28/07/2017 – My letter for Father

Dear Father,

This is my third week in Jogja after I met you from Idul Fitri celebration. At the first week, I had a class with a student from US. He is a musician. He has a band with underground music. What I love from him is his adventurous nature. Just like an animal person who really likes animal. That is why he is vegetarian. He has lived in many forest for many nights to live with nature, to hope nothing from a life, to pull away from a crowd. That is what I could interpret from him. 

Talking with him about being vegetarian reminds me about my friends and I while we were on fasting from animals-bilaruhi fasting-for 40 days during Idul Adha celebration. What I could say being vegetarian here is not easy. Almost food sold in warung were already obviously or invisibely contained by animals. Thus, the solution is we cook our meals by ourselves or actively asking about the ingredients of any foods we eat. 

You can assume him as Mas Rosi, coming from one concert to another in groups. We even talk about hitchhike that he often does in Indonesia. Just like me, when scouting group of UGM (Pramuka UGM) and I were hijacking right after tracking many hours to be finally arrived at our campus. It was one of amazing experiences I have with Pramuka UGM in tracking, just like him. He has travelled many places from this archipelago. Oh, how I want to travel these islands too. 

At the weekend, collegues and I were cooking together. I made ice tea and oseng-oseng kangkung among many other delicious dishes successfully provided on the table. I just remembered when Risma suprised to know how simply to put seasoning but creating a good taste on kangkung. I am very happy to have such a good time in cooking, as well as in home. Other enjoying parts are taking photos and chatting with people there. 

But the next week, I have no clear idea of what I am going to do here. My first skype class was cancelled and I turned to be free for a week. That was very terrible! I felt like I am losing my crowd. Something empty. The same situation, when I have no schedule to meet people will be always terrible.

In fact, it makes me remember random things which my bad mood comes. I remember mom and you, that I do not do important things here. I supposed to do something here. As well as your story. How you feel so sad when Risma wanted to move from her new school. I just cannot imagine your feeling is. You certainly did not want to be strict at her that always remind you to Mother, but letting her choose she wants. Thankfully she finally realize that she just needs to adjust herself in a new place around new people with new strict rules.  

Same like me, new condition without having clear plans is unconvenient. But it challenges me to do things I want. How I commit to realise my plans.  How I create creative things to do in a row. How I manage self-consistency with my big enemy, pleasure. By all the distraction on plans I make, being around people here is a gift. Even though I have no agenda to do but people here, together we move in the same mission for an increadible teacher-Pak Kyai. We walk through one duty to another in one reason. 

Helping each other. I was asked by mbak Ana to replace her in elementary school for a Quran class-TPA. I met incradible people on her own. Also, practicing my teaching skill in a big class is always interesting. One student, who cannot be silent, instead of hitting and annoying his friends during the whole class, catches my attention. It turns out that his background and daily life shapes him. His parents, both are working to earn money. Thus, he gets along with high school students to play around. Unfortunately, he sometimes becomes their assisstant to help themselves. A family, which must have more compassion rather than material, is every kids’ right. He deserves to get more attention and compassion.  

You and mother had worked hard. When I was in elementary school, to be honest, I was sad to know you being busy with your stuff rather than asking me if I have homework or not. But now I understand, making money is not easy. Running out of money is such a normal condition before end of months. However, a principal that withdrawing your transferred money is impolite. Graduated student from a university, economically, must be tough.

Besides that, pesantren, is the best place to share anything. We have lots of things to do together including food, time, story etc. We celebrated friends’ birthday. We came to a final paper presentation of our college student. This makes me know more people here and situation on how to get the rhytme to be socially connected. Furthermore, knowing how my spiritually goes so far is the other better. Not only praying for a duty but a call from the heart.  

Princess Zahra’s Final Presentation

Just like this night, a friend of mine, shared with me and other friends after my three years ignoring her so well because of her first worst impression. However, last night is the great time to know each other. We shared our story, how past shapes us. 

Deeply sharing without borders

At the weekend, I spent my time with my roomate, mbak Lian, who knows me well right now. With her, I try to build the best relations to learn mistakes from one another, to share compassion, to give a trust. It is not easy but I believe this time is the right time to the better. Soon I realise that to be always positive thinking is the key out from a conflict. 

Weekend on Opick’s concert

Today, I write this letter inspired by my lecturer, Angela Arunarsirakul, as my source of inspiration. Releasing my motto “coloring the world with my own patterns” is not a new one. It has been many years but I haven’t told anyone what the meaning is. That means, my life is colors (impression, message) for people in their life with my patterns (characters, actions) on my own. Having no idea when my life would end, thus, story is the only thing I can give to this world.
Always happy there.

Your daughter, Wirdatul Aini.

Yogyakarta, 28 July 2017

Kampung Warna Warni Jodipan

Itu looh kampung warna di Malang. Kalau kamu naik kereta, itu pemandangan yang bisa kamu lihat. Menarik kan?

Kampung warna warni yang aku kunjungi ini ada di Jodipan, Kota Malang. Kampung warna memang jadi daya tarik wisatawan di banyak kota di Indonesia. Terbukti dari kebiasaan cekrak cekrik lalu unggah ke medsos, anak muda memang target destinasi ini. Ada 9 kota di Indonesia dengan konsep kampung warna, yang tetap menarik wisatawan.

Waktu kamu mau berkunjung ke kampung ini, bisa jadi kamu akan lewat pasar loak. Itu artinya kamu hampir sampai atau sudah sampai. Masuklah. Dengan karcis sekaligus stiker seharga Rp 2.000, kamu bisa lihat warna-warni dinding rumah, lantai, genting, pagar, jalan, bahkan sepeda yang sudah rusak yang diabadikan. Murah kan. 😆😆😆

Kampung ini sangat recommended untuk berfoto ala ala orang sekarang, selfie dan wefie. Karena 15 warna lebih dari Indana paint bisa memberi kesan menarik bagi mata yang memandang. Juga cocok untuk penikmat seni. Berbagai lukisan dinding yang memiliki nilai seni, indah untuk dimuseumkan di kamera ponsel pintar. 

Kampung ini dimunculkan atas ide mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai tugas praktikum kelompok. Kampung yang kumuh disulap jadi warna warni. Berkat kerjasama sponsor, Indana Paint dalam proyek “Decofresh Warnai Jodipan” dengan dana CSR, mahasiswa UMM itu sukses melaksanakan proyeknya. Dibantu oleh TNI, POLRI, warga, dan 10 tukang cat, renovasi kampung ini terlaksana. 

Kampung warna warni Jodipan. Lihat ini, ide kreatif yang digerakkan dan didukung banyak pihak. Mengagumkan!

Berkunjung ke Malang, tak lengkap kalau belum masuk ke kampung warna warni Jodipan. 😉 Berikut dokumentasi kunjungan yang hanya sebentar karena sudah cukup kelelahan seharian.

Ke Blitar, Apa Yang Kukejar

Semarang – Solo – Blitar

Rindu. Aku merindukan atmosfir perjalanan. Suasana keramaian stasiun kereta menjelang keberangkatan. Hiruk pikuk orang yang silih berganti berdatangan. Macam-macam gaya pakaian orang saat bepergian. Dan kesepian yang tiba-tiba datang.

Pembelajaran. Aku ingin belajar dari sebuah perjalanan. Mulai dari persiapan sampai akhir tujuan. Aku ingin tahu lebih banyak hal yang tak sampai bisa ku bayangkan. Sampai benar-benar tersadar, bahwa diri ini hanyalah mahluk Tuhan yang  masih butuh banyak belajar. Maka hilanglah rasa kesombongan. Maka hilanglah rasa kepintaran. Maka hilanglah rasa percaya diri yang berlelebihan. Aku ingin tahu lebih banyak tentang aku. Yang terkadang hilang.

Kesalahan. Aku ingin tahu kesalahan demi kesalahan yang sangat mungkin aku lakukan. Biar jadi pembelajaran. Biar jadi pendewasaan. Biar tidak berulang. Biar jadi cerita di masa yang mungkin datang. Dari sini, aku akan lebih tahu, bagaimana aku dan logikaku. Aku dan keputusanku. Aku dan perasaanku. Yang mereka saling berkaitan. Yang mereka punya andil atas aku yang sekarang. Dan mungkin di masa depan.

Perkenalan. Sangat indah mengenal orang lebih dalam. Tak sekedar bercakap. Tak sekedar berjalan-jalan. Tapi tahu latar belakang yang sungguhan. Agar tak mudah buat penilaian, atas keburukan yang nampak di depan. Bahwa hidup adalah perkenalan yang sebentar. Tak punya waktu lama agar bisa mengenal banyak orang. Yang suatu saat akan dikenal. Bahkan oleh yang tak mengenal. Maka, kenallah. Kenallah atas orang lain. Bisa jadi ini jalan mengenal diriku. Utamanya Tuhanku.

Spiritual. Perjalanan membuatku berpikir. Atas ritual keagamaan yang aku praktikkan. Sudah benarkah? Lantas mengapa itu aku kerjakan? Ada kemudahan. Oh, inikah keindahan lainnya. Bertuhan.

🚈Blitar, East Java

Satu Tahun Berjalan, Bisa Berkunjung ke Negara Jepang

Akhirnya keinginan itu terwujud. Aku pergi ke Jepang. Aku tak percaya. Kupikir ini sebuah mimpi belaka.

Sudah hampir satu tahun aku belajar di UGM. Katanya, universitas ini adalah universitas sangat bagus  di Indonesia. Aku patut berbangga. Tapi, hura-hura itu hanya sementara. Aku tidak mau hanya berkuliah saja-belajar, berkegiatan dan sudah. Padahal, aku punya impian besar. Aku ingin go international. Ah, tapi nyatanya tak banyak kesempatan. Kesempatan ke luar negeri hanya untuk mereka yang belajar di program sarjana. Aku kan diploma.

Ini tentang mimpi. Ini tentang keyakinan.

Di suatu hari, leptop daringku tertuju pada satu halaman. Aku buka pelan-pelan. Ada sebuah kesempatan di kancah internasional. Ya, kesempatan itu untuk mahasiswa diploma. Syaratnya tidak menyulitkan. Tapi ternyata, itu sudah melewati batas deadline. Bagaimana ya? Sekali lagi, ini tentang mimpi yang perlu segera diwujudkan. Aku mantapkan hati untuk mendaftar dan konfirmasi ke narahubung yang tertera di informasi halaman.

Pemberkasan yang bisa dibilang mudah, sudah lengkap. Aku mulai kumpulkan tekad untuk sesi wawancara dengan wakil dekan. Ternyata, wawancara tidak sesulit yang aku bayangkan. Aku yakin, aku  bisa menjadi salah satu dari tiga orang yang berangkat ke Jepang.

Cukup singkat. Siangnya, aku ditelpon bahwa aku akan berangkat ke Jepang. Dua mahasiswa lainnya adalah Tiffany (Rekam Medis) dan Lydia (D4 Alat Berat). Kami mengurus paspor dan visa bersama. Waktu yang tidak banyak tidak membuat kami putus asa. Hanya 3 bulan, persyaratan kami ke acara International Student Organizing Committee (ISOC) di Jepang akhirnya lancar.

Sampai di Jepang, kami menjumpai banyak hal menarik yang berbeda dari apa yang biasa kita lihat. Sesudah berjalan-jalan di sore hari, kami bersiap bertemu mahasiswa lainnya dari Taiwan, Hongkong, Malaysia dan Jepang.

Hal utama yang kami kerjakan adalah membicarakan acara International Symposium on Technology for Sustainability (ISTS) dan keberlanjutannya. Itu mengapa, fakultas Sekolah Vokasi (SV) UGM mengirim 3 mahasiswanya ke sana dengan beberapa tujuan. Pertama adalah networking agar bukan hanya pihak SV yang sudah resmi bekerja sama tapi juga dari mahasiswa. Kedua adalah diskusi. Di sana, kami berdiskusi tentang persiapan acara ISTS di Taiwan. Ketiga adalah friendship. Di acara ISTS nantinya, panitia dan peserta tidak hanya dari satu negara melainkan dari beberapa negara yang punya budaya dan pola pikir yang berbeda. Itu mengapa, acara ISOC ini diadakan agar mereka bisa mengatasi benturan budaya yang sangat mungkin ada.

Jadi, bukan seberapa sulit tapi seberapa siap mewujudkan mimpi. Keberhasilan itu akan datang jika ada kesiapan dan kesempatan. Namun, energi negatif beruapa sikap pesimis dan menyalahkan keadaan bisa jadi mucul, tanpa disadari. Itu semua adalah penghambat. Buang jauh-jauh, fokuskan apa yang sudah terprogram di pikiran.

 

Dear My Father,

I want to talk about my life here. This week I got many classes more than usual. In fact, I give more my availability than when I study on college, this week is midterm test.

 I teach three different student in a week. Japanese, American, and Swiss-German. Japanese one is same age with me. I really like to teach student such as a friend. There is no afraid such a ‘kikuk’ sitution or ‘krikik’ moment. She is just a good student and friend.

The American, he takes 5 days course with an Indonesian living experience for 2,5 years. He really seems excited to do things in his life including to study Indonesian language. He asks for many things which becomes his problem and I would be like his facilitator to explain and add more information about his problem. Classes go well and fun.

However, this guy from Switzerland-German is like a great object to measure my teaching skill. Something I need to solve between me and him. He is a good guy. I mean his looks is quite charming for me. However, he seems silent and silent. When I ask him. He would respon and stop there. He doesn’t give any feedback question even asking about me something. Thus I ask to other teacher about him, as a silent student. They says they enjoy enough their classes. The student tell many things. One teacher says it must be knocked so that it makes sounds. Just like him. You need to ask, then he talks, a lot.

In the end of the sessions in the school, I am with two teachers who are being his teachers. One talks about her last class with him. She says many things about his questions to her. Asking about things randomly. For instance the difference of Indonesian money figure and Swiss. Study duration, president and so on. She looks really control and manage the class well. And me? I feel like I don’t have such a good humor and topic yo deliever. I assume he is a silent one but I am totally wrong. He laugh really out loud at the lunch table.

Topic to talk is an important one to define how interesting the conversation. Besides, knowledge and curiousity are main ingredients completed with communication skill.

Thus, here is my reflection during my part

Bahasa untuk Bicara

  1. Penampilan. Eeh eeh, ngomongin penampilan. Wanita yang perlu jaga penampilannya ya. 
  2. Kepribadian. Perlu dibiasakan untuk menjadi bisa. Biar rapi, mulai mendisiplinkan hal-hal kecil di sekitar kita. Belum merasa baik sih sehingga perlu membangun kebiasaan itu. Ngomongin apa sih? Itu lhoo, baju kotor yang perlu dicuci segera, jangan sampai numpuk. Itu lho, kalau naruh barang ke tempat yang semula. Itu lho, gelasnyaPagi ini adalah JumaPenampilan. Eeh eeh, ngomongin penampilan. Wanita yang perlu jaga penampilannya ya. 
  3. Kepribadian. Perlu dibiasakan untuk menjadi bisa. Biar rapi, mulai mendisiplinkan hal-hal kecil di sekitar kita. Belum merasa baik sih sehingga perlu membangun kebiasaan itu. Ngomongin apa sih? Itu lhoo, baju kotor yang perlu dicuci segera, jangan sampai numpuk. Itu lho, kalau naruh barang ke tempat yang semula. Itu lho, gelasnyaberkah. 

 Di kelas. Pak Radjaban selalu memukau dengan pengetahuan kebahasaannya. Hari ini saya belajar affixes. Masih mereview morpheme kata-kata di Bahasa Inggris. Ada 3 jenis morfim; 

  1. Free morpheme. It is a morpheme that can stand alone by itself. Ex: book, duck, cat, etc
  2. Bound morpheme. It is a morpheme that must bound to another morpheme. Ex: -s, -ed, 
  3. Zero morpheme. It is a morpheme that is not actualized into a pheme.

Kami juga membahas tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar terkait dengan afiks di Bahasa Indonesia. Memproduksi, mempopulerkan, mempraktekkan, adalah sederet kata yang seharusnya tidak ada huruf ‘p’ karena melebur pada proses asimilasi. Namun, dengan teori pembiaran, para linguist di UGM tetap mebenarkan sederet kata itu karena penutur sudah bushman dengan memroduksi kata-kata itu.

Itu membuat Bahasa Indonesia tidak konsisten sehingga sulit untuk distandarisasikan. 

Setelah itu, lanjut di perjalanan menuju kampus 1.

Merasakan Nikmat dalam Tiap Gerakan

Bergerak. Pagi ini kulakukan aktivitas bergerak yang berbeda. Otak dipaksa bergerak menganalisa pocong yang muncul di rumah Ibu Maya. Ternyata pelakunya adalah suaminya. Hmm menuntut keduniaan itu tak akan ada habisnya. Cukupkanlah. Sederhanakanlah. Manisnya dunia hanya sementara. 

Senam. Jadi ingat, dulu dan tim mewakili kecamatan senam sehat tingkat SD. DVD untuk latihan tak punya, Bapak tidak menginjinkan beli DVD walaupun untuk latihan senam. Keadaan ekonomi dan prinsipnya lah penyebabnya. Bapak orang yang teliti dan hati-hati tentang sell and purchase. Alhamdulillahnya, saya suka bergerak. Saya main ke teman saya yang punya DVD dan mengajaknya untuk latihan. Selalu seperti itu, bergant-ganti teman dari satu rumah ke rumah lain. 

Kuliah. Hari ini saya membuat nursery rhymes dengan topik time. 

Time…time..time…2x

Let’s look at the time

It’s 9 p.m. 2x

Sing nursery rhymes

Ing…ing…ing…

Pray before sleeping

Evils going…evils going…

Nice dream while sleeping

Lanjut seminar sebagai peserta dengan expert Alki, Avivah dan dan Juvita. Mmm terkantuk terkantuk sambil terdengar sayup suara presentasi mereka. Aku coba tulis apa yang bisa menjadi bahan untuk menjadi peserta aktif. Meskipun bukan yang pertama, mengangkat tangan untuk bertanya masih menjadi momok yang menyeramkan. 

Setelah itu, Bu Novi memberi komentarnya tentang presentasi mereka sampai 12.20. Padahal saya akan punya kelas 13.00 yang harus sampai di kantor 10 menit sebelumnya. Betapa ku kayuh cepat cepat Isabella. Lampu merah kusesuaikan dengan kondisi kendaraan. Aku tak mau terlambat dan kena masalah. Nafasku makin cepat saat aku lihat jarum panjang jam dinding di jalan ada di 11. Melewati Jl.C. Simanjutak. ‘Ah, mungkinkah bisa tepat waktu? Ohya, jam kantor 5 menit lebih terlambat dan jam di jalan itu lebih cepat 5-10 menit.’  Ada harapan. Tapi masih ada Jakal yang membentang, oh Allah, kakiku, nafasku, keringatku, aku harus mengejar Tuan Waktu. 

Akhirnya sampai di kantor jarum panjang 10. Fiuhh. Beneran on time. Aku taruh tas, buka masker, ambil tissue, usap keringat di kulit wajah yang memerah karena kepanasan. Buat teh tawar hangat, ambil 3 butir snack, aku buka hape berharap bisa baca balasan pesan Bu Fitri yang sudah kukirim tadi malam. Tapi tidak mungkin. Tuan waktu sudah menunggku di jam 13.00 waktu Realia.

Akari, mahasiswa Jepang itu, senang rasanya bisa mengajar kembali. Cara pengucapan, ekspresi wajah, gesture, adalah hiburan tersendiri karena itu unik dan jarang kutemui diantara penduduk negeri ini. Tentunya, mengajar tetaplah media belajar memahami kemampuanku menjadi penyalur ilmu yang bijak – menguasai materi, memahami kebutuhan dan kondisi murid.

TPA Pondok. Sudah ditunggu adik-adik di aula. Ohoho, senang senang mengajar wajah wajah polos yang cantik nan imut mut walaupun didalam rasa lapar karena sesiang belum makan. Aku sempatkan makan, aku lanjut mengajar.

Bandongan. Rutinitas ini ditunggu banyak santri. Ini karena ada nasehat Pak Yai yang sudah ditunggu-tunggu, yang paling ngena dan penawar keringnya hati. Ini sedikit hal yang bisa kutuliskan. 

Jadikanlah hubunganmu dengan orang lain haqiqi. Jadikanlah dirimu dengan syariah.

Maksdunya, menganggap orang lain itu tidak berbeda dari kita-tidak lebih rendah atau lebih tinggi. Dan memperlakukan diri sendiri dengan disiplin tinggi sesuai syariah Islam.

Misalkan, ‘Di kitab Fathul Mu’in, shalat sunnah orang yang berhutang shalat fardhu itu tidak sah. Jika ada hutang, segeralah mengqadhanya. Beruntunglah kalian ada di pesantren dan tahu akan hal itu.’

Berakhir di bandongan mengaji Fathul Qorib menyelesaikan bab shalat jenazah dan mengaji bin nadzri dengan Bu Nyai. 

Tak kuat sakitnya perut karena telat makan siang, saya buat mie untuk mengisinya. Dan menghabiskannya di kamar pengurus dibalut candaan khas di malam hari. Pelajaran yang bisa saya bagikan adalah communication is an art. Praktekanlah, pelajarilah.

Setiap gerakan ini aku nikmati, setiap nafas ini aku syukuri. Aku tak pernah tahu kapan ini akan berhenti. Maka, aku perlu berlari. Memang tak mudah menjaga frekuensi kecepatan semangat yang bisa turun kapanpun itu. Memang tak mudah menjadi gigih. Tapi dengan langkah awal, bergerak, proses itu sudah ku mulai. Jangan khawatirkan hasil. Kokohlah dengan proses itu, yang terlihat tidak pasti dan mengingkari. Kuatlah dengan tujuan itu, yang ku sebut sebagai tujuan akhir dari hidupku.

Nandan, 1 Maret 2017

#1of1000writingdays

The Unpredictable Life “40 Hari Ibu”

 

wirda

Khawatir.

Sebagai manusia biasa, saya ingin bercerita. Sekarang ini, saya sedang bercerita lewat keyboard di depan komputer layar besar yang membuatku nyaman.

Ya, aku akan menceritakan orang-orang yang ku sayangi. Dia yang menyayangiku tanpa syarat. Walaupun aku bukan manusia yang baik, tapi dia yakin aku akan jadi seseorang, seseorang yang lebih baik dan patut dibanggakan.

Dia yang menggendongku waktu aku jadi manusia kecil ‘bodoh’ yang menjahit tangannya karena ingin melihat warna-warni benang di telunjuknya. Dia menangis. Dia tak sanggup melepaskan cengkraman mesin jahit itu dari jariku. Dia mengambilku dan membawaku ke mantri. Dibawah jatunya air hujan, di tengah remang-remang cahaya Magrib. Dia memelukku dan menangis. Syukurlah aku tak apa.

Ada waktu, di kala banyak PR yang belum aku kerjakan. Lembaan LKS yang berisi pulihan soal, aku keluhkan padanya. Jika dia tak bisa, aku akan merengek untuk memaksa agar dia bisa. Semua PR ku, aku keluhkan padanya. Beruntungnya, aku berhasil mengerjakan PR tepat waktu. Aku berangkat setiap hari ke sekolah dengan kondisi yang terbaik. Aku sudah sarapan. Aku memakai seragam yang bersih dan rapi. Aku siap belajar dan menjadi juara bertahan di SD N Gajah 1. Aku yakin, itu berkat do’a dia setiap harinya. Yang menyetrikakan seragam, menyiapkan makanan, dan mengerjakan PRku di tengah-tengah kesibukannya mencari nafkah.

Samapai SMA pun, dia yang membangunkanku di kala Shubuh datang. Meski aku tak menjawab karena aku pura-pura tak mendengar, dia tetap sabar. Dia menggoreng bakwan, kering tahu, membungkus nasi kucing, dan siap-siap berjualan karena Bapak sudah menanti kedatangan barang dagangan.

Ya, dia Ibuku. Tepat kemarin (16/02) adalah 40 hari Ibu meninggalkan dunia ini. Selama 10 tahun, dia hidup bersama Diabetes di dalam tubuhnya. Dan di tahun ke10 nya, dia mulai merasakan tubuhnya yang berat. Keluar masuk rumah sakit. Tak sadarkan diri, dan pulang. Aku tak menyangka Ibu akan pulang secepat ini. Aku ingin dia menungguku pulang setelah UAS ku selesaikan. Tapi, Allah ingin segera bertemu ibu.

Pagi itu, aku rapikan kamar untuk bersiap ujian, tapi ternyata, itu lah ujian yang sebenarnya. Aku pulang dengan Mbak Zen, teman pondok, menemui Ibu. Kulihat ibu dengan tubuhnya yang kaku. Aku ingin memeluknya. Tapi tidak dengan air mata. Aku menciumnya. Tapi dia tak berdaya. Dia tak bergerak Ya Allah. Secepat inikah? Iya, waktu tak bisa berulang. Tak ada lagi sosok yang dengan tulus memperhatikan baju yang ku kenakan, membuat sarapan, mendengar curhatan anak rantauan. Ibu, aku di sini untuk Ibu, langakah yang kutapaki adalah untukmu. Ketulusan dan keikhlasan merawat dan membesarkanku, tak akan pernah terbayar oleh apapun dariku. Maafkan aku, atas dosa-dosa yang pernah ku perbuat padamu.

Yogyakarta, 17 February 2017

 

 

 

Play Work Pray at Rumah TahfidzQu

_dsc0411

English Camp Ramdhan #3

Tawaran manis berupa goresan coklat pekat yang cocok untuk dirawat. Ya, menjadi tutor di kelas Bahasa Inggris Mr. Bob Kampung Inggris Pare yang bekerja sama denga Rumah Tahfidz berbuah keluarga yang harmonis.

Rasa nyaman sudah muncul dari awal bertemu santri kilat di asrama Rumah Tahfidz, Deresan. Makin lengkap bertemu dengan tutor tutor hebat dari berbagai latar belakang. Mulai dari kalangan hits bulu mata indah seperti adik Tsaqib, koordinator cantik yang insyaAllah berjodoh dengan Hafidz, Nes yang menghilang karena sayang duit, Vina yang ngehits tapi banyak haters karena banyak gossip, mas Ferdy yang sibuk dengan UAS jadi harus mobat mabit, Emma yang tiba-tiba diem tapi sebenernya suka tomat wkwkwkwk

Sungguh, enam hari bersama kalian itu sesuatu banget. Merasakan indahnya perjuangan ditengah-tengah barakah bulan Ramadhan, relakan ngaji dengan pak Kyai untuk bertemu kalian. Kayuhan sepeda di buru waktu adzan yang harus ku kejar. Hari demi hari mengajar dan evaluasi, semakin hari semakin kita polesi dengan perubahan yang lebih baik. Mulai dari tertukarnya jadwal, kelasku yang kupulangkan karena blank tak ada lagi ide dadakan, sampe kontrol waktu yang masih perlu ada perbaikan.

Semua harus sadari kekurangan, agar kelak murid bisa dapatkan ilmu yang optimal. Terlebih kepercayaan orang tua yang sudah titipkan anak mereka ke pangkuan pengajar. Sungguh, luar biasa kita niatkan bukan hanya untuk masa sekarang, tapi keberlanjutan ilmu yang mereka akan dapatkan.

Banyak murid-murid yang mengesankan. Dari yang suka berjoget honey-shake ala Kiky, Fadhl yang nerocoh karena sumpek lihat anak-anak jail, Alfian yang prospektif jadi pemimpin, Bila yang polos dan ngga mau diem, ah dan masih banyak lagi anak-anak kece yang siap terjun di peradaban zaman.

Intinya, berkesan berkesan berkesan. Seperti yang kutulis saat kuingat pasti wajah-wajah kalian, “Alhamdulillah, ada kesempatan dapat keluarga baru di Deresan, waktu 6 hari yang indah tuk dikenang, tak cukup hanya mengajar, tapi tentang masa depan, bersama Islam dan Iman. Maaf atas segala kekhilafan dalam balutan canda dan ungkapan spontan semua untuk mencairkan agar suasana terasa menyenangkan.”

 

Yogyakarta, 25 Juni 2016 ~ 20 Ramadhan 1437

The Upbringing for Children

 

images

“You’d better not come to school today if you do not recite the Iqro first,” she scolded

That is a part of words that a mother said to her daughter that I heard this morning . She was more likely angry because her daughter does not behave what she wants. Her daughter prefers playing than reciting Quran. What the mother does is to remind her. She was mad at her. The daughter cried out loud and tried to make a deal with her mother so that her mother do not get mad at her. Then, she pronounced the Arabic letter  weepingly to follow her mother words. Yes, her mother wants her to recite and concern more about Quran than her formal school.

That was possible to do for her as a teacher of Quran. She knows her children well and wants her children being more concern with Quran than dunya. Her children are the next generation to be good leaders in the future. However, there are several principals that make me think about Islamic parenting i.e. children are born pure and will imitate their parents as role models.

Children have no sin when they come to this life. “No child is born except on al-fitra (Islam or primordial human nature) and then his parents make him Jewish, Christian or Magian, as an animal produces a perfect young animal: do you see any part of its body amputated?” [Sahih Muslim] They are born pure. If they misbehave, they imitate what they see and hear. Thus, parents do not have to blame or grumble because the children implement what they have seen, heard and felt to their environment.

Reference:

http://productivemuslim.com/islamic-parenting/

Yogyakarta, 6/12/16