Ghasab yang Hampir Membudaya

Setiap bulan Ramadhan, kegiatan mengaji di Pondok Pesantren Inayatullah berbeda dengan kegiatan di bulan-bulan biasanya. Di bulan suci ini, lebih banyak kitab yang dikaji. Mulai pagi hari setelah shalat Shubuh berjamaah dan mujahaddah, para santri mengaji kitab Riyadus Shalihin. Kemudian kegiatan mengaji berlanjut pukul 09.00 WIB dengan mengaji kitab yang sama di pimpin langsung oleh Kyai Chamdani Yusuf selaku pengasuh di pondok pesantren salaf tersebut. Malamnya, setelah 30 menit melaksanakan shalat tarawih, kegiatan mengaji berlanjut pada kitab-kitab Kanzun najah, Shollu’alaih, Durorul bahiyah, Tafsir Surah Yasin, Ayyuhal Walad dan Ta’limul Muta’alim.

Hari Senin (22/5) adalah hari ke 5 bulan suci Ramdhan. Bel tanda mengaji sudah berbunyi. Para santri bersiap-siap menuju aula untuk mengaji kitab Riyadhus Shalihin. Diawali dengan tadarus al-Qur’an yang dipimpin oleh Kyai Chamdani Yusuf dan diikuti oleh seluruh santri yang hadir kecuali santri putri yang sedang udzur.

Setelah tadarus, Pak Yai, panggilan akrab Kyai Chamdani Yusuf, memulai mengkaji kitab kitab Riyadhus Shalihin halaman 123. Dengan membacakan kata per kata diikuti terjemahan dalam bahasa Jawa.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasululiah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang menganiaya – mengambil tanpa izin pemiliknya – seukuran kira-kira sejengkal tanah, maka tanah itu akan dikalungkan di lehernya dari tujuh lapis bumi — sebagai siksanya pada hari kiamat nanti.” (Muttafaq ‘alaih)

Selanjutnya Pak Yai menerangkan maksud dari hadist diatas disertai contoh dalam kehidupan sehari-hari seorang santri.

Terkait hadist di atas, Pak Yai dengan terang menjelaskan perkara Gashab yang sering sekali terjadi di kalangan santri. Dari pengertiannya, ghasab adalah menguasai hak orang lain, baik bentuknya harta atau hak guna, yang dilakukan secara paksa, tanpa alasan yang benar. Ghasab berlaku untuk semua harta dan hak guna. Ghasab hukumnya haram.

Realita yang terjadi di Pondok adalah masih ada santri yang kehilangan sandal setelah  shalat berjama’ah di masjid. Dari penjelasan Pak Yai, lebih baik nyeker atau tanpa memakai sandal daripada harus ghasab. Patutlah diacungi jempol bagi santri yang nyeker sepulang dari masjid.

Hidup secara bersama-sama, memang tidak mudah untuk menghilangkan perbuaan haram yang hampir menjadi kebiasaan tersebut. Bahkan tanpa disadari, memakai barang yang bukan hak bisa dilakuakan secara tidak sengaja yang membuat para santri dilemma. Sebuah pernyataan dari seorang santri putra di grup Facebook Santri Inyataullah berikut adalah bukti dilema santri agar bersih dari perbuatan ghasab.

 24-6 Postingan Kang Faiz

Maka, bulan Ramadhan ini adalah bulan yang tepat untuk memohon ampunan Allah swt. Seyogyanya manusia tidak perlu menginginkan hak milik orang lain. Bagi mereka yang menginginkan harta orang lain tanpa ijin, maka wajib baginya neraka dan pantang untuk ke surga. Terlebih santri yang setiap hari belajar agama dan akan menjadi contoh di masyarakat yang membutuhkan amalan ilmunya di kemudian hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s