Ketidakjelasan yang Berujung pada Kebersamaan

Pagi itu (14/02) terasa berbeda dari sebelumnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB, tapi matahari belum juga muncul dari ufuk timur. Aku pun heran. Berbagai aktivitas di pagi hari sudah aku kerjakan. Namun, waktu dhuha tak kunjung datang. Ku buka jendela kamar ku. Aku melihat warna oranye dari kejauhan. Terasa aneh. Rasa penasaran ku yang memuncak aku lanjutkan membuka pintu belakang. Ternyata semua berwarna abu-abu.Abu Vulanik

Perasaan takut dan khawatir muncul seketika. Apakah gunung Merapi meletus? Bergegas, aku membangunkan teman satu kontrakan yang masih damai di alam mimpinya. Mereka pun juga panik setelah mengecek keadaan di luar. Kami berlanjut mencari info lewat sosial media. Ternyata, gunung Kelud meletus yang abunya terbawa angin sampai ke Yogyakarta.

Seketika itu, tak ada sedikitpun rasa urung melanjutkan agenda ku hari itu. Justru aku semakin tertantang melihat kondisi yang ada keluar. Mengenakan jas hujan lengkap dengan masker dan kaca mata, aku mengayuh sepeda menuju gelanggang UGM, sanggar Pramuka. Saat perjalanan, aku melihat kondisi yang tak lazim. Sungguh, tidak ada manusia yang keluar dari rumahnya. Warna abu-abu pun mendominasi. Semua berubah jadi abu-abu (baca: tidak jelas).

Sesampainya di sanggar Pramuka, aku bertemu dengan beberapa orang dengan penampilan yang tak wajar. Sangat kusam. Ternyata, mereka baru saja membagikan masker gratis ke pengguna kendaraan di jalan. Sungguh luar biasa melihat jiwa sosial mereka. Mudah-mudahan bukan atas nama sosial media.

Agenda tak terencana kala itu adalah bersih-bersih gelanggang dan bundaran dan bagi-bagi masker gratis ke pengguna jalan di beberapa portal fakultas. Kegiatan bagi-bagi masker gratis dikoordinir oleh Unit Kesehatan Mahasiswa (Ukesma) UGM. Pada waktu itu, saya dan pasangan (lupa namanya mbak siapa) membagi-bagikan masker secara gratis di portal masuk fakultas kedokteran. Namun, karena hanya ada seglintir orang yang masuk, kami berpindah di pinggir jalan depan RS Sardjito. Singkat cerita, dua pack masker yang kami bawa habis.

Teringat, sebelum berangkat membagi-bagikan masker, ada Ustadz Keliling yang juga sedang ikut berbagi, yakni makan siang. Aku terima saja dua bungkus makan siang tersebut. Setelah membagikan masker di RS Sardjito dan portal bunderan, baru sempat aku makan nasi bungkus dari Ustadz keliling itu. Ustadz tersebut bernama Ustadz Maulana. Beliau sangat terkenal di kalangan mahasiswa UGM. Itu karena metode dakwah blusukannya, langsung pada sasaran. Mendengar berita dari kakak tingkat, bagi laki-laki dan perempuan yang sedang asyik ngobrol berdua, tapi belum punya ikatan pernikahan, maka Ustadz Maulana akan berdakwah melalui cara blusukannya.

Kembali lagi ke hujan vulkanik, bersih-bersih gelanggang dan bunderan berlagsung beberapa hari. Masalahnya adalah banyaknya abu yng menumpuk di setiap sudut tempat yang dapat menganggu jarak pandang dan pernapasan. Bersama-sama dengan UKM-UKM di gelanggang, kami gotong royong mengumpulkan debu dan membungkusnya di karung putih. Adapun alat kebersihan yang kami bawa adalah sapu lidi, sapu kelud, engkrak, sekop, karung dan peralatan sederhana yang bisa memudahkan.

Abu vulkanik masih bisa bertebaran walaupun sudah satu bulan setelah letusan. Daun-daun yang hijau terlihat abu-abu, genteng, tanah dan seakan berada pada masa ketidakjelasan. Terlihat beberapa warga dusun desa rutin mengadakan kerja bakti bersih-bersih kampung dari letusan abu vulkanik. Pun civitas UGM. Ada hikmah dari setiap kejadian. Hari Valentine yang sudah dinanti oleh banyak kalangan, berakhir pada ketidakjelasan. Penuh dengan abu-abu.

aiesec AV

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s