Dunia Itu Pasti

11/8/15

سم الله الرحمن الرحيم

Rutinitas di pondok sudah dimulai. Mulai dari kembalinya aktif kelompok piket harian dan dalem, masak, kewajiban shalat jama’ah di masjid, bandongan, madrasah diniyah, mujahddah, mengaji shubuh, hafalan dan sholawatan. Ramai penuh sesak. Kamar letter L, kamar besar, siap dihuni 10 karakter berbeda dari berbagai multidisiplin ilmu.

Bagiku, bandongan adalah aktivitas paling menarik. Bertemu langsung dengan pak Kyai Chamdani Yusuf, melantunkan kalamullah berjama’ah, membuka lembar demi lembar kitab  مختار الأ حاديث . Menerjemahkan dalam bahasa Jawa disertai analogi dan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang terlintas di benakku dan santri lainnya sering dibahas saat bandongan.

Pun bandongan edisi hari ini. Sekelumit perasaan membuncah yang terus menerus mempertanyakan kepastian. Segunung kekhawatiran yang membeku dan menerkam hati. Iya, aku tak bisa berhenti dari kekhawatiran masa depanku. Ingin sekali rasanya aku lari dan lari mengejar keinginan-keinginan itu. Tapi sekarang, ragaku mulai lelah, keinginan itu mulai pudar. Apa sebenranya yang aku inginkan? Apakah aku melupakan kebutuhan yang seharusnya aku utamakan?

Pak Kyai membuka bandongan malam mini dengan menceritakan santri putri yang meminta ijazah dengan ngrowot (tidak memakan makanan yang terbuat dari beras yang merupakan makanan pokoknya). Beliau tidak menyetujui santri tersebut karena ngrowot tidak bagus untuk rahim perempuan. Wanita bisa meminta ijazah dengan puasa, menaati peraturan pondok, shalat jama’ah, mengaji, shalat malam dan rajin belajar. Dengan niat memnita ridho Allah SWT sebagai ikhtiar prihatin atas ilmu, pasangan dan keturunan.

Selanjutnya adalah perkara rejeki.

.قال الله تعالى وما من دا بة فى الارض الا على الله رزقها.

وقال تعالى والذين اذا انفقوا لم يسرفوا ولم يقترواوكان بين ذلك قواما

(Halaman 220 – مختار الأ حاديث ~ تهذيب النفوس)

Bahwa rejeki itu dibagi menjadi dua; bil wahbi dan bil hasbi. Bil wahbi yakni rejeki peparing dari Allah SWT. Rejeki yang sudah pasti untuk mahluk-Nya. Contohnya sosok santri yang sumantri. Kalau memang sudah rejeki, dengan tidur pun rejeki makanan sering datang menghampiri. Itulah ciri khas kehidupan pondok. Penuh keprihatinan penuh keberkahan.

Yang kedua adalah bil hasbi yakni dengan usaha. Burung keluar dari sarangnya mencari makan seiring embun pagi diujung dedaunan segar. Kembali lagi ke sarang dengan perut kenyang. Esuk pun kembali menerjang awan. Rejeki atas usaha burung yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

Manusia hanya bisa ikhtiar. Ikhtiar bisa dilakukan dengan berbagai hal. Bisa dengan bekerja. Ada juga yang seharian berdzikir seharian. Yang terakhir karena salah satu usaha ketetapan iman an Islamnya. Kembali lagi, bahwa rejeki sudah ada yang menentukan.

Dunia adalah sesuatu yang pasti. Allah SWT tidak memandang mahluk-Nya yang taat dan tidak, rejeki sudah ditentukan-Nya. Tak perlu ngoyo dalam mengejarnya. Sangat keliru jika terlalu mengejar-ngejar dunia. Sampai-sampai meninggalkan shalat berjama’ah dan amal ma’ruf lainnya. Ikhtiar diniatkan untuk ketetapan iman dan Islam.

Semoga diri ini tetap istiqomah mencari ridho-Mu. Hanya ridho-Mu.

Wallahu a’alam bishowab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s