Merasakan Nikmat dalam Tiap Gerakan

Bergerak. Pagi ini kulakukan aktivitas bergerak yang berbeda. Otak dipaksa bergerak menganalisa pocong yang muncul di rumah Ibu Maya. Ternyata pelakunya adalah suaminya. Hmm menuntut keduniaan itu tak akan ada habisnya. Cukupkanlah. Sederhanakanlah. Manisnya dunia hanya sementara. 

Senam. Jadi ingat, dulu dan tim mewakili kecamatan senam sehat tingkat SD. DVD untuk latihan tak punya, Bapak tidak menginjinkan beli DVD walaupun untuk latihan senam. Keadaan ekonomi dan prinsipnya lah penyebabnya. Bapak orang yang teliti dan hati-hati tentang sell and purchase. Alhamdulillahnya, saya suka bergerak. Saya main ke teman saya yang punya DVD dan mengajaknya untuk latihan. Selalu seperti itu, bergant-ganti teman dari satu rumah ke rumah lain. 

Kuliah. Hari ini saya membuat nursery rhymes dengan topik time. 

Time…time..time…2x

Let’s look at the time

It’s 9 p.m. 2x

Sing nursery rhymes

Ing…ing…ing…

Pray before sleeping

Evils going…evils going…

Nice dream while sleeping

Lanjut seminar sebagai peserta dengan expert Alki, Avivah dan dan Juvita. Mmm terkantuk terkantuk sambil terdengar sayup suara presentasi mereka. Aku coba tulis apa yang bisa menjadi bahan untuk menjadi peserta aktif. Meskipun bukan yang pertama, mengangkat tangan untuk bertanya masih menjadi momok yang menyeramkan. 

Setelah itu, Bu Novi memberi komentarnya tentang presentasi mereka sampai 12.20. Padahal saya akan punya kelas 13.00 yang harus sampai di kantor 10 menit sebelumnya. Betapa ku kayuh cepat cepat Isabella. Lampu merah kusesuaikan dengan kondisi kendaraan. Aku tak mau terlambat dan kena masalah. Nafasku makin cepat saat aku lihat jarum panjang jam dinding di jalan ada di 11. Melewati Jl.C. Simanjutak. ‘Ah, mungkinkah bisa tepat waktu? Ohya, jam kantor 5 menit lebih terlambat dan jam di jalan itu lebih cepat 5-10 menit.’  Ada harapan. Tapi masih ada Jakal yang membentang, oh Allah, kakiku, nafasku, keringatku, aku harus mengejar Tuan Waktu. 

Akhirnya sampai di kantor jarum panjang 10. Fiuhh. Beneran on time. Aku taruh tas, buka masker, ambil tissue, usap keringat di kulit wajah yang memerah karena kepanasan. Buat teh tawar hangat, ambil 3 butir snack, aku buka hape berharap bisa baca balasan pesan Bu Fitri yang sudah kukirim tadi malam. Tapi tidak mungkin. Tuan waktu sudah menunggku di jam 13.00 waktu Realia.

Akari, mahasiswa Jepang itu, senang rasanya bisa mengajar kembali. Cara pengucapan, ekspresi wajah, gesture, adalah hiburan tersendiri karena itu unik dan jarang kutemui diantara penduduk negeri ini. Tentunya, mengajar tetaplah media belajar memahami kemampuanku menjadi penyalur ilmu yang bijak – menguasai materi, memahami kebutuhan dan kondisi murid.

TPA Pondok. Sudah ditunggu adik-adik di aula. Ohoho, senang senang mengajar wajah wajah polos yang cantik nan imut mut walaupun didalam rasa lapar karena sesiang belum makan. Aku sempatkan makan, aku lanjut mengajar.

Bandongan. Rutinitas ini ditunggu banyak santri. Ini karena ada nasehat Pak Yai yang sudah ditunggu-tunggu, yang paling ngena dan penawar keringnya hati. Ini sedikit hal yang bisa kutuliskan. 

Jadikanlah hubunganmu dengan orang lain haqiqi. Jadikanlah dirimu dengan syariah.

Maksdunya, menganggap orang lain itu tidak berbeda dari kita-tidak lebih rendah atau lebih tinggi. Dan memperlakukan diri sendiri dengan disiplin tinggi sesuai syariah Islam.

Misalkan, ‘Di kitab Fathul Mu’in, shalat sunnah orang yang berhutang shalat fardhu itu tidak sah. Jika ada hutang, segeralah mengqadhanya. Beruntunglah kalian ada di pesantren dan tahu akan hal itu.’

Berakhir di bandongan mengaji Fathul Qorib menyelesaikan bab shalat jenazah dan mengaji bin nadzri dengan Bu Nyai. 

Tak kuat sakitnya perut karena telat makan siang, saya buat mie untuk mengisinya. Dan menghabiskannya di kamar pengurus dibalut candaan khas di malam hari. Pelajaran yang bisa saya bagikan adalah communication is an art. Praktekanlah, pelajarilah.

Setiap gerakan ini aku nikmati, setiap nafas ini aku syukuri. Aku tak pernah tahu kapan ini akan berhenti. Maka, aku perlu berlari. Memang tak mudah menjaga frekuensi kecepatan semangat yang bisa turun kapanpun itu. Memang tak mudah menjadi gigih. Tapi dengan langkah awal, bergerak, proses itu sudah ku mulai. Jangan khawatirkan hasil. Kokohlah dengan proses itu, yang terlihat tidak pasti dan mengingkari. Kuatlah dengan tujuan itu, yang ku sebut sebagai tujuan akhir dari hidupku.

Nandan, 1 Maret 2017

#1of1000writingdays

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s