Kejujuran lewat Kabel Telpon di Film Everybody’s Fine

Salah satu film bagus untuk ditonton semua usia, terutama mereka calon orang tua dan yang sudah jadi orang tua. Film yang dibintangi oleh Robert de Niro (Frank Goode), yang bekerja di produksi kabel telpon, baru saja pensiun dari pekerjaannya dan kehilangan isterinya  sejak 8 bulan yang lalu. Frank Goode, tokoh utama ini, mengundang anak-anaknya untuk berkumpul bersama untuk pesta barbecue dan minum bir, tetapi di menit-menit terakhir, mereka membatalkan kedatanngannya dengan alasan masih banyak hal yang perlu dikerjakan dan tidak bisa ditunda. Sedikit kekecewaannya, dia upayakan menemui ke empat anak-anaknya.

20171128_103842

Sedang masak Turkey bersama – dokumentasi pribadi

Tujuan pertamanya adalah David, yang ia damba-dambakan menjadi pelukis terkenal. Tinggal di New York, ia tempuh dengan kereta. Sudah sampai di alamat David, tapi ternyata dia tidak ada di sana.

Tujuan keduanya adalah Amy, yang bekerja di agen periklanan miliknya sendiri. Anak Amy bernama Jack, mempersilakan Frank masuk saat ia baru saja sampai. Saat itu, hanya ada Amy dan Jack, tidak ada Jeff, suami Amy. Tapi, tidak lama kemudian, Jeff datang dan makan malam bersama. Di saat makan malam, Jack sangat memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Jeff.

Selanjutnya adalah Robert di Denver, yang ia tahu sebagai konduktor grup musik besar. Setelah bertemu dengan Robert, Frank baru tahu bahwa Robert bukan seorang konduktor, tapi pemain perkusi yang mana sangat ia sukai dan syukuri. Itulah Robert, bukan konduktor seperti yang ayahnya pikirkan.

Robert bilang pada Frank kalau dia tidak bisa membersamai Frank karena dia akan segera terbang ke Eropa untuk konser. Tapi di akhir cerita, Robert hanya mengarang cerita karena ia tidak mau bercerita lebih banyak pada ayahnya, mengatakan kondisi David yang masih diperiksa di RS dan dijenguk Amy.

Terakhir adalah Rosie, penari terkenal yang tinggal di Las Vegas. Frank dijemput dengan mobil super mewah dengan penampilan Rosie yang juga serba mewah, tinggal di apartemen mewah. Sampai di sana, ada Jilly yang membawa anak – yang mana bayi itu adalah anak Rosie – bilang bahwa dia harus menitipkan bayinya pada Rosie.

Saat perjalanan pulang naik pesawat, Frank sesak nafas dan harus dirawat di Rumah Sakit. Hasil pemeriksaan dokter bahwa Frank terkena serangan jantung. Kala itu, Amy, Robert dan Rosie berkumpul untuk melihat kondisi ayahnya, kecuali David. Mereka akhirnya bilang bahwa David meningggal karena over dosis narkotika.

Dalam tidurnya selama sakit, Frank duduk bersama dengan anak-anaknya yang masih kecil. Dia bertanya kenapa mereka, kenapa tidak berkata jujur.

“I tell you the good news and spare you the bad. Isn’t that what mom used to do for you when we were kids?”- Amy (Everybody’s Fine)

Itu lah jawaban Amy. Kabiasaan ibunya yang hanya membicarakan hal-hal bagus untuknya yang sesuai harapannya. Jadi, berita-berita buruk disimpan karena tidak sesuai yang Frank harapkan. Mereka mengungkapkan alasan selama ini mereka terpaksa berbohong atas berita buruk yang menimpa mereka. Bahwa Amy bercerai dengan Jeff. Bahwa Robert mengarang cerita akan konser ke Eropa karena tidak mau bicara banyak pada Frank. Tentang Rosie, yang menjadi pelayan kafe dengan satu anak. Itu semua bukan harapan Frank sehingga anak-anaknya mencoba tidak memberitahukan berita itu pada Frank.

Anak-anak yang terbiasa bercerita pada ibunya, karena dia seorang good listener (pendengar yang baik) dibandingkan ayahnya good speaker (pembicara yang baik), tidak terbiasa menceritakan kabar-kabar buruk tentang mereka. Tapi, dari peristiwa ini, Frank ingin anak-anaknya menjadi terbuka dengannya dengan menceritakkan kabar baik dan kabar buruk tentang kehidupan mereka. Ia pun mengatakan bahwa dirinya bangga dengan keadaan dan pencapaian mereka, yang terpenting adalah kebahagiaan mereka. Seperti kalimat pertanyaan yang ia tanyakan satu per satu pada anaknya sebelum berpisah, “are you happy?”. 

Jadi teringat saat di kelas Babe, kalau hidup harus dinikmati. Sebagai orang tua, membiarkan anak berkembang menjadi apa yang mereka banggakan, bukan orang tua banggakan. Tidak memaksa kehendak orang tua pada anaknya, dengan mempersiapkan masa depan sedemikian rupa, karena sebenarnya masa depan sudah ada di depan mata.

Pertama nonton film ini, tersentuh sekali dengan kisah dan nilai-nilai cerita. Teringat Bapak yang belum lama ditinggal Ibu dan kini hidup sendiri di rumah. Kedua kalinya, masih teringat Bapak. Betapa komunikasi sangat penting sekali bagi Frank, seorang pekerja di produksi kabel telpon yang menghubungkan banyak orag dengan berita baik dan buruknya. Tapi ia sendiri, belum bisa berkomunikasi dengan baik dengan anak-anaknya, yang menyembunyikan segala berita buruk darinya.

Tentang kabel telpon. Tentang Frank yang memfoto aktivitas anaknya dengan kameranya. Tentang perjalanan Frank naik bis dan kereta. Alunan musik film. Bagus!

 

Informasi Film

Judul               : Everybody’s Fine

Genre              : Adventure, Drama, Komedi

Sutradara       : Kirk Jones

Produser         : Gianni Nunnari, Ted Field,  Vittorio Cecchi Gori, Glynis Murray

Aktor                : Robert de Niro, Drew Barrymore, Kate Beckinsale, Sam Rockwell

Rilis                  : 4 Desember 2009 (USA)

Distributor      : Miramax Films (USA)

Durasi               : 99 menit

 

Hujan yang menyatukan kamar bambu atas,

28 November 2017

 

 

Advertisements

Uwis Rampung Ngajar 

Ekspresi Batin

Persiapan. Sudah jadi syarat utama seorang pengajar menyiapkan semua bahan-bahan yang akan dipakai di kelas. 

Ngajar pertama saya, berantakan. Mulai dari teknis dan persiapan. Tapi sudahlah, itu sudah jadi skenario Tuhan supaya ngajar ke dua saya lebih banyak persiapan.

Alhamdulillah, sudah. Persiapan unduh video kenalkan wisata di Jogja cukup dan instruksi latihan yang memadai tepat. Perlu berjam-jam sebelum kelas, urutan teknik kelas yang runtut datang.

Saya, senyum yang paling ikhlas karena sudah ngajar dengan persiapan yang lebih baik dari sebelumnya.

Yang tengah, mbak Nanda, nahan runyamnya batin karena akan ngajar pertama kalinya di hadapan akang-akang dari China yang seringnya menggodainya.

Yang paling kanan senyum tapi tetap memperlihatkan kekhawatiran yang tertunda, wkwk.

Dan selalu berpegang pada kompetisi diri sendiri, yang mana lawan adalah ‘saya’ yang kemarin, dan harapan adalah ‘saya’ yang esok. Jangan sampai keluar jalur, membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Ingat, ini skenario Tuhan. Peristiwa dan proses dalam hidup seseorang berbeda-beda. Menjadi sebaik-baiknya ‘saya’ jauh lebih sempurna. 

Perwakilan Kelompok Presentasikan Rencana Jalan-jalan di Jogja


Janjane Kepriye sih Cah Sastra Iku

“Cah sastra ki waton mlaku, ngalir.” 

“Orang yang IPK nya 4 itu bukan orang sastra,”

“Spaneng banget, cah sastra ki nyante, sik penting utekke,”

Begitulah, akhir-khir ini pikiranku bergelantung ke ayang-ayang apa maksud sebenarnya perkataaan itu. 

Aku yang seperti ini, bukan mbak-mbak yang rapih banget tatanan lemarinya dan lipatan bajunya. Bukan yang rajin banget dan tertata jadwal hariannya. Dan sekalipun iya, itu tidak bertahan lama. Juga bukan mbak-mbak yang rajin banget ngerjain tugasnya, tapi dengan menunda, kekuatan ide baru tergambar jelas di bayangan, kemudian tangan yang seketika mengetik tepat beberapa jam sebelum harus dikumpulkan.

Apakah itu gambaran cah sastra? Jawaban saya tidak. Hati saya tidak tenang menghadapi itu semua. Waktu yang cepat berjalan karena harus satu persatu tugas ditunaikam membuat otak sedikit cepat memanas di malam hari. Alhasil harusnya lembur tapi tidur karena tak kuat mengemban beban pikiran. 

Ataukah kurang aware terhadap suatu persoalan membuat luka-luka kekecewaan saat gagal kian melebar. Tak pikir kok ya demikian. Kurang perhatian. Merasa sibuk tapi memang sibuk. Tak pikir semua yo sibuk nek pingin gak dadi pengangguran. Tapi sibuknya yang jadi perhatian. Sibuknya belum tepat sasaran.

Itu, ada teman yang sanggup meluangkan waktunya pacaran. Tak tanya, mbak pernah ngga sih mikir hidup mbak untuk apa? Jawabannya tidak memuaskan. Tapi mbaknya rajin, cantik, santai, dan tenang. Ada lagi ibu-ibu yang Subhanallah profesional dalam pekerjaan, mudah menarik perhatian, mampu mencairkan ketegangan, mungkinkah dia selo sehingga bisa mengakomodir semua kalangan?

Jawabanku tidak. Belio banyak kerjaan. Harus bagi tugas rumah dan kantor. Tapi pembawaan, yang tetap tenang dan fokus bisa membawanya terlihat baik-baik saja. 

Bukan berarti sibukku ini lebih baik dari yg tidak sibuk. Tetapi apa faedah yang bisa diambil. Orang tidak sibuk tapi banyak belajar kehidupam juga banyak. Orang sibuk tapi makin liar dan ngga karuan juga banyak. Dan orang sibuk tapi tahu betul kesibukannya akan membawa perbaikan juga banyak. Tinggal pilih. Mana jalan yang baek. Yang bisa jadi tuntunan. Kata beliao sang guru, orang berilmu ya belajar. 

Akhir kata, cah sastra opo ora, sik penting reti opo iku sek mbuk lakoni. Nek gak ngerti, sekirane apik yo tetep dilakoni. Gur bab style. Gaya. Kakean gaya apik. Nek pancen gayamu iku yo rapopo. Ora kudu podo.

Ora perlu mandang wong liyo. Ngetiyo awakmu dewe. Wis reti awakmu rung? Karepe piye? Senenge piye? Pingin kaya piye uripe?

Kampus Humaniora

15 Nov 2017

Pingin Sakit, Sudah Bosan Sehat

Sakit. Sudah sejak lama aku menginginkannya. Entah kenapa, rasa rindu sakit datang saat melihat teman sakit. Rindu merasakan sakit. Rindu mendapat perhatian dan kasih dari orang terdekat. Rindu, rindu istirahat sejenak dari khayalan dan harapan yang tak kunjung datang. Rindu untuk hanya berpikir, aku pasti akan sehat. Rindu dengan ibu. Kata kata yang terdengar dari mulutnya di saat raga lemas tanpa daya. Rindu saat Ibu memintaku minum obat, tapi aku hanya bilang keroan saja sudah cukup.

Kali ini, rindu itu terwujud. Rasa sakit. Sakit fisik. Sakit yang tidak biasa kurasakan di kala aku sehat. Sudah beberapa hari ada rasa yang tidak biasa di badan. Mual, mudah pusing, dan lemas. Secara sadar, ini karena kelelahan akibat begadang. Yang ku sambungkan dengan kopi. Hasilnya, seharian tidur tanpa makan. Mulailah dari situ. Bersepeda ke kampus aku ganti denga Trans Jogja (TJ), satu-satunya transportasi publik yang memungkinkan kujangkau. Puasa ku hentikan dulu. Alih-alih mau mendapat fisik yang membaik. Mengatur alarm untuk tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Semua karena aku ingin merasakan sehat lagi. Rasa rindu akan sakit sudah terobati. 

Saat sehat sudah hampir datang, tiba-tiba muncul sakit lain di bagian badan yang lain. Ini membuatku benar-benar berpikir, dosa apa yang telah kuperbuat. Apakah ada hak-hak orang lain yang kuambil? Apakah ada kewajiban yang belum kutunaikan?

Mulai berpikir. Sampai pagi ini, aku membuka buku ‘Uncommon Sense’ oleh Dr. Mel Gill. Halaman pertama yang terbuka di pelupuk mata tentang Pain. This might be the answer, dalam hati. Aku baca berulang dengan seksama.

Buku ini masih minjem, tapi aku mau punya sendiri; Uncommon sense, buku sakti!

Rasa sakit, bisa jadi tanda untuk tubuh berteriak meminta perhatian. Beberapa orang akan mengaku kuat, sehingga mengabaikan rasa sakitnya. Tapi nyatanya, rasa sakit adalah tanda tubuh minta perhatian, nutrisi atau sesuatu yang belum ia terima.

Terkadang itu tanda stres dan hanya perlu waktu istirahat. Nyatanya, sakit mental dan emosi adalah dua hal beda tapi saling berhubungan. Salah satu penyebab sakit adalah harapan yang belum juga datang. Rindu akan orang-orang tersayang. Ya, aku rindu keluargaku. Orang-orang yang bersamaku, ada untukku, waktu aku kecil dulu. Kenangan itu muncul dan seakan aku ingin kembali ke masa itu. Saat masa-masa kecilku, dengan ibu bapak dan kakak adik di rumah.

Rasa rasa kehilangan mulai muncul saat kakak pergi ke pondok dan pulang hanya sekali sebulan. Keberangkatannya selalu jadi pilu tersendiri di hati. Tapi waktu menenangkanku. Makin lama, pilu itu memudar bersama waktu.

Bagaimanapun, waktu telah merenggutnya, waktu memaksanya pergi, waktu mengubah hari itu, waktu mengganti waktu itu. Kini ibu tiada, bapak sendiri, kakak di ibu kota, adik di pondok yang kabar keinginan pindahnya selalu membuatku khawatir. Apa yang waktu telah perbuat sehingga segala sesuatu bisa jadi seperti ini. Berubah dan terus berubah. 

Mungkin kerinduan itu, yang  menggangu pikiranku. Berharap kalau waktu bisa mengembalikan masa itu. Waktu bisa menghadirkanku di ruang dan waktu kala itu. Tapi nyatanya, ia tak mau.

Tak hanya kerinduan akan waktu yang sudah berlalu, tapi kepastian waktu yang belum tahu. Harapan demi harapan kusematkan agar hidup terarah ke tujuan. Seperti kata orang bahwa seseorang harus punya target dalam menapaki kehidupan. Ya, harapan itu tak kunjung bertemu. Dan tinggal dengan harapan-harapan yang semu, akan memicu rasa sakit, kekecewaan. Sakit itu, yang menjadi tanda fisik, yang tidak menerima kepuasan atas keinginan dan harapan.

Menurut buku ini -yang mana sudah ada bahkan ribuan tahun lalu- mengurangi harapan dan keinginan adalah prinsip sederhana, bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Dengan menganggap bahwa setiap pertemuan adalah hadiah. Bahwa keberadaan orang-orang adalah penggerak jiwa. Bahwa setiap momen adalah karunia.

Tapi bagaimana kalau mereka meninggalkan kita? Orang-orang yang kita anggap membahagiakan, satu demi satu hilang dari pandangan? Jawabannya, tidak perlu merasa sendiri atau merasa sedih meratapinya, tapi justru menjadi yang membahagiakan.

Daripada menunggu orang lain memberi kebahagian, bersyukurlah dan berbahagialah atas orang-orang yang ada di sekitar kita. Tentu, mengikhlaskan mereka yang pergi akan perlu waktu. Dan itu bagian dari proses mendewasa menuju kematangan emosi dan tentunya spiritual.

#Di kamar bambu dengan cahaya matahari yang memaksa masuk di sela-sela anyaman, aku sampaikan salam rinduku padamu, Ibu. Saat aku terbangun dari mimpi ini, aku akan memelukmu erat dan bercerita tentang semua peristiwaku, bahagia dan piluku bertemu dengan orang-orang yang mengisi kekosongan waktuku.

Yogyakarta, 6 November 2017

Catatan santri – 12/09/2017

Mengambil pelajaran hidup itu bisa dari mana saja. Dari peristiwa yang kita alami, cerita orang lain, cerita terdahulu, dari buku, dan lain sebagiannya. Belajar tak mengenal ruang dan waktu. Manusia butuh belajar sampai bertemu ajal.

Belajar di sini, di lingkungan ini, ternyata banyak juga. Dengan catatan jika mau dan mampu. Pelajaran yang paling mengena sekarang adalah tentang olah rasa. Jumat kemarin, saya belajar dari simbah mampu mengolah rasa dengan baik. Tidak mementingkan raganya melainkan rasanya. Salah satu nasihatnya di sela-sela membuat cookies adalah bahwa dalam hidup, kita akan saling bekerja sama mencapai tujuan masing-masing, juga tujuan bersama. Dalam melakukan perbuatan yang baik, kita tidak perlu pujian. Juga dalam kesalahan, kita tidak perlu cacian. Yang dibutuhkan adalah kesabaran agar mencapai tujuan. 

Disambung dengan dhawuh Kyai dalam bandongan kitab Riyadhus Shalihin, bahwa merasa yang terbaik itu akan menurunkan derajat kita. Tetapi, merasa yang terbaik berbeda dengan melakukan yang terbaik. Kita semua perlu melakukan yang terbaik. Tapi apa-apa yang sudah kita capai, kita punya, dalam bentuk prestasi, harta dan kekayaan itu jangan sampai mebuat kita menjadi lebih baik dari pada orang lain.

Dengan begitu, timbullah sifat sombong. Sifat yang akan menjerumuskan manusia ke neraka. Tentang sombong, masih dalam bandongan, bahwa sombong itu letaknya ada di hati. Bagaimana dengan rumah mewah, pakaian bagus, gawai canggih, yang dimiliki seseorang? Itu belum tentu bagian dari sombong. Karena semua fasilitas terbaik yang kita miliki, bisa jadi alat untuk berjuang di jalan Allah. Contoh, sebagai muslim, kita wajib memuliakan tamu. Apabila punya banyak tamu, rumah mewah adalah cara untuk memuliakannya, maka itu sah sah saja. Juga berpakaian rapi dan bagus, tidak mau dicap muslim yang kumuh dan dekil bukan? Jika berpakaian rapi adalah caranya, maka itu sangat dianjurkan.

Mengolah rasa, mengolah batin adalah keahlian yang perlu dilatih. Menurut buku yang berjudul Sunan Kalijaga, itu bisa dicapai dengan riyadlah atau latihan dengan tujuan mencari jalan taqwa. Ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Kalau di pondok ini, contoh bentuk riyadloh santri di sini adalah melakukan ngrowot, mutih, bilaruh. Ibaratnya air laut yang tidak terkena ombak, maka air akan terlihat lebih bening. Juga rasa menahan nafsu untuk makan makanan yang sudah menjadi kebiasaan, itu adalah bentuk latihannya, sehingga dalam berdoa bisa lebih khusuk.

20170902_123809

Pantai Parangtritis dari Petilasa Kakek Bantal 

 

Berbicara tentang doa, itu adalah bagian dari mantra manusia dalam kehidupan sehari-hari. Doa adalah keyakinan. Dalam doa, terbesit harapan agar menjadi kenyataan. Maka dengan bahasa apapun, doa sangat mungkin qobul asalkan dengan keyakinan. Banyak doa yang tidak qobul. Bisa jadi itu berhenti di bibir saja. Tidak dengan batin, rasa. Karena keyakinan lewat kata-kata bisa menarik energi di sekitar. Dalam novel Paulo Ceilho di Alchemist,

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Akhir kata, percayalah, sangkan paran kita ada maksudnya, pesannya. Raga boleh jadi pergi kapan saja, tapi amal akan tersjaga selamanya.  

 

Di kamar pink, yang sekarang terindikasi ada tikus lagi,

Akan kubiarkan malam ini saja dia menginap

Dini hari, 12 September 2017

 

Catatan Pengajar BIPA – 06/09/2017

Kali ini, saya akan memperkenalkan kalian dengan murid saya, bernama Luca L. Bacanya ‘Luka’ ya, yang sering dipakai di bahasa Indonesia untuk menerangkat keadaan sakit. Dia adalah mahasiswa Jerman yang akan satu tahun belajar di fakultas filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM). Secara kemampuan, dia termasuk false beginner, yang sudah tahu sedikit bahasa Indonesia, baik kata dan ekspresi. Yang menarik dari kelas dia adalah, ditunjukknya saya menjadi ketua kelas, yang mana itu pertama kalinya saya menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kursus seorang murid.

buku

Buku BIPA

Awalnya, saya sedikit bingung, apa yang seharusnya saya lakukan sebagai ketua kelas. Setelah mendapat masukan dari guru-guru, sedikit ada bayangan bagaimana mengarahkan kelas agar murid mendapat tujuan belajarnya. Apalagi, kenyataan bahwa kemampuan dia sudah sampai di B1 dan sudah waktunya mengenal tata bahasa di bahasa Indonesia. Selain, saya biasanya mengikuti jadwal dan konsultasi dengan guru lain saja, yang pasti, menjadi ketua kelas, punya rasa yang berbeda ketimbang hanya menjadi tim guru. Pun menjadi tim guru, tidak semudah untuk sekedar mengajar, tapi perlu mengikuti kemajuan murid dan persiakan materi.

Akan tetapi, kebiasaan untuk tidak menyiapkan kelas secara rinci sering saya lakukan. Hasilnya, saya sering gelagapan menit-menit terkahir sebelum mengajar. Sehingga, banyak sekali hal-hal yang mengejutkan dan memalukan terjadi di kelas. Tentu akibat kurang persiapan.

Hari ini, saya mengajarnya dengan baik, saya pikir demikian. Saya menyadari, bahwa mengajar bahasa Indonesia sangat memerlukan pengetahuan dalam banyak topik. Kemampuan mengobrol juga sangat penting agar murid bisa menikmati alur pembicara untuk memahami arti kata-kata baru dan arti konteks suatu kata atau frasa. Dengan banyak merasakan bahasa Indonesia dari segi arti dan konteks, mengajar bahasa Indonesia terasa lebih mudah. Ditambah banyaknya referensi cerita, informasi dan pengalaman, serta pemahaman budaya Indonesia, akan sangat membantu kegiatan-kegiatan yang ada di kelas.

Seperti di kelas tadi, saya menceritakan tentang pernikahan, topik yang sering sya bicarakan denga teman-teman saya di kamar, juga tentang liburan saya di salah satu wisata air di Jogja, dan kegiatan pengabdian organinsasi saya di desa Duwet, Kulon Progo. Itu menjadi pengetahuan baru buat dia, di samping juga mengenal dan memahami kosa kata baru yang saya sering lontarkan.

Meminjam kata-kata saat mengikuti simposium BIPA,

Punya tujuan capaian belajar yang jelas, namun luwes dalam pendekatan.

Tujuan belajar Luca, cukup jelas, untuk membantunya memahami percakapan di bahasa Indonesia dan mengenal budaya Indonesia. Dengan pendekatan obrolan tentang kebiasaan dan fakta-fakta yang di Indonesia, saya pikir cukup mewakili tugas guru BIPA.

 

Suatu siang sesuai mengajar,

6 September 2017

Yogyakarta

 

 

 

Tujuh Prinsip Wujudkan Kota Impian

Jogja yang sekarang, berbeda dengan Jogja sepuluh tahun yang lalu. Perbedaan yang mencolok adalah kondisi jalanan yang ada di kota. Dulu, tidak banyak kendaraan mobil dan motor yang menyebabkan macet. Sekarang, mudah sekali kita menemui kendaraan motor dan mobil yang memenuhi jalanan. Biasanya, ramai-ramainya jalanan jam-jam pagi dan sore saat orang-orang berangkat dan pulang dari pekerjaannya. Juga toko-toko yang semakin banyak, hotel, apartemen, dan mal yang mulai bermegah-megahan berdiri memadati kota Sleman dan Yogyakarta.

Bagaimana Jogja 10 tahun lagi? Akankan akan semakin padat dengan pembagunan infrastruktur yang besar-besaran? Ataukah berubah menjadi kota yang benar-benar nyaman ditinggali orang-orang? Tentu pertanyaan itu bisa kita ramal dengan mengamati kondisi Jogja saat ini dan bagaimana orang-orang memperlakukan Jogja. Tentang perilaku orang-orang, bukan salah perusahaan minyak menyediakan bahan bakar, bukan salah perusahaan asing pula menjadikan Indonesia pelangggan setia penjualan kendaraan, tapi perilaku dan cara orang-orang menjalani hidupnya, yang itu menimbulkan masalah bagi mereka sendiri.

“Fundamentally, the way we shape cities is a manifestation of the kinds of humanity we bring to bear,” Peter Calthorpe

Dalam pidatonya di TEDx, beliau memberi contoh negara bagian California, Amerika Serikat, yang menjadi urban sprawl. Juga China, yang 20% GDP nya dihabiskan untuk membiayai kesehatan masyarakatnya yang terkena asap dan kabut akibat polusi. Mengapa tidak menghentikan polusi saja daripada menghabiskan dana untuk mengatasi dampak polusi yang merugikan masyarakat?Screenshot_2017-09-04-11-27-12

Dengan memimpikan kota yang penuh dengan pejalan kaki, pesepeda, tegur sapa, dan lahan hijau yang cukup, bagaimana cara merubah urban sprawl menjadi kota impian? Ada 7 prinsip yang sedang diterapkan oleh pemerintah China:, yang juga menjadi prinsip umum:
1.Preserve
Dengan menjaga kondisi alam, lahan terbuka hijau, agrukultur, dan situs hijau lainnya.
2.Mix
Memadukan masyarakat dan penghasilannya merawat lingkungan yang mereka tinggali.
3.Walk
Semua orang akan suka jalan kaki, kalau tempatnya sejuk dan hijau. Di mal saja jalan kaki kan?
4.Bike
Ini akan membentuk banyak interaksi dan komunitas pesepeda. Bahkan, pemerintah China menerapkan peraturan untuk menjaga jarak 6 meter dari jalur pesepeda
5.Connect
Membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan lebih banyak oran yang tidak terhalangi oleh tembok dan blok besar.
6.Ride
Menggunakan kendaran umum untuk mengurangi jumlah kendaraan di jalan.
7.Focus
Harus bisafokus menjalankan prinsip-prinsip ini.

Kenapa 100% jalan hanya untuk kendaraan bermotor? Kenapa tidak 70% untuk pejalan kaki dan pesepeda. Sehingga kota dipenuhi dengan pejalan kaki, pesepeda dan bus umum.

Bagaimana dengan Jogja? Bisa kah?

Screenshot_2017-09-04-10-50-04

28/07/2017 – My letter for Father

Dear Father,

This is my third week in Jogja after I met you from Idul Fitri celebration. At the first week, I had a class with a student from US. He is a musician. He has a band with underground music. What I love from him is his adventurous nature. Just like an animal person who really likes animal. That is why he is vegetarian. He has lived in many forest for many nights to live with nature, to hope nothing from a life, to pull away from a crowd. That is what I could interpret from him. 

Talking with him about being vegetarian reminds me about my friends and I while we were on fasting from animals-bilaruhi fasting-for 40 days during Idul Adha celebration. What I could say being vegetarian here is not easy. Almost food sold in warung were already obviously or invisibely contained by animals. Thus, the solution is we cook our meals by ourselves or actively asking about the ingredients of any foods we eat. 

You can assume him as Mas Rosi, coming from one concert to another in groups. We even talk about hitchhike that he often does in Indonesia. Just like me, when scouting group of UGM (Pramuka UGM) and I were hijacking right after tracking many hours to be finally arrived at our campus. It was one of amazing experiences I have with Pramuka UGM in tracking, just like him. He has travelled many places from this archipelago. Oh, how I want to travel these islands too. 

At the weekend, collegues and I were cooking together. I made ice tea and oseng-oseng kangkung among many other delicious dishes successfully provided on the table. I just remembered when Risma suprised to know how simply to put seasoning but creating a good taste on kangkung. I am very happy to have such a good time in cooking, as well as in home. Other enjoying parts are taking photos and chatting with people there. 

But the next week, I have no clear idea of what I am going to do here. My first skype class was cancelled and I turned to be free for a week. That was very terrible! I felt like I am losing my crowd. Something empty. The same situation, when I have no schedule to meet people will be always terrible.

In fact, it makes me remember random things which my bad mood comes. I remember mom and you, that I do not do important things here. I supposed to do something here. As well as your story. How you feel so sad when Risma wanted to move from her new school. I just cannot imagine your feeling is. You certainly did not want to be strict at her that always remind you to Mother, but letting her choose she wants. Thankfully she finally realize that she just needs to adjust herself in a new place around new people with new strict rules.  

Same like me, new condition without having clear plans is unconvenient. But it challenges me to do things I want. How I commit to realise my plans.  How I create creative things to do in a row. How I manage self-consistency with my big enemy, pleasure. By all the distraction on plans I make, being around people here is a gift. Even though I have no agenda to do but people here, together we move in the same mission for an increadible teacher-Pak Kyai. We walk through one duty to another in one reason. 

Helping each other. I was asked by mbak Ana to replace her in elementary school for a Quran class-TPA. I met incradible people on her own. Also, practicing my teaching skill in a big class is always interesting. One student, who cannot be silent, instead of hitting and annoying his friends during the whole class, catches my attention. It turns out that his background and daily life shapes him. His parents, both are working to earn money. Thus, he gets along with high school students to play around. Unfortunately, he sometimes becomes their assisstant to help themselves. A family, which must have more compassion rather than material, is every kids’ right. He deserves to get more attention and compassion.  

You and mother had worked hard. When I was in elementary school, to be honest, I was sad to know you being busy with your stuff rather than asking me if I have homework or not. But now I understand, making money is not easy. Running out of money is such a normal condition before end of months. However, a principal that withdrawing your transferred money is impolite. Graduated student from a university, economically, must be tough.

Besides that, pesantren, is the best place to share anything. We have lots of things to do together including food, time, story etc. We celebrated friends’ birthday. We came to a final paper presentation of our college student. This makes me know more people here and situation on how to get the rhytme to be socially connected. Furthermore, knowing how my spiritually goes so far is the other better. Not only praying for a duty but a call from the heart.  

Princess Zahra’s Final Presentation

Just like this night, a friend of mine, shared with me and other friends after my three years ignoring her so well because of her first worst impression. However, last night is the great time to know each other. We shared our story, how past shapes us. 

Deeply sharing without borders

At the weekend, I spent my time with my roomate, mbak Lian, who knows me well right now. With her, I try to build the best relations to learn mistakes from one another, to share compassion, to give a trust. It is not easy but I believe this time is the right time to the better. Soon I realise that to be always positive thinking is the key out from a conflict. 

Weekend on Opick’s concert

Today, I write this letter inspired by my lecturer, Angela Arunarsirakul, as my source of inspiration. Releasing my motto “coloring the world with my own patterns” is not a new one. It has been many years but I haven’t told anyone what the meaning is. That means, my life is colors (impression, message) for people in their life with my patterns (characters, actions) on my own. Having no idea when my life would end, thus, story is the only thing I can give to this world.
Always happy there.

Your daughter, Wirdatul Aini.

Yogyakarta, 28 July 2017

Kampung Warna Warni Jodipan

Itu looh kampung warna di Malang. Kalau kamu naik kereta, itu pemandangan yang bisa kamu lihat. Menarik kan?

Kampung warna warni yang aku kunjungi ini ada di Jodipan, Kota Malang. Kampung warna memang jadi daya tarik wisatawan di banyak kota di Indonesia. Terbukti dari kebiasaan cekrak cekrik lalu unggah ke medsos, anak muda memang target destinasi ini. Ada 9 kota di Indonesia dengan konsep kampung warna, yang tetap menarik wisatawan.

Waktu kamu mau berkunjung ke kampung ini, bisa jadi kamu akan lewat pasar loak. Itu artinya kamu hampir sampai atau sudah sampai. Masuklah. Dengan karcis sekaligus stiker seharga Rp 2.000, kamu bisa lihat warna-warni dinding rumah, lantai, genting, pagar, jalan, bahkan sepeda yang sudah rusak yang diabadikan. Murah kan. 😆😆😆

Kampung ini sangat recommended untuk berfoto ala ala orang sekarang, selfie dan wefie. Karena 15 warna lebih dari Indana paint bisa memberi kesan menarik bagi mata yang memandang. Juga cocok untuk penikmat seni. Berbagai lukisan dinding yang memiliki nilai seni, indah untuk dimuseumkan di kamera ponsel pintar. 

Kampung ini dimunculkan atas ide mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai tugas praktikum kelompok. Kampung yang kumuh disulap jadi warna warni. Berkat kerjasama sponsor, Indana Paint dalam proyek “Decofresh Warnai Jodipan” dengan dana CSR, mahasiswa UMM itu sukses melaksanakan proyeknya. Dibantu oleh TNI, POLRI, warga, dan 10 tukang cat, renovasi kampung ini terlaksana. 

Kampung warna warni Jodipan. Lihat ini, ide kreatif yang digerakkan dan didukung banyak pihak. Mengagumkan!

Berkunjung ke Malang, tak lengkap kalau belum masuk ke kampung warna warni Jodipan. 😉 Berikut dokumentasi kunjungan yang hanya sebentar karena sudah cukup kelelahan seharian.

Ke Blitar, Apa Yang Kukejar

Semarang – Solo – Blitar

Rindu. Aku merindukan atmosfir perjalanan. Suasana keramaian stasiun kereta menjelang keberangkatan. Hiruk pikuk orang yang silih berganti berdatangan. Macam-macam gaya pakaian orang saat bepergian. Dan kesepian yang tiba-tiba datang.

Pembelajaran. Aku ingin belajar dari sebuah perjalanan. Mulai dari persiapan sampai akhir tujuan. Aku ingin tahu lebih banyak hal yang tak sampai bisa ku bayangkan. Sampai benar-benar tersadar, bahwa diri ini hanyalah mahluk Tuhan yang  masih butuh banyak belajar. Maka hilanglah rasa kesombongan. Maka hilanglah rasa kepintaran. Maka hilanglah rasa percaya diri yang berlelebihan. Aku ingin tahu lebih banyak tentang aku. Yang terkadang hilang.

Kesalahan. Aku ingin tahu kesalahan demi kesalahan yang sangat mungkin aku lakukan. Biar jadi pembelajaran. Biar jadi pendewasaan. Biar tidak berulang. Biar jadi cerita di masa yang mungkin datang. Dari sini, aku akan lebih tahu, bagaimana aku dan logikaku. Aku dan keputusanku. Aku dan perasaanku. Yang mereka saling berkaitan. Yang mereka punya andil atas aku yang sekarang. Dan mungkin di masa depan.

Perkenalan. Sangat indah mengenal orang lebih dalam. Tak sekedar bercakap. Tak sekedar berjalan-jalan. Tapi tahu latar belakang yang sungguhan. Agar tak mudah buat penilaian, atas keburukan yang nampak di depan. Bahwa hidup adalah perkenalan yang sebentar. Tak punya waktu lama agar bisa mengenal banyak orang. Yang suatu saat akan dikenal. Bahkan oleh yang tak mengenal. Maka, kenallah. Kenallah atas orang lain. Bisa jadi ini jalan mengenal diriku. Utamanya Tuhanku.

Spiritual. Perjalanan membuatku berpikir. Atas ritual keagamaan yang aku praktikkan. Sudah benarkah? Lantas mengapa itu aku kerjakan? Ada kemudahan. Oh, inikah keindahan lainnya. Bertuhan.

🚈Blitar, East Java