Dari Gajah ke Gadjah Mada

Kota Hujan ke Kota Bogor 

Sekitar 18 tahun yang lalu, seorang wanita berusia 27 tahun melahirkan putri kecil bernama Wirdatul Aini. Di desa Gajah RT : 02 RW : 05 Kecamatan Gajah Kabupaten Demak  ia bermetamorfosis.

Hingga menamatkan pendidikan sekolah dasar, ia berkeingingan untuk melanjutkan sekolah di kota. Hal tersebut berbeda dengan teman – temannya yang tidak bersekolah melainkan bekerja. Setelah menamatkan pendidikan di SMP N 2 DEMAK,  dia melanjutkan pendidikannya di SMA N 1 DEMAK. Di situlah perjalanan Wirda menentukan masa depannya. Tertarik dengan kampus di  kota hujan tetapi  akhirnya Allah menempatkannya di kota pelajar. Sungguh di luar dugaan karena tidak ada keinginan sebelumnya untuk menuntut ilmu di kota tersebut.

Menyandang status sebagai mahasiswa universitas nomor satu di Indonesia bukan hal yang mudah. Ada tanggung jawab tersendiri di setiap detik selama berada di UGM. Mengingat tidak ada satupun tetangganya yang sedang bersekolah di UGM. Bentuk pertanggungjawabannya adalah peran Wirda untuk kemajuan desa. Desa yang memiliki pemuda dengan akifitas yang biasa – biasa saja. Banyak diantara mereka yang putus sekolah karena bekerja. Paradigma orang desa bahwa pendidikan belum menjadi hal penting adalah salah satu penyebabnya. Penyebab lain adalah kondisi ekonomi yang memaksa mereka hidup serba pas – pasan.

Wirda berasal dari keluarga sederhana dan penuh keterbatasan. Namun atas dukungan keluarga dan tekad kuatnya, dia bisa bersekolah di SMP dan SMA unggulan di kotanya dengan bantuan beasiswa. Hingga akhirnya kuliah di UGM dengan bantuan beasiswa Bidik Misi. Hal tersebut memang sudah dia rencanakan agar tidak membebani orang tuanya.

Image Image

Perjalanan ke Yogyakarta

Saat melakukan herregistrasi, dia dan ayahnya berangkat ke UGM untuk pertama kalinya. Pukul 3 pagi mereka sudah bersiap – siap di halte tetapi belum ada bus yang datang. Hingga pukul 4 pagi, mereka menaiki bus ke Semarang. Sesampainya di terminal Terboyo Semaramg, mereka mencari bus untuk siap mengantarkannya ke kota gudeg. Namun bus Semarang – Yogyakarta datang  jam 7 pagi.

Imagedjah

Menunggu adalah hal yang tidak menguntungkan. Apalagi dalam kondisi ketidaktahuan. Jadwal pendaftaran ulang yang Wirda terima adalah pukul 10.00 – 11.00 WIB. Kekhawatiran nampak dari raut wajah yang berusaha ia tutupi. Namun kekhawatiran ayahnya terlihat jelas seolah takut putrinya gagal menjadi mahasiswa Gadjah Mada karena tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Hal tersebut diperparah dengan kondisi macet di jalan. Antrean kendaraan yang panjang memaksa bus yang mereka tumpangi begerak merayap.

Sampai lah mereka di terminal Jombor. Menaikki Trans Jogja untuk pertama kalinya memaksa mereka untuk banyak bertanya. Turun di halte portable FKG UGM, mereka berjalan untuk mencari kantor DAA (Direktorat Akademik). Melihat Auditorium Grha Sabha Pramana yang sering nampak di internet, dia tidak menduga bisa melihatnya secara langsung.

Setelah melakukan pendaftaran ulang, Wirda dan ayahnya bergegas pulang. Kembali ke jalan yang mereka lalui tadi, mereka naik KOBUTRI. Turun di perempatan untuk menaikki bus Yogyakarta – Semarang. Bus kelas ekonomi dengan kecepatan 80 km/jam dan mencari penumpang di setiap terminal yang mereka jumpai memaksa mereka untuk bersabar menunggu. Hingga sampai di Semarang pukul 19.00 WIB. Setelah sampai di terminal Terboyo Semarang mereka menaikki bus Semarang – Kudus untuk sampai di Demak. Suasan bus sangat ramai penuh dengan penumpang yang berdiri. Namun beruntung mereka mendapat emp[at duduk hingga sampai di desa tercinta, Gajah.

Keseharian di balik kesendirian

Pada tanggal 27 Agustus 2013, Wirda dan ayahnya kembali melakukan perjalanan bersama menuju kota Yogyakarta. Ayahnya mengantarkan Wirda untuk menempati kontrakan bersama ketiga teman barunya yang ia kenal melaui jejaring sosial media Facebook.

Sesampainya di terminal Jombor, mereka menaikki taksi untuk diantarkan ke alamat rumah kontrakan yang sama sekali mereka tidak ketahui. Dengan membawa 4 jenis barang bawaan besar, mereka sampai di rumah kontrakan bersama dua teman barunya dari Cirebon dan Lampung. Setelah menengok kondisi rumah dan mengobrol sebentar, ayahnya berpamitan pulang. Beliau berjalan menuju halte Sardjito yang jaraknya 1,5 km dari kontrakan. Mereka mengenal satu sama lain dan mendiskusikan bahan tugas untuk ospek. Di sore harinya, satu teman dari Lampung datang dengan karakternya yang membuat suasana menjadi cair.

Hari – hari di kontrakan, Wirda isi dengan menempatkan barang – barang keperluannya. Tidak ada kendaraan sama sekali sehingga memaksanya untuk berdiam diri di rumah. Berbagai perubahan gaya hidup ia rasakan terutama jauh dari keluarga. Suasana rindu dan kehilangan ia luapkan melalui untaian do’a. Sesekali menitihkan air mata dan berserah diri pada Allah Swt. bahwa kehidupan baru telah menyambutnya. Kehidupan yang menentukan masa depan dan jejak sejarah dalam hidup.

Kebebasan adalah satu kata yang mewakili status anak kontrakan. Suatu ketika ia pergi bersama kakak teman satu kontrakannya untuk membeli batik sebagai dress code ospek di fakultas. Menjelajahi jalan Malaiboro, makan malam di McDonalds dan menikmati keunikan kota Yogyakarta  di malam hari adalah hal yang belum pernah dialaminya. Hingga pukul 11 malam mereka pulang sampai di kontrakan. Semua kondisi berubah terkecuali iman dan impian. Dua hal yang harus ia jaga sebagai pertanggungjawabannya di dunia dan akhirat.

 

Kesan dan Pesan di Sekolah Vokasi

  • Wirdatul Aini

Melihat gedung Sekolah Vokasi yang sudah tua sempat membuatnya kecewa. Namun hal itu hilang karena melihat kondisi di dalam yang tidak seburuk di luar. Hari – hari pertama kuliah, Wirda merasakan ketidakjelasan materi yang dia pelajari. “Apakah saya yakin hanya akan mempelajari B.Inggris, jauh – jauh dari Gajah ke Gadjah Mada?”, ungkapnya. Fasilitas di Sekolah Vokasi terbilang terbatas jika dibandingkan dengan fakultas lain. Suasana kelas yang hampa sesekali terasa. Namun ada hal lain yang membuatnya tetap semangat belajar dan belajar adalah tanggung jawab.

  • Della Mediana Rahmiati

Sekolah Vokasi tempat saya menuntut ilmu utnuk masa depan saya sekarang adalah tempa yang seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk saya belajar, tapi kondisi gedung yang belum maksimal membuat saya merasa kurang nyaman tapi berkat teman teman dan para dosenlah yang membuat saya semangat untuk menuntut ilmu, begitupun orangtua saya. Belajar dengan baik demi meraih cita-cita di masa depan iu adalah kewajiban saya dan sekolah vokasi adalah tangga untuk meraihnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s