Jalan-jalan dengan Melissa – 1 Mei 2018

Dear Melissa,

Senang sekali hari ini bisa menghabiskan waktu denganmu. Berbelanja di Malioboro dan menjelajah Tamansari. Keliling pasar yang cukup luas itu, kamu terlihat semangat sekali melihat batik, buah, cabai, rempah-rempah, juga bertanya di mana toko buah dan berapa harga buah itu ke pedagang.

Lanjut pergi ke Tamansari. Ya, itu adalah kolam pemandian yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwana I pada tahun 1758. Dulu, ini adalah kolam pemandian untuk para istri simpanan Raja berjumlah 23 dan putra/puterinya sebanyak 41. Arsitektur bangunannya adalah bangunan Portugis.

Pertama kali sampai di Tamansari, aku pikir memang kita perlu pemandu wisata untuk tahu sejarah bangunan ini. Omong-omong, aku mau kenalin kamu ke pembaca ya. “Hai, nama dia Melissa. Dia dari Australia yang sedang belajar bahasa Indonesia di Realia. Dia perlu bicara dengan orang lokal untuk berbicara di kantornya di Bogor.” Cukup kan ya perkenalannya.

Nah, sudah beli tiket, aku minta seorang Bapak yang sedang duduk-duduk di sebelah kiriku untuk menjadi pemandu wisata. Lantas dia segera memanggil temannya karena dia pikir pemandu wisata yang kita perlukan di bahasa Inggris. Tapi aku pikir, kita perlu pemandu wisuta di bahasa Indonesia supaya kamu bisa berlatih bahasa Indonesia kan. Apa yang dilakukan pemandu sedikit mengejutkan karena langsung saja tiba-tiba bercerita tentang Sultan yang berdiri di bangunan lantai dua untuk melihat para selirnya menari yang dikelilingi 4 bangunan yang berisi gamelan sebagai pengiringnya. Baiklah, aku pikir perjalanan sudah mulai dipandui tanpa basa-basi.

Dengan semangat juga, pemandu memfoto kita supaya posisi foto terlihat bagus di depan bangunan saat Raja melihat para selirnya menari. Juga ingin menunjukkan kalau berfoto sebelum masuk kolam itu bagus sekali. “Ya Pak siap mah kalau urusan foto, wkwk” Sesudah itu, kita turun untuk melihat langsung ke umbul binangun atau kolam pemandiannya. Secara umum ada tiga bagian kolam, yang paling besar adalah untuk mandi para selir dan putri-putrinya. Waktu para selir mandi, sang Raja melihatnya dari lantai 2 bangunan itu. Kemudian, Raja mengajak 1 selirnya untuk mandi di kolam yang lebih kecil. Di bagian kolam yang lain adalah untuk putra Raja, yang di sebelahnya ada ruangan ganti mereka.

Setelah itu, kita menuju kolam mandi Raja yang lebih kecil, tepatnya untuk sang Raja dengan 1 selirya. Setelah Raja mandi dengan selirnya, sang Raja sauna, tidur di perapian untuk menghangatkan badannya. Sekali lagi, sang pemandu wisata semangat sekali menawari kami foto yang akan terlihat seperti frame foto. Di depannya, ada tempat ganti baju sang isteri simpanan yang bercermin memakai air karena belum ada kaca. Baiklah.

IMG-20180501-WA0006

Setelah itu kita diampirkan ke toko lukisan. “Anda mahasiswa dari mana?” tanya penjualnya. “Australia,” jawabnya. Sang penjual menawarkan lukisan batik ini dan itu lengkap dengan harganya Rp 300.000. Dia bilang itu harga wajar untuk orang Australia. “Kalau orang Amerika beda lagi,” tambahnya. Baik, harga lukisan tergantung kewarganegaraan ya.

Setelah itu masuk ke masjid bawah tanah. Untuk ke sana, kita perlu memberikan tiket masuk. Jadi, tiket yang tadi dibeli perlu dijaga baik-baik ya. Hampir semua bangunan di Tamansari tidak cukup tinggi so perlu hati-hati dengan kelapa eh kepala Anda. Melissa, kamu sering salah ucap untuk bilang kepala jadi kelapa wkwk. Di sana ada tangga yang berjumlah 5. Menurut cerita, jumlah tangga itu melambangkan rukun Islam yang berjumlah 5. Di bawahnya adalah kolam untuk berwudhu. Lantai atas untuk jama’ah putri dan yang di bawah untuk jama’ah putra.

Begitulah sampai kita diampirkan ke rumah kopi karena kamu mau minum kopi keduamu untuk hari ini. Tempatnya luar biasa nyaman seperti minum kopi di rumah sendiri ya. Mbak Fitri mengajak ngobrol kita layaknya tamu yang sedang datang ke rumahnya. Tak selang lama, tamu lain datang berkunjung. Sang tuan rumah pun berpindah melayani tamu lainnya. Ditawari kopi bubuk seharga Rp 425.000, kamu tidak perlu bayar secangkir kopi yang kamu minum tadi seharga Rp 120.000. Fantastis ya harganya untuk aku orang lokal yang masih berlajar di sekolahan. Berfoto bersama layaknya sahabat, kita dan mbak Fitri berpisah. Melihat ada luwak jinak di samping rumah kopi itu, kamu bertanya apakah biasa untuk memelihara luwak? Ku jawab, “tidak biasa.”

Warm regards,

Wirda

Advertisements

Andaikan Setiap Minggu Ujian

Ujian pondok sudah menjadi rutinitas di penghujung semester. Kami akan disuguhkan dua jenis ujian, tulis dan praktek.

Untuk ukuran pembelajar seperti saya, sistem kebut sehari atau sesore (sks) seringnya jadi andalan. Belajar kalau akan ada ujian. Dan yak, selama mengerjakan, rasa-rasanya ingin menukar penyesalan dengan pemaksaan keharusan belajar setiap setelah madrasah malam. 

Apalagi ujian yang sangat menyita perhatian mental, ujian baca kitab. Persiapan sehari itu seakan ngga cukup memahami kosa kata dengan berbagai macam topik dan kaidah juga tata bahasa dalam nahwu sharafnya. Ya Alhamdulillah mau nyiapain sehari, melihat pritilan tulisan di kitab yang imut-imut terkadang dipenuhi goresan karena ngantuk saat diwulang, bikin mikir dua kali kalau mau belajar.

Begitulah gambarannya. Ujian ya ujian. Ngga ada ujian ya ngga belajar. Belajar ya saat saat sebelum ujian. Ntar malam ujian ya sorenya belajar. 

Biarpun sks tapi nikmatnya belajar itu saat memahami benar pengetahuan yang kita dapatkan. Dan terkadang untuk memulai adalah langkah besar yang harus disegerakan. Karena lagi-lagi akan terus ada bisikan “Besok ajalah! Ntar kalau luang!” yang selalu menjadi musuh besar.

Ujian kali ini bisa jadi ujian terakhir di pondok ini. Banyak pengandaian yang terlintas begitu saja di pikiran. 

Andaikan tiap minggu ujian, aku bisa belajar kek gini tiap hari, ada persiapan. Ngga cuma ikut kelas, ngantuk njuk pulang. 

Tapi apalah daya karena waktu dan kesempatan adalah sebuah kehormatan besar yang tak mungkin diminta ulang. 

Dengan berakhirnya ujian baca kitab dan menjelang ujian hafalan nadhom Alfiyah 1-50 bait, dari hati lubuk yang terdalam hamba ini ingin mengharapkan jikakalau ada kesempatan, bersinggungan dengan nahwu sharaf pegon fiqih tauhid akhlak semoga selalu menjadi bagian di kesempatan mendatang apapun kondisi takdir membawa diri ini ada dan tinggal.

Terima kasih asatidz atas ilmunya 🙇mbak mbak atas dukungan oprak oprak syawir yang perlu kesadaran tingkat mulia dan netizen yang baca curahan tulus dan langka ini semoga saja memang layak dibaca.

Yogyakarta, 27/04/18

Inginkan Fokus 

Aku temukan bahwa fokus sungguhlah berat. Jika ada waktu yang berlebih, aku cenderung membiarkannya. Melewatkannya. Merasa bahwa waktu banyak tersisa. 

Tapi ya begini nyatanya, jalannya cepat tak berjeda. Aku yang terdiam. Tak bisa ikuti ritme waktu yang sebenarnya harus dikendalikan. 

Aku tahu itu kelemahan. Aku ingin benahi, tapi dari mana aku tak tahu. Rasa kebosanan sering timbul untuk melakukan hal yang sama dalam durasi yang lama. Aku hanya ingin menjadi orang fokus, tahu mana yang aku prioritaskan dan yang bisa aku tunda untuk esok dijalankan. Tapi aku sadar ada banyak kekeluiruan dalam perhitungan.

Ya Allah, nanti malam aku ujian baca kitab. Ada rasa aku ingin bisa karena aku tampil di depan. Aku tak sanggup malu menghadapi kebodohan. Tapi apa yang bisa kusiapkan tak sebanyak yang aku butuhkan untuk melewati malam ini dengan kepuasan. 

Dan hanya kareba ingin terlihat bisa, tidak berarti akan memuaskan. Itu hanya kepuasan perasaan. Inilah sebaik-baiknua kesempatan yang aku punya. 

Jika ada kesempatan lainnya, aku tetap ingin belajar. Memahami warna warni kosa kata bahasa Jawa kitab, pegon dan Arab yang dimaksudkan untuk memahami isi dari kaidah fiqih Islam. Jika tidak di pesantren ini, berilah aku kesempatan di pesantren lain. Pesantren yang memberiku pilihan kenikamatan belainn yang lain.

Yogyakarta, 26 April 2018

Balairung UGM

Random thoughts

Skripsi.

Ujian pondok.

Proker ISDP.

Membayang-bayangi bagaimana itu akan berlalu.

Mumpung masih ada waktu, yuk mari waktu dibagi.

Lulus.

Menikah.

Kerja.

Masa depan yang tak pasti. Melangkah yang katanya harus hati-hati. Memunculkan resah yang tak mampu dibendung lagi.

Kagum yang Berujung 

Mendengar suara adzan dan pujian mereka tiap shubuh, serasa malu pada diri sendiri, laki-laki seperti apa yang inginku bersamai, jika raga masih saja seperti ini.

Benar adanya, kenapa jodoh itu dirahasiakan. Biar kita penasaran. Biar kita ada pembenahan. Kalau dah tiba waktunya, ya akan dipertemukan.

Jadi teringat, teman kamar, bilang, kalau kataku, mengagumi seseorang (laki-laki) itu dianggap perlu, karena sosok yang kamu kagumi itu akan menuntunmu pada hal baik yang mereka miliki dan yang kamu kagumi, kamu terinspirasi dan mulai mengikuti. Aku aja lupa pernah bilang gituan. Wkwk

Contohnya renang. Ya aku mulai renang sampai niat beli baju renang ya ngga lepas dari lihat foto di ig seorang akhi dan nulis caption panjang tentang air dan renang.

Kelihatan creepy? Bisa jadi. Tapi sekali lagi, kan itu fotonya publik dan accessible jadi yang perlu lah kepo kepo siapa sih dia. Milenial gitu kan yaaa.

Yang perlu dijaga adalah batasan mengaguminya sih. Nek waktu itu aku sih kelepek kelepek tak terhindarkan. MasyaAllah. Tipis tipis bikin maksiat di pikiran. Nah kalau sudah gitu, ya memang perlu diarahkan, bukan? Hanya waktu yang bisa mengalihkan.
Sekarang ya disyukuri kalau rasa kagum itu berakhir dengan olahraga renang.

Sambil mendengar suara adzan nih, hanya bisa menuliskan do’a yang katanya mustajab, do’a di antara adzan dan iqomah. Ya Allah, semoga apa apa yang kami lakukan sekarang semata karena-Mu. Mereka hanya lantaran. Teguhkanlah iman kami. Buat kami menjadi pribadi yang makin mengasihi sesama. Semoga kami selalu kau pertemukan dengan orang- orang baik. Ya minimal Engkau jodohkan dengan orang baik yaAllah. Aamiin
Salam pagi dari Monjali

Yk, 18/04/18

Acceptene needs time, not an instant one.

It is been a long time I am not writing. I just feel like it is not important to tell a thing of me. Life is too suck to expose all kinds of feelings and events. But here, I ll try to start it over again. 

It starts from re-marriage of my father. People assume the same, father will have a partner in his rest of his life. He could feel happy and so on. But conversely I do. I feels like it is the lowest part in me. I am just thinking of what kind of love that people have to marry someone. What kind of a loyalty can exist. Is it only for a sex partner? Or it is beyond than that, that life needs a partner. Life is about community to live. Not a singular but plural. 

See that a thing has black and white. But going through the white sides, I must see through the black. I am lost and I know it. I am trying to find right people to talk. I am so carefull to tell what happened to me. You know what, the wrong persons can crate worse situation. 

After many weeks complaining and feeling kind of disappointment that why should I have a divorce family, yeah parents are broken. Same with others. But one thing which is a bit diferrent is I just cannot see her, mother.

Talking, thinking, feeling and all those think change in a way of acceptence. There is no complaining in life. Unexpected thing comes and we have to accept it sincerely. Going to this conclusion is not a just sentence but needs time and process. 

Yogyakarta, 15/04/2018

A Year of Your Return

  • Tidak menyangka, setahun sudah berlalu. Ketidaanmu menorehkan titik hidup yang berliku. Tak tajam kurasa. Tapi berbeda.

Kebiasaan dimanja, dimasakkan, disiapkan, diceritakan, didengarkan oleh setumpuk kisah di area perjuangan pelan-pelan hilang. Seketika. Kecepatanku beradaptasi pun tidak sebagus yang kubayangkan. Aku sedikit tertatih. 

Kisah membekas itu, bulan Ramadhan pertama tanpamu. Aku coba siapkan bekal untuk mengganti peranmu di rumah. Dari mulai menu masak harian sampai menyiapkan suguhan untuk lebaran. Tapi malam itu, kumandang takbir sungguh mengingatkan jiwa-jiwa yang berpulang. Puing-puing kenangan mulai muncul membentuk satu kesedihan. Aku tak sanggup menahan. Tak kuasa air mata jatuh perlahan.

Ibu, engkau sudah pergi ya? Padahal aku masih membutuhkan banyak hal darimu. Banyak hal yang belum kuwujudkan, banyak hal yang belum tersampaikan, banyak hal yang belum kupersembahkanKebahagiaanmu di dunia juga belum terpuaskan. Semoga engkau damai di pangkuan Tuhan. 

Allahummaghfir la haa, warham haa, wa ‘aafi haa wa’ fu’an haa ☺

Aamiin

Demak, 28 Des 2017/9 Ba’da Mulud 1439H
 

Mengapa Aku Diciptakan

Masih dengan keraguan-keraguan dan pertanyaan, kenapa saya ada di sini? Tinggal di pondok pesantren. Bekerja dengan orang-orang dari banyak latar belakang. Adakah kesepakatan yang sudah saya buat dengan Tuhan sebelum saya dilahirkan?

Pertanyaan itu berhenti dengan pertanyaan, apa hakikat penciptaan manusia di dunia yang saya ajukan ke Yai Mukhtar tadi malam.

Adanya manusia di dunia adalah untuk menunjukkan kekuatan dan kebesaran Tuhan, Allah SWT. Sebagaimana saya tulis di artikel sebelum ini, bahwa tugas manusia hanya untuk beribadah. Manusia berbeda dengan mahluk lainnya. Bukan binatang yang akan berpikir tentang keilmuan untuk mengatur dunia. Bukan malaikat yang senantiasa bersujud menyembah Tuhan. Bukan setan dan iblis yang membangkang karena kesombongan. Manusia adalah manusia, yang punya nafsu dan akal.

Nafsu lah yang menjadi pembeda dengan mahluk lainnya. Nafsu penting untuk keberlangsungan manusia sebagai manusia. Nafsu makan akan mendorong manusia untuk makan dan akal akan membuat manusia memilih makanannya, bukan asal makan dan tidak tahu aturan. Nafsu syahwat, disebutkan oleh Yai Mukhtar, bahwa adanya kelahiran manusia karena nafsu syahwat. Ini pun ada aturannya, tidak sembarang bisa dilakukan dengan siapa saja melainkan dengan mahram, pasangan yang halal. Dan karena nafsu, manusia punya angan-angan dan tujuan. Punya arah tentang hal-hal yang ingin dilakukan dan dicapai. Manusia dan nafsunya, tidak perlu dimatikan tapi dikendalikan.

Nafsu itu diperlukan. Jangan dimatikan, tapi dikendalikan.

Adanya nafsu ini, manusia adalah mahluk Tuhan yang berbeda. Inilah tanda adanya kehidupan bahwa ada perbedaan. Manusia jauh lebih tinggi derajatnya dari malaikat ketika manusia (dengan nafsunya) beribadah pada Tuhan. Mengingat malaikat diciptakan hanya untuk bersujud pada Tuhan tanpa nafsu dunia sedikitpun. Sedangkan iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia sepanjang hari dan malam. Sungguh lebih buruk dari Iblis dan setan apabila manusia tidak beribadah pada Tuhan. Maka lengkap lah, kehidupan ini.

Perbedaan menciptakan dan membuktikan adanya kehidupan.

Proses perjalanan manusia lahir di dunia dan kembali ke pencipta-Nya nyatanya penuh lika-liku coba. Tidak pernah tahu akan dilahirkan dari rahim siapa dengan kondisi yang bagaimana dan dengan warna kulit dan jenis rambut seperti apa. Apakah orang tua seorang Kiai, atau bandar narkoba, petinggi negara atau penjaga biara, ibu rumah tangga atau wanita penggoda. Lahir dan besar dengan berbagai macam tantangan. Terkadang ada hal-hal yang membuat perjalanan ini menjauh dan menyepi dari keramaian memuji Tuhan. Atau sebaliknya, keraguan menumbuhkan rasa penasaran untuk mencari jalan mengenal Tuhan.

Karena hidayah adalah murni urusan Tuhan. Berbeda dengan rahmat dan ridho Tuhan. Ini ditempuh dengan cara mematuhi perintah Tuhan sebagaimana yang ada di Al Quran dan Hadits. Jalur menjadi orang beriman dan bertqawa adalah cara mendapat rahmat dan ridho-Nya di dunia dan kehidupan setelahnya. Akhir kata, ibadah apa yang bisa kita banggakan untuk-Nya.

Sungguh, jika kamu ingin menjadi orang yang alim, maka belajarlah. Ingin menjadi orang yang kaya, maka bekerjalah. Ingin mengenal pencipta, maka beribadahlah. Tidak ada yang tiba-tiba. Semua perlu proses dan usaha. Inilah letak ikhtiar manusia. Bekerja bisa jadi jalan mendekat dengan Tuhan. Belajar di kampus bisa jadi salah satu cara mengenal kebesaran Allah lewat keilmuan.

Karena surga dan neraka adalah pilihan. Dengan nafsu dan akal, mana yang akan kita pilih untuk menuju jalan pilihan. Yang utama dan yang paling utama, tujuan hidup adalah mencari ridhoNya lewat ibadah sehari-hari yang kita jalankan.

Begitulah sedikit yang saya rangkum dari Yai Mukhtar.

Bawah masjid, 17/12/17

Wallahu a’lam bishowab..

 

 

Manusia sebagai Pengatur Dunia

Malam ini adalah malam jawaban. Beliau Ustadz Mukhtar. Sedikit menyita perhatian waktu tahu pertama kali cara beliau mengajar. Ada rokok di tangan. Sedikit kukerutkan kening. Namun, ketika duduk dan merendahkan hati untuk menerima ilmu dari beliau, batin ini terus tertunduk. Sambungan kitab Nashoihul ‘Ibad dan analoginya mudah diterima dan sesuai sekali (relatable) untuk kami.

Screen-Shot-2014-12-16-at-1.42.59-PM.png

Tentang Imam Sibli yang masuk surga karena rasa kasihnya terhadap seekor kucing, beliau menyatakan bahwa surga itu mutlak hak prerogratif Allah. Manusia tidak tahu jalan atau amal apa yang akan membawa ke surga. Juga kisah Imam Ghozali, yang jalur surganya tidak disangka-sangka. Beliau membiarkan si lalat yang dahaga meminum air tinta pena saat beliau sedang belajar. Tidak ada yang tahu. Masa yang sekarang dan esok akan seperti apa.

Itulah. Tentang surga dan neraka, ada seorang teman yang tidak memercayainya. Sehingga dalam keseharian, perwujudan aktifitasnya tertuju pada dunia, apa yang bisa dilakukan agar selamat dari dunia. Ini tidak bisa disamakan saat orang memercayai bahwa ada kehidupan sesudah kematian – akhirat. Orang yang percaya akan ini, segala perbuatannya di dunia seharusnya tertuju pada akhirat – untuk ibadah.

Dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56, “Wama Kholaqtul Jinna Wal Insa Illa Liya’budun ” (dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku).

Beribadah. Manusia diciptakan untuk beribadah. Beribadah yang seperti apa? Apakah menarik diri dari lingkungan untuk khusyu’ dan fokus beribadah pada Tuhan. Sedangkan manusia kini sedang hidup dan berada di dunia. Lantas, untuk apa sih urip neng donya? Untuk apa segala pepaes (perhiasan) yang ada kalau tidak untuk manusia?

Dan segala aktifitas kalau diniatkan untuk ibadah, maka jadilah ibadah. Bahkan hal-hal yang sangat keduniaan, tapi selama ditujukan untuk kehidupan yang kekal, jadilah bekal amal. Menjadi khalifah di bumi. Pengatur kehidupan di bumi. Adalah tugas manusia.

Terasa berat di usia hidup yang tidak lama untuk memelajari dunia dan seisinya. Untuk belajar banyak hal-hal di masa-masa terdahulu. Dan jawaban-jawaban atas peristiwa-peristiwa yang penuh tanya.

Dan beliau mengatakan, khalifah di sini bukanlah dunia secara literal dunia melainkan dunia sesuai kapasitas masing-masing. Bisa jadi menjadi khalifah untuk keluarga kecil adalah kapasitasnya dan jalan yang membawanya ke surga. Bisa jadi dengan menjadi istri yang mengurus rumah tangga dengan tulus ikhlas adalah jalan menuju ridho-Nya yang membawa keberkahan dunia dan kehidupan setelahnya. Bisa jadi menjadi pemimpin di komunitasnya adalah pemberian Allah untuknya untuk menjadi khalifah bagi anggota-anggotanya. Dan begitulah yang saya dengar dari mereka.

Wallahu a’lam bishowwab..

Yogayakarta, 18/12/17

 

 

 

 

 

Ibadah, untuk apa?


“Aku lihat orang-orang yang lempeng saja, tidak beribadah, mereka pun baik-baik saja,”

Beberapa kali pembicaraanku dengan beberapa teman yang aku anggap berada dalam prosesnya mengenal Tuhan. Mereka pekerja keras, rajin dan sangat ringan tangan menolong sesama. Tapi status muslim, tidak mengharuskannya untuk beribadah – shalat.

Islam tapi tidak shalat. Banyak orang di luar sana yang pada nyatanya seperti itu. Tapi itu terasa miris apabila mereka adalah orang terdekat, teman kuliah atau teman bekerja. Bukan merasa lebih baik dari mereka, tapi seperti bingung harus melakukan apa. Justru, pikiran mulai mempertanyakan keharusanku untuk beribadah di dunia.

Dengan ridho Allah, manusia diciptakan. Tidak ada pencipta yang tidak suka dengan yang diciptakan, bukan? Pasti ada alasan dan tujuan. Yang pasti, Sang Pencipta sayang dengan apa yang diciptakan. Lalu, bagaimana tentang keberadaan surga dan neraka Tuhan? Penyiksaan di neraka, apakah itu dibenarkan? Kenapa ciptaannya disiksa?

Naik turun iman aku rasakan. Betapa mengurangi kebiasaan ibadah satu per satu itu sungguh terjadi. Yang terpenting adalah shalat, cukup. Beberapa ikhtiar rutin, seperti puasa dan dzikir mulai terhruti. Untuk apa sebenarnya ini semua? Untuk mendapat suami yang shaleh? keturunan yang alim? Hanya itu? Satu demi satu mulai terpinggirkan, hingga aku merasa baik-baik saja jika tak melakukan.

Lebih dari itu, nilai-nilai dalam melakukan ibadah pun mulai dikesekiankan. Tapi melihat antusiasme teman sekamar yang sangat menikmati setiap pertemuan dahi dan lantai, membuatku bertanya kembali, kenapa aku tidak sekonsisten mereka? Mengapa aku mengambil jalur yang sedikit berbeda? Mempertanyakan.

Yogyakarta, 18/12/17