Menginjakkan Kaki Menuju Gugusan Pulau Impian

Kekhawatiran melanda malam sebelum hari keberangkatan. Sebuah perjalanan yang sudah dinanti kehadirannya. Dengan kuasa-Nya, kesempatan berkunjung ke luar negeri datang menghampiri. Melalui The 2th International Meeting for ISTS 2014, aku, Lydia dan Tiffany, mahasiswa UGM fakultas sekolah vokasi berangkat menuju negara Jepang.CIMG5051

Persiapan malam sebelumnya ternyata belum cukup untuk melakukan sebuah perjalanan panjang. Masih saja ada yang terlupa. Aku belum menukar uang rupiah ke mata uang yen. Beberapa orang menyarankan untuk menukar uang di Indonesia saja, karena nilai mata uang yen lebih rendah di Indonesia.

Sesampainya di bandara, aku berjalan sangat cepat bersama Windu. Pesan dari temanku bahwa kita harus check ini pukul 18.30 WIB. Sedangkan waktu sudah menunjukkan lebih dari itu. Aku sendiri, belum mengerti bagaimana proses check in di bandara. Saat aku melihat dua temanku yang sedang berdiri bersama orang-orang yang mengantarnya, seketika kekhawatiran melanda. Aku yang panik, berinisiatif masuk ke dalam ruang check in dan menitipkan koper ke kak Wiwit dan Windu. Aku bertanya ke petugas yang sedang berjaga. “Permisi pak, check in penumpang pesawat Garuda Indonesia di mana ya?” tanyaku. “Disebelah sana mbak,” jawab bapak itu sampbil menujuk arah dengan tangannya. Aku menuju garis antrian pesawat Garuda Indonesia. Beberapa orang sedang mengantri dengan membawa barang-barangnya. Aku pun kembali untuk mengambil koper. Beru aku tahu, ternyata mereka berdua belum check in.

Setelah aku kembali, aku dan dua temanku memasuki ruangan. Rupanya sudah ada petugas yang memeriksa tiket pesawat dan paspor penumpang sebelum check in. Ternyata aku melewatkan waktu mengucapkan salam perpisahan pada kak Wiwit dan Windu karena setelah check in, penumpang diharapkan tetap berada diruangan. Sambil menunggu pesawat take off, aku ditemani Lydia mencari money changer. Tidak ada mata uang JPY malam itu, sehingga Lydia menyarankanku untuk menukarkannya ke USD. Sudah, kami pun duduk kembali menunggu jam menujukkan 20.10. Bergegas menuju pesawat Garuda Indonesia, kami akan menuju ke bandara I Gusti  Ngurah Rai, Bali.CIMG5067CIMG5059

Pengalaman pertama naik pesawat terbang. Aku merasa, teknologi yang dibuat manusia sangat lah canggih untuk memudahkan langkah mencari karunia-Nya. Ya, aku ke Jepang bukan untuk liburan. Aku ke negeri rising sun untuk melihat warna-warni dunia yang dibuat-Nya. Betapa beragamnya manusia di dunia. Mereka tidak sekedar berkulit sawo matang dengan jilbab yang anggun menutupi seluruh tubuh yang diwajibkan. Bukan juga yang berlogat Jawa dan ramah saat di jalan. Mereka beragam.

CIMG5080Sampainya di bandara Ngurah Rai, aku dan dua temanku menaikki bus yang disediakan menuju departure arrival. Ternyata membutuhkan 10 menit perjalanan melewati lorong-lorong panjang. Setelah sampai, aku sungguh terkagum-kagum melihat bandara itu. “Ini benar-benar bandara Internasional,” ucapan dalam hati seseorang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Bali. Perjalanan menuju gate penerbangan, disuguhkan berbagai pernak-pernik dan aneka makanan yang menarik perhatian mata. Wow, inilah dunia dan segala perhiasannya.

CIMG5095

CIMG5097

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s