Satu Tahun Berjalan, Bisa Berkunjung ke Negara Jepang

Akhirnya keinginan itu terwujud. Aku pergi ke Jepang. Aku tak percaya. Kupikir ini sebuah mimpi belaka.

Sudah hampir satu tahun aku belajar di UGM. Katanya, universitas ini adalah universitas sangat bagus  di Indonesia. Aku patut berbangga. Tapi, hura-hura itu hanya sementara. Aku tidak mau hanya berkuliah saja-belajar, berkegiatan dan sudah. Padahal, aku punya impian besar. Aku ingin go international. Ah, tapi nyatanya tak banyak kesempatan. Kesempatan ke luar negeri hanya untuk mereka yang belajar di program sarjana. Aku kan diploma.

Ini tentang mimpi. Ini tentang keyakinan.

Di suatu hari, leptop daringku tertuju pada satu halaman. Aku buka pelan-pelan. Ada sebuah kesempatan di kancah internasional. Ya, kesempatan itu untuk mahasiswa diploma. Syaratnya tidak menyulitkan. Tapi ternyata, itu sudah melewati batas deadline. Bagaimana ya? Sekali lagi, ini tentang mimpi yang perlu segera diwujudkan. Aku mantapkan hati untuk mendaftar dan konfirmasi ke narahubung yang tertera di informasi halaman.

Pemberkasan yang bisa dibilang mudah, sudah lengkap. Aku mulai kumpulkan tekad untuk sesi wawancara dengan wakil dekan. Ternyata, wawancara tidak sesulit yang aku bayangkan. Aku yakin, aku  bisa menjadi salah satu dari tiga orang yang berangkat ke Jepang.

Cukup singkat. Siangnya, aku ditelpon bahwa aku akan berangkat ke Jepang. Dua mahasiswa lainnya adalah Tiffany (Rekam Medis) dan Lydia (D4 Alat Berat). Kami mengurus paspor dan visa bersama. Waktu yang tidak banyak tidak membuat kami putus asa. Hanya 3 bulan, persyaratan kami ke acara International Student Organizing Committee (ISOC) di Jepang akhirnya lancar.

Sampai di Jepang, kami menjumpai banyak hal menarik yang berbeda dari apa yang biasa kita lihat. Sesudah berjalan-jalan di sore hari, kami bersiap bertemu mahasiswa lainnya dari Taiwan, Hongkong, Malaysia dan Jepang.

Hal utama yang kami kerjakan adalah membicarakan acara International Symposium on Technology for Sustainability (ISTS) dan keberlanjutannya. Itu mengapa, fakultas Sekolah Vokasi (SV) UGM mengirim 3 mahasiswanya ke sana dengan beberapa tujuan. Pertama adalah networking agar bukan hanya pihak SV yang sudah resmi bekerja sama tapi juga dari mahasiswa. Kedua adalah diskusi. Di sana, kami berdiskusi tentang persiapan acara ISTS di Taiwan. Ketiga adalah friendship. Di acara ISTS nantinya, panitia dan peserta tidak hanya dari satu negara melainkan dari beberapa negara yang punya budaya dan pola pikir yang berbeda. Itu mengapa, acara ISOC ini diadakan agar mereka bisa mengatasi benturan budaya yang sangat mungkin ada.

Jadi, bukan seberapa sulit tapi seberapa siap mewujudkan mimpi. Keberhasilan itu akan datang jika ada kesiapan dan kesempatan. Namun, energi negatif beruapa sikap pesimis dan menyalahkan keadaan bisa jadi mucul, tanpa disadari. Itu semua adalah penghambat. Buang jauh-jauh, fokuskan apa yang sudah terprogram di pikiran.

 

Advertisements

To Feel Alive

“You don’t have to change the world in order to have a meaningful life. You don’t always have to do things that are extreme and unbelievable and outside of the norm in order to feel alive. You can feel alive just by acknowledging your own worth and the worth of everyone around you.”

journey

Being out of the box is a dream for some people, including me. But, it makes me trapped on a difficult situation to compare myself with others. Thus, I will not allow myself to be someone else because I have something that cannot be imitated by others. Sometime I consider myself to feel alive as my own without thinking of others’ opinions. As my recent time I have passed, I am a typically someone who cannot live monotony. I want to do things out of the box because I know that it is too common having a life like them.

Fortunately, it does. I make up my life. I am not like people in my village, people in my family even people in my study program. I am different with them. That is one of my ways to feel alive. When I try to interact all the repetitiveness as their own, I cannot feel alive. I feel losing parts of my life. For instance, I was involved all the activities in Scout UGM last year, I felt happy there. But then, I considered that I could not do more than myself challenges. However, when I decided to live in a different way by the monotony in boarding house and college, so did I. Thus, I think I need to integrate all things that make me feel alive. Put things together. All my activities are related to one another.

“Jumping out of a plane is remarkable. So is quitting your job and moving across the country, or traveling the world and living out of a backpack for several months. But these are not the only things that make you brave. These are not the only things that signify that you’re living your life right. These are not the only things that give your life meaning.”

I plan to Featured Image -- 366move across the country every year. I and mostly people think that it is a remarkable. So is my journey to Japan. That is my dream and most people. However, it has changed my mind after coming back from there. It is not about how many times I go abroad, but how many changes I have made for myself and others. Honestly, there are many plans to come back to Japan as my future plans. But, it is not about having a seminar and going around the cities, it’s more about the Muslim life as the minority, that they can take a prayer like here. Not only Japan, but I plan to go to Europe. I am sure, it will not easy as I write and post this story, but that significant dream, I will start by gathering phrases into sentences, like now.

Nowadays, the environment of making achievements are showed up. Students in college will do this and this in order to complete the requirements or just to feel a live. For instance, I, a common student, was challenged to compete with other students in an achievement student awarded or Penghargaan Mahasiswa Berprestasi of UGM. After long periods of dreaming, from a way that I have never expected, I became a candidate to be with them, achievements students in UGM. Pessimistic has changed my life, that everyone life should be surrounded by an optimistic, that you can follow your dream (read: the power of dream). The way you live your life is doing your best, for your life and your surroundings, primarily for Allah, The Most Glorified and The Most High.

In summary, feeling a live by people is different. They can do remarkable or ordinary things that make them alive. However, every option and action that we do, will signify others that we are all part of life in the different ways to feel alive.

Yogyakarta, 14 April 2015

Reference:

http://thoughtcatalog.com/kim-quindlen/2015/04/you-have-more-choices-than-being-either-boring-or-extraordinary/

Senja Pertama dalam Nuansa Syukurku pada-Nya

Tak sabar menunggu sore pertama di kota Tokyo tepatnya di Best Western hotel. Subhanallah, fasilitas yang super lengkap. Sedikit malas ke luar hotel, mengingat semua hal yang aku suka bisa dilakukan di dalam kamar. Selesainya mandi, ternyata kedua temanku berencana menuju Disney Land Tokyo. How much to get there? Butuh koin sekitar ¥700. Aku belum bisa memutuskan apakah bisa ikut dengan mereka atau tidak. Hatiku bergejolak, tapi raga ini berat menolak melihat wajah dua temanku yang sangat bersemangat mengunjungi Disney Land Tokyo. Aku berjalan menuju halte dengan harapan rencana ini tidak berhasil. Kami menyusuri jalanan Tokyo di sore hari untuk mencari bus yang bisa mengantarkan kami ke tempat tujuan.

Tiba-tiba seorang laki-laki tua mendekat dan menanyakan kemana kami akan pergi. Pandangannya tertuju padaku. Namun aku tak memperlihatkan raut muka semangat padanya. Setelah kedua temanku menjelaskannya, beliau dengan semangat bertanya ke orang lain. Sebuah halte di dekat perempatan, membuatku terdiam. Aku masih belum mengambil keputusan. Sejenak, kata yang diucapkan bapak tersebut membuatku segera menoleh, “Assalamu’alaykum”. Segera aku menjawab, “are you Moslem?” “No, I’m not”. Rasa senang dan bersyukur bisa membawa Islam di negeri orang. Namun segera aku memutuskan dan bilang ke dua temanku, “Sepertinya aku tidak enak badan, kalian berdua pergi aja, aku kembali ke hotel yaa,” aku pun bingung dengan diksi yang sudah terucap. Semoga mereka mengerti.“Seriusan wir?” kata Lydia dengan wajahnya yang keheranan.“Iya serius, have fun yaaaa!” kataku dengan yakin dan segera meninggalkan bus stop.

Aku berjalan menuju hotel. Melihat sisi kanan dan kiri, aku pun sangat bersyukur bisa berada di sini. Gedung, jalan, tulisan, toko, semua bernuansa Jepang. Dimana hotel itu? Aku tetap berjalan dan berusaha menemukannya. Namun, keterbatasan memori ini memaksaku untuk bertanya. “Excuse me sir, could you please show me Best Western hotel?” tanyaku pada seorang laki-laki yang mengendarai sepeda, yang sepertinya pengantar surat. “Eh,” jawabnya singkat lalu tiba-tiba terdiam.“Should I turn left then turn right?” tanyaku dengan penasaran.“Eh, yeah,” jawabnya singkat dan terlihat bingung, beliau sepertinya tidak berbahasa Inggris. Dengan segera dia mengambil kertas yang ada di sakunya dan menggambar arah untuk menuju hotel yang aku maksud. Aku pun sangat berterima kasih padanya, orang Jepang.

  CIMG5150 CIMG5148
Berjalan sesuai arah yang ditunjukkannya, aku merasa dia mengikutiku dari belakang. Tetap berjalan lurus, belok ke kiri, berjalan lurus lagi, dan saat mau belok ke kanan, aku meliahat orang Jepang itu dari kejauhan. Dia meyakinkanku, bahwa benar aku harus belok ke kanan. Subhanallah, persis sesuai cerita Mbak Erpin sepulang dari Jepang. Orang Jepang sangat ringan tangan menolong orang sampai masalah terselesaikan. Sekarang aku sudah membuktikannya.

CIMG5153 CIMG5151
Sesampainya di hotel, aku mulai mengkoneksikan laptop ke internet. Menulis, bercerita, dan melihat suasana Jepang di sore hari dari jendela kamar lantai 4 . Setelah mulai gelap, aku keluar hotel menuju bus stop sore tadi. Aku melihat orang-orang yang tertib mengantri dan orang-orang yang berjalan sangat cepat. Deretan toko dan jalanan yang sepi kendaraan tapi ramai oleh sepeda angin dan orang-orang yang bergantian menyebrang. Setelah puas memasuki toko demi toko, aku pun kembali ke hotel. Ternyata dua temanku sudah berada kamar. Kami menghabiskan malam sebelum tidur dengan penuh tawa. Provokatornya ya Lydia. Satu projek sebelum tidur, yakni mencatat jadwal shalat di Myoko lengkap dengan arah kiblat.

CIMG5175 CIMG5170 CIMG5180 CIMG5165

Ketulusan Hati darinya “Mr. Toya”

Ternyata matahari sudah menujukkan sinarnya, betapa indahnya lagi saat melihat awan-awan berkumpul. Istimewanya adalah daratan yang bisa dilihat dari jendela. Yup, Jepang. We have arrived in Japan. Smothly landing, it’s really international class.

Aku dan dua temanku sangat bersemangat berjalan menuju tempat penjemputan. Aku sempatkan masuk ke toilet. Kebersihan dan kelengkapan fasilitasnya patut diacungi jempol. Dry, clean, and complete. Semua terlihat bersih dan teratur. Sambil menunggu pukul 11.00, aku duduk bersebrangan dari dua teman saya. Mengamati lingkungan sekitar. Orang-orang telah berubah. Kebanykan mereka berkulit putih dan bermata sipit.

Tiba-tiba, an old man came to us “Excuse me, are you students from Gadjah Mada University?” he said. Ternyata beliau adalah panitia yang menjemput kami. Kami pun melanjutkan perjalanan ke hotel dengan kereta. Tiket seharga ¥1030 kami bayarkan. Aku pun sempat ragu. Benarkah? Karena menyangkut masalah uang, aku sangat takut dengan segala modus penipuan, sedangkan tertulis bahwa biaya transportasi selama di Jepang ditanggung panitia. Aku simpan tanda tanyaku itu.

Namun, ketulusan bapak Toya meyakinkanku bahwa beliau mengusahakan yang terbaik. Membantu mengangkat koper hingga menraktir makan siang dengan menu Soba di restoran Asakusa Tokyo. Oh, beliau seperti malaikat. Ketulusannya dapat kami tangkap. Sayangnya Mie soba yang disajikan bersamaan dengan nasi seafood, masih tersisa di piring. Aku rasa porsinya kebanyakan. Benar-benar mengenyangkan. Satu hal unik dari Jepang, setiap gelas yang kosong, pelayan akan mengisinya lagi. Jika terlihat berkurang bahkan kosong, maka akan diisi kembali. And it’s for free.CIMG5100 CIMG5119 CIMG5129 CIMG5132 CIMG5136 CIMG5145

Menginjakkan Kaki Menuju Gugusan Pulau Impian

Kekhawatiran melanda malam sebelum hari keberangkatan. Sebuah perjalanan yang sudah dinanti kehadirannya. Dengan kuasa-Nya, kesempatan berkunjung ke luar negeri datang menghampiri. Melalui The 2th International Meeting for ISTS 2014, aku, Lydia dan Tiffany, mahasiswa UGM fakultas sekolah vokasi berangkat menuju negara Jepang.CIMG5051

Persiapan malam sebelumnya ternyata belum cukup untuk melakukan sebuah perjalanan panjang. Masih saja ada yang terlupa. Aku belum menukar uang rupiah ke mata uang yen. Beberapa orang menyarankan untuk menukar uang di Indonesia saja, karena nilai mata uang yen lebih rendah di Indonesia.

Sesampainya di bandara, aku berjalan sangat cepat bersama Windu. Pesan dari temanku bahwa kita harus check ini pukul 18.30 WIB. Sedangkan waktu sudah menunjukkan lebih dari itu. Aku sendiri, belum mengerti bagaimana proses check in di bandara. Saat aku melihat dua temanku yang sedang berdiri bersama orang-orang yang mengantarnya, seketika kekhawatiran melanda. Aku yang panik, berinisiatif masuk ke dalam ruang check in dan menitipkan koper ke kak Wiwit dan Windu. Aku bertanya ke petugas yang sedang berjaga. “Permisi pak, check in penumpang pesawat Garuda Indonesia di mana ya?” tanyaku. “Disebelah sana mbak,” jawab bapak itu sampbil menujuk arah dengan tangannya. Aku menuju garis antrian pesawat Garuda Indonesia. Beberapa orang sedang mengantri dengan membawa barang-barangnya. Aku pun kembali untuk mengambil koper. Beru aku tahu, ternyata mereka berdua belum check in.

Setelah aku kembali, aku dan dua temanku memasuki ruangan. Rupanya sudah ada petugas yang memeriksa tiket pesawat dan paspor penumpang sebelum check in. Ternyata aku melewatkan waktu mengucapkan salam perpisahan pada kak Wiwit dan Windu karena setelah check in, penumpang diharapkan tetap berada diruangan. Sambil menunggu pesawat take off, aku ditemani Lydia mencari money changer. Tidak ada mata uang JPY malam itu, sehingga Lydia menyarankanku untuk menukarkannya ke USD. Sudah, kami pun duduk kembali menunggu jam menujukkan 20.10. Bergegas menuju pesawat Garuda Indonesia, kami akan menuju ke bandara I Gusti  Ngurah Rai, Bali.CIMG5067CIMG5059

Pengalaman pertama naik pesawat terbang. Aku merasa, teknologi yang dibuat manusia sangat lah canggih untuk memudahkan langkah mencari karunia-Nya. Ya, aku ke Jepang bukan untuk liburan. Aku ke negeri rising sun untuk melihat warna-warni dunia yang dibuat-Nya. Betapa beragamnya manusia di dunia. Mereka tidak sekedar berkulit sawo matang dengan jilbab yang anggun menutupi seluruh tubuh yang diwajibkan. Bukan juga yang berlogat Jawa dan ramah saat di jalan. Mereka beragam.

CIMG5080Sampainya di bandara Ngurah Rai, aku dan dua temanku menaikki bus yang disediakan menuju departure arrival. Ternyata membutuhkan 10 menit perjalanan melewati lorong-lorong panjang. Setelah sampai, aku sungguh terkagum-kagum melihat bandara itu. “Ini benar-benar bandara Internasional,” ucapan dalam hati seseorang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Bali. Perjalanan menuju gate penerbangan, disuguhkan berbagai pernak-pernik dan aneka makanan yang menarik perhatian mata. Wow, inilah dunia dan segala perhiasannya.

CIMG5095

CIMG5097