Kang Santri Idaman Mbak-mbak Santri

Setelah kemarin aku ceritakan kisah kang santri yang sangat suka mengekspresikan terekspos keilmuannya, kali ini bukan fokusnya.

Kang yang satu ini adalah idaman setiap mbak-mbak santri. Tentu, idaman yang mana yang kemudian jadi pertanyaannya. Sepengetahuan saya, karena fisiknya. Lagi-lagi, bicara fisik itu kan relatif. Tapi secara umum, pesona dan aura kang santri ini bak model minyak wangi casablanca yang nggucengi jas di tangan kirinya. Pesona fisik tak terelakkan. Hingga ada satu mbak santri yang selalu keceplosan mengungkapkan perasaannya di depan mbak-mbak yang lain. Eh iya keceplosan, dan itu terus-terusan. Sampai satu pondok tahu bahwa dirinya suka padanya. Kisah ini pun berbulan-bulan bahwa mbak santri memang mengaguminya. Sampai masanya pengecekan hape oleh ndalem (red – Pak Yai dan Bu Nyai), belio-belio pun tahu kalau putri mereka yang satu itu teralihkan hatinya oleh pesona sang cleopatra.

Kisah itu juga mengalahkan jajaran topik pembicaraan bermutu lainnya yang harus tersingirkan untuk ditempati oleh kelanjutan kisah bajak-membajak sang santri lainnya terhadap mereka berdua. Seperti asyik diikuti dan atau terpaksa mengikuti kabar-kabar yang terdengar dari mulut ke mulut walau hanya sayup-sayup suara dari pintu kamar pink kala itu. Tapi seru. Kekaguman, cinta, obsesi, dan nafsu.

Apa yang menggerakkan mbak santri bisa gamblang mengutarakan bahwa kang santri itu adalah pasangan idealnya? Apa pula bisa seramai itu perasaannya? Apakah itu semua karena cinta yang jadi pemeran penting di baliknya? Mungkin saja hanya obsesi dan nafsu belaka yang sebenarnya musuh terbesar manusia?

Ah, itu adalah fenomena di masanya. Usia-usia krusial kali ini cukup mendesak mereka-mereka untuk segera menanggalkan status jomblonya. Pilihan ke depan cukup membuat sebagian dan kebanyakan orang tidak menikmati masanya – menjadi dirinya yang seutuhnya. Jadilah menikah adalah salah satu opsinya. Dan selanjutnya, mencari pasangan adalah usahanya.

Mencari itu perlu mengenali. Mengenal apa yang sebenarnya dicari. Tentang laki-laki, kang santri yang satu ini cukup diam menanggapi gojekan santri lainnya. Cukup tenang dalam diam yang menyimpan tanya, bagaimana? Bagaimana kisah selanjutnya? Mbak santrinya itu gimana?

 

Slide1

Keindahan bukan?

 

Sudah. Biarlah waktu yang menjadi penanggungjawab atas alur kisah ini. Kalau boleh berpendapat nih, beliao sosok yang sabar. Belio sosok yang lembut. Beliao sosok yang suka keindahan. Apa aku berlebihan? Tentu tidak. Dari cara beliao nyimak nadzaman, intonasi suara yang terdengar, dan gaya unduhan foto-fotonya di instgsanga

Sudah ahh, ndak yang dirasani ngerti. 

Yogyakarta, 11 November 2017

Advertisements

Kejujuran lewat Kabel Telpon di Film Everybody’s Fine

Salah satu film bagus untuk ditonton semua usia, terutama mereka calon orang tua dan yang sudah jadi orang tua. Film yang dibintangi oleh Robert de Niro (Frank Goode), yang bekerja di produksi kabel telpon, baru saja pensiun dari pekerjaannya dan kehilangan isterinya  sejak 8 bulan yang lalu. Frank Goode, tokoh utama ini, mengundang anak-anaknya untuk berkumpul bersama untuk pesta barbecue dan minum bir, tetapi di menit-menit terakhir, mereka membatalkan kedatanngannya dengan alasan masih banyak hal yang perlu dikerjakan dan tidak bisa ditunda. Sedikit kekecewaannya, dia upayakan menemui ke empat anak-anaknya.

20171128_103842

Sedang masak Turkey bersama – dokumentasi pribadi

Tujuan pertamanya adalah David, yang ia damba-dambakan menjadi pelukis terkenal. Tinggal di New York, ia tempuh dengan kereta. Sudah sampai di alamat David, tapi ternyata dia tidak ada di sana.

Tujuan keduanya adalah Amy, yang bekerja di agen periklanan miliknya sendiri. Anak Amy bernama Jack, mempersilakan Frank masuk saat ia baru saja sampai. Saat itu, hanya ada Amy dan Jack, tidak ada Jeff, suami Amy. Tapi, tidak lama kemudian, Jeff datang dan makan malam bersama. Di saat makan malam, Jack sangat memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Jeff.

Selanjutnya adalah Robert di Denver, yang ia tahu sebagai konduktor grup musik besar. Setelah bertemu dengan Robert, Frank baru tahu bahwa Robert bukan seorang konduktor, tapi pemain perkusi yang mana sangat ia sukai dan syukuri. Itulah Robert, bukan konduktor seperti yang ayahnya pikirkan.

Robert bilang pada Frank kalau dia tidak bisa membersamai Frank karena dia akan segera terbang ke Eropa untuk konser. Tapi di akhir cerita, Robert hanya mengarang cerita karena ia tidak mau bercerita lebih banyak pada ayahnya, mengatakan kondisi David yang masih diperiksa di RS dan dijenguk Amy.

Terakhir adalah Rosie, penari terkenal yang tinggal di Las Vegas. Frank dijemput dengan mobil super mewah dengan penampilan Rosie yang juga serba mewah, tinggal di apartemen mewah. Sampai di sana, ada Jilly yang membawa anak – yang mana bayi itu adalah anak Rosie – bilang bahwa dia harus menitipkan bayinya pada Rosie.

Saat perjalanan pulang naik pesawat, Frank sesak nafas dan harus dirawat di Rumah Sakit. Hasil pemeriksaan dokter bahwa Frank terkena serangan jantung. Kala itu, Amy, Robert dan Rosie berkumpul untuk melihat kondisi ayahnya, kecuali David. Mereka akhirnya bilang bahwa David meningggal karena over dosis narkotika.

Dalam tidurnya selama sakit, Frank duduk bersama dengan anak-anaknya yang masih kecil. Dia bertanya kenapa mereka, kenapa tidak berkata jujur.

“I tell you the good news and spare you the bad. Isn’t that what mom used to do for you when we were kids?”- Amy (Everybody’s Fine)

Itu lah jawaban Amy. Kabiasaan ibunya yang hanya membicarakan hal-hal bagus untuknya yang sesuai harapannya. Jadi, berita-berita buruk disimpan karena tidak sesuai yang Frank harapkan. Mereka mengungkapkan alasan selama ini mereka terpaksa berbohong atas berita buruk yang menimpa mereka. Bahwa Amy bercerai dengan Jeff. Bahwa Robert mengarang cerita akan konser ke Eropa karena tidak mau bicara banyak pada Frank. Tentang Rosie, yang menjadi pelayan kafe dengan satu anak. Itu semua bukan harapan Frank sehingga anak-anaknya mencoba tidak memberitahukan berita itu pada Frank.

Anak-anak yang terbiasa bercerita pada ibunya, karena dia seorang good listener (pendengar yang baik) dibandingkan ayahnya good speaker (pembicara yang baik), tidak terbiasa menceritakan kabar-kabar buruk tentang mereka. Tapi, dari peristiwa ini, Frank ingin anak-anaknya menjadi terbuka dengannya dengan menceritakkan kabar baik dan kabar buruk tentang kehidupan mereka. Ia pun mengatakan bahwa dirinya bangga dengan keadaan dan pencapaian mereka, yang terpenting adalah kebahagiaan mereka. Seperti kalimat pertanyaan yang ia tanyakan satu per satu pada anaknya sebelum berpisah, “are you happy?”. 

Jadi teringat saat di kelas Babe, kalau hidup harus dinikmati. Sebagai orang tua, membiarkan anak berkembang menjadi apa yang mereka banggakan, bukan orang tua banggakan. Tidak memaksa kehendak orang tua pada anaknya, dengan mempersiapkan masa depan sedemikian rupa, karena sebenarnya masa depan sudah ada di depan mata.

Pertama nonton film ini, tersentuh sekali dengan kisah dan nilai-nilai cerita. Teringat Bapak yang belum lama ditinggal Ibu dan kini hidup sendiri di rumah. Kedua kalinya, masih teringat Bapak. Betapa komunikasi sangat penting sekali bagi Frank, seorang pekerja di produksi kabel telpon yang menghubungkan banyak orag dengan berita baik dan buruknya. Tapi ia sendiri, belum bisa berkomunikasi dengan baik dengan anak-anaknya, yang menyembunyikan segala berita buruk darinya.

Tentang kabel telpon. Tentang Frank yang memfoto aktivitas anaknya dengan kameranya. Tentang perjalanan Frank naik bis dan kereta. Alunan musik film. Bagus!

 

Informasi Film

Judul               : Everybody’s Fine

Genre              : Adventure, Drama, Komedi

Sutradara       : Kirk Jones

Produser         : Gianni Nunnari, Ted Field,  Vittorio Cecchi Gori, Glynis Murray

Aktor                : Robert de Niro, Drew Barrymore, Kate Beckinsale, Sam Rockwell

Rilis                  : 4 Desember 2009 (USA)

Distributor      : Miramax Films (USA)

Durasi               : 99 menit

 

Hujan yang menyatukan kamar bambu atas,

28 November 2017

 

 

Uwis Rampung Ngajar 

Ekspresi Batin

Persiapan. Sudah jadi syarat utama seorang pengajar menyiapkan semua bahan-bahan yang akan dipakai di kelas. 

Ngajar pertama saya, berantakan. Mulai dari teknis dan persiapan. Tapi sudahlah, itu sudah jadi skenario Tuhan supaya ngajar ke dua saya lebih banyak persiapan.

Alhamdulillah, sudah. Persiapan unduh video kenalkan wisata di Jogja cukup dan instruksi latihan yang memadai tepat. Perlu berjam-jam sebelum kelas, urutan teknik kelas yang runtut datang.

Saya, senyum yang paling ikhlas karena sudah ngajar dengan persiapan yang lebih baik dari sebelumnya.

Yang tengah, mbak Nanda, nahan runyamnya batin karena akan ngajar pertama kalinya di hadapan akang-akang dari China yang seringnya menggodainya.

Yang paling kanan senyum tapi tetap memperlihatkan kekhawatiran yang tertunda, wkwk.

Dan selalu berpegang pada kompetisi diri sendiri, yang mana lawan adalah ‘saya’ yang kemarin, dan harapan adalah ‘saya’ yang esok. Jangan sampai keluar jalur, membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Ingat, ini skenario Tuhan. Peristiwa dan proses dalam hidup seseorang berbeda-beda. Menjadi sebaik-baiknya ‘saya’ jauh lebih sempurna. 

Perwakilan Kelompok Presentasikan Rencana Jalan-jalan di Jogja


Janjane Kepriye sih Cah Sastra Iku

“Cah sastra ki waton mlaku, ngalir.” 

“Orang yang IPK nya 4 itu bukan orang sastra,”

“Spaneng banget, cah sastra ki nyante, sik penting utekke,”

Begitulah, akhir-khir ini pikiranku bergelantung ke ayang-ayang apa maksud sebenarnya perkataaan itu. 

Aku yang seperti ini, bukan mbak-mbak yang rapih banget tatanan lemarinya dan lipatan bajunya. Bukan yang rajin banget dan tertata jadwal hariannya. Dan sekalipun iya, itu tidak bertahan lama. Juga bukan mbak-mbak yang rajin banget ngerjain tugasnya, tapi dengan menunda, kekuatan ide baru tergambar jelas di bayangan, kemudian tangan yang seketika mengetik tepat beberapa jam sebelum harus dikumpulkan.

Apakah itu gambaran cah sastra? Jawaban saya tidak. Hati saya tidak tenang menghadapi itu semua. Waktu yang cepat berjalan karena harus satu persatu tugas ditunaikam membuat otak sedikit cepat memanas di malam hari. Alhasil harusnya lembur tapi tidur karena tak kuat mengemban beban pikiran. 

Ataukah kurang aware terhadap suatu persoalan membuat luka-luka kekecewaan saat gagal kian melebar. Tak pikir kok ya demikian. Kurang perhatian. Merasa sibuk tapi memang sibuk. Tak pikir semua yo sibuk nek pingin gak dadi pengangguran. Tapi sibuknya yang jadi perhatian. Sibuknya belum tepat sasaran.

Itu, ada teman yang sanggup meluangkan waktunya pacaran. Tak tanya, mbak pernah ngga sih mikir hidup mbak untuk apa? Jawabannya tidak memuaskan. Tapi mbaknya rajin, cantik, santai, dan tenang. Ada lagi ibu-ibu yang Subhanallah profesional dalam pekerjaan, mudah menarik perhatian, mampu mencairkan ketegangan, mungkinkah dia selo sehingga bisa mengakomodir semua kalangan?

Jawabanku tidak. Belio banyak kerjaan. Harus bagi tugas rumah dan kantor. Tapi pembawaan, yang tetap tenang dan fokus bisa membawanya terlihat baik-baik saja. 

Bukan berarti sibukku ini lebih baik dari yg tidak sibuk. Tetapi apa faedah yang bisa diambil. Orang tidak sibuk tapi banyak belajar kehidupam juga banyak. Orang sibuk tapi makin liar dan ngga karuan juga banyak. Dan orang sibuk tapi tahu betul kesibukannya akan membawa perbaikan juga banyak. Tinggal pilih. Mana jalan yang baek. Yang bisa jadi tuntunan. Kata beliao sang guru, orang berilmu ya belajar. 

Akhir kata, cah sastra opo ora, sik penting reti opo iku sek mbuk lakoni. Nek gak ngerti, sekirane apik yo tetep dilakoni. Gur bab style. Gaya. Kakean gaya apik. Nek pancen gayamu iku yo rapopo. Ora kudu podo.

Ora perlu mandang wong liyo. Ngetiyo awakmu dewe. Wis reti awakmu rung? Karepe piye? Senenge piye? Pingin kaya piye uripe?

Kampus Humaniora

15 Nov 2017

Pingin Sakit, Sudah Bosan Sehat

Sakit. Sudah sejak lama aku menginginkannya. Entah kenapa, rasa rindu sakit datang saat melihat teman sakit. Rindu merasakan sakit. Rindu mendapat perhatian dan kasih dari orang terdekat. Rindu, rindu istirahat sejenak dari khayalan dan harapan yang tak kunjung datang. Rindu untuk hanya berpikir, aku pasti akan sehat. Rindu dengan ibu. Kata kata yang terdengar dari mulutnya di saat raga lemas tanpa daya. Rindu saat Ibu memintaku minum obat, tapi aku hanya bilang keroan saja sudah cukup.

Kali ini, rindu itu terwujud. Rasa sakit. Sakit fisik. Sakit yang tidak biasa kurasakan di kala aku sehat. Sudah beberapa hari ada rasa yang tidak biasa di badan. Mual, mudah pusing, dan lemas. Secara sadar, ini karena kelelahan akibat begadang. Yang ku sambungkan dengan kopi. Hasilnya, seharian tidur tanpa makan. Mulailah dari situ. Bersepeda ke kampus aku ganti denga Trans Jogja (TJ), satu-satunya transportasi publik yang memungkinkan kujangkau. Puasa ku hentikan dulu. Alih-alih mau mendapat fisik yang membaik. Mengatur alarm untuk tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Semua karena aku ingin merasakan sehat lagi. Rasa rindu akan sakit sudah terobati. 

Saat sehat sudah hampir datang, tiba-tiba muncul sakit lain di bagian badan yang lain. Ini membuatku benar-benar berpikir, dosa apa yang telah kuperbuat. Apakah ada hak-hak orang lain yang kuambil? Apakah ada kewajiban yang belum kutunaikan?

Mulai berpikir. Sampai pagi ini, aku membuka buku ‘Uncommon Sense’ oleh Dr. Mel Gill. Halaman pertama yang terbuka di pelupuk mata tentang Pain. This might be the answer, dalam hati. Aku baca berulang dengan seksama.

Buku ini masih minjem, tapi aku mau punya sendiri; Uncommon sense, buku sakti!

Rasa sakit, bisa jadi tanda untuk tubuh berteriak meminta perhatian. Beberapa orang akan mengaku kuat, sehingga mengabaikan rasa sakitnya. Tapi nyatanya, rasa sakit adalah tanda tubuh minta perhatian, nutrisi atau sesuatu yang belum ia terima.

Terkadang itu tanda stres dan hanya perlu waktu istirahat. Nyatanya, sakit mental dan emosi adalah dua hal beda tapi saling berhubungan. Salah satu penyebab sakit adalah harapan yang belum juga datang. Rindu akan orang-orang tersayang. Ya, aku rindu keluargaku. Orang-orang yang bersamaku, ada untukku, waktu aku kecil dulu. Kenangan itu muncul dan seakan aku ingin kembali ke masa itu. Saat masa-masa kecilku, dengan ibu bapak dan kakak adik di rumah.

Rasa rasa kehilangan mulai muncul saat kakak pergi ke pondok dan pulang hanya sekali sebulan. Keberangkatannya selalu jadi pilu tersendiri di hati. Tapi waktu menenangkanku. Makin lama, pilu itu memudar bersama waktu.

Bagaimanapun, waktu telah merenggutnya, waktu memaksanya pergi, waktu mengubah hari itu, waktu mengganti waktu itu. Kini ibu tiada, bapak sendiri, kakak di ibu kota, adik di pondok yang kabar keinginan pindahnya selalu membuatku khawatir. Apa yang waktu telah perbuat sehingga segala sesuatu bisa jadi seperti ini. Berubah dan terus berubah. 

Mungkin kerinduan itu, yang  menggangu pikiranku. Berharap kalau waktu bisa mengembalikan masa itu. Waktu bisa menghadirkanku di ruang dan waktu kala itu. Tapi nyatanya, ia tak mau.

Tak hanya kerinduan akan waktu yang sudah berlalu, tapi kepastian waktu yang belum tahu. Harapan demi harapan kusematkan agar hidup terarah ke tujuan. Seperti kata orang bahwa seseorang harus punya target dalam menapaki kehidupan. Ya, harapan itu tak kunjung bertemu. Dan tinggal dengan harapan-harapan yang semu, akan memicu rasa sakit, kekecewaan. Sakit itu, yang menjadi tanda fisik, yang tidak menerima kepuasan atas keinginan dan harapan.

Menurut buku ini -yang mana sudah ada bahkan ribuan tahun lalu- mengurangi harapan dan keinginan adalah prinsip sederhana, bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Dengan menganggap bahwa setiap pertemuan adalah hadiah. Bahwa keberadaan orang-orang adalah penggerak jiwa. Bahwa setiap momen adalah karunia.

Tapi bagaimana kalau mereka meninggalkan kita? Orang-orang yang kita anggap membahagiakan, satu demi satu hilang dari pandangan? Jawabannya, tidak perlu merasa sendiri atau merasa sedih meratapinya, tapi justru menjadi yang membahagiakan.

Daripada menunggu orang lain memberi kebahagian, bersyukurlah dan berbahagialah atas orang-orang yang ada di sekitar kita. Tentu, mengikhlaskan mereka yang pergi akan perlu waktu. Dan itu bagian dari proses mendewasa menuju kematangan emosi dan tentunya spiritual.

#Di kamar bambu dengan cahaya matahari yang memaksa masuk di sela-sela anyaman, aku sampaikan salam rinduku padamu, Ibu. Saat aku terbangun dari mimpi ini, aku akan memelukmu erat dan bercerita tentang semua peristiwaku, bahagia dan piluku bertemu dengan orang-orang yang mengisi kekosongan waktuku.

Yogyakarta, 6 November 2017