A Year of Your Return

  • Tidak menyangka, setahun sudah berlalu. Ketidaanmu menorehkan titik hidup yang berliku. Tak tajam kurasa. Tapi berbeda.

Kebiasaan dimanja, dimasakkan, disiapkan, diceritakan, didengarkan oleh setumpuk kisah di area perjuangan pelan-pelan hilang. Seketika. Kecepatanku beradaptasi pun tidak sebagus yang kubayangkan. Aku sedikit tertatih. 

Kisah membekas itu, bulan Ramadhan pertama tanpamu. Aku coba siapkan bekal untuk mengganti peranmu di rumah. Dari mulai menu masak harian sampai menyiapkan suguhan untuk lebaran. Tapi malam itu, kumandang takbir sungguh mengingatkan jiwa-jiwa yang berpulang. Puing-puing kenangan mulai muncul membentuk satu kesedihan. Aku tak sanggup menahan. Tak kuasa air mata jatuh perlahan.

Ibu, engkau sudah pergi ya? Padahal aku masih membutuhkan banyak hal darimu. Banyak hal yang belum kuwujudkan, banyak hal yang belum tersampaikan, banyak hal yang belum kupersembahkanKebahagiaanmu di dunia juga belum terpuaskan. Semoga engkau damai di pangkuan Tuhan. 

Allahummaghfir la haa, warham haa, wa ‘aafi haa wa’ fu’an haa ☺

Aamiin

Demak, 28 Des 2017/9 Ba’da Mulud 1439H
 

Advertisements

Mengapa Aku Diciptakan

Masih dengan keraguan-keraguan dan pertanyaan, kenapa saya ada di sini? Tinggal di pondok pesantren. Bekerja dengan orang-orang dari banyak latar belakang. Adakah kesepakatan yang sudah saya buat dengan Tuhan sebelum saya dilahirkan?

Pertanyaan itu berhenti dengan pertanyaan, apa hakikat penciptaan manusia di dunia yang saya ajukan ke Yai Mukhtar tadi malam.

Adanya manusia di dunia adalah untuk menunjukkan kekuatan dan kebesaran Tuhan, Allah SWT. Sebagaimana saya tulis di artikel sebelum ini, bahwa tugas manusia hanya untuk beribadah. Manusia berbeda dengan mahluk lainnya. Bukan binatang yang akan berpikir tentang keilmuan untuk mengatur dunia. Bukan malaikat yang senantiasa bersujud menyembah Tuhan. Bukan setan dan iblis yang membangkang karena kesombongan. Manusia adalah manusia, yang punya nafsu dan akal.

Nafsu lah yang menjadi pembeda dengan mahluk lainnya. Nafsu penting untuk keberlangsungan manusia sebagai manusia. Nafsu makan akan mendorong manusia untuk makan dan akal akan membuat manusia memilih makanannya, bukan asal makan dan tidak tahu aturan. Nafsu syahwat, disebutkan oleh Yai Mukhtar, bahwa adanya kelahiran manusia karena nafsu syahwat. Ini pun ada aturannya, tidak sembarang bisa dilakukan dengan siapa saja melainkan dengan mahram, pasangan yang halal. Dan karena nafsu, manusia punya angan-angan dan tujuan. Punya arah tentang hal-hal yang ingin dilakukan dan dicapai. Manusia dan nafsunya, tidak perlu dimatikan tapi dikendalikan.

Nafsu itu diperlukan. Jangan dimatikan, tapi dikendalikan.

Adanya nafsu ini, manusia adalah mahluk Tuhan yang berbeda. Inilah tanda adanya kehidupan bahwa ada perbedaan. Manusia jauh lebih tinggi derajatnya dari malaikat ketika manusia (dengan nafsunya) beribadah pada Tuhan. Mengingat malaikat diciptakan hanya untuk bersujud pada Tuhan tanpa nafsu dunia sedikitpun. Sedangkan iblis dan setan diciptakan untuk menggoda manusia sepanjang hari dan malam. Sungguh lebih buruk dari Iblis dan setan apabila manusia tidak beribadah pada Tuhan. Maka lengkap lah, kehidupan ini.

Perbedaan menciptakan dan membuktikan adanya kehidupan.

Proses perjalanan manusia lahir di dunia dan kembali ke pencipta-Nya nyatanya penuh lika-liku coba. Tidak pernah tahu akan dilahirkan dari rahim siapa dengan kondisi yang bagaimana dan dengan warna kulit dan jenis rambut seperti apa. Apakah orang tua seorang Kiai, atau bandar narkoba, petinggi negara atau penjaga biara, ibu rumah tangga atau wanita penggoda. Lahir dan besar dengan berbagai macam tantangan. Terkadang ada hal-hal yang membuat perjalanan ini menjauh dan menyepi dari keramaian memuji Tuhan. Atau sebaliknya, keraguan menumbuhkan rasa penasaran untuk mencari jalan mengenal Tuhan.

Karena hidayah adalah murni urusan Tuhan. Berbeda dengan rahmat dan ridho Tuhan. Ini ditempuh dengan cara mematuhi perintah Tuhan sebagaimana yang ada di Al Quran dan Hadits. Jalur menjadi orang beriman dan bertqawa adalah cara mendapat rahmat dan ridho-Nya di dunia dan kehidupan setelahnya. Akhir kata, ibadah apa yang bisa kita banggakan untuk-Nya.

Sungguh, jika kamu ingin menjadi orang yang alim, maka belajarlah. Ingin menjadi orang yang kaya, maka bekerjalah. Ingin mengenal pencipta, maka beribadahlah. Tidak ada yang tiba-tiba. Semua perlu proses dan usaha. Inilah letak ikhtiar manusia. Bekerja bisa jadi jalan mendekat dengan Tuhan. Belajar di kampus bisa jadi salah satu cara mengenal kebesaran Allah lewat keilmuan.

Karena surga dan neraka adalah pilihan. Dengan nafsu dan akal, mana yang akan kita pilih untuk menuju jalan pilihan. Yang utama dan yang paling utama, tujuan hidup adalah mencari ridhoNya lewat ibadah sehari-hari yang kita jalankan.

Begitulah sedikit yang saya rangkum dari Yai Mukhtar.

Bawah masjid, 17/12/17

Wallahu a’lam bishowab..

 

 

Manusia sebagai Pengatur Dunia

Malam ini adalah malam jawaban. Beliau Ustadz Mukhtar. Sedikit menyita perhatian waktu tahu pertama kali cara beliau mengajar. Ada rokok di tangan. Sedikit kukerutkan kening. Namun, ketika duduk dan merendahkan hati untuk menerima ilmu dari beliau, batin ini terus tertunduk. Sambungan kitab Nashoihul ‘Ibad dan analoginya mudah diterima dan sesuai sekali (relatable) untuk kami.

Screen-Shot-2014-12-16-at-1.42.59-PM.png

Tentang Imam Sibli yang masuk surga karena rasa kasihnya terhadap seekor kucing, beliau menyatakan bahwa surga itu mutlak hak prerogratif Allah. Manusia tidak tahu jalan atau amal apa yang akan membawa ke surga. Juga kisah Imam Ghozali, yang jalur surganya tidak disangka-sangka. Beliau membiarkan si lalat yang dahaga meminum air tinta pena saat beliau sedang belajar. Tidak ada yang tahu. Masa yang sekarang dan esok akan seperti apa.

Itulah. Tentang surga dan neraka, ada seorang teman yang tidak memercayainya. Sehingga dalam keseharian, perwujudan aktifitasnya tertuju pada dunia, apa yang bisa dilakukan agar selamat dari dunia. Ini tidak bisa disamakan saat orang memercayai bahwa ada kehidupan sesudah kematian – akhirat. Orang yang percaya akan ini, segala perbuatannya di dunia seharusnya tertuju pada akhirat – untuk ibadah.

Dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56, “Wama Kholaqtul Jinna Wal Insa Illa Liya’budun ” (dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku).

Beribadah. Manusia diciptakan untuk beribadah. Beribadah yang seperti apa? Apakah menarik diri dari lingkungan untuk khusyu’ dan fokus beribadah pada Tuhan. Sedangkan manusia kini sedang hidup dan berada di dunia. Lantas, untuk apa sih urip neng donya? Untuk apa segala pepaes (perhiasan) yang ada kalau tidak untuk manusia?

Dan segala aktifitas kalau diniatkan untuk ibadah, maka jadilah ibadah. Bahkan hal-hal yang sangat keduniaan, tapi selama ditujukan untuk kehidupan yang kekal, jadilah bekal amal. Menjadi khalifah di bumi. Pengatur kehidupan di bumi. Adalah tugas manusia.

Terasa berat di usia hidup yang tidak lama untuk memelajari dunia dan seisinya. Untuk belajar banyak hal-hal di masa-masa terdahulu. Dan jawaban-jawaban atas peristiwa-peristiwa yang penuh tanya.

Dan beliau mengatakan, khalifah di sini bukanlah dunia secara literal dunia melainkan dunia sesuai kapasitas masing-masing. Bisa jadi menjadi khalifah untuk keluarga kecil adalah kapasitasnya dan jalan yang membawanya ke surga. Bisa jadi dengan menjadi istri yang mengurus rumah tangga dengan tulus ikhlas adalah jalan menuju ridho-Nya yang membawa keberkahan dunia dan kehidupan setelahnya. Bisa jadi menjadi pemimpin di komunitasnya adalah pemberian Allah untuknya untuk menjadi khalifah bagi anggota-anggotanya. Dan begitulah yang saya dengar dari mereka.

Wallahu a’lam bishowwab..

Yogayakarta, 18/12/17

 

 

 

 

 

Ibadah, untuk apa?


“Aku lihat orang-orang yang lempeng saja, tidak beribadah, mereka pun baik-baik saja,”

Beberapa kali pembicaraanku dengan beberapa teman yang aku anggap berada dalam prosesnya mengenal Tuhan. Mereka pekerja keras, rajin dan sangat ringan tangan menolong sesama. Tapi status muslim, tidak mengharuskannya untuk beribadah – shalat.

Islam tapi tidak shalat. Banyak orang di luar sana yang pada nyatanya seperti itu. Tapi itu terasa miris apabila mereka adalah orang terdekat, teman kuliah atau teman bekerja. Bukan merasa lebih baik dari mereka, tapi seperti bingung harus melakukan apa. Justru, pikiran mulai mempertanyakan keharusanku untuk beribadah di dunia.

Dengan ridho Allah, manusia diciptakan. Tidak ada pencipta yang tidak suka dengan yang diciptakan, bukan? Pasti ada alasan dan tujuan. Yang pasti, Sang Pencipta sayang dengan apa yang diciptakan. Lalu, bagaimana tentang keberadaan surga dan neraka Tuhan? Penyiksaan di neraka, apakah itu dibenarkan? Kenapa ciptaannya disiksa?

Naik turun iman aku rasakan. Betapa mengurangi kebiasaan ibadah satu per satu itu sungguh terjadi. Yang terpenting adalah shalat, cukup. Beberapa ikhtiar rutin, seperti puasa dan dzikir mulai terhruti. Untuk apa sebenarnya ini semua? Untuk mendapat suami yang shaleh? keturunan yang alim? Hanya itu? Satu demi satu mulai terpinggirkan, hingga aku merasa baik-baik saja jika tak melakukan.

Lebih dari itu, nilai-nilai dalam melakukan ibadah pun mulai dikesekiankan. Tapi melihat antusiasme teman sekamar yang sangat menikmati setiap pertemuan dahi dan lantai, membuatku bertanya kembali, kenapa aku tidak sekonsisten mereka? Mengapa aku mengambil jalur yang sedikit berbeda? Mempertanyakan.

Yogyakarta, 18/12/17

Kejujuran lewat Kabel Telpon di Film Everybody’s Fine

Salah satu film bagus untuk ditonton semua usia, terutama mereka calon orang tua dan yang sudah jadi orang tua. Film yang dibintangi oleh Robert de Niro (Frank Goode), yang bekerja di produksi kabel telpon, baru saja pensiun dari pekerjaannya dan kehilangan isterinya  sejak 8 bulan yang lalu. Frank Goode, tokoh utama ini, mengundang anak-anaknya untuk berkumpul bersama untuk pesta barbecue dan minum bir, tetapi di menit-menit terakhir, mereka membatalkan kedatanngannya dengan alasan masih banyak hal yang perlu dikerjakan dan tidak bisa ditunda. Sedikit kekecewaannya, dia upayakan menemui ke empat anak-anaknya.

20171128_103842

Sedang masak Turkey bersama – dokumentasi pribadi

Tujuan pertamanya adalah David, yang ia damba-dambakan menjadi pelukis terkenal. Tinggal di New York, ia tempuh dengan kereta. Sudah sampai di alamat David, tapi ternyata dia tidak ada di sana.

Tujuan keduanya adalah Amy, yang bekerja di agen periklanan miliknya sendiri. Anak Amy bernama Jack, mempersilakan Frank masuk saat ia baru saja sampai. Saat itu, hanya ada Amy dan Jack, tidak ada Jeff, suami Amy. Tapi, tidak lama kemudian, Jeff datang dan makan malam bersama. Di saat makan malam, Jack sangat memperlihatkan ketidaksukaannya kepada Jeff.

Selanjutnya adalah Robert di Denver, yang ia tahu sebagai konduktor grup musik besar. Setelah bertemu dengan Robert, Frank baru tahu bahwa Robert bukan seorang konduktor, tapi pemain perkusi yang mana sangat ia sukai dan syukuri. Itulah Robert, bukan konduktor seperti yang ayahnya pikirkan.

Robert bilang pada Frank kalau dia tidak bisa membersamai Frank karena dia akan segera terbang ke Eropa untuk konser. Tapi di akhir cerita, Robert hanya mengarang cerita karena ia tidak mau bercerita lebih banyak pada ayahnya, mengatakan kondisi David yang masih diperiksa di RS dan dijenguk Amy.

Terakhir adalah Rosie, penari terkenal yang tinggal di Las Vegas. Frank dijemput dengan mobil super mewah dengan penampilan Rosie yang juga serba mewah, tinggal di apartemen mewah. Sampai di sana, ada Jilly yang membawa anak – yang mana bayi itu adalah anak Rosie – bilang bahwa dia harus menitipkan bayinya pada Rosie.

Saat perjalanan pulang naik pesawat, Frank sesak nafas dan harus dirawat di Rumah Sakit. Hasil pemeriksaan dokter bahwa Frank terkena serangan jantung. Kala itu, Amy, Robert dan Rosie berkumpul untuk melihat kondisi ayahnya, kecuali David. Mereka akhirnya bilang bahwa David meningggal karena over dosis narkotika.

Dalam tidurnya selama sakit, Frank duduk bersama dengan anak-anaknya yang masih kecil. Dia bertanya kenapa mereka, kenapa tidak berkata jujur.

“I tell you the good news and spare you the bad. Isn’t that what mom used to do for you when we were kids?”- Amy (Everybody’s Fine)

Itu lah jawaban Amy. Kabiasaan ibunya yang hanya membicarakan hal-hal bagus untuknya yang sesuai harapannya. Jadi, berita-berita buruk disimpan karena tidak sesuai yang Frank harapkan. Mereka mengungkapkan alasan selama ini mereka terpaksa berbohong atas berita buruk yang menimpa mereka. Bahwa Amy bercerai dengan Jeff. Bahwa Robert mengarang cerita akan konser ke Eropa karena tidak mau bicara banyak pada Frank. Tentang Rosie, yang menjadi pelayan kafe dengan satu anak. Itu semua bukan harapan Frank sehingga anak-anaknya mencoba tidak memberitahukan berita itu pada Frank.

Anak-anak yang terbiasa bercerita pada ibunya, karena dia seorang good listener (pendengar yang baik) dibandingkan ayahnya good speaker (pembicara yang baik), tidak terbiasa menceritakan kabar-kabar buruk tentang mereka. Tapi, dari peristiwa ini, Frank ingin anak-anaknya menjadi terbuka dengannya dengan menceritakkan kabar baik dan kabar buruk tentang kehidupan mereka. Ia pun mengatakan bahwa dirinya bangga dengan keadaan dan pencapaian mereka, yang terpenting adalah kebahagiaan mereka. Seperti kalimat pertanyaan yang ia tanyakan satu per satu pada anaknya sebelum berpisah, “are you happy?”. 

Jadi teringat saat di kelas Babe, kalau hidup harus dinikmati. Sebagai orang tua, membiarkan anak berkembang menjadi apa yang mereka banggakan, bukan orang tua banggakan. Tidak memaksa kehendak orang tua pada anaknya, dengan mempersiapkan masa depan sedemikian rupa, karena sebenarnya masa depan sudah ada di depan mata.

Pertama nonton film ini, tersentuh sekali dengan kisah dan nilai-nilai cerita. Teringat Bapak yang belum lama ditinggal Ibu dan kini hidup sendiri di rumah. Kedua kalinya, masih teringat Bapak. Betapa komunikasi sangat penting sekali bagi Frank, seorang pekerja di produksi kabel telpon yang menghubungkan banyak orag dengan berita baik dan buruknya. Tapi ia sendiri, belum bisa berkomunikasi dengan baik dengan anak-anaknya, yang menyembunyikan segala berita buruk darinya.

Tentang kabel telpon. Tentang Frank yang memfoto aktivitas anaknya dengan kameranya. Tentang perjalanan Frank naik bis dan kereta. Alunan musik film. Bagus!

 

Informasi Film

Judul               : Everybody’s Fine

Genre              : Adventure, Drama, Komedi

Sutradara       : Kirk Jones

Produser         : Gianni Nunnari, Ted Field,  Vittorio Cecchi Gori, Glynis Murray

Aktor                : Robert de Niro, Drew Barrymore, Kate Beckinsale, Sam Rockwell

Rilis                  : 4 Desember 2009 (USA)

Distributor      : Miramax Films (USA)

Durasi               : 99 menit

 

Hujan yang menyatukan kamar bambu atas,

28 November 2017

 

 

Uwis Rampung Ngajar 

Ekspresi Batin

Persiapan. Sudah jadi syarat utama seorang pengajar menyiapkan semua bahan-bahan yang akan dipakai di kelas. 

Ngajar pertama saya, berantakan. Mulai dari teknis dan persiapan. Tapi sudahlah, itu sudah jadi skenario Tuhan supaya ngajar ke dua saya lebih banyak persiapan.

Alhamdulillah, sudah. Persiapan unduh video kenalkan wisata di Jogja cukup dan instruksi latihan yang memadai tepat. Perlu berjam-jam sebelum kelas, urutan teknik kelas yang runtut datang.

Saya, senyum yang paling ikhlas karena sudah ngajar dengan persiapan yang lebih baik dari sebelumnya.

Yang tengah, mbak Nanda, nahan runyamnya batin karena akan ngajar pertama kalinya di hadapan akang-akang dari China yang seringnya menggodainya.

Yang paling kanan senyum tapi tetap memperlihatkan kekhawatiran yang tertunda, wkwk.

Dan selalu berpegang pada kompetisi diri sendiri, yang mana lawan adalah ‘saya’ yang kemarin, dan harapan adalah ‘saya’ yang esok. Jangan sampai keluar jalur, membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Ingat, ini skenario Tuhan. Peristiwa dan proses dalam hidup seseorang berbeda-beda. Menjadi sebaik-baiknya ‘saya’ jauh lebih sempurna. 

Perwakilan Kelompok Presentasikan Rencana Jalan-jalan di Jogja


Janjane Kepriye sih Cah Sastra Iku

“Cah sastra ki waton mlaku, ngalir.” 

“Orang yang IPK nya 4 itu bukan orang sastra,”

“Spaneng banget, cah sastra ki nyante, sik penting utekke,”

Begitulah, akhir-khir ini pikiranku bergelantung ke ayang-ayang apa maksud sebenarnya perkataaan itu. 

Aku yang seperti ini, bukan mbak-mbak yang rapih banget tatanan lemarinya dan lipatan bajunya. Bukan yang rajin banget dan tertata jadwal hariannya. Dan sekalipun iya, itu tidak bertahan lama. Juga bukan mbak-mbak yang rajin banget ngerjain tugasnya, tapi dengan menunda, kekuatan ide baru tergambar jelas di bayangan, kemudian tangan yang seketika mengetik tepat beberapa jam sebelum harus dikumpulkan.

Apakah itu gambaran cah sastra? Jawaban saya tidak. Hati saya tidak tenang menghadapi itu semua. Waktu yang cepat berjalan karena harus satu persatu tugas ditunaikam membuat otak sedikit cepat memanas di malam hari. Alhasil harusnya lembur tapi tidur karena tak kuat mengemban beban pikiran. 

Ataukah kurang aware terhadap suatu persoalan membuat luka-luka kekecewaan saat gagal kian melebar. Tak pikir kok ya demikian. Kurang perhatian. Merasa sibuk tapi memang sibuk. Tak pikir semua yo sibuk nek pingin gak dadi pengangguran. Tapi sibuknya yang jadi perhatian. Sibuknya belum tepat sasaran.

Itu, ada teman yang sanggup meluangkan waktunya pacaran. Tak tanya, mbak pernah ngga sih mikir hidup mbak untuk apa? Jawabannya tidak memuaskan. Tapi mbaknya rajin, cantik, santai, dan tenang. Ada lagi ibu-ibu yang Subhanallah profesional dalam pekerjaan, mudah menarik perhatian, mampu mencairkan ketegangan, mungkinkah dia selo sehingga bisa mengakomodir semua kalangan?

Jawabanku tidak. Belio banyak kerjaan. Harus bagi tugas rumah dan kantor. Tapi pembawaan, yang tetap tenang dan fokus bisa membawanya terlihat baik-baik saja. 

Bukan berarti sibukku ini lebih baik dari yg tidak sibuk. Tetapi apa faedah yang bisa diambil. Orang tidak sibuk tapi banyak belajar kehidupam juga banyak. Orang sibuk tapi makin liar dan ngga karuan juga banyak. Dan orang sibuk tapi tahu betul kesibukannya akan membawa perbaikan juga banyak. Tinggal pilih. Mana jalan yang baek. Yang bisa jadi tuntunan. Kata beliao sang guru, orang berilmu ya belajar. 

Akhir kata, cah sastra opo ora, sik penting reti opo iku sek mbuk lakoni. Nek gak ngerti, sekirane apik yo tetep dilakoni. Gur bab style. Gaya. Kakean gaya apik. Nek pancen gayamu iku yo rapopo. Ora kudu podo.

Ora perlu mandang wong liyo. Ngetiyo awakmu dewe. Wis reti awakmu rung? Karepe piye? Senenge piye? Pingin kaya piye uripe?

Kampus Humaniora

15 Nov 2017

Pingin Sakit, Sudah Bosan Sehat

Sakit. Sudah sejak lama aku menginginkannya. Entah kenapa, rasa rindu sakit datang saat melihat teman sakit. Rindu merasakan sakit. Rindu mendapat perhatian dan kasih dari orang terdekat. Rindu, rindu istirahat sejenak dari khayalan dan harapan yang tak kunjung datang. Rindu untuk hanya berpikir, aku pasti akan sehat. Rindu dengan ibu. Kata kata yang terdengar dari mulutnya di saat raga lemas tanpa daya. Rindu saat Ibu memintaku minum obat, tapi aku hanya bilang keroan saja sudah cukup.

Kali ini, rindu itu terwujud. Rasa sakit. Sakit fisik. Sakit yang tidak biasa kurasakan di kala aku sehat. Sudah beberapa hari ada rasa yang tidak biasa di badan. Mual, mudah pusing, dan lemas. Secara sadar, ini karena kelelahan akibat begadang. Yang ku sambungkan dengan kopi. Hasilnya, seharian tidur tanpa makan. Mulailah dari situ. Bersepeda ke kampus aku ganti denga Trans Jogja (TJ), satu-satunya transportasi publik yang memungkinkan kujangkau. Puasa ku hentikan dulu. Alih-alih mau mendapat fisik yang membaik. Mengatur alarm untuk tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Semua karena aku ingin merasakan sehat lagi. Rasa rindu akan sakit sudah terobati. 

Saat sehat sudah hampir datang, tiba-tiba muncul sakit lain di bagian badan yang lain. Ini membuatku benar-benar berpikir, dosa apa yang telah kuperbuat. Apakah ada hak-hak orang lain yang kuambil? Apakah ada kewajiban yang belum kutunaikan?

Mulai berpikir. Sampai pagi ini, aku membuka buku ‘Uncommon Sense’ oleh Dr. Mel Gill. Halaman pertama yang terbuka di pelupuk mata tentang Pain. This might be the answer, dalam hati. Aku baca berulang dengan seksama.

Buku ini masih minjem, tapi aku mau punya sendiri; Uncommon sense, buku sakti!

Rasa sakit, bisa jadi tanda untuk tubuh berteriak meminta perhatian. Beberapa orang akan mengaku kuat, sehingga mengabaikan rasa sakitnya. Tapi nyatanya, rasa sakit adalah tanda tubuh minta perhatian, nutrisi atau sesuatu yang belum ia terima.

Terkadang itu tanda stres dan hanya perlu waktu istirahat. Nyatanya, sakit mental dan emosi adalah dua hal beda tapi saling berhubungan. Salah satu penyebab sakit adalah harapan yang belum juga datang. Rindu akan orang-orang tersayang. Ya, aku rindu keluargaku. Orang-orang yang bersamaku, ada untukku, waktu aku kecil dulu. Kenangan itu muncul dan seakan aku ingin kembali ke masa itu. Saat masa-masa kecilku, dengan ibu bapak dan kakak adik di rumah.

Rasa rasa kehilangan mulai muncul saat kakak pergi ke pondok dan pulang hanya sekali sebulan. Keberangkatannya selalu jadi pilu tersendiri di hati. Tapi waktu menenangkanku. Makin lama, pilu itu memudar bersama waktu.

Bagaimanapun, waktu telah merenggutnya, waktu memaksanya pergi, waktu mengubah hari itu, waktu mengganti waktu itu. Kini ibu tiada, bapak sendiri, kakak di ibu kota, adik di pondok yang kabar keinginan pindahnya selalu membuatku khawatir. Apa yang waktu telah perbuat sehingga segala sesuatu bisa jadi seperti ini. Berubah dan terus berubah. 

Mungkin kerinduan itu, yang  menggangu pikiranku. Berharap kalau waktu bisa mengembalikan masa itu. Waktu bisa menghadirkanku di ruang dan waktu kala itu. Tapi nyatanya, ia tak mau.

Tak hanya kerinduan akan waktu yang sudah berlalu, tapi kepastian waktu yang belum tahu. Harapan demi harapan kusematkan agar hidup terarah ke tujuan. Seperti kata orang bahwa seseorang harus punya target dalam menapaki kehidupan. Ya, harapan itu tak kunjung bertemu. Dan tinggal dengan harapan-harapan yang semu, akan memicu rasa sakit, kekecewaan. Sakit itu, yang menjadi tanda fisik, yang tidak menerima kepuasan atas keinginan dan harapan.

Menurut buku ini -yang mana sudah ada bahkan ribuan tahun lalu- mengurangi harapan dan keinginan adalah prinsip sederhana, bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Dengan menganggap bahwa setiap pertemuan adalah hadiah. Bahwa keberadaan orang-orang adalah penggerak jiwa. Bahwa setiap momen adalah karunia.

Tapi bagaimana kalau mereka meninggalkan kita? Orang-orang yang kita anggap membahagiakan, satu demi satu hilang dari pandangan? Jawabannya, tidak perlu merasa sendiri atau merasa sedih meratapinya, tapi justru menjadi yang membahagiakan.

Daripada menunggu orang lain memberi kebahagian, bersyukurlah dan berbahagialah atas orang-orang yang ada di sekitar kita. Tentu, mengikhlaskan mereka yang pergi akan perlu waktu. Dan itu bagian dari proses mendewasa menuju kematangan emosi dan tentunya spiritual.

#Di kamar bambu dengan cahaya matahari yang memaksa masuk di sela-sela anyaman, aku sampaikan salam rinduku padamu, Ibu. Saat aku terbangun dari mimpi ini, aku akan memelukmu erat dan bercerita tentang semua peristiwaku, bahagia dan piluku bertemu dengan orang-orang yang mengisi kekosongan waktuku.

Yogyakarta, 6 November 2017

Catatan santri – 12/09/2017

Mengambil pelajaran hidup itu bisa dari mana saja. Dari peristiwa yang kita alami, cerita orang lain, cerita terdahulu, dari buku, dan lain sebagiannya. Belajar tak mengenal ruang dan waktu. Manusia butuh belajar sampai bertemu ajal.

Belajar di sini, di lingkungan ini, ternyata banyak juga. Dengan catatan jika mau dan mampu. Pelajaran yang paling mengena sekarang adalah tentang olah rasa. Jumat kemarin, saya belajar dari simbah mampu mengolah rasa dengan baik. Tidak mementingkan raganya melainkan rasanya. Salah satu nasihatnya di sela-sela membuat cookies adalah bahwa dalam hidup, kita akan saling bekerja sama mencapai tujuan masing-masing, juga tujuan bersama. Dalam melakukan perbuatan yang baik, kita tidak perlu pujian. Juga dalam kesalahan, kita tidak perlu cacian. Yang dibutuhkan adalah kesabaran agar mencapai tujuan. 

Disambung dengan dhawuh Kyai dalam bandongan kitab Riyadhus Shalihin, bahwa merasa yang terbaik itu akan menurunkan derajat kita. Tetapi, merasa yang terbaik berbeda dengan melakukan yang terbaik. Kita semua perlu melakukan yang terbaik. Tapi apa-apa yang sudah kita capai, kita punya, dalam bentuk prestasi, harta dan kekayaan itu jangan sampai mebuat kita menjadi lebih baik dari pada orang lain.

Dengan begitu, timbullah sifat sombong. Sifat yang akan menjerumuskan manusia ke neraka. Tentang sombong, masih dalam bandongan, bahwa sombong itu letaknya ada di hati. Bagaimana dengan rumah mewah, pakaian bagus, gawai canggih, yang dimiliki seseorang? Itu belum tentu bagian dari sombong. Karena semua fasilitas terbaik yang kita miliki, bisa jadi alat untuk berjuang di jalan Allah. Contoh, sebagai muslim, kita wajib memuliakan tamu. Apabila punya banyak tamu, rumah mewah adalah cara untuk memuliakannya, maka itu sah sah saja. Juga berpakaian rapi dan bagus, tidak mau dicap muslim yang kumuh dan dekil bukan? Jika berpakaian rapi adalah caranya, maka itu sangat dianjurkan.

Mengolah rasa, mengolah batin adalah keahlian yang perlu dilatih. Menurut buku yang berjudul Sunan Kalijaga, itu bisa dicapai dengan riyadlah atau latihan dengan tujuan mencari jalan taqwa. Ini bisa dilakukan dengan banyak cara. Kalau di pondok ini, contoh bentuk riyadloh santri di sini adalah melakukan ngrowot, mutih, bilaruh. Ibaratnya air laut yang tidak terkena ombak, maka air akan terlihat lebih bening. Juga rasa menahan nafsu untuk makan makanan yang sudah menjadi kebiasaan, itu adalah bentuk latihannya, sehingga dalam berdoa bisa lebih khusuk.

20170902_123809

Pantai Parangtritis dari Petilasa Kakek Bantal 

 

Berbicara tentang doa, itu adalah bagian dari mantra manusia dalam kehidupan sehari-hari. Doa adalah keyakinan. Dalam doa, terbesit harapan agar menjadi kenyataan. Maka dengan bahasa apapun, doa sangat mungkin qobul asalkan dengan keyakinan. Banyak doa yang tidak qobul. Bisa jadi itu berhenti di bibir saja. Tidak dengan batin, rasa. Karena keyakinan lewat kata-kata bisa menarik energi di sekitar. Dalam novel Paulo Ceilho di Alchemist,

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

Akhir kata, percayalah, sangkan paran kita ada maksudnya, pesannya. Raga boleh jadi pergi kapan saja, tapi amal akan tersjaga selamanya.  

 

Di kamar pink, yang sekarang terindikasi ada tikus lagi,

Akan kubiarkan malam ini saja dia menginap

Dini hari, 12 September 2017

 

Catatan Pengajar BIPA – 06/09/2017

Kali ini, saya akan memperkenalkan kalian dengan murid saya, bernama Luca L. Bacanya ‘Luka’ ya, yang sering dipakai di bahasa Indonesia untuk menerangkat keadaan sakit. Dia adalah mahasiswa Jerman yang akan satu tahun belajar di fakultas filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM). Secara kemampuan, dia termasuk false beginner, yang sudah tahu sedikit bahasa Indonesia, baik kata dan ekspresi. Yang menarik dari kelas dia adalah, ditunjukknya saya menjadi ketua kelas, yang mana itu pertama kalinya saya menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kursus seorang murid.

buku

Buku BIPA

Awalnya, saya sedikit bingung, apa yang seharusnya saya lakukan sebagai ketua kelas. Setelah mendapat masukan dari guru-guru, sedikit ada bayangan bagaimana mengarahkan kelas agar murid mendapat tujuan belajarnya. Apalagi, kenyataan bahwa kemampuan dia sudah sampai di B1 dan sudah waktunya mengenal tata bahasa di bahasa Indonesia. Selain, saya biasanya mengikuti jadwal dan konsultasi dengan guru lain saja, yang pasti, menjadi ketua kelas, punya rasa yang berbeda ketimbang hanya menjadi tim guru. Pun menjadi tim guru, tidak semudah untuk sekedar mengajar, tapi perlu mengikuti kemajuan murid dan persiakan materi.

Akan tetapi, kebiasaan untuk tidak menyiapkan kelas secara rinci sering saya lakukan. Hasilnya, saya sering gelagapan menit-menit terkahir sebelum mengajar. Sehingga, banyak sekali hal-hal yang mengejutkan dan memalukan terjadi di kelas. Tentu akibat kurang persiapan.

Hari ini, saya mengajarnya dengan baik, saya pikir demikian. Saya menyadari, bahwa mengajar bahasa Indonesia sangat memerlukan pengetahuan dalam banyak topik. Kemampuan mengobrol juga sangat penting agar murid bisa menikmati alur pembicara untuk memahami arti kata-kata baru dan arti konteks suatu kata atau frasa. Dengan banyak merasakan bahasa Indonesia dari segi arti dan konteks, mengajar bahasa Indonesia terasa lebih mudah. Ditambah banyaknya referensi cerita, informasi dan pengalaman, serta pemahaman budaya Indonesia, akan sangat membantu kegiatan-kegiatan yang ada di kelas.

Seperti di kelas tadi, saya menceritakan tentang pernikahan, topik yang sering sya bicarakan denga teman-teman saya di kamar, juga tentang liburan saya di salah satu wisata air di Jogja, dan kegiatan pengabdian organinsasi saya di desa Duwet, Kulon Progo. Itu menjadi pengetahuan baru buat dia, di samping juga mengenal dan memahami kosa kata baru yang saya sering lontarkan.

Meminjam kata-kata saat mengikuti simposium BIPA,

Punya tujuan capaian belajar yang jelas, namun luwes dalam pendekatan.

Tujuan belajar Luca, cukup jelas, untuk membantunya memahami percakapan di bahasa Indonesia dan mengenal budaya Indonesia. Dengan pendekatan obrolan tentang kebiasaan dan fakta-fakta yang di Indonesia, saya pikir cukup mewakili tugas guru BIPA.

 

Suatu siang sesuai mengajar,

6 September 2017

Yogyakarta