Sentuhan Pagi di Sweet Seventy Indonesiaku

“Aku harus segera menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Berat sekali melakukannya, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik.”

Pagi ini, aku lanjutkan membaca novel Tere Liye. Kisah seorang laki-laki bernama Tegar. Tentang sebuah kesempatan. Tentang kerelaan yang berujung pada pemahamam. Memahami indahnya menerima, memaafkan, tapi tidak melupakan. Sebuah kerelaan untuk menikam hati begitu dalam untuk mengambil pemahaman baru. Berdamai dengan diri sendiri dan sepotong masa lalu.

Hubbul wathaan minal iimaan. Pagi ini juga, adalah hari kemerdekaan Indonesia. Hari ini, tepat 70 tahun Indonesia merdeka. Betapa besar pengorbanan pejuang atas keringat dan darah mereka untuk memeperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pagi yang agak getir. Aku berusaha menyelipkan waktu sebelum shubuh untuk bersujud dan berkhalwat dengan-Nya. Tapi terisak oleh sempitnya waktu yang mengharuskanku sahur. Keduanya kulakukan serba ganjil. Keganjilan yang berujung dengan suara bedug di Masjid An-Namiroh. Masjid di pondok Inayatullah.

Setelah shubuh berjamaah, pak Kyai ngendikan Qur’anan untuk memperingati Kemerdekaan RI. Sejenak santri yang terlihat mengantuk bangkit dari tempatnya. Hari ini kami melakukan kegiatan yang berbeda. Jika biasanya santri putra mujahaddah dan santri putri setoran mengaji, berbeda dengan hari ini. Kami berkumpul di Aula.

Aula shubuh yang berbeda. Pak Kyai terlihat menunggu santri yang lain berdatangan. Saat mahalul Qiyam, kami meneruskan lantunan shalawat nabi dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Pak Kyai memimpin langsung para santrinya. Sungguh, lagu yang miris. Miris mengiris karena sebagai santri, aku merasa belum memberikan kontribusi konkrit untuk bangsa ini.

Juga berbeda bagi mereka yang kemarin malam tidak bandongan dan tertinggal satu rakaat shubuh berjamaah. Mereka harus bersiap menerima ta’zir dari pak Kyai. Ada tiga santri putri yang berdiri dekat jendela. Mbak Miftah dan Mbak Dilla karena tidak ijin absen mengikuti bandongan dan Mbak Tika yang tidak shubuhan di Masjid.

Aula menjadi saksinya. Mereka membacakan UUD 1945 dengan muka tersipuh malu dihadapan santri putri dan Pak Kyai. Karena masih ganjil, santri putra menyempurnakan bacaan UUD 1945. Tapi ternyata  alinea ke empat Pembukaan UUD 1945  yang dibacakan kang Ibnu semakin terasa ganjil. Kembali ke santri putri, mereka menyanyikan lagu Kebangsaan Hari Kemerdakaan ciptaan pak H. Mutahar dan Garuda Pancasila.

Riang, damai dan penuh arti. Ngendikan pak Kyai bahwa para santri lah yang memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Juga petikan obrolan SIC inspirasi center kemarin sore, bahwa nilai sabar dan ulet santri dulu, sepatutunya dicontoh oleh kalangan santri sekarang.

Semoga para pahlawan, mayoritas Muslim mendapat tempat terindah dari Allah SWT.

Semoga Indonesia bisa bangkit, ditengah krisis yang melilit.

Pagi yang penuh arti. Sebuah pemahaman baru untuk santri Nusantara.

Yogyakarta, 17 Agustus 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s