Tidak Sekuat yang Kalian Kira – Kalian juga Bisa

Menimba ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Allah sudah menjanjikan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

Sesudah menyelesaikan belajar saya di fakultas Sekolah Vokasi jurusan D3 Bahasa Inggris, Universitas Gadjah Mada; saya memiliki cita-cita untuk melanjutkan studi saya ke jenjang Sarjana. Beberapa orang akan tanya kenapa dulu tidak mengambil program sarjana. Dengan tegas saya jelaskan bahwa inilah skenario Allah yang sekarang. Dari beberapa pilihan, belajar di kampus kerakyatan adalah pilihan terbaik dan tinggal di Jogja adalah kejutan istimewa-Nya.

Sejak awal saya kuliah di Jogja, tidak ada pikiran akan punya motor untuk kuliah dan jalan-jalan mengelilingi Jogja. Ternyata, sudah 3 tahun saya melewati banyak peristiwa dengan sepeda saya yang ke-2. Saya pernah mengikuti Jambore Sepeda Lipat Nasional (JAMSELINAS) bersama komunitas pecinta sepeda lipat dari banyak kota besar di Indonesia dengan Mbak Angela – dosen saya dari Amerika. Rute jambore itu mulai dari geduang gubernur sampai ke Imogiri. Sungguh hebat perjuangan pinky, melewati jalur terjal naik turun di daerah pedesaan.

Kebersamaan dengan pinky harus saya kurangi, mungkin saja saya sudahi. Setelah saya mulai membuat keputusan untuk belajar ke jenjang sarjana, saya mulai berpikir kebersamaanku dengannya. Dulu, ada dua pilihan untuk kuliah program transfer Sastra Inggris (Sasing) di Sekolah Tinggi Bahasa Asing atau universitas. Kedua perguruan tinggi itu sama dekatnya dengan pondok pesantren dan tempat kerja. Setelah survey ke kedua PT, saya putuskan untuk memilih universitas yang memiliki lingkungan kultural di sana. Betapa terkejut setelah saya konfirmasi lokasi kuliah, ternyata untuk semester 3 ke atas ada di kampus 3 yang letaknya kira-kira 9km dari pondok pesantren.

Selama survey, informasi yang saya dapatkan adalah prodi sasing sudah pindah ke kampus 1 yang dekat dengan ponpes dan tempat kerja. Namun, setelah saya her-registrasi ulang, kampus 1 hanya untuk mahasiswa baru. Sayangnya, saya bukanlah mahasiswa baru yang ‘baru’. Keadaan ‘restless’ menyertai saya seketika. Saya coba membuat beberapa kemungkinan jalan untuk melangkah. Tawaran untuk mendaftar ke universitas Malang dan tetap menimba ilmu agama yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Sempat berpikir juga, untuk memulai berkarya di Demak dan menjaga ibu di rumah. Ada pikiran bahwa inilah saatnya saya menjaga ibu, yang mungkin menginginkan anaknya untuk di rumah dan menyudahi perjuangan di tanah rantauan. Tapi bapak berkata lain. Beliau sangat mendukung saya agar menyelesaikan program sarjana. “biarlah Bapak yang menjaga ibu, kamu lanjutkan saja kuliahmu di Jogja”, kata beliau. Sosok kuat seperti beliau, adalah teladan.

Keluarga dan orang-orang dekat adalah jalan untuk berpikir jernih. Mereka lah pemberi saran dan wejangan, tapi keputusan tetaplah ada di tangan saya. Teman kampus, mbak Ima, saya tidak menyangka bahwa respon menanggapi cerita galau saya sangatlah bijak. ‘selesaikan apa yang sudah kamu awali’, sebenarnya adalah kalimat yang sudah saya ketahui. Namun di keadaan mental yang sedikit lemah, kalimat itu menjadi penawar yang mustajab. Saya putuskan untuk meneruskan perjuangan saya di kota Jogja.

14369135_164878173959957_5294073536267157504_n

Saya membeli sepeda baru. Dia bukanlah pengganti pinky, tapi generasi penerusnya. Beberapa orang menyarankan agar saya naik gojek atau naik TJ, tapi saya memilih untuk membeli sepeda gunung. Sepeda itu saya beri nama Isabelle, karena design dan warnanya yang terlihat cantik walaupun sepeda itu dirancang untuk laki-laki. Dengan harga Rp 1,63 juta, saya bisa berangkat kuliah untuk menimba ilmu. Alhamdulillah, akan selalu ada solusi kalau ada kemauan. Kondisi keuangan yang tidak cukup untuk beli sepeda itu, teman saya dengan ringan tangan melunasi jumlah uang yang harus saya bayarkan dengan akad hutang.

Setiap hari, saya berusaha istiqomah bahagia dengan keputusan-keputusan saya. Banyak respon orang-orang di sekitar dan beberapa mengkhawatirkan saya. Wajar, awalnya saya sendiri juga tidak kuat kalau membayangkan akan pulang-pergi setiap hari dari kampus-Realia-ponpes. Meskipun demikian, saya pun bisa setelah menjalaninya. Saya tidak sekuat yang mereka kira, karena tentunya mereka bisa melakukan hal yang sama. Keadaanlah yang memberi pilihan.

Yogyakarta, 12 Oktober 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s