Satu Tahun Berjalan, Bisa Berkunjung ke Negara Jepang

Akhirnya keinginan itu terwujud. Aku pergi ke Jepang. Aku tak percaya. Kupikir ini sebuah mimpi belaka.

Sudah hampir satu tahun aku belajar di UGM. Katanya, universitas ini adalah universitas sangat bagus  di Indonesia. Aku patut berbangga. Tapi, hura-hura itu hanya sementara. Aku tidak mau hanya berkuliah saja-belajar, berkegiatan dan sudah. Padahal, aku punya impian besar. Aku ingin go international. Ah, tapi nyatanya tak banyak kesempatan. Kesempatan ke luar negeri hanya untuk mereka yang belajar di program sarjana. Aku kan diploma.

Ini tentang mimpi. Ini tentang keyakinan.

Di suatu hari, leptop daringku tertuju pada satu halaman. Aku buka pelan-pelan. Ada sebuah kesempatan di kancah internasional. Ya, kesempatan itu untuk mahasiswa diploma. Syaratnya tidak menyulitkan. Tapi ternyata, itu sudah melewati batas deadline. Bagaimana ya? Sekali lagi, ini tentang mimpi yang perlu segera diwujudkan. Aku mantapkan hati untuk mendaftar dan konfirmasi ke narahubung yang tertera di informasi halaman.

Pemberkasan yang bisa dibilang mudah, sudah lengkap. Aku mulai kumpulkan tekad untuk sesi wawancara dengan wakil dekan. Ternyata, wawancara tidak sesulit yang aku bayangkan. Aku yakin, aku  bisa menjadi salah satu dari tiga orang yang berangkat ke Jepang.

Cukup singkat. Siangnya, aku ditelpon bahwa aku akan berangkat ke Jepang. Dua mahasiswa lainnya adalah Tiffany (Rekam Medis) dan Lydia (D4 Alat Berat). Kami mengurus paspor dan visa bersama. Waktu yang tidak banyak tidak membuat kami putus asa. Hanya 3 bulan, persyaratan kami ke acara International Student Organizing Committee (ISOC) di Jepang akhirnya lancar.

Sampai di Jepang, kami menjumpai banyak hal menarik yang berbeda dari apa yang biasa kita lihat. Sesudah berjalan-jalan di sore hari, kami bersiap bertemu mahasiswa lainnya dari Taiwan, Hongkong, Malaysia dan Jepang.

Hal utama yang kami kerjakan adalah membicarakan acara International Symposium on Technology for Sustainability (ISTS) dan keberlanjutannya. Itu mengapa, fakultas Sekolah Vokasi (SV) UGM mengirim 3 mahasiswanya ke sana dengan beberapa tujuan. Pertama adalah networking agar bukan hanya pihak SV yang sudah resmi bekerja sama tapi juga dari mahasiswa. Kedua adalah diskusi. Di sana, kami berdiskusi tentang persiapan acara ISTS di Taiwan. Ketiga adalah friendship. Di acara ISTS nantinya, panitia dan peserta tidak hanya dari satu negara melainkan dari beberapa negara yang punya budaya dan pola pikir yang berbeda. Itu mengapa, acara ISOC ini diadakan agar mereka bisa mengatasi benturan budaya yang sangat mungkin ada.

Jadi, bukan seberapa sulit tapi seberapa siap mewujudkan mimpi. Keberhasilan itu akan datang jika ada kesiapan dan kesempatan. Namun, energi negatif beruapa sikap pesimis dan menyalahkan keadaan bisa jadi mucul, tanpa disadari. Itu semua adalah penghambat. Buang jauh-jauh, fokuskan apa yang sudah terprogram di pikiran.

 

Dear My Father,

I want to talk about my life here. This week I got many classes more than usual. In fact, I give more my availability than when I study on college, this week is midterm test.

 I teach three different student in a week. Japanese, American, and Swiss-German. Japanese one is same age with me. I really like to teach student such as a friend. There is no afraid such a ‘kikuk’ sitution or ‘krikik’ moment. She is just a good student and friend.

The American, he takes 5 days course with an Indonesian living experience for 2,5 years. He really seems excited to do things in his life including to study Indonesian language. He asks for many things which becomes his problem and I would be like his facilitator to explain and add more information about his problem. Classes go well and fun.

However, this guy from Switzerland-German is like a great object to measure my teaching skill. Something I need to solve between me and him. He is a good guy. I mean his looks is quite charming for me. However, he seems silent and silent. When I ask him. He would respon and stop there. He doesn’t give any feedback question even asking about me something. Thus I ask to other teacher about him, as a silent student. They says they enjoy enough their classes. The student tell many things. One teacher says it must be knocked so that it makes sounds. Just like him. You need to ask, then he talks, a lot.

In the end of the sessions in the school, I am with two teachers who are being his teachers. One talks about her last class with him. She says many things about his questions to her. Asking about things randomly. For instance the difference of Indonesian money figure and Swiss. Study duration, president and so on. She looks really control and manage the class well. And me? I feel like I don’t have such a good humor and topic yo deliever. I assume he is a silent one but I am totally wrong. He laugh really out loud at the lunch table.

Topic to talk is an important one to define how interesting the conversation. Besides, knowledge and curiousity are main ingredients completed with communication skill.

Thus, here is my reflection during my part

Bahasa untuk Bicara

  1. Penampilan. Eeh eeh, ngomongin penampilan. Wanita yang perlu jaga penampilannya ya. 
  2. Kepribadian. Perlu dibiasakan untuk menjadi bisa. Biar rapi, mulai mendisiplinkan hal-hal kecil di sekitar kita. Belum merasa baik sih sehingga perlu membangun kebiasaan itu. Ngomongin apa sih? Itu lhoo, baju kotor yang perlu dicuci segera, jangan sampai numpuk. Itu lho, kalau naruh barang ke tempat yang semula. Itu lho, gelasnyaPagi ini adalah JumaPenampilan. Eeh eeh, ngomongin penampilan. Wanita yang perlu jaga penampilannya ya. 
  3. Kepribadian. Perlu dibiasakan untuk menjadi bisa. Biar rapi, mulai mendisiplinkan hal-hal kecil di sekitar kita. Belum merasa baik sih sehingga perlu membangun kebiasaan itu. Ngomongin apa sih? Itu lhoo, baju kotor yang perlu dicuci segera, jangan sampai numpuk. Itu lho, kalau naruh barang ke tempat yang semula. Itu lho, gelasnyaberkah. 

 Di kelas. Pak Radjaban selalu memukau dengan pengetahuan kebahasaannya. Hari ini saya belajar affixes. Masih mereview morpheme kata-kata di Bahasa Inggris. Ada 3 jenis morfim; 

  1. Free morpheme. It is a morpheme that can stand alone by itself. Ex: book, duck, cat, etc
  2. Bound morpheme. It is a morpheme that must bound to another morpheme. Ex: -s, -ed, 
  3. Zero morpheme. It is a morpheme that is not actualized into a pheme.

Kami juga membahas tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar terkait dengan afiks di Bahasa Indonesia. Memproduksi, mempopulerkan, mempraktekkan, adalah sederet kata yang seharusnya tidak ada huruf ‘p’ karena melebur pada proses asimilasi. Namun, dengan teori pembiaran, para linguist di UGM tetap mebenarkan sederet kata itu karena penutur sudah bushman dengan memroduksi kata-kata itu.

Itu membuat Bahasa Indonesia tidak konsisten sehingga sulit untuk distandarisasikan. 

Setelah itu, lanjut di perjalanan menuju kampus 1.

Merasakan Nikmat dalam Tiap Gerakan

Bergerak. Pagi ini kulakukan aktivitas bergerak yang berbeda. Otak dipaksa bergerak menganalisa pocong yang muncul di rumah Ibu Maya. Ternyata pelakunya adalah suaminya. Hmm menuntut keduniaan itu tak akan ada habisnya. Cukupkanlah. Sederhanakanlah. Manisnya dunia hanya sementara. 

Senam. Jadi ingat, dulu dan tim mewakili kecamatan senam sehat tingkat SD. DVD untuk latihan tak punya, Bapak tidak menginjinkan beli DVD walaupun untuk latihan senam. Keadaan ekonomi dan prinsipnya lah penyebabnya. Bapak orang yang teliti dan hati-hati tentang sell and purchase. Alhamdulillahnya, saya suka bergerak. Saya main ke teman saya yang punya DVD dan mengajaknya untuk latihan. Selalu seperti itu, bergant-ganti teman dari satu rumah ke rumah lain. 

Kuliah. Hari ini saya membuat nursery rhymes dengan topik time. 

Time…time..time…2x

Let’s look at the time

It’s 9 p.m. 2x

Sing nursery rhymes

Ing…ing…ing…

Pray before sleeping

Evils going…evils going…

Nice dream while sleeping

Lanjut seminar sebagai peserta dengan expert Alki, Avivah dan dan Juvita. Mmm terkantuk terkantuk sambil terdengar sayup suara presentasi mereka. Aku coba tulis apa yang bisa menjadi bahan untuk menjadi peserta aktif. Meskipun bukan yang pertama, mengangkat tangan untuk bertanya masih menjadi momok yang menyeramkan. 

Setelah itu, Bu Novi memberi komentarnya tentang presentasi mereka sampai 12.20. Padahal saya akan punya kelas 13.00 yang harus sampai di kantor 10 menit sebelumnya. Betapa ku kayuh cepat cepat Isabella. Lampu merah kusesuaikan dengan kondisi kendaraan. Aku tak mau terlambat dan kena masalah. Nafasku makin cepat saat aku lihat jarum panjang jam dinding di jalan ada di 11. Melewati Jl.C. Simanjutak. ‘Ah, mungkinkah bisa tepat waktu? Ohya, jam kantor 5 menit lebih terlambat dan jam di jalan itu lebih cepat 5-10 menit.’  Ada harapan. Tapi masih ada Jakal yang membentang, oh Allah, kakiku, nafasku, keringatku, aku harus mengejar Tuan Waktu. 

Akhirnya sampai di kantor jarum panjang 10. Fiuhh. Beneran on time. Aku taruh tas, buka masker, ambil tissue, usap keringat di kulit wajah yang memerah karena kepanasan. Buat teh tawar hangat, ambil 3 butir snack, aku buka hape berharap bisa baca balasan pesan Bu Fitri yang sudah kukirim tadi malam. Tapi tidak mungkin. Tuan waktu sudah menunggku di jam 13.00 waktu Realia.

Akari, mahasiswa Jepang itu, senang rasanya bisa mengajar kembali. Cara pengucapan, ekspresi wajah, gesture, adalah hiburan tersendiri karena itu unik dan jarang kutemui diantara penduduk negeri ini. Tentunya, mengajar tetaplah media belajar memahami kemampuanku menjadi penyalur ilmu yang bijak – menguasai materi, memahami kebutuhan dan kondisi murid.

TPA Pondok. Sudah ditunggu adik-adik di aula. Ohoho, senang senang mengajar wajah wajah polos yang cantik nan imut mut walaupun didalam rasa lapar karena sesiang belum makan. Aku sempatkan makan, aku lanjut mengajar.

Bandongan. Rutinitas ini ditunggu banyak santri. Ini karena ada nasehat Pak Yai yang sudah ditunggu-tunggu, yang paling ngena dan penawar keringnya hati. Ini sedikit hal yang bisa kutuliskan. 

Jadikanlah hubunganmu dengan orang lain haqiqi. Jadikanlah dirimu dengan syariah.

Maksdunya, menganggap orang lain itu tidak berbeda dari kita-tidak lebih rendah atau lebih tinggi. Dan memperlakukan diri sendiri dengan disiplin tinggi sesuai syariah Islam.

Misalkan, ‘Di kitab Fathul Mu’in, shalat sunnah orang yang berhutang shalat fardhu itu tidak sah. Jika ada hutang, segeralah mengqadhanya. Beruntunglah kalian ada di pesantren dan tahu akan hal itu.’

Berakhir di bandongan mengaji Fathul Qorib menyelesaikan bab shalat jenazah dan mengaji bin nadzri dengan Bu Nyai. 

Tak kuat sakitnya perut karena telat makan siang, saya buat mie untuk mengisinya. Dan menghabiskannya di kamar pengurus dibalut candaan khas di malam hari. Pelajaran yang bisa saya bagikan adalah communication is an art. Praktekanlah, pelajarilah.

Setiap gerakan ini aku nikmati, setiap nafas ini aku syukuri. Aku tak pernah tahu kapan ini akan berhenti. Maka, aku perlu berlari. Memang tak mudah menjaga frekuensi kecepatan semangat yang bisa turun kapanpun itu. Memang tak mudah menjadi gigih. Tapi dengan langkah awal, bergerak, proses itu sudah ku mulai. Jangan khawatirkan hasil. Kokohlah dengan proses itu, yang terlihat tidak pasti dan mengingkari. Kuatlah dengan tujuan itu, yang ku sebut sebagai tujuan akhir dari hidupku.

Nandan, 1 Maret 2017

#1of1000writingdays

The Unpredictable Life “40 Hari Ibu”

 

wirda

Khawatir.

Sebagai manusia biasa, saya ingin bercerita. Sekarang ini, saya sedang bercerita lewat keyboard di depan komputer layar besar yang membuatku nyaman.

Ya, aku akan menceritakan orang-orang yang ku sayangi. Dia yang menyayangiku tanpa syarat. Walaupun aku bukan manusia yang baik, tapi dia yakin aku akan jadi seseorang, seseorang yang lebih baik dan patut dibanggakan.

Dia yang menggendongku waktu aku jadi manusia kecil ‘bodoh’ yang menjahit tangannya karena ingin melihat warna-warni benang di telunjuknya. Dia menangis. Dia tak sanggup melepaskan cengkraman mesin jahit itu dari jariku. Dia mengambilku dan membawaku ke mantri. Dibawah jatunya air hujan, di tengah remang-remang cahaya Magrib. Dia memelukku dan menangis. Syukurlah aku tak apa.

Ada waktu, di kala banyak PR yang belum aku kerjakan. Lembaan LKS yang berisi pulihan soal, aku keluhkan padanya. Jika dia tak bisa, aku akan merengek untuk memaksa agar dia bisa. Semua PR ku, aku keluhkan padanya. Beruntungnya, aku berhasil mengerjakan PR tepat waktu. Aku berangkat setiap hari ke sekolah dengan kondisi yang terbaik. Aku sudah sarapan. Aku memakai seragam yang bersih dan rapi. Aku siap belajar dan menjadi juara bertahan di SD N Gajah 1. Aku yakin, itu berkat do’a dia setiap harinya. Yang menyetrikakan seragam, menyiapkan makanan, dan mengerjakan PRku di tengah-tengah kesibukannya mencari nafkah.

Samapai SMA pun, dia yang membangunkanku di kala Shubuh datang. Meski aku tak menjawab karena aku pura-pura tak mendengar, dia tetap sabar. Dia menggoreng bakwan, kering tahu, membungkus nasi kucing, dan siap-siap berjualan karena Bapak sudah menanti kedatangan barang dagangan.

Ya, dia Ibuku. Tepat kemarin (16/02) adalah 40 hari Ibu meninggalkan dunia ini. Selama 10 tahun, dia hidup bersama Diabetes di dalam tubuhnya. Dan di tahun ke10 nya, dia mulai merasakan tubuhnya yang berat. Keluar masuk rumah sakit. Tak sadarkan diri, dan pulang. Aku tak menyangka Ibu akan pulang secepat ini. Aku ingin dia menungguku pulang setelah UAS ku selesaikan. Tapi, Allah ingin segera bertemu ibu.

Pagi itu, aku rapikan kamar untuk bersiap ujian, tapi ternyata, itu lah ujian yang sebenarnya. Aku pulang dengan Mbak Zen, teman pondok, menemui Ibu. Kulihat ibu dengan tubuhnya yang kaku. Aku ingin memeluknya. Tapi tidak dengan air mata. Aku menciumnya. Tapi dia tak berdaya. Dia tak bergerak Ya Allah. Secepat inikah? Iya, waktu tak bisa berulang. Tak ada lagi sosok yang dengan tulus memperhatikan baju yang ku kenakan, membuat sarapan, mendengar curhatan anak rantauan. Ibu, aku di sini untuk Ibu, langakah yang kutapaki adalah untukmu. Ketulusan dan keikhlasan merawat dan membesarkanku, tak akan pernah terbayar oleh apapun dariku. Maafkan aku, atas dosa-dosa yang pernah ku perbuat padamu.

Yogyakarta, 17 February 2017

 

 

 

Play Work Pray at Rumah TahfidzQu

_dsc0411

English Camp Ramdhan #3

Tawaran manis berupa goresan coklat pekat yang cocok untuk dirawat. Ya, menjadi tutor di kelas Bahasa Inggris Mr. Bob Kampung Inggris Pare yang bekerja sama denga Rumah Tahfidz berbuah keluarga yang harmonis.

Rasa nyaman sudah muncul dari awal bertemu santri kilat di asrama Rumah Tahfidz, Deresan. Makin lengkap bertemu dengan tutor tutor hebat dari berbagai latar belakang. Mulai dari kalangan hits bulu mata indah seperti adik Tsaqib, koordinator cantik yang insyaAllah berjodoh dengan Hafidz, Nes yang menghilang karena sayang duit, Vina yang ngehits tapi banyak haters karena banyak gossip, mas Ferdy yang sibuk dengan UAS jadi harus mobat mabit, Emma yang tiba-tiba diem tapi sebenernya suka tomat wkwkwkwk

Sungguh, enam hari bersama kalian itu sesuatu banget. Merasakan indahnya perjuangan ditengah-tengah barakah bulan Ramadhan, relakan ngaji dengan pak Kyai untuk bertemu kalian. Kayuhan sepeda di buru waktu adzan yang harus ku kejar. Hari demi hari mengajar dan evaluasi, semakin hari semakin kita polesi dengan perubahan yang lebih baik. Mulai dari tertukarnya jadwal, kelasku yang kupulangkan karena blank tak ada lagi ide dadakan, sampe kontrol waktu yang masih perlu ada perbaikan.

Semua harus sadari kekurangan, agar kelak murid bisa dapatkan ilmu yang optimal. Terlebih kepercayaan orang tua yang sudah titipkan anak mereka ke pangkuan pengajar. Sungguh, luar biasa kita niatkan bukan hanya untuk masa sekarang, tapi keberlanjutan ilmu yang mereka akan dapatkan.

Banyak murid-murid yang mengesankan. Dari yang suka berjoget honey-shake ala Kiky, Fadhl yang nerocoh karena sumpek lihat anak-anak jail, Alfian yang prospektif jadi pemimpin, Bila yang polos dan ngga mau diem, ah dan masih banyak lagi anak-anak kece yang siap terjun di peradaban zaman.

Intinya, berkesan berkesan berkesan. Seperti yang kutulis saat kuingat pasti wajah-wajah kalian, “Alhamdulillah, ada kesempatan dapat keluarga baru di Deresan, waktu 6 hari yang indah tuk dikenang, tak cukup hanya mengajar, tapi tentang masa depan, bersama Islam dan Iman. Maaf atas segala kekhilafan dalam balutan canda dan ungkapan spontan semua untuk mencairkan agar suasana terasa menyenangkan.”

 

Yogyakarta, 25 Juni 2016 ~ 20 Ramadhan 1437

The Upbringing for Children

 

images

“You’d better not come to school today if you do not recite the Iqro first,” she scolded

That is a part of words that a mother said to her daughter that I heard this morning . She was more likely angry because her daughter does not behave what she wants. Her daughter prefers playing than reciting Quran. What the mother does is to remind her. She was mad at her. The daughter cried out loud and tried to make a deal with her mother so that her mother do not get mad at her. Then, she pronounced the Arabic letter  weepingly to follow her mother words. Yes, her mother wants her to recite and concern more about Quran than her formal school.

That was possible to do for her as a teacher of Quran. She knows her children well and wants her children being more concern with Quran than dunya. Her children are the next generation to be good leaders in the future. However, there are several principals that make me think about Islamic parenting i.e. children are born pure and will imitate their parents as role models.

Children have no sin when they come to this life. “No child is born except on al-fitra (Islam or primordial human nature) and then his parents make him Jewish, Christian or Magian, as an animal produces a perfect young animal: do you see any part of its body amputated?” [Sahih Muslim] They are born pure. If they misbehave, they imitate what they see and hear. Thus, parents do not have to blame or grumble because the children implement what they have seen, heard and felt to their environment.

Reference:

http://productivemuslim.com/islamic-parenting/

Yogyakarta, 6/12/16

Joint Internship with Melbourne Students

Today is the fourth day of our internship in PT. YPTI in Kalasan, Yogyakarta. The good atmosphere, we started to build among us. Gani, the guy who feel he was in the wrong place, tried to convince himself that he was in the right place which has to use all his capability to interact with others. Maya, my two other partners, looks better to express her idea. She seems more comfortable now. Me, I am trying to improve everything in my social interaction with those three Deakin students.

Starting from the first day, I feel like I am not a person who could be able awesome at the first impression. Then the next day I learn how I blend in a diverse group. I tried to arrange words to ask while working the project about the marketing research. The group analyzed the marketing of PT YPTI, particularly in mold division. We helped to add some ideas about the marketing strategy. Mr. Heru, the director of mold division, didn’t tell ask clearly about our duty. However, we kept on arranging some analysis and questions to ask the director, Mr. Petrus.

After scheduling to the director’s secretary, Mr. Pertus brought us to the factory that we could look around to see the worker, machine, and product. For me, it is the first time to be in a factory with big machines producing small parts of items with precision. By that time, the group got more information about things to do with the project. To complete the project, we would make a design of educational toys that has not existed yet. We were planning to visit one or two kindergarten to observe what educational toys they used to teach the students in a class. At the first week, we have made several ideas of educational toys and cultural merchandises.

The second week, we visit Al-Azhar kindergarten to conduct an observation. We were hosted very warm with the teachers and staff there. Mr. Dedi, the library staff, led us to look around the school. Students looked shy to see us but the teachers seemed very exciting. What a nice experience to be around the cute kindergarten children! No more tired but happy with them, but then we decided to cancel visiting Brilliant kindergarten as the next school.

Of course, we got trouble to leave without any permission before. Instead of visiting the next school which has been scheduled by UTY, we went back to the YPTI only to have lunch and play around. Personally, I felt I was mistaken to be in that such a fool situation to leave without any confirmation. However, Mr. Eko, our supervisor looked patient to solve the problem. I asked if we should reschedule to visit the next kindergarten but he recommended to cancel it.

In fact, we kept visiting the Brilliant Kindergarten as they have prepared anything for us. At that day, the teachers hosted us very amazing, They looked so exciting and full of smiling to interact with us. We were explained about the school and the classes they had as well as the educational toys they used to teach the students. Of course, taking photos was the most exciting part. The teachers were very happy to have guests like us, from overseas.

We spent our good time in a different language and culture. We might understand each our culture even though sometimes it is hard to tell why I could not give a hug or an only cheek kiss goodbye for them. The warm feeling of saying goodbye does not have to represent in that way because of a commitment and responsibility. For me, this program is the real life of my future dream. Now, I still remember my teachers’ words what to be like as a Moslem. But later, in that truth culture, who’s gonna keep me in that belief that I have been holding as strong as I can. No one could guarantee it unless God who keep and save me from all those temptations.

Nevertheless, communication and interaction are taught there. Jokes, sometimes dirty and flirty, also are important ones to build a good and memorable time.  And yes, this meeting make me missing about moments I have been done with them. Thank you, Tim, for being like a big brother and sharing as a married man. Thanks, Tegan, for understanding us when those two guys are not and giving us such a brand joke of David who. The last is David, thank you for being a nice guy with coffees in the hotel. Thank you for Maya and Gani, for being my awesome partners to do this job well.

Yogyakarta, 27 November 2016

Tidak Sekuat yang Kalian Kira – Kalian juga Bisa

Menimba ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Allah sudah menjanjikan bahwa Dia akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

Sesudah menyelesaikan belajar saya di fakultas Sekolah Vokasi jurusan D3 Bahasa Inggris, Universitas Gadjah Mada; saya memiliki cita-cita untuk melanjutkan studi saya ke jenjang Sarjana. Beberapa orang akan tanya kenapa dulu tidak mengambil program sarjana. Dengan tegas saya jelaskan bahwa inilah skenario Allah yang sekarang. Dari beberapa pilihan, belajar di kampus kerakyatan adalah pilihan terbaik dan tinggal di Jogja adalah kejutan istimewa-Nya.

Sejak awal saya kuliah di Jogja, tidak ada pikiran akan punya motor untuk kuliah dan jalan-jalan mengelilingi Jogja. Ternyata, sudah 3 tahun saya melewati banyak peristiwa dengan sepeda saya yang ke-2. Saya pernah mengikuti Jambore Sepeda Lipat Nasional (JAMSELINAS) bersama komunitas pecinta sepeda lipat dari banyak kota besar di Indonesia dengan Mbak Angela – dosen saya dari Amerika. Rute jambore itu mulai dari geduang gubernur sampai ke Imogiri. Sungguh hebat perjuangan pinky, melewati jalur terjal naik turun di daerah pedesaan.

Kebersamaan dengan pinky harus saya kurangi, mungkin saja saya sudahi. Setelah saya mulai membuat keputusan untuk belajar ke jenjang sarjana, saya mulai berpikir kebersamaanku dengannya. Dulu, ada dua pilihan untuk kuliah program transfer Sastra Inggris (Sasing) di Sekolah Tinggi Bahasa Asing atau universitas. Kedua perguruan tinggi itu sama dekatnya dengan pondok pesantren dan tempat kerja. Setelah survey ke kedua PT, saya putuskan untuk memilih universitas yang memiliki lingkungan kultural di sana. Betapa terkejut setelah saya konfirmasi lokasi kuliah, ternyata untuk semester 3 ke atas ada di kampus 3 yang letaknya kira-kira 9km dari pondok pesantren.

Selama survey, informasi yang saya dapatkan adalah prodi sasing sudah pindah ke kampus 1 yang dekat dengan ponpes dan tempat kerja. Namun, setelah saya her-registrasi ulang, kampus 1 hanya untuk mahasiswa baru. Sayangnya, saya bukanlah mahasiswa baru yang ‘baru’. Keadaan ‘restless’ menyertai saya seketika. Saya coba membuat beberapa kemungkinan jalan untuk melangkah. Tawaran untuk mendaftar ke universitas Malang dan tetap menimba ilmu agama yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Sempat berpikir juga, untuk memulai berkarya di Demak dan menjaga ibu di rumah. Ada pikiran bahwa inilah saatnya saya menjaga ibu, yang mungkin menginginkan anaknya untuk di rumah dan menyudahi perjuangan di tanah rantauan. Tapi bapak berkata lain. Beliau sangat mendukung saya agar menyelesaikan program sarjana. “biarlah Bapak yang menjaga ibu, kamu lanjutkan saja kuliahmu di Jogja”, kata beliau. Sosok kuat seperti beliau, adalah teladan.

Keluarga dan orang-orang dekat adalah jalan untuk berpikir jernih. Mereka lah pemberi saran dan wejangan, tapi keputusan tetaplah ada di tangan saya. Teman kampus, mbak Ima, saya tidak menyangka bahwa respon menanggapi cerita galau saya sangatlah bijak. ‘selesaikan apa yang sudah kamu awali’, sebenarnya adalah kalimat yang sudah saya ketahui. Namun di keadaan mental yang sedikit lemah, kalimat itu menjadi penawar yang mustajab. Saya putuskan untuk meneruskan perjuangan saya di kota Jogja.

14369135_164878173959957_5294073536267157504_n

Saya membeli sepeda baru. Dia bukanlah pengganti pinky, tapi generasi penerusnya. Beberapa orang menyarankan agar saya naik gojek atau naik TJ, tapi saya memilih untuk membeli sepeda gunung. Sepeda itu saya beri nama Isabelle, karena design dan warnanya yang terlihat cantik walaupun sepeda itu dirancang untuk laki-laki. Dengan harga Rp 1,63 juta, saya bisa berangkat kuliah untuk menimba ilmu. Alhamdulillah, akan selalu ada solusi kalau ada kemauan. Kondisi keuangan yang tidak cukup untuk beli sepeda itu, teman saya dengan ringan tangan melunasi jumlah uang yang harus saya bayarkan dengan akad hutang.

Setiap hari, saya berusaha istiqomah bahagia dengan keputusan-keputusan saya. Banyak respon orang-orang di sekitar dan beberapa mengkhawatirkan saya. Wajar, awalnya saya sendiri juga tidak kuat kalau membayangkan akan pulang-pergi setiap hari dari kampus-Realia-ponpes. Meskipun demikian, saya pun bisa setelah menjalaninya. Saya tidak sekuat yang mereka kira, karena tentunya mereka bisa melakukan hal yang sama. Keadaanlah yang memberi pilihan.

Yogyakarta, 12 Oktober 2016

 

Candi Sambisari – Kecantikan yang Lama Terpendam

Perjalanan kami mulai di Candi Sambisari. Dari Realia, makan waktu 30 menit untuk sampai di candi yang terletak di Desa Sambisari, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman Jogjakarta.

slide1

Menurut informasi yang saya kumpulkan, candi Sambisari ditemukan oleh petani pada tahun 1966. Waktu itu, dia sedang mencangkul sawah. Kemudian dia menemukan bongkahan batu yang mempunyai ukiran. Setelah itu, Dinas Purbakala melakukan penelitian. Ternyata, bongkahan batu itu adalah pecahan dari komplek candi yang sekarang bernama Candi Sambisari.

Kita dapat melihat keindahan candi Sambisari yang terletak di bawah permukaan tanah. Dikelilingi oleh hijaunya taman dan sawah, candi ini sangat menarik untuk dijadikan lokasi berfoto. Pemandangan aktifitas warga di sekitar juga bisa kita lihat karena lokasinya yang dekat dengan pemukiman warga.

Tidak terbayang bahwa material vulkanik 6.5 meter telah menimbun peradaban abad ke-9 pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung selama 1000 tahun lebih. Sekarang candi ini sudah menampakkan keanggunannya yang yang tersembunyi selama 1000 tahun lebih.

Tiket masuk ke candi ini Rp 5.000 untuk turis lokal dan Rp 10.000 untuk turis asing. Namun, saya dan teman saya yang kebetulan turis asing, membayar masing-masing Rp 5.000. Mungkin dia tidak terlihat seperti bule. Entahlah.

Perjalanan selanjutnya ke Candi Sari.

Yogyakarta, 4 Oktober 2016