Perasaan Perempuan tentang Pernikahan selama Menempuh Pendidikan

Pernikahan. Sudah menjadi peristiwa yang umum dalam tahapan hidup seseorang. Selesai sekolah, menikah. Dapat kerja, menikah. Menemukan pasangan, menikah. Bahkan yang hamil di luar nikah, pun menikah.

Lalu bagaimana bagi mereka yang belum menikah di usia yang mapan dan bahkan berprinsip tidak menikah? Apakah orang-orang harus memandangnya kasihan? Bagi sebagian orang, akan berpandangan demikian. Karena kultur dan cara pikir mengatakan demikian. Bahwa perempuan berusia mapan, yang belum dan tidak menikah, termasuk perempuan yang kasihan.

Berbalik dengan perempuan yang sudah menikah. Mereka merasa lebih beruntung daripada yang belum menikah. Hidup termapankan, sandang papan ada yang menyediakan.

Sedangakan, perempuan lain yang belum menikah akan terbaperkan oleh kisah romansa dua sejoli yang akhirnya dipertemukan. Begitu adanya. Lalu keinginan menikahpun muncul dan galau karena pasangan belum juga melamar atau masih sendiri menanti sang pangeran.

Sang penulis, yang hidup di lingkungan dengan pernikahan adalah jalan ibadah besar ke Tuhan, menafsirkan pernikahan adalah cara agama memperbanyak umatnya dari cara didik beragama sejak kecil. Dalam Islam, orang tua muslim ajarkan cara shalat, puasa, hingga jadi kebiasaan. Sewaktu beranjak dewasa, menikah adalah sebuah tujuan. Dan memandang perempuan yang tidak menikah, memang sebuah pilihan.

Itu adalah berbanding terbalik dengan keinginan menikah perempuan yang masih dalam pendidikan. Tidak wajib bagi mereka yang masih dalam pencarian ilmu untuk menikah. 

Tuntaskan. Berdarah-darahlah saat berjuang mencari ilmu. Karena di pondok itu tidak lama. Tidak selamanya. ~ Kyai Chamdani Yusuf

Yogyakarta

Advertisements

Doa di Malam Nifsyu Sya’ban

Yeay, tepat 23 tahun aku hidup. Malam ini tepat malam nifsyu sya’ban yang mana habis magrib tadi kami berjama’ah shalat Hajat dan baca yasin 3x. 

Semoga di malam yang berkah ini, senantiasa tercurah keberkahan pada dirimu ya, Wir. Kamu bisa pelan-pelan aja memperbaiki dirimu sambil menyelami setiap peristiwa kehidupan yang berubah. Juga tantangan yang semakin kompleks.

Yogyakarta, 1 Mei 2018

Mengapa Aku Diciptakan

Masih dengan keraguan-keraguan dan pertanyaan, kenapa saya ada di sini? Tinggal di pondok pesantren. Bekerja dengan orang-orang dari banyak latar belakang. Adakah kesepakatan yang sudah saya buat dengan Tuhan sebelum saya dilahirkan?

Pertanyaan itu berhenti dengan pertanyaan, apa hakikat penciptaan manusia di dunia yang saya ajukan ke Yai Mukhtar tadi malam.

Adanya manusia di dunia adalah untuk menunjukkan kekuatan dan kebesaran Tuhan, Allah SWT. Sebagaimana saya tulis di artikel sebelum ini, bahwa tugas manusia hanya untuk beribadah. Manusia berbeda dengan mahluk lainnya. Bukan binatang yang akan berpikir tentang keilmuan untuk mengatur dunia. Bukan malaikat yang senantiasa bersujud menyembah Tuhan. Bukan setan dan iblis yang membangkang karena kesombongan. Manusia adalah manusia, yang punya nafsu dan akal.

Nafsu lah yang menjadi pembeda dengan mahluk lainnya. Nafsu penting untuk keberlangsungan manusia sebagai manusia. Nafsu makan akan mendorong manusia untuk makan dan akal akan membuat manusia memilih makanannya, bukan asal makan dan tidak tahu aturan. Nafsu syahwat, disebutkan oleh Yai Mukhtar, bahwa adanya kelahiran manusia karena nafsu syahwat. Ini pun ada aturannya, tidak sembarang bisa dilakukan dengan siapa saja melainkan dengan mahram, pasangan yang halal. Dan karena nafsu, manusia punya angan-angan dan tujuan. Punya arah tentang hal-hal yang ingin dilakukan dan dicapai. Manusia dan nafsunya, tidak perlu dimatikan tapi dikendalikan.

Nafsu itu diperlukan. Jangan dimatikan, tapi dikendalikan.

Adanya nafsu ini, manusia adalah mahluk Tuhan yang berbeda. Inilah tanda adanya kehidupan bahwa ada perbedaan. Manusia jauh lebih tinggi derajatnya dari malaikat ketika manusia (dengan nafsunya) beribadah pada Tuhan. Mengingat malaikat diciptakan hanya untuk bersujud pada Tuhan tanpa nafsu dunia sedikitpun. Sedangkan iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia sepanjang hari dan malam. Sungguh lebih buruk dari Iblis dan setan apabila manusia tidak beribadah pada Tuhan. Maka lengkap lah, kehidupan ini.

Perbedaan menciptakan dan membuktikan adanya kehidupan.

Proses perjalanan manusia lahir di dunia dan kembali ke pencipta-Nya nyatanya penuh lika-liku coba. Tidak pernah tahu akan dilahirkan dari rahim siapa dengan kondisi yang bagaimana dan dengan warna kulit dan jenis rambut seperti apa. Apakah orang tua seorang Kiai, atau bandar narkoba, petinggi negara atau penjaga biara, ibu rumah tangga atau wanita penggoda. Lahir dan besar dengan berbagai macam tantangan. Terkadang ada hal-hal yang membuat perjalanan ini menjauh dan menyepi dari keramaian memuji Tuhan. Atau sebaliknya, keraguan menumbuhkan rasa penasaran untuk mencari jalan mengenal Tuhan.

Karena hidayah adalah murni urusan Tuhan. Berbeda dengan rahmat dan ridho Tuhan. Ini ditempuh dengan cara mematuhi perintah Tuhan sebagaimana yang ada di Al Quran dan Hadits. Jalur menjadi orang beriman dan bertqawa adalah cara mendapat rahmat dan ridho-Nya di dunia dan kehidupan setelahnya. Akhir kata, ibadah apa yang bisa kita banggakan untuk-Nya.

Sungguh, jika kamu ingin menjadi orang yang alim, maka belajarlah. Ingin menjadi orang yang kaya, maka bekerjalah. Ingin mengenal pencipta, maka beribadahlah. Tidak ada yang tiba-tiba. Semua perlu proses dan usaha. Inilah letak ikhtiar manusia. Bekerja bisa jadi jalan mendekat dengan Tuhan. Belajar di kampus bisa jadi salah satu cara mengenal kebesaran Allah lewat keilmuan.

Karena surga dan neraka adalah pilihan. Dengan nafsu dan akal, mana yang akan kita pilih untuk menuju jalan pilihan. Yang utama dan yang paling utama, tujuan hidup adalah mencari ridhoNya lewat ibadah sehari-hari yang kita jalankan.

Begitulah sedikit yang saya rangkum dari Yai Mukhtar.

Bawah masjid, 17/12/17

Wallahu a’lam bishowab..

 

 

Manusia sebagai Pengatur Dunia

Malam ini adalah malam jawaban. Beliau Ustadz Mukhtar. Sedikit menyita perhatian waktu tahu pertama kali cara beliau mengajar. Ada rokok di tangan. Sedikit kukerutkan kening. Namun, ketika duduk dan merendahkan hati untuk menerima ilmu dari beliau, batin ini terus tertunduk. Sambungan kitab Nashoihul ‘Ibad dan analoginya mudah diterima dan sesuai sekali (relatable) untuk kami.

Screen-Shot-2014-12-16-at-1.42.59-PM.png

Tentang Imam Sibli yang masuk surga karena rasa kasihnya terhadap seekor kucing, beliau menyatakan bahwa surga itu mutlak hak prerogratif Allah. Manusia tidak tahu jalan atau amal apa yang akan membawa ke surga. Juga kisah Imam Ghozali, yang jalur surganya tidak disangka-sangka. Beliau membiarkan si lalat yang dahaga meminum air tinta pena saat beliau sedang belajar. Tidak ada yang tahu. Masa yang sekarang dan esok akan seperti apa.

Itulah. Tentang surga dan neraka, ada seorang teman yang tidak memercayainya. Sehingga dalam keseharian, perwujudan aktifitasnya tertuju pada dunia, apa yang bisa dilakukan agar selamat dari dunia. Ini tidak bisa disamakan saat orang memercayai bahwa ada kehidupan sesudah kematian – akhirat. Orang yang percaya akan ini, segala perbuatannya di dunia seharusnya tertuju pada akhirat – untuk ibadah.

Dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56, “Wama Kholaqtul Jinna Wal Insa Illa Liya’budun ” (dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku).

Beribadah. Manusia diciptakan untuk beribadah. Beribadah yang seperti apa? Apakah menarik diri dari lingkungan untuk khusyu’ dan fokus beribadah pada Tuhan. Sedangkan manusia kini sedang hidup dan berada di dunia. Lantas, untuk apa sih urip neng donya? Untuk apa segala pepaes (perhiasan) yang ada kalau tidak untuk manusia?

Dan segala aktifitas kalau diniatkan untuk ibadah, maka jadilah ibadah. Bahkan hal-hal yang sangat keduniaan, tapi selama ditujukan untuk kehidupan yang kekal, jadilah bekal amal. Menjadi khalifah di bumi. Pengatur kehidupan di bumi. Adalah tugas manusia.

Terasa berat di usia hidup yang tidak lama untuk memelajari dunia dan seisinya. Untuk belajar banyak hal-hal di masa-masa terdahulu. Dan jawaban-jawaban atas peristiwa-peristiwa yang penuh tanya.

Dan beliau mengatakan, khalifah di sini bukanlah dunia secara literal dunia melainkan dunia sesuai kapasitas masing-masing. Bisa jadi menjadi khalifah untuk keluarga kecil adalah kapasitasnya dan jalan yang membawanya ke surga. Bisa jadi dengan menjadi istri yang mengurus rumah tangga dengan tulus ikhlas adalah jalan menuju ridho-Nya yang membawa keberkahan dunia dan kehidupan setelahnya. Bisa jadi menjadi pemimpin di komunitasnya adalah pemberian Allah untuknya untuk menjadi khalifah bagi anggota-anggotanya. Dan begitulah yang saya dengar dari mereka.

Wallahu a’lam bishowwab..

Yogayakarta, 18/12/17

 

 

 

 

 

Catatan santri – 12/09/2017

Mengambil pelajaran hidup itu bisa dari mana saja. Dari peristiwa yang kita alami, cerita orang lain, cerita terdahulu, dari buku, dan lain sebagiannya. Belajar tak mengenal ruang dan waktu. Manusia butuh belajar sampai bertemu ajal.

Belajar di sini, di lingkungan ini, ternyata banyak juga. Dengan catatan jika mau dan mampu. Pelajaran yang paling mengena sekarang adalah tentang olah rasa. Jumat kemarin, saya belajar dari simbah mampu mengolah rasa dengan baik. Tidak mementingkan raganya melainkan rasanya. Salah satu nasihatnya di sela-sela membuat cookies adalah bahwa dalam hidup, kita akan saling bekerja sama mencapai tujuan masing-masing, juga tujuan bersama. Dalam melakukan perbuatan yang baik, kita tidak perlu pujian. Juga dalam kesalahan, kita tidak perlu cacian. Yang dibutuhkan adalah kesabaran agar mencapai tujuan. 

Disambung dengan dhawuh Kyai dalam bandongan kitab Riyadhus Shalihin, bahwa merasa yang terbaik itu akan menurunkan derajat kita. Tetapi, merasa yang terbaik berbeda dengan melakukan yang terbaik. Kita semua perlu melakukan yang terbaik. Tapi apa-apa yang sudah kita capai, kita punya, dalam bentuk prestasi, harta dan kekayaan itu jangan sampai mebuat kita menjadi lebih baik dari pada orang lain.

Dengan begitu, timbullah sifat sombong. Sifat yang akan menjerumuskan manusia ke neraka. Tentang sombong, masih dalam bandongan, bahwa sombong itu letaknya ada di hati. Bagaimana dengan rumah mewah, pakaian bagus, gawai canggih, yang dimiliki seseorang? Itu belum tentu bagian dari sombong. Karena semua fasilitas terbaik yang kita miliki, bisa jadi alat untuk berjuang di jalan Allah. Contoh, sebagai muslim, kita wajib memuliakan tamu. Apabila punya banyak tamu, rumah mewah adalah cara untuk memuliakannya, maka itu sah sah saja. Juga berpakaian rapi dan bagus, tidak mau dicap muslim yang kumuh dan dekil bukan? Jika berpakaian rapi adalah caranya, maka itu sangat dianjurkan.

Mengolah rasa, mengolah batin adalah keahlian yang perlu dilatih. Menurut buku yang berjudul Sunan Kalijaga, itu bisa dicapai dengan riyadlah atau latihan dengan tujuan mencari jalan taqwa. Ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Kalau di pondok ini, contoh bentuk riyadloh santri di sini adalah melakukan ngrowot, mutih, bilaruh. Ibaratnya air laut yang tidak terkena ombak, maka air akan terlihat lebih bening. Juga rasa menahan nafsu untuk makan makanan yang sudah menjadi kebiasaan, itu adalah bentuk latihannya, sehingga dalam berdoa bisa lebih khusuk.

20170902_123809

Pantai Parangtritis dari Petilasa Kakek Bantal 

 

Berbicara tentang doa, itu adalah bagian dari mantra manusia dalam kehidupan sehari-hari. Doa adalah keyakinan. Dalam doa, terbesit harapan agar menjadi kenyataan. Maka dengan bahasa apapun, doa sangat mungkin qobul asalkan dengan keyakinan. Banyak doa yang tidak qobul. Bisa jadi itu berhenti di bibir saja. Tidak dengan batin, rasa. Karena keyakinan lewat kata-kata bisa menarik energi di sekitar. Dalam novel Paulo Ceilho di Alchemist,

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Akhir kata, percayalah, sangkan paran kita ada maksudnya, pesannya. Raga boleh jadi pergi kapan saja, tapi amal akan tersjaga selamanya.  

 

Di kamar pink, yang sekarang terindikasi ada tikus lagi,

Akan kubiarkan malam ini saja dia menginap

Dini hari, 12 September 2017