Pingin Sakit, Sudah Bosan Sehat

Sakit. Sudah sejak lama aku menginginkannya. Entah kenapa, rasa rindu sakit datang saat melihat teman sakit. Rindu merasakan sakit. Rindu mendapat perhatian dan kasih dari orang terdekat. Rindu, rindu istirahat sejenak dari khayalan dan harapan yang tak kunjung datang. Rindu untuk hanya berpikir, aku pasti akan sehat. Rindu dengan ibu. Kata kata yang terdengar dari mulutnya di saat raga lemas tanpa daya. Rindu saat Ibu memintaku minum obat, tapi aku hanya bilang keroan saja sudah cukup.

Kali ini, rindu itu terwujud. Rasa sakit. Sakit fisik. Sakit yang tidak biasa kurasakan di kala aku sehat. Sudah beberapa hari ada rasa yang tidak biasa di badan. Mual, mudah pusing, dan lemas. Secara sadar, ini karena kelelahan akibat begadang. Yang ku sambungkan dengan kopi. Hasilnya, seharian tidur tanpa makan. Mulailah dari situ. Bersepeda ke kampus aku ganti denga Trans Jogja (TJ), satu-satunya transportasi publik yang memungkinkan kujangkau. Puasa ku hentikan dulu. Alih-alih mau mendapat fisik yang membaik. Mengatur alarm untuk tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Semua karena aku ingin merasakan sehat lagi. Rasa rindu akan sakit sudah terobati. 

Saat sehat sudah hampir datang, tiba-tiba muncul sakit lain di bagian badan yang lain. Ini membuatku benar-benar berpikir, dosa apa yang telah kuperbuat. Apakah ada hak-hak orang lain yang kuambil? Apakah ada kewajiban yang belum kutunaikan?

Mulai berpikir. Sampai pagi ini, aku membuka buku ‘Uncommon Sense’ oleh Dr. Mel Gill. Halaman pertama yang terbuka di pelupuk mata tentang Pain. This might be the answer, dalam hati. Aku baca berulang dengan seksama.

Buku ini masih minjem, tapi aku mau punya sendiri; Uncommon sense, buku sakti!

Rasa sakit, bisa jadi tanda untuk tubuh berteriak meminta perhatian. Beberapa orang akan mengaku kuat, sehingga mengabaikan rasa sakitnya. Tapi nyatanya, rasa sakit adalah tanda tubuh minta perhatian, nutrisi atau sesuatu yang belum ia terima.

Terkadang itu tanda stres dan hanya perlu waktu istirahat. Nyatanya, sakit mental dan emosi adalah dua hal beda tapi saling berhubungan. Salah satu penyebab sakit adalah harapan yang belum juga datang. Rindu akan orang-orang tersayang. Ya, aku rindu keluargaku. Orang-orang yang bersamaku, ada untukku, waktu aku kecil dulu. Kenangan itu muncul dan seakan aku ingin kembali ke masa itu. Saat masa-masa kecilku, dengan ibu bapak dan kakak adik di rumah.

Rasa rasa kehilangan mulai muncul saat kakak pergi ke pondok dan pulang hanya sekali sebulan. Keberangkatannya selalu jadi pilu tersendiri di hati. Tapi waktu menenangkanku. Makin lama, pilu itu memudar bersama waktu.

Bagaimanapun, waktu telah merenggutnya, waktu memaksanya pergi, waktu mengubah hari itu, waktu mengganti waktu itu. Kini ibu tiada, bapak sendiri, kakak di ibu kota, adik di pondok yang kabar keinginan pindahnya selalu membuatku khawatir. Apa yang waktu telah perbuat sehingga segala sesuatu bisa jadi seperti ini. Berubah dan terus berubah. 

Mungkin kerinduan itu, yang  menggangu pikiranku. Berharap kalau waktu bisa mengembalikan masa itu. Waktu bisa menghadirkanku di ruang dan waktu kala itu. Tapi nyatanya, ia tak mau.

Tak hanya kerinduan akan waktu yang sudah berlalu, tapi kepastian waktu yang belum tahu. Harapan demi harapan kusematkan agar hidup terarah ke tujuan. Seperti kata orang bahwa seseorang harus punya target dalam menapaki kehidupan. Ya, harapan itu tak kunjung bertemu. Dan tinggal dengan harapan-harapan yang semu, akan memicu rasa sakit, kekecewaan. Sakit itu, yang menjadi tanda fisik, yang tidak menerima kepuasan atas keinginan dan harapan.

Menurut buku ini -yang mana sudah ada bahkan ribuan tahun lalu- mengurangi harapan dan keinginan adalah prinsip sederhana, bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Dengan menganggap bahwa setiap pertemuan adalah hadiah. Bahwa keberadaan orang-orang adalah penggerak jiwa. Bahwa setiap momen adalah karunia.

Tapi bagaimana kalau mereka meninggalkan kita? Orang-orang yang kita anggap membahagiakan, satu demi satu hilang dari pandangan? Jawabannya, tidak perlu merasa sendiri atau merasa sedih meratapinya, tapi justru menjadi yang membahagiakan.

Daripada menunggu orang lain memberi kebahagian, bersyukurlah dan berbahagialah atas orang-orang yang ada di sekitar kita. Tentu, mengikhlaskan mereka yang pergi akan perlu waktu. Dan itu bagian dari proses mendewasa menuju kematangan emosi dan tentunya spiritual.

#Di kamar bambu dengan cahaya matahari yang memaksa masuk di sela-sela anyaman, aku sampaikan salam rinduku padamu, Ibu. Saat aku terbangun dari mimpi ini, aku akan memelukmu erat dan bercerita tentang semua peristiwaku, bahagia dan piluku bertemu dengan orang-orang yang mengisi kekosongan waktuku.

Yogyakarta, 6 November 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s