangkanku. Makin lama, pilu itu memudar bersama waktu.

Bagaimanapun, waktu telah merenggutnya, waktu memaksanya pergi, waktu mengubah hari itu, waktu mengganti waktu itu. Kini ibu tiada, bapak sendiri, kakak di ibu kota, adik di pondok yang kabar keinginan pindahnya selalu membuatku khawatir. Apa yang waktu telah perbuat sehingga segala sesuatu bisa jadi seperti ini. Berubah dan terus berubah. 

Mungkin kerinduan itu, yang  menggangu pikiranku. Berharap kalau waktu bisa mengembalikan masa itu. Waktu bisa menghadirkanku di ruang dan waktu kala itu. Tapi nyatanya, ia tak mau.

Tak hanya kerinduan akan waktu yang sudah berlalu, tapi kepastian waktu yang belum tahu. Harapan demi harapan kusematkan agar hidup terarah ke tujuan. Seperti kata orang bahwa seseorang harus punya target dalam menapaki kehidupan. Ya, harapan itu tak kunjung bertemu. Dan tinggal dengan harapan-harapan yang semu, akan memicu rasa sakit, kekecewaan. Sakit itu, yang menjadi tanda fisik, yang tidak menerima kepuasan atas keinginan dan harapan.

Menurut buku ini -yang mana sudah ada bahkan ribuan tahun lalu- mengurangi harapan dan keinginan adalah prinsip sederhana, bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Dengan menganggap bahwa setiap pertemuan adalah hadiah. Bahwa keberadaan orang-orang adalah penggerak jiwa. Bahwa setiap momen adalah karunia.

Tapi bagaimana kalau mereka meninggalkan kita? Orang-orang yang kita anggap membahagiakan, satu demi satu hilang dari pandangan? Jawabannya, tidak perlu merasa sendiri atau merasa sedih meratapinya, tapi justru menjadi yang membahagiakan.

Daripada menunggu orang lain memberi kebahagian, bersyukurlah dan berbahagialah atas orang-orang yang ada di sekitar kita. Tentu, mengikhlaskan mereka yang pergi akan perlu waktu. Dan itu bagian dari proses mendewasa menuju kematangan emosi dan tentunya spiritual.

#Di kamar bambu dengan cahaya matahari yang memaksa masuk di sela-sela anyaman, aku sampaikan salam rinduku padamu, Ibu. Saat aku terbangun dari mimpi ini, aku akan memelukmu erat dan bercerita tentang semua peristiwaku, bahagia dan piluku bertemu dengan orang-orang yang mengisi kekosongan waktuku.

Yogyakarta, 6 November 2017

Catatan santri – 12/09/2017

Mengambil pelajaran hidup itu bisa dari mana saja. Dari peristiwa yang kita alami, cerita orang lain, cerita terdahulu, dari buku, dan lain sebagiannya. Belajar tak mengenal ruang dan waktu. Manusia butuh belajar sampai bertemu ajal.

Belajar di sini, di lingkungan ini, ternyata banyak juga. Dengan catatan jika mau dan mampu. Pelajaran yang paling mengena sekarang adalah tentang olah rasa. Jumat kemarin, saya belajar dari simbah mampu mengolah rasa dengan baik. Tidak mementingkan raganya melainkan rasanya. Salah satu nasihatnya di sela-sela membuat cookies adalah bahwa dalam hidup, kita akan saling bekerja sama mencapai tujuan masing-masing, juga tujuan bersama. Dalam melakukan perbuatan yang baik, kita tidak perlu pujian. Juga dalam kesalahan, kita tidak perlu cacian. Yang dibutuhkan adalah kesabaran agar mencapai tujuan. 

Disambung dengan dhawuh Kyai dalam bandongan kitab Riyadhus Shalihin, bahwa merasa yang terbaik itu akan menurunkan derajat kita. Tetapi, merasa yang terbaik berbeda dengan melakukan yang terbaik. Kita semua perlu melakukan yang terbaik. Tapi apa-apa yang sudah kita capai, kita punya, dalam bentuk prestasi, harta dan kekayaan itu jangan sampai mebuat kita menjadi lebih baik dari pada orang lain.

Dengan begitu, timbullah sifat sombong. Sifat yang akan menjerumuskan manusia ke neraka. Tentang sombong, masih dalam bandongan, bahwa sombong itu letaknya ada di hati. Bagaimana dengan rumah mewah, pakaian bagus, gawai canggih, yang dimiliki seseorang? Itu belum tentu bagian dari sombong. Karena semua fasilitas terbaik yang kita miliki, bisa jadi alat untuk berjuang di jalan Allah. Contoh, sebagai muslim, kita wajib memuliakan tamu. Apabila punya banyak tamu, rumah mewah adalah cara untuk memuliakannya, maka itu sah sah saja. Juga berpakaian rapi dan bagus, tidak mau dicap muslim yang kumuh dan dekil bukan? Jika berpakaian rapi adalah caranya, maka itu sangat dianjurkan.

Mengolah rasa, mengolah batin adalah keahlian yang perlu dilatih. Menurut buku yang berjudul Sunan Kalijaga, itu bisa dicapai dengan riyadlah atau latihan dengan tujuan mencari jalan taqwa. Ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Kalau di pondok ini, contoh bentuk riyadloh santri di sini adalah melakukan ngrowot, mutih, bilaruh. Ibaratnya air laut yang tidak terkena ombak, maka air akan terlihat lebih bening. Juga rasa menahan nafsu untuk makan makanan yang sudah menjadi kebiasaan, itu adalah bentuk latihannya, sehingga dalam berdoa bisa lebih khusuk.

20170902_123809

Pantai Parangtritis dari Petilasa Kakek Bantal 

 

Berbicara tentang doa, itu adalah bagian dari mantra manusia dalam kehidupan sehari-hari. Doa adalah keyakinan. Dalam doa, terbesit harapan agar menjadi kenyataan. Maka dengan bahasa apapun, doa sangat mungkin qobul asalkan dengan keyakinan. Banyak doa yang tidak qobul. Bisa jadi itu berhenti di bibir saja. Tidak dengan batin, rasa. Karena keyakinan lewat kata-kata bisa menarik energi di sekitar. Dalam novel Paulo Ceilho di Alchemist,

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Akhir kata, percayalah, sangkan paran kita ada maksudnya, pesannya. Raga boleh jadi pergi kapan saja, tapi amal akan tersjaga selamanya.  

 

Di kamar pink, yang sekarang terindikasi ada tikus lagi,

Akan kubiarkan malam ini saja dia menginap

Dini hari, 12 September 2017

 

28/07/2017 – My letter for Father

Dear Father,

This is my third week in Jogja after I met you from Idul Fitri celebration. At the first week, I had a class with a student from US. He is a musician. He has a band with underground music. What I love from him is his adventurous nature. Just like an animal person who really likes animal. That is why he is vegetarian. He has lived in many forest for many nights to live with nature, to hope nothing from a life, to pull away from a crowd. That is what I could interpret from him. 

Talking with him about being vegetarian reminds me about my friends and I while we were on fasting from animals-bilaruhi fasting-for 40 days during Idul Adha celebration. What I could say being vegetarian here is not easy. Almost food sold in warung were already obviously or invisibely contained by animals. Thus, the solution is we cook our meals by ourselves or actively asking about the ingredients of any foods we eat. 

You can assume him as Mas Rosi, coming from one concert to another in groups. We even talk about hitchhike that he often does in Indonesia. Just like me, when scouting group of UGM (Pramuka UGM) and I were hijacking right after tracking many hours to be finally arrived at our campus. It was one of amazing experiences I have with Pramuka UGM in tracking, just like him. He has travelled many places from this archipelago. Oh, how I want to travel these islands too. 

At the weekend, collegues and I were cooking together. I made ice tea and oseng-oseng kangkung among many other delicious dishes successfully provided on the table. I just remembered when Risma suprised to know how simply to put seasoning but creating a good taste on kangkung. I am very happy to have such a good time in cooking, as well as in home. Other enjoying parts are taking photos and chatting with people there. 

But the next week, I have no clear idea of what I am going to do here. My first skype class was cancelled and I turned to be free for a week. That was very terrible! I felt like I am losing my crowd. Something empty. The same situation, when I have no schedule to meet people will be always terrible.

In fact, it makes me remember random things which my bad mood comes. I remember mom and you, that I do not do important things here. I supposed to do something here. As well as your story. How you feel so sad when Risma wanted to move from her new school. I just cannot imagine your feeling is. You certainly did not want to be strict at her that always remind you to Mother, but letting her choose she wants. Thankfully she finally realize that she just needs to adjust herself in a new place around new people with new strict rules.  

Same like me, new condition without having clear plans is unconvenient. But it challenges me to do things I want. How I commit to realise my plans.  How I create creative things to do in a row. How I manage self-consistency with my big enemy, pleasure. By all the distraction on plans I make, being around people here is a gift. Even though I have no agenda to do but people here, together we move in the same mission for an increadible teacher-Pak Kyai. We walk through one duty to another in one reason. 

Helping each other. I was asked by mbak Ana to replace her in elementary school for a Quran class-TPA. I met incradible people on her own. Also, practicing my teaching skill in a big class is always interesting. One student, who cannot be silent, instead of hitting and annoying his friends during the whole class, catches my attention. It turns out that his background and daily life shapes him. His parents, both are working to earn money. Thus, he gets along with high school students to play around. Unfortunately, he sometimes becomes their assisstant to help themselves. A family, which must have more compassion rather than material, is every kids’ right. He deserves to get more attention and compassion.  

You and mother had worked hard. When I was in elementary school, to be honest, I was sad to know you being busy with your stuff rather than asking me if I have homework or not. But now I understand, making money is not easy. Running out of money is such a normal condition before end of months. However, a principal that withdrawing your transferred money is impolite. Graduated student from a university, economically, must be tough.

Besides that, pesantren, is the best place to share anything. We have lots of things to do together including food, time, story etc. We celebrated friends’ birthday. We came to a final paper presentation of our college student. This makes me know more people here and situation on how to get the rhytme to be socially connected. Furthermore, knowing how my spiritually goes so far is the other better. Not only praying for a duty but a call from the heart.  

Princess Zahra’s Final Presentation

Just like this night, a friend of mine, shared with me and other friends after my three years ignoring her so well because of her first worst impression. However, last night is the great time to know each other. We shared our story, how past shapes us. 

Deeply sharing without borders

At the weekend, I spent my time with my roomate, mbak Lian, who knows me well right now. With her, I try to build the best relations to learn mistakes from one another, to share compassion, to give a trust. It is not easy but I believe this time is the right time to the better. Soon I realise that to be always positive thinking is the key out from a conflict. 

Weekend on Opick’s concert

Today, I write this letter inspired by my lecturer, Angela Arunarsirakul, as my source of inspiration. Releasing my motto “coloring the world with my own patterns” is not a new one. It has been many years but I haven’t told anyone what the meaning is. That means, my life is colors (impression, message) for people in their life with my patterns (characters, actions) on my own. Having no idea when my life would end, thus, story is the only thing I can give to this world.
Always happy there.

Your daughter, Wirdatul Aini.

Yogyakarta, 28 July 2017

Hari Rabu

Selanjutnya adalah Memulai belajar, Pengaturannya dan Urutannya.

Hari Rabu adalah hari sempurna untuk memulai belajar. Hari itu adalah hari turunnya cahaya dari Allah. Maka, guru Syaikhul Islam Burhanuddin Rahimahullah  meriwayatkan hadits di bawah ini:

ما من شئٍ بدئَ في يوم الاربعاءِالاّ وقد تمَّ

Tiada sesuatu yang dimulai di hari Rabu melainkan pasti akan sempurna.”

5

Hari Rabu adalah hari yang pedih bagi kaum kafir dan penuh berkah bagi orang mukmin. Seperti Syeikh Abu Yusuf Al Hamadani Rahimahullah yang memulai seluruh amal kebaikannya di hari Rabu.

Dalam kitab Ta’lim muta’alim, secara ringkas bahwa murid baru perlu mengulang pelajaran sebanyak dua kali secara perlahan. Setelah itu tetap diulang setiap harinya. Jika dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk memahminya, misalkan perlu 10x, maka diakhir juga 10x karena sudah terbiasa dan sebaiknya tidak meninggalkan kecuali kesusahan. Murid baru juga perlu membaca kitab yang lebih mudah agar tertarik dan mudah mengena.

Namun tambahan untuk kami dari ustadz, kebiasaan mempelajari kitab memang tidak biasa bagi banyak santri di pondok kami. Menurut saya, perlu usaha membagi waktu, menghilangkan malas dan tekad yang kuat untuk belajar yang istiqomah (konsisten) dan efektif.

Wallaua’lam bishowab.

Yk, 15.03.16

Ngaji Kitab Ta’lim

Learning Ta’lim Muta’alim written in Persia language. We are usually taught by Ustdz Shobah, but on this great chance, an Ustdz who usually teaches us Tauhid sat down surprisingly in front of us.

We continued to our next material about food and beverages concerned for students. After giving meaning for each word from Arabic into Javanese pegon, Ustdz Miftah explained more the translation related to the real life. This is my resume.
Maka dari itu, disarankan untuk makan roti kering dan anggur dan sebaiknya cukup agar tidak sering haus. Lebih lanjut, karena haus akan menambah dahak.*Dikatakan: “Tujuh puluh nabi sepakat bahwa kelupaan disebabkan oleh banyaknya dahak dan banyaknya dahak disebabkan banyaknya minum, banyaknya minum disebabkan oleh banyaknya makan.”

AKHLAK

Disarankan untuk bersiwak atau sikat gigi untuk mengurangi dahal dan menambah ingatan. Siwak adalah sunnah agar menambah pahal saat membaca A- Quran.

**Merusak banda bermaksud bahwa makan yang banyak akan menyebabkan resiko penyakit yang muncul sehingga perlu biaya untuk berobat ke dokter.

***Hukum makruh –

Cara mengurangi makan banyak yakni dengan makan sedikit yang bisa memperoleh faedah seperti tabel di atas.

Ustadz juga menambahkan, “makan setelah lapar, tidur setelah ngantuk”. Makna dari kalimat tersebut adalah berpuasa diantara kebanyakan orang lapar dan melakukan Shalat malam khususnya Tahajjud diantara lelapnya orang-orang tidur.

Diriwayatkan bahwa Syeikh Nawawi Al-Batani, mengarang kitab Syafinatun Najah, adalah guru Thariqoh yang menjadi murid Syeikh Yusup Al-Hamadani. Beliau tinggal di pesisir tetapi tidak makan ikan, atas ijazah berguru dengan Imam Nawawi.

“Memakan buah delima banyak tidak lebih baik dari memakan ikan yang sedikit”

Maksudnya, makan ikan menyebabkan kemalasan, jika dibandingkan dengan buah delima, maka lebih baik makan buah delima. Tapi untuk keutamaan makan sedikit, maka lebih baik, walaupun yang sedikit itu adalah makan ikan.

Wallahua’lam bishowab.

Yk, 15.03.16

Thank You Allah

Dear Allah,

Thank you Allah, for everything You have given to me. I believe, place I belong, people I meet, situations I undergo, friends I make, are your planning to me. Someone who came to me, and bring me in love, even for a while, I believe it comes from You. What a sin I am ignoring You sometimes, forgetting You in a hard and good time.

I am afraid, someday, I will forget you in a situation I don’t expect. I am afraid of people I will meet in the future, will make a distance between me and You. Once again, I am afraid of spouse I will have. I will live with him. I will share with him. I will make a heaven in our home. I can’t imagine one person, it’s too earlier. I don’t want to close with any guy yet, I don’t want to make a hope. I don’t want to get heartbreaking. I want to wait for your fate. I believe, Your fate is better for me. I believe You have chosen him, for my heaven, and create another heaven, even after life.

Today, I felt great. I could share part of my life with my coordinator. At first, it is very hard telling what I am doing in my Islamic boarding school. It felt like it was contrast at Realia life. However, she was nice. She just needs knowing more about what Islam is and moreover, she needs gathering with good people.

By the time, I hope I can learn more my faith in You whenever and whenever I am. Nowadays, I would try building a strong self-defense to know what I know, to do what I plan, to learn what I need, to get into You. If ‘Inayatullah is the officially place, I want to thank you for bring me here. I mean, it is not easy to blend everything, but I must. This introvert type should learn and adjust for many situations. Tomorrow, I will meet new people. I should be ready for them. I should be tough here. Focus what I learn.

Also, I felt that friends are everything. They are great. Pramuka, brought me to meet them, Iroh, Windu, and Wiji. We meet to share and to close our friendship. Thank you Allah.

So much thank you, for being here

Yogyakarta, 19-02-2016

.

 

Sentuhan Pagi di Sweet Seventy Indonesiaku

“Aku harus segera menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Berat sekali melakukannya, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.”

Pagi ini, aku lanjutkan membaca novel Tere Liye. Kisah seorang laki-laki bernama Tegar. Tentang sebuah kesempatan. Tentang kerelaan yang berujung pada pemahamam. Memahami indahnya menerima, memaafkan, tapi tidak melupakan. Sebuah kerelaan untuk menikam hati begitu dalam untuk mengambil pemahaman baru. Berdamai dengan diri sendiri dan sepotong masa lalu.

Hubbul wathaan minal iimaan. Pagi ini juga, adalah hari kemerdekaan Indonesia. Hari ini, tepat 70 tahun Indonesia merdeka. Betapa besar pengorbanan pejuang atas keringat dan darah mereka untuk memeperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pagi yang agak getir. Aku berusaha menyelipkan waktu sebelum shubuh untuk bersujud dan berkhalwat dengan-Nya. Tapi terisak oleh sempitnya waktu yang mengharuskanku sahur. Keduanya kulakukan serba ganjil. Keganjilan yang berujung dengan suara bedug di Masjid An-Namiroh. Masjid di pondok Inayatullah.

Setelah shubuh berjamaah, pak Kyai ngendikan Qur’anan untuk memperingati Kemerdekaan RI. Sejenak santri yang terlihat mengantuk bangkit dari tempatnya. Hari ini kami melakukan kegiatan yang berbeda. Jika biasanya santri putra mujahaddah dan santri putri setoran mengaji, berbeda dengan hari ini. Kami berkumpul di Aula.

Aula shubuh yang berbeda. Pak Kyai terlihat menunggu santri yang lain berdatangan. Saat mahalul Qiyam, kami meneruskan lantunan shalawat nabi dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Pak Kyai memimpin langsung para santrinya. Sungguh, lagu yang miris. Miris mengiris karena sebagai santri, aku merasa belum memberikan kontribusi konkrit untuk bangsa ini.

Juga berbeda bagi mereka yang kemarin malam tidak bandongan dan tertinggal satu rakaat shubuh berjamaah. Mereka harus bersiap menerima ta’zir dari pak Kyai. Ada tiga santri putri yang berdiri dekat jendela. Mbak Miftah dan Mbak Dilla karena tidak ijin absen mengikuti bandongan dan Mbak Tika yang tidak shubuhan di Masjid.

Aula menjadi saksinya. Mereka membacakan UUD 1945 dengan muka tersipuh malu dihadapan santri putri dan Pak Kyai. Karena masih ganjil, santri putra menyempurnakan bacaan UUD 1945. Tapi ternyata  alinea ke empat Pembukaan UUD 1945  yang dibacakan kang Ibnu semakin terasa ganjil. Kembali ke santri putri, mereka menyanyikan lagu Kebangsaan Hari Kemerdakaan ciptaan pak H. Mutahar dan Garuda Pancasila.

Riang, damai dan penuh arti. Ngendikan pak Kyai bahwa para santri lah yang memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Juga petikan obrolan SIC inspirasi center kemarin sore, bahwa nilai sabar dan ulet santri dulu, sepatutunya dicontoh oleh kalangan santri sekarang.

Semoga para pahlawan, mayoritas Muslim mendapat tempat terindah dari Allah SWT.

Semoga Indonesia bisa bangkit, ditengah krisis yang melilit.

Pagi yang penuh arti. Sebuah pemahaman baru untuk santri Nusantara.

Yogyakarta, 17 Agustus 2015

Dunia Itu Pasti

11/8/15

سم الله الرحمن الرحيم

Rutinitas di pondok sudah dimulai. Mulai dari kembalinya aktif kelompok piket harian dan dalem, masak, kewajiban shalat jama’ah di masjid, bandongan, madrasah diniyah, mujahddah, mengaji shubuh, hafalan dan sholawatan. Ramai penuh sesak. Kamar letter L, kamar besar, siap dihuni 10 karakter berbeda dari berbagai multidisiplin ilmu.

Bagiku, bandongan adalah aktivitas paling menarik. Bertemu langsung dengan pak Kyai Chamdani Yusuf, melantunkan kalamullah berjama’ah, membuka lembar demi lembar kitab  مختار الأ حاديث . Menerjemahkan dalam bahasa Jawa disertai analogi dan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang terlintas di benakku dan santri lainnya sering dibahas saat bandongan.

Pun bandongan edisi hari ini. Sekelumit perasaan membuncah yang terus menerus mempertanyakan kepastian. Segunung kekhawatiran yang membeku dan menerkam hati. Iya, aku tak bisa berhenti dari kekhawatiran masa depanku. Ingin sekali rasanya aku lari dan lari mengejar keinginan-keinginan itu. Tapi sekarang, ragaku mulai lelah, keinginan itu mulai pudar. Apa sebenranya yang aku inginkan? Apakah aku melupakan kebutuhan yang seharusnya aku utamakan?

Pak Kyai membuka bandongan malam mini dengan menceritakan santri putri yang meminta ijazah dengan ngrowot (tidak memakan makanan yang terbuat dari beras yang merupakan makanan pokoknya). Beliau tidak menyetujui santri tersebut karena ngrowot tidak bagus untuk rahim perempuan. Wanita bisa meminta ijazah dengan puasa, menaati peraturan pondok, shalat jama’ah, mengaji, shalat malam dan rajin belajar. Dengan niat memnita ridho Allah SWT sebagai ikhtiar prihatin atas ilmu, pasangan dan keturunan.

Selanjutnya adalah perkara rejeki.

.قال الله تعالى وما من دا بة فى الارض الا على الله رزقها.

وقال تعالى والذين اذا انفقوا لم يسرفوا ولم يقترواوكان بين ذلك قواما

(Halaman 220 – مختار الأ حاديث ~ تهذيب النفوس)

Bahwa rejeki itu dibagi menjadi dua; bil wahbi dan bil hasbi. Bil wahbi yakni rejeki peparing dari Allah SWT. Rejeki yang sudah pasti untuk mahluk-Nya. Contohnya sosok santri yang sumantri. Kalau memang sudah rejeki, dengan tidur pun rejeki makanan sering datang menghampiri. Itulah ciri khas kehidupan pondok. Penuh keprihatinan penuh keberkahan.

Yang kedua adalah bil hasbi yakni dengan usaha. Burung keluar dari sarangnya mencari makan seiring embun pagi diujung dedaunan segar. Kembali lagi ke sarang dengan perut kenyang. Esuk pun kembali menerjang awan. Rejeki atas usaha burung yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

Manusia hanya bisa ikhtiar. Ikhtiar bisa dilakukan dengan berbagai hal. Bisa dengan bekerja. Ada juga yang seharian berdzikir seharian. Yang terakhir karena salah satu usaha ketetapan iman an Islamnya. Kembali lagi, bahwa rejeki sudah ada yang menentukan.

Dunia adalah sesuatu yang pasti. Allah SWT tidak memandang mahluk-Nya yang taat dan tidak, rejeki sudah ditentukan-Nya. Tak perlu ngoyo dalam mengejarnya. Sangat keliru jika terlalu mengejar-ngejar dunia. Sampai-sampai meninggalkan shalat berjama’ah dan amal ma’ruf lainnya. Ikhtiar diniatkan untuk ketetapan iman dan Islam.

Semoga diri ini tetap istiqomah mencari ridho-Mu. Hanya ridho-Mu.

Wallahu a’alam bishowab

Ghasab yang Hampir Membudaya

Setiap bulan Ramadhan, kegiatan mengaji di Pondok Pesantren Inayatullah berbeda dengan kegiatan di bulan-bulan biasanya. Di bulan suci ini, lebih banyak kitab yang dikaji. Mulai pagi hari setelah shalat Shubuh berjamaah dan mujahaddah, para santri mengaji kitab Riyadus Shalihin. Kemudian kegiatan mengaji berlanjut pukul 09.00 WIB dengan mengaji kitab yang sama di pimpin langsung oleh Kyai Chamdani Yusuf selaku pengasuh di pondok pesantren salaf tersebut. Malamnya, setelah 30 menit melaksanakan shalat tarawih, kegiatan mengaji berlanjut pada kitab-kitab Kanzun najah, Shollu’alaih, Durorul bahiyah, Tafsir Surah Yasin, Ayyuhal Walad dan Ta’limul Muta’alim.

Hari Senin (22/5) adalah hari ke 5 bulan suci Ramdhan. Bel tanda mengaji sudah berbunyi. Para santri bersiap-siap menuju aula untuk mengaji kitab Riyadhus Shalihin. Diawali dengan tadarus al-Qur’an yang dipimpin oleh Kyai Chamdani Yusuf dan diikuti oleh seluruh santri yang hadir kecuali santri putri yang sedang udzur.

Setelah tadarus, Pak Yai, panggilan akrab Kyai Chamdani Yusuf, memulai mengkaji kitab kitab Riyadhus Shalihin halaman 123. Dengan membacakan kata per kata diikuti terjemahan dalam bahasa Jawa.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasululiah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang menganiaya – mengambil tanpa izin pemiliknya – seukuran kira-kira sejengkal tanah, maka tanah itu akan dikalungkan di lehernya dari tujuh lapis bumi — sebagai siksanya pada hari kiamat nanti.” (Muttafaq ‘alaih)

Selanjutnya Pak Yai menerangkan maksud dari hadist diatas disertai contoh dalam kehidupan sehari-hari seorang santri.

Terkait hadist di atas, Pak Yai dengan terang menjelaskan perkara Gashab yang sering sekali terjadi di kalangan santri. Dari pengertiannya, ghasab adalah menguasai hak orang lain, baik bentuknya harta atau hak guna, yang dilakukan secara paksa, tanpa alasan yang benar. Ghasab berlaku untuk semua harta dan hak guna. Ghasab hukumnya haram.

Realita yang terjadi di Pondok adalah masih ada santri yang kehilangan sandal setelah  shalat berjama’ah di masjid. Dari penjelasan Pak Yai, lebih baik nyeker atau tanpa memakai sandal daripada harus ghasab. Patutlah diacungi jempol bagi santri yang nyeker sepulang dari masjid.

Hidup secara bersama-sama, memang tidak mudah untuk menghilangkan perbuaan haram yang hampir menjadi kebiasaan tersebut. Bahkan tanpa disadari, memakai barang yang bukan hak bisa dilakuakan secara tidak sengaja yang membuat para santri dilemma. Sebuah pernyataan dari seorang santri putra di grup Facebook Santri Inyataullah berikut adalah bukti dilema santri agar bersih dari perbuatan ghasab.

 24-6 Postingan Kang Faiz

Maka, bulan Ramadhan ini adalah bulan yang tepat untuk memohon ampunan Allah swt. Seyogyanya manusia tidak perlu menginginkan hak milik orang lain. Bagi mereka yang menginginkan harta orang lain tanpa ijin, maka wajib baginya neraka dan pantang untuk ke surga. Terlebih santri yang setiap hari belajar agama dan akan menjadi contoh di masyarakat yang membutuhkan amalan ilmunya di kemudian hari.