Catatan santri – 12/09/2017

Mengambil pelajaran hidup itu bisa dari mana saja. Dari peristiwa yang kita alami, cerita orang lain, cerita terdahulu, dari buku, dan lain sebagiannya. Belajar tak mengenal ruang dan waktu. Manusia butuh belajar sampai bertemu ajal.

Belajar di sini, di lingkungan ini, ternyata banyak juga. Dengan catatan jika mau dan mampu. Pelajaran yang paling mengena sekarang adalah tentang olah rasa. Jumat kemarin, saya belajar dari simbah mampu mengolah rasa dengan baik. Tidak mementingkan raganya melainkan rasanya. Salah satu nasihatnya di sela-sela membuat cookies adalah bahwa dalam hidup, kita akan saling bekerja sama mencapai tujuan masing-masing, juga tujuan bersama. Dalam melakukan perbuatan yang baik, kita tidak perlu pujian. Juga dalam kesalahan, kita tidak perlu cacian. Yang dibutuhkan adalah kesabaran agar mencapai tujuan. 

Disambung dengan dhawuh Kyai dalam bandongan kitab Riyadhus Shalihin, bahwa merasa yang terbaik itu akan menurunkan derajat kita. Tetapi, merasa yang terbaik berbeda dengan melakukan yang terbaik. Kita semua perlu melakukan yang terbaik. Tapi apa-apa yang sudah kita capai, kita punya, dalam bentuk prestasi, harta dan kekayaan itu jangan sampai mebuat kita menjadi lebih baik dari pada orang lain.

Dengan begitu, timbullah sifat sombong. Sifat yang akan menjerumuskan manusia ke neraka. Tentang sombong, masih dalam bandongan, bahwa sombong itu letaknya ada di hati. Bagaimana dengan rumah mewah, pakaian bagus, gawai canggih, yang dimiliki seseorang? Itu belum tentu bagian dari sombong. Karena semua fasilitas terbaik yang kita miliki, bisa jadi alat untuk berjuang di jalan Allah. Contoh, sebagai muslim, kita wajib memuliakan tamu. Apabila punya banyak tamu, rumah mewah adalah cara untuk memuliakannya, maka itu sah sah saja. Juga berpakaian rapi dan bagus, tidak mau dicap muslim yang kumuh dan dekil bukan? Jika berpakaian rapi adalah caranya, maka itu sangat dianjurkan.

Mengolah rasa, mengolah batin adalah keahlian yang perlu dilatih. Menurut buku yang berjudul Sunan Kalijaga, itu bisa dicapai dengan riyadlah atau latihan dengan tujuan mencari jalan taqwa. Ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Kalau di pondok ini, contoh bentuk riyadloh santri di sini adalah melakukan ngrowot, mutih, bilaruh. Ibaratnya air laut yang tidak terkena ombak, maka air akan terlihat lebih bening. Juga rasa menahan nafsu untuk makan makanan yang sudah menjadi kebiasaan, itu adalah bentuk latihannya, sehingga dalam berdoa bisa lebih khusuk.

20170902_123809

Pantai Parangtritis dari Petilasa Kakek Bantal 

 

Berbicara tentang doa, itu adalah bagian dari mantra manusia dalam kehidupan sehari-hari. Doa adalah keyakinan. Dalam doa, terbesit harapan agar menjadi kenyataan. Maka dengan bahasa apapun, doa sangat mungkin qobul asalkan dengan keyakinan. Banyak doa yang tidak qobul. Bisa jadi itu berhenti di bibir saja. Tidak dengan batin, rasa. Karena keyakinan lewat kata-kata bisa menarik energi di sekitar. Dalam novel Paulo Ceilho di Alchemist,

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Akhir kata, percayalah, sangkan paran kita ada maksudnya, pesannya. Raga boleh jadi pergi kapan saja, tapi amal akan tersjaga selamanya.  

 

Di kamar pink, yang sekarang terindikasi ada tikus lagi,

Akan kubiarkan malam ini saja dia menginap

Dini hari, 12 September 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s