Ujian Nasional Bukan Alasan

jujur

Menjelang Ujian Nasional (UN) SMA, jadi teringat peristiwa satu tahun lalu. Hari – hari menjelang UN, waktu tidur jadi tidak teratur, dikejar materi dan kurang rasa percaya diri. Itu lah salah satu dilema anak SMA. UN adalah tahap yang ditunggu-tunggu. Rasa ingin cepat lulus dan tak sabar menjajaki bangku kuliah,  dan segera berproses mencari pengalaman baru.

Berbicara masalah Ujian Nasional, kejujuran menjadi masalah utama dari dulu tapi memang tidak dipermasalahkan. Setelah berbincang dengan salah satu anak SMA swasta di Jogja, sistem Ujian Nasional di sekolahnya, tidak jauh berbeda dengan apa yang saya alami. Siswa membayar sejumlah uang lalu mendapat kunci jawaban. “Menjelang  30 menit terakhir, siswa akan mendapat  kunci jawaban,” ujar salah seorang siswi yang berjanji akan mengerjakan ujian nasional secara jujur.

Sistem yang diterapkan lebih canggih. Segala sesuatunya dikoordinir alumni dan sudah berlangsung secara turun temurun. Sebanyak 75% jawaban soal didapat dari bimbingan belajar ternama dan sisanya dari siswa pandai. Biaya yang dikeluarkan siswa mulai dari 300 ribu hingga 4 juta per anak. “Paling tidak 80% dari seluruh jawaban  bisa tembus,” tambahnya.

Sekolah, tempat saya menimba ilmu adalah sekolah unggulan di kabupaten. Tentunya, tidak semua siswa memiliki kemampuan yang cukup dalam menerima materi dan menghadapi ujian nasional. Oleh karena itu, beberapa siswa mengkoordinasi transaksi haram tersebut. Pihak guru pun tahu, tetapi seolah tidak ingin tahu dan tetap mendukung ulah siswanya. Transaksi haram tersebut adalah bukan rahasia lagi.

Lantas untuk apakah belajar selama tiga tahun lamanya? Istighasah bersama? Tahajjud dan Dhuha? Kalau pada akhirnya melakukan kecurangan. Saya adalah pihak yang mengikuti jalan sesat. Saya memiliki keyakinan bahwa hal tersebut adalah sebatas bentuk solidaritas. Namun, tidak semudah itu. Saat ujian pun saya tetap membuka selembar kertas kecil yang berisikan kode-kode huruf. Kekhawatiran akan masa depan benar-benar saya rasakan.

Sekarang pun saya menyesal. Nilai ujian tidak berlaku saat memasuki bangku kuliah. Pun dalam mencari pekerjaan. Kemampuan diri lah yang menjadi bekal. Jadi, bagi yang ingin atau berencana membeli kunci atau membuka saat ujian, urungkanlah niat itu. No excuse! Masa depan sudah di depan mata. Ambillah dengan proses yang indah. Proses di mana kamu bisa mengenangnya. Allah bersama orang-orang yang jujur. Sekalipun lingkungan enggan menemanimu.

Semangat ya adek! ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s