The World of The Married

People have been talking this K-drama since 2020. Not many K-dramas I watch but this one, I finally decide to pick. Watching this drama for few days, I could not stop my self to admire every element that played my emotions a lot. Besides it has caught many attentions, the movie talks about ‘marriage’ in which most people would have that important event. Thus, there is no way to delay this exceptional performance produced by JTBC Studio, South Korea.

Giving up on tears in order to follow the story plot, I just don’t want to only save this in my mind but also in my blog, at least. While there are relatable scenes that I could just connect to my own life, others could have been meaningful lessons to learn from the characters. This would be categorized into several points including marriage-divorce, negative society and depression.

Marriage-divorce

First, let’s talk about the marriage-divorce. No one would plan to end up in a divorce when they decide to marry someone. An illusion, as Dr. Ji mentioned, is what the definition of marriage. She is going to build a family full of happiness in their marriage. Until an affair shows up in her mind, she is not able to handle many things that her husband, Lee Tae-oh, keeps secret from her. The beautiful marriage started to fail in a divorce. Of course, it would not that simple. The kid that they have raised still need their attention, more importantly mom and dad’s figure. However, the time when Dr. Ji want to save her marriage for Jun-Yeong sake, it just can not be successful. It has been too much lies and heart-broken there.

Even finally Jun-yeong lived with Dr. Ji, he had no idea what is happening between both his mom and dad. His emotion is unstable so that he might think to live with his dad and her step mother, Da Kyung. Even tough she intensely approaches Jun-Yeong to feel welcome in his new family, she failed. Jun-Yeong could not suddenly accept significant changes in his life. He feels uncomfortable after moving in.

The fact that Lee Tae-oh and Dr. Ji are still in love made me wonder how can their feeling can change so quickly. From the very enemy to destroy each other, they suddenly could care just like a common family. The moment when they become a monster, what they want is to follow their anger resulted from betrayal. Actually, I am hoping that when Da Kyung decides to leave GoSan, Dr. Ji could forgive for the second chance of Tae-oh. I wonder that isn’t there any feeling left to be a family again? Maybe if Jun-Yeong wants his father back, Dr. Ji would consider to reconnect with him. However, when Dr. Ji help him to find his job would be a little appreciation of the ending. I feel pity to Tae-oh who has worn the same cloth for a month.

“Don’t be like me.” The message that Tae-oh wants for his son could imply that he is full of regret to tear his family apart. “Never leave someone that has put a lot of efforts to take care of you.”

Negative Society

Dr. Ji surrounded with notable and good friends. It turns out that it is not what she has thought. A friend could so care yet they talk you behind. The words from their mouth could be so hurtful. It is just not what it looks like. They just do not really understand the truth. Fortunately, dr. Ji has dr. Kim who intentionally wants to help her. He keeps silence and offer an act of help that has been so important for Dr. Ji.

Getting involved in someone’s problem would not be always a good idea. You need to be careful either you want to make their problem less or more suffered. In fact, the Association of Woman in GoSan are a true example of our society that they are exist everywhere in the world. The meeting would be full of updated news that they know nothing about. They might be curious but just to share to others about someone’s sorrow.

Depression

Some characters are mentally ill once they experience rough events. The loss of the loved ones. Some characters portrayed that they lost their mind once they are grief and empty. Park In-gyu who abused his girlfriend physically and mentally and Dr. Ji who sank herself at the beach are an obvious example that depression could lead to a serious problem.

Pipi Lalu Cindil

Dipaksa tinggal di rumah karena pandemi adalah awal ceritaku mengenal Pipi lalu Cindil. Mereka berdua adalah dua kucing yang seumuran yang hadir di tengah-tengah kami, aku dan adikku Risma. Kami setiap hari melihat tumbuh kembangnya dari usia kecil hingga menuju dewasa. Ternyata tidak sampai benar-benar dewasa, mereka berdua pergi meninggalkan kami, berdua di rumah bersama Popo yang baru berusia dua bulanan. Tidak ada lagi suara ngeong dan kelucuan yang mereka ciptakan lagi. Tidak ada keramaian saat makan siang. Tidak ada kehangatan tiap malam dan kerinduan setiap membuka mata tiap paginya.

Popi, maaf kami membuangmu

Dalam suatu keheningan skroling media sosial, dalam hati saya berdoa untuk diberi hewan peliharaan kucing yang lucu. Suatu hari di pasar, kami melihat ada satu kucing lucu berwarna hitam corak putih. Dia masih kecil sekali, usia 1 -1,5 bulanan. Diantara reriuhan para pembeli dan pedagang, saya dan Risma berinisiatif mengambilnya untuk dibawa pulang. Kami memasukkannya ke keranjang belanjaan dan tidak pikir panjang tentang pendapat orang. Sampai di rumah, kami menamainya Popi. Tidak ada alasan khusus kenapa namanya Popi. Dia sangat lincah dan tidak mau diam sampai kami harus menutup pintu agar dia tetap aman. Baru setengah hari di rumah, dia mengeong tanpa saya pahami apa maunya. Setalah menengok tempat tidur yang dia tinggali, ternyata dia pup. Dan alamak, sprei langsung saya ringkus ke belakang. Risma dan Bapak setuju kalau Popi dibuang kembali ke jalan. Semalaman saya khawatir, dia sedang apa dan di mana.

Tuhan mengirim Pipi lewat Mimi

Mimi adalah kucing perempuan yang sering sekali mampir ke rumah. Kami menamainya Mimi, sesederhana karena dia kucing yang sedang menyusui, dia adalah seorang ibu. Tak jarang saat saya lengah menjaga ikan di dapur, Mimi segera mengambil ikan persediaan kami. Pernah suatu hari kami punya sebungkus plastik kecil daging yang kami rebus. Masih ada di atas kompor, Mimi mengambilnya sepotong dan berlari terbirit-birit keluar sambil kami teriaki dan hampir maki-maki. Kami pun mulai paham kucing mana yang beberapa kali memakan ikan kami di dapur.

Namun kami tetap menerima Mimi, sambil kami kasihani. Semakin sering Mimi ke rumah kami, untuk sekedar melihat dapur apakah masih ada makanan untuk dicuri. Suatu hari, Mimi datang bersama kucing kecil yang kami yakin itu adalah anaknya. Kami senang kegirangan karena dia sangat lucu. Matanya besar bundar dan terlihat bersih. Dua hari sekali dia mampir ke rumah. Tapi setelah seminggu, dia engga pergi pergi lagi. Pipi menghiasi hari – hari kami. Dia sangat suka bermain apapun. Yang paling sering, Risma ajak dia bermain pakai tali memutar-mutar ruangan. Seperti memetik daun bayam, dia senang sekali memainkan batangnya.

Cindil datang menemani Pipi

Cindil tetiba datang ke rumah. Kondisinya lusuh, kurus dan bau. Kami tidak tau dari mana dia berasal. Kami coba usir dan menutup semua pintu. Tapi karena ukuran tubuhnya sangat kecil, dia bisa menyelinap masuk ke rumah kami. Ekor Cindil sangat panjang, itu kenapa kami memanggilnya Cindil, karena dia seperti cindil (anak tikus) yang badannya kecil ekornya panjang. Kami coba lagi mengusir Cindil, tapi dia merengek nangis dan tetiba sudah di rumah lagi. Ketika kami lihat Pipi bermain asyik dengan Cindil, kami seketika berpikir kalau Pipi dan Cindil memang sudah berteman. Kami masih terheran kedatangan Cindil yang sangat tiba-tiba dan dari dirinya ingin sekali tinggal bersama kami. Berkali-kali kami tanya, “dari mana tau rumah ini?” Dia hanya mengeong tanpa menjawab pertanyaan kami.

Popo datang menghampiri kami di dapur. Dia adalah adik Pipi, dari rahim Mimi. Hari itu kami mau perjalanan keluar kota. Cindil dan Pipi terlihat marah melihat Popo yang baru ditemuinya pertama kali. Setelah beberapa hari muncul di rumah, mereka bertiga akhirnya bermain bersama. Tak jarang Popo mau minta susu Pipi yang berjenis kelamin laki-laki. Maklum, Popo masih cukup kecil dan perlu mendapat ASI dari Mimi. Namun Mimi sudah mulai hamil sehingga sudah melepas Popo secara mandiri. Beruntunglah Popo menemukan rumah kami. Dia sangat aktif dan lincah, sampai kami harus mengurungnya kalau lagi makan karena dia mereput makanan siapapun kalau makan. Dia masih belum bisa mengubur kotorannya, juga membersihkan kelaminnya. Tapi dia cukup lucu kalau diam. Sangat menenangkan.

Pipi ikut ke pasar

Setiap pagi saya sangat suka sekali melihat Cindil dan Popo tidur bersama. Cukup di box beralas beberapa kain mereka cukup suka tidur berdua di sana. Saya sempat memotret keduanya saat pagi hari karena merasa sangat bersyukur bisa melihat dua kucing kakak adik beda ibu yang sangat akur. Berbeda dengan Cindil dan Popo, Pipi selalu tidur di bawah selimut Risma. Pipi memang cukup manja. Dia ikut kami sesaat setelah kami keluar dari rumah. Pelan-pelan, dia berjalan lalu lari mengikuti, meski kami tidak berjalan beriringan. Risma memaksaku untuk memasukkannya ke rumah. Tapi aku larang, supaya kita tahu bagaimana Pipi mengikuti kami. Ternyata hampir sampai pasar. Kami memutuskan untuk putar balik membawa Pipi pulang dan mengurungnya.

Popo menghilang

Sepulang dari pasar, kami melihat Cindil dan Popo bermain bersama di depan rumah tetangga. Kami pun mengajak mereka masuk ke rumah. Cukup khawatir dengan Popo yang masih kecil sudah main-main di luar rumah. Cindil dan Popo cukup dekat selain mereka tidur bersama, mereka sering bermain kejar-kejaran dan ckar-cakaran. Tapi malam itu, Popo tidak kunjung pulang. Aku cukup khawatir dengan kondisinya. Malam itu Cindil juga tidak terlihat.

Tiba-tiba Cindil datang dan bermain sebentar dengan Pipi. Lalu Cindil keluar memaksa membuka pintu saat kami mau tidur. Terpaksa saya bukakan dan Cindil terlihat panik mengajak Pipi keluar juga. Saya hanya berharap semua baik-baik saja meski agak khawatir dengan kondisi Popo. Pagi itu saya bangun dan melihat Pipi masih tertidur bersama kami. Tapi Cindil tidak terlihat di tempat tidurnya, mungkin dia tidak pulang semalaman.

Pagi itu saya memasak di dapur dan teringat saja dengan Popo. Tetiba dia datang dengan tampang yang lusuh dan lemas dengan banyak kotoran semcam daun bayam di badannya. Dia tetap berjalan tertatih masuk ke rumah dan minum air di tempat yang biasa kami sediakan. Saya coba gendong dan tempatkan di tempat yang empuk. Badannya lemas sekali. Dia juga tidak mau makan kala itu. Ini adalah awal dari kesedihan melihat kucing-kucingku selama kami tinggal bersama.

Popo mulai membaik

Popo ternyata punya banyak luka cakaran ditubuhnya. Ada juga beberapa kulitnya yang sobek di bagian dada. Saya tidak tega melihatnya, dan takut sekali kalau dia meninggal. Kami coba obati pakai betadin dan cairan revelon. Pelan-pelan saya pasangkan perban tapi Popo akan menjilat dan melepasnya. Setiap pagi saya coba taruh Popo di bawah terik supaya dia bisa berkatifitas. Popo mulai nafsu makan dan bicara pelan-pelan saat waktunya makan.

Pipi menghilang dua malam

Hari Jumat pagi, Pipi Mimi dan Cindil makan sedikit nasi yang saya urap dengan ikan. Tentu itu tidak cukup bagi mereka. Pipi keluar rumah dan saya dengan jail cipratkan air bekas saya mencuci tangan. Dia buru-buru lari menuju keluar. Saya kembali melanjutkan aktifitas. Tidak ada firasat apapun hari itu, hanya saja ada yang hilang, “Pipi kok ngga kelihatan,” kataku. Sampai malam, Pipi engga pulang. Ada kucing yang bertengkar di luar rumah, dan saya khawatir itu adalah Pipi yang di kejar-kejar Kumis, kucing psikopat yang sering menerkam Pipi, Cindil dan kemungkinan besar Popo dicakar sampai babak belur.

Malam kedua pun berlalu. Risma berpikir kalau Pipi menemukan majikan yang lebih memanjakannya. Tapi saya tentu tidak berpikir demikian. Sekali lagi ada perasaan takut tapi tidak tahu harus ngapain selain berharap Pipi dalam kondisi terbaiknya. Keesokan harinya saya rewang ke tetangga dalam rangka memperingati 1 tahun kematian anggota keluarga. Dari situlah saya mendapat informasi kalau ternyata Pipi meninggal karena keracunan tikus. Sedih. “Kenapa baru taunya di hari ke tiga. Kenapa egga dikasih tau ke kami. Kenapa harus meracuni tikus?” Sejenak penyangkalan itu muncul di benak. Tapi harus ditahan dulu karena ngga mungkin saya tersedu menangis saat sedang bikin adonan onde-onde.

Setelah dirasa cukup rewang seharian, saya memutuskan pulang ke rumah dan memberitahu adik saya Risma kalau Pipi sudah ngga ada. Kami cukup sedih karena tidak menyangkan Pipi yang tumbuh besar, gagah dan sehat ternyata bisa mendadak pergi dalam hitungan jam, tanpa kita tahu sebab dan wujud terakhirnya.

Ikhlaskan Pipi, syukuri yang ada

Pipi sudah pergi. Masih ada Cindil dan Popo, yang masih kami bisa jaga dengan sebaik mungkin. Hari-hari setelah Pipi pergi, bayangannya justru makin muncul dengan jalas. Awal kedatangannya saat dia masih kecil, hingga sekarang sudah menjelang dewasa. Waktu 7 bulan bersama bukanlah waktu yang singkat untuk seketika terlupakan. Kami sangat sangat terhibur dengan kehadiran mereka. Rumah sudah cukup komplit hanya dengan saya Risma dan mereka.

Cindil menyusul Pipi

Setelah kepergian Pipi, rasa sayang dengan Cindil dan Popo semakin tumbuh. Cindil terlihat sudah sangat besar dan tampan kalau dibandingkan dengan dirinya yang dulu kurus, lusuh dan kotor. Kami setiap malam tidur berempat di ranjang yang sama. Hujan berhari-hari membuat Cindil dan Popo lebih banyak main di rumah. Malam itu, Cindil sudah mau tidur tapi diganggui oleh Popo dan akhirnya meeka kejar – kejaran sampai cukup larut. Malam pun sudah cukup larut dan akhirnya kami semua tertidur.

Pagi yang cukup cerah, hanya ada Popo di kamar. Sepertinya Cindil sudah keluar cari makan. Rupanya kelas pagi saya di mulai jam 8. Sudah ada Bapak datang membawa sarapan, kami makan bersama pagi itu. Saya pergi duluan karena harus mengajar. Di tengah-tengah kelas, paketan saya datang. “Wirda apa Risma?” tanya tetanggaku ke kurir. “Wirda,” Saya menerima paket itu dan kembali melanjutkan kelas. Hal yang saya tunggu-tunggu adalah unboxing semua item yang saya pesan karena saya cukup sulit menemukan video unboxing untuk aksesoris laptop saya.

Saya hampiri Cindil yang muntah-muntah di kamar. Ada lendir keluar dari mulutnya. Saya usap perlahan karena dia cukup ketakutan kalau muntah-muntah, takut kami marahi. Selang beberapa menit, dia muntah lagi sambil berlari mendekati meja di ruang tengah. Aku coba minumi air dan hampir menambahkannya garam. Tapi masih ragu ini muntahan biasa atau dia sedang benar-benar kesakitan. Saya lanjutkan unboxing lagi berharap Cindil segera membaik. Tapi dia meraung seperti memang kesakitan. Aku coba tenangkan dengan mengelus-elus bulunya. Tapi dia justru lari keluar dan aku malah fokus memasang screen guard.

Setelah itu Risma dan saya ke pasar untuk beli jajan. Salah satu tetangga bertanya, “kucing putih ndak kucingmu mba Risma?” tanyanya. “Oh, Cindil,” jawab Risma. Saya tidak terpikir kalau Cindil warna dominannya adalah putih. Saat kami tengok, Cindil sudah dibungkus baju dan mau dikuburkan ke pinggir kali, sama dengan Pipi. Sempat melihat wajah Cindil yang mulutnya sudah kaku. Kami mengikuti pebguburan Cindil di pinggir kali yang cukup derasa alirannya. Hanya bisa mengiringi. Rasanya berat melanjutkan perjalanan ke pasar. Perasaan campur aduk saat membeli alpukan dan pentol bakso.

Teriakan Wau

Tangispun tidak bisa saya hindari. Wajah Cindil yang menenangkan, pandangannya yang tajam sangat bersisa di ingatan. Itu juga yang membuat Cindil bukan sekedar hewan peliharaan, tapi punya jiwa yang ingin bicara dan dikasihani. Isak tangis kepergian Cindil mungkin lebih mendalam, ada perasaan bersalah tidak bisa mendekapnya di waktu-waktu terakhir dia mulai merintih benar-benar kesakitan. “wau,” adalah teriakan terakhirnya. Kedengarannya seperti bahasa Jawa, yang artinya sakit. Kehilangan dan penyesalan tidak buru-buru mencekokinya dengan air garam.

Konfirmasi Teman Dokter Hewan

Perasaan bersalah itu saya coba teruskan ke salah seorang teman yang profesinya dokter hewan. Saya menanyakan terkait kucing yang keracunan dan muntah lalu meninggal, tentang apa yang terjadi dengan Pipi kalau memang benar di keracunan tikus yang dia makan. Katanya, kemungkinan selamatnya sangat kecil kalau makan tikus yang diracuni. Namun kalau kucing yang muntah tapi belum tahu sebabnya apa, ini juga cukup membingungkan. Tapi kalau muntah karena satu rangkaian sakit, cukup diberi air dan gula sebagai penawarnya. Kondisi Cindil yang muntah berturut-turut selama dua jam, kalaupun saya cekokin air garam juga belum tentu selamat. Kemungkinan memang perlu dirujuk ke dokter hewan yang mana di desa belum ada klinik hewan dan harus ke Kota sekitar 40 menit dengan laju pelan.

Dear Cindil dan Pipi, terima kasih sudah menjadi hewan yang indah buat kami. Melepas kepergian kalian cukup melibatkan emosi yang menyisakan sesak. Tapi kehidupan terus berjalan. Tidak pernah ada rasa menyesal sedikitpun tinggal satu atap bersama kalian. Keceriaan dan kejailan akan tetap abadi terkenang. Kebahagiaan yang kami rasakan terus mengalir jika mengingat waktu indah yang tercipta bersama.Kini Cindil sudah menyusul Pipi, tertinggal Popo yang mulai aktif bermain dan bertumbuh kembang.

Demak, 1 Febuari 2021

PACARAN ALA MILENIAL YANG MERESAHKAN

Istilah pacaran tentu sudah tidak asing lagi bukan? Lalu apa pengertian dari pacaran? mari kita bahas. Pacaran ala milenial merupakan suatu hubungan yang senang memproklamirkan cinta di media social seperti Instagram, Facebook, WhatsApp dan masih banyak lagi. Mereka memamerkan kisah cinta mereka lewat sejumlah postingan. Generasi milenial kerap diucap bagaikan generasi yang sangat terbuka, bahagia akan kepraktisan, serta berani mengambil dampak kedepannya. Generasi ini diduga tidak mempunyai kedekatan terhadap orang tua, sehingga kehabisan tuntunan dalam menjalin ikatan yang positif. Mereka beranggapan bahwa pacaran adalah simbol kedewasaan. Ini bisa dilihat dari banyaknya generasi remaja yang berlomba-lomba untuk mencari pasangan yang tampan ataupun cantik agar bisa dikatakan ‘’keren’’. Bahkan melakukan hubungan intim mereka anggap sebagai sebuah prestasi. Ini sangat miris sekali. Dikala jatuh cinta, pastinya tiap orang akan melakukan yang terbaik demi orang yang dicintainya. Tetapi kerap kali aksi yang dicoba bisa kelewatan sampai merugikan diri sendiri. Apabila ini dilakukan terus menerus dalam jangka panjang, maka akan memberikan dampak yang berbahaya.

Tren pacaran sekarang sudah melekat di Indonesia. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak dibawah umur kini sudah aktif menjalin hubungan percintaan. Mirisnya lagi, anak SD zaman sekarang punya nama panggilan kesayangan seperti ‘’mama papa’’. Selain itu ada anak SMP yang model pacaranya cenderung berlebihan seperti pelukan dan ciuman tanpa malu diruang publik.  Mereka yang seharusnya belajar, berdiskusi dengan temannya, menghabiskan waktu dengan keluarga, kini sudah bersikap acuh akan hal itu. Tentunya ini menjadi teguran juga buat para orang tua untuk mendidik anaknya agar bisa menjadi lebih baik lagi serta membatasi pergaulan anaknya di lingkungan yang sehat. Orang tua juga harus memberikan pendidikan seksual yang cukup, terutama anak SD atau yang dibawah umur supaya mereka tahu batasan-batasan mana yang dilarang. 

Pengertian pacaran menurut beberapa ahli:

  1. Menurut Bowman (1978) pacaran adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan yang belum disahkan dan memberikan pengaruh timbal balik untuk ke jenjang yang lebih serius.
  2. Menurut Benokraitis (1996) pacaran yaitu proses bertemu lawan jenis yang bertujuan untuk menjajaki untuk dijadikan pendamping hidup.
  3. Menurut Reiss (1985), pacaran merupakan hubungan keintiman antara pria dan wanita.

Pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pacaran ala millenial adalah suatu aktivitas yang disertai keintiman yang tujuannya sebagai pertimbangan sebelum pernikahan.

Perbedaan Gaya pacaran zaman millenial dan zaman dulu

Dalam sebuah percintaan tentunya beda generasi beda juga gaya pacarannya. Orang tua kalian pasti pernah bercerita tentang pengalaman cintannya. Atau bisa jadi, kalian yang bertanya langsung ke orang tua mengenai hal ini. Dari situ tentunya bisa mengetahui perbedaan gaya pacaran milenial dengan zaman dulu. Pada zaman dulu tahun 90an ketika mereka jatuh cinta, maka akan saling berkirim surat, mesra dengan sang pacar dengan uang yang cukup, dan romantis ke pasangan dengan membacakan puisi cinta dan bunga.  Beda dengan pacaran ala milenial sekarang, ketika jatuh cinta mereka saling menelfon atau video call sebagai tanda peduli, mengeluarkan uang yang cukup besar karena biaya hidup yang mahal, romantisnya melalui video atau postingan pacar di sosial media. Selain itu gaya pacaran ala milenial akan mengganti bio media sosialnya ketika sudah putus. Sebagian orang yang telah putus cinta beranggapan bahwa mantan adalah musuh.  Sering sekali saya mendengar tentang mantan yang di jelek-jelekkan. Mungkin mereka lupa jikalau mereka juga pernah membahagiakan dan dibahagiakan. Tapi tidak sedikit juga yang bisa berteman baik dengan mantan. Masih bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan menjadi sahabat akrab. Tidak ada permusuhan.

Faktor penyebab pacaran

Pacaran ala millennial dipengaruhi oleh globalisasi yang tidak bisa dibendung. Salah satu yang sangat mempengaruhi adalah Internet. Oleh karena itu, generasi milenial mendapatkan suatu dorongan dengan mencontoh budaya kebarat-baratan seperti konsumtif dan hedonisme. Mereka meniru para idola mereka yang sering mengunggah foto mesra bersama pasanganya. Perlu ditekankan kembali, bahwasannya kita berbeda dengan artis. Tujuan artis itu sendiri adalah mencari sensasi, jika tidak ada sensasi, maka pamornya akan turun. Yang kedua yaitu pergaulan yang tidak bisa dikendalikan akan menimbulkan kekecewaan. Pergaulan yang buruk akan menyebabkan sikap jauh lebih buruk dan sebaliknya.  Karena, teman dari kalangan tertentu memiliki tren hidup tertentu pula. Jadi, generasi milenial harus bijak dalam memilih pergaulan.

Tahapan-tahapan dalam berpacaran berdasarkan aktivitasnya:

  1. Tahap ini di awali dengan berkenalan di media sosial, lalu timbullah perasaan saling menyayangi dan akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan pacaran. Mereka biasanya malu-malu dengan sekedar menatap mata saja.
  2. Selanjutnya, mereka janjian bertemu untuk melepas rindu. Biasanya mereka hanya sekedar jalan-jalan sambil bercerita. Mereka memberanikan diri untuk bergandengan sewaktu berjalan sembari menikmati pemandangan.
  3. Di tahap ketiga. Mereka tidak sungkan untuk berpelukkan mesra.
  4. Lebih tinggi lagi setelah berpelukan, si cowok berani mencium si cewek. Dan si ceweknya pun mau-mau saja mungkin saking cintanya. Karena berpelukkan dan gandengan tangan sudah dianggap biasa. Oleh karena itu dia mencoba sesuatu yang lebih romantis lagi.
  5. Lebih ekstrim lagi jika nafsu sudah tidak terbendung lagi mereka mencari tempat yang jauh dari pemukiman penduduk dan terjadilah hubungan seks. Ini sangat menyedihkan. Jikalau si wanita ini hamil di luar nikah dan tidak mau sang bayi terlahir dibumi maka muncullah inisiatif untuk mengaborsi janin. Sebenarnya yang lebih dirugikan adalah wanita. Kenapa? Dikarenakan wanita yang sering menanggung beban berat
  6. . Masa depan wanita akan hancur, merasakan sakit pasca melahirkan ataupun mengaborsi bayi, belom lagi jika si cowok tidak mau bertanggung jawab dan memilih kabur. Ini tentunya merusak psychologi wanita. Mereka tidak memikirkan dampaknya. Yang mereka fikirkan hanya untuk kesenangan dan kenikmatan sementara saja .

Gaya pacaran yang sehat

Sebagian dari mereka banyak yang menyebutkan pacaran ala mienial adalah suatu tahapan yang hanya sekedar main-main dan tidak mengharapkan keseriusan. Pelaku dalam tokoh ini sebagian dilakukan oleh generasi milennial yang masih SD sampai yang berumur 19 tahun. Beda lagi dengan yang berusia 20 tahun ke atas, yang pacarannya sudah fokus ke jenjang yang lebih serius. Keseriusan ini bisa dilihat dari gaya pacaran yang tidak terlalu diumbar, komitmen untuk jujur, saling mengerti, memahami, dan tentunya sudah mengenal sosok keluarga dekatnya yang akan menjadi pembuka pintu restu hubungan. Maka dari itu pacaran tidak hanya mencakup yang buruk saja, tergantung dari gaya pacarannya itu sendiri. Gaya pacaran yang sehat bisa ditandai dengan komunikasi yang terbuka atau tidak ada penghakiman diantara satu sama lain, bisa diajak kerja sama untuk saling mendukung, punya waktu masing-masing tanpa ada rasa cemburu, dan saling memotivasi pasangan untuk jadi lebih baik.

Stop pacaran, yuk putusin aja

Perlu diketahui bahwa pacaran juga tidak akan sehat selamannya, tentu ini bisa mengakibatkan beberapa masalah dalam hubungan yang menyebabkan rasa tertekan dan takut. Maka dari itu, sebaiknya hindari pacaran yang terlalu berlebihan. Padahal, kita sebagai umat muslim telah mengetahui adannya larangan zina. Zina adalah suatu perbuatan yang menyebabkan dosa besar. Tentunya kita harus menjauhi segala larangan tuhan dan menjalankan apa yang diperintahkan. Setiap manusia yang hidup tak luput dari kesalahan. Kemudian, apa yang harus kita lakukan untuk yang sudah terlanjur pacaran? Yaitu dengan cara bertaubat. Orang yang sudah bertaubat, insyaallah akan di ampuni oleh tuhan dengan syarat kembali ke jalan allah dan meninggalkan perbuatan yang berdosa seperti pacaran. Semoga orang-orang yang sedang pacaran di zaman milenial ini bisa segera sadar.

Sumber:

Umardini, Trinilo. “Tak Ada Panutan dari Orangtua, Bagaimana Gaya Pacaran ala Generasi Milenial?.”kaltim.tribunnews.com. 16 Agustus 2017. 20 November 2020.

Atikah, Inas. “Gaya Pacaran Anak Milenial.”kompasiana.com. 3 Februari 2020. 20 November 2020.

Cahya, “Gaya Pacaran Ala enerasi Milenial.”kompas.com. 16 Agustus 2017.

Potret Sore di Pare.

Dear potret sore di Pare.

Kamu, lapangan lebar dengan langit luas saat kepala ini menengadah ke atas. Di ruangku yang selama ini aku anggap cukup luas, ternyata kamu lebih luas. Dan masih ada banyak luas-luas lainnya.

Sungguh merugi. Bila seminggu ini aku merasa malas. Malas masuk kelas. Malas beraktifitas. Malas menembus batas. Malas berdialektika dengan rasa malas.

Tapi tidak untuk disesali. Aku sudah mencoba memperbaiki. Dan entah akan mengulangi. Dan ini cukup jadi bukti, tidak ada ruang kemalasan lagi.

Sebentar. Ada rasa yang ingin kusampaikan. Ada kekhawatiran. Meski sudah coba diyakinkan. Ada ketakutan. Meski sudah jelas takut hanya pada Tuhan. Sulit dijelaskan. Mungkin ini ujian kedewasaan.

“Adult is about responsibility”.

Tanggung jawab atas diri sendiri. Tidak ada lagi orang tua yang mengarahkan itu dan ini. Tidak ada lagi pak kyai yang rutin menyirami hati. Apapun itu, diri inilah yang akan ambil konsekuensi.

Lapangan langit yang luas. Keluasanmu belum seberapa. Masih ada ruang-ruang yang lebih luas lagi. Mengisi cerita orang-orang di bumi. Semoga ceritaku seminggu ini bisa jadi pengingat diri di kemudian hari. Ingatkan aku, wahai lapangan langit yang luas.

Stadion Candra Birawa

6 April 2019

Tiga Seleksi LPDP Afirmasi 2019

Ribet. Itulah kesan saya melihat orang-orang yang mendaftar LPDP. Tapi ternyata tidak. Tepatnya tanggal 15 Maret 2019, pengumuman LPDP tahap seleksi substansi muncul. Menunggu seharian. Periksa WA. Log in akun LPDP. Belum ada. Refresh lagi. Sampai info pengumuman muncul siang harinya.

index.jpg

Hanya ada tiga tahapan yang perlu diperhatikan.

1. Seleksi Administrasi

Di tahapan awal seleksi ini, ketentuan dokumen harus diperhatikan. Tahapan ini menjadi langkah awal menentukan langkah selanjutnya. Mulailah dengan membuat akun LPDP. Setalah dapat verifikasi akun, temen-temen bisa tau apa saja yang perlu dilengkapi di akun tersebut. Tidak menyangka kalau nilai Ujian Nasional SD, SMA dan SMA juga ditanyakan.

Membuat motivation letter dan study plan menjadi poin penting. Tiap jenis beasiswa LPDP ada fokusnya masing-masing. Contohnya di LPDP Afirmasi Santri, hal-hal yang disampaikan tidak akan lepas dari Santri dan Pondok Pesantren. Kontribusi harus jelas ke Pondok Pesantren. Juga dengan Study Plan, menjabarkan rencana studi di universitas tujuannya, negara tujuannya, dan akan belajar apa. Semua sudah harus ditulis. Juga kegiatan di luar kampus apa yang akan diikuti. Jika dirasa perlu, bisa sharing dengan dosen atau dengan awardee LPDP lainnya tentang kenapa harus S2 dan apa urgensinya. Tidak kalah penting adalah surat rekomendasi yang mana perlu unggah-ungguh karena pihak yang akan diminta surat rekomendasi biasanya lebih sibuk dari kita.

Jadi, persiapkan dokumen dengan matang sebagai langkah awal memasuki tahap seleksi berbasis komputer dan substansi.

2. Setelah Berbasis Komputer

20190129_172556-1602720469-e1554050173196.jpg

LPDP mengumumkan kelulusan tes sebelumnya lewat akun masing-masing. Kami diminta untuk mengikuti tahapan selanjutnya yaitu Seleksi Berbasis Komputer. Lokasi seleksi tahapan ini sudah temen-temen tentukan saat mengisi formulir di tahapan seleksi administrasi. Kebetulan, lokasi terdekat saya ada di Surabaya. Datang ke GKN II, para kandidat melaksanakan tiga tahapan seleksi yang dikerjakan dalam satu waktu.

  • Tes Potensi Akademik

Sebelum tes, vlogwalking bilang kalau TPA inilah penentu untuk lolos ke tes substansi dengan passing grade yang sudah ditentukan. Ternyata benar. TPA adalah kunci lolos seleksi Berbasis Komputer. Disamping dua tes lainnya juga ada pengaruhnya. Untuk PT tujuan Dalam Negeri (DN), skor TPA lebih dari sama dengan 150 sudah bisa lolos. Kalau yang PT tujuan Luar Negeri (LN), skor TPA lebih dari sama dengan 165 sudah bisa lolos ke tahapan selanjutnya. Artinya, dari 60 soal yang kalau benar masing-masing bernilai 5, kandidat DN minimal 30 soal dengan benar dan LN 33 soal dengan benar.

Apa saja yang perlu dipersiapkan? Belajar. Terdiri dari sinonim, antonim, matematika dasar yang mana bisa dipersiapkan pakai buku TPA berbasis OTO BAPPENAS.

  • Tes Kepribadian

Ada 60 soal berisi situasi yang harus anda tanggapi lewat 5 pilihan ganda. Tidak ada jawaban yang salah, yang ada manakah jawaban yang tepat. Karena setiap pilihan memliki nilai 1-5.

  • On the Spot Essay

Sesuai namanya, kandidat menulis esai sesuai dengan tema atau pernyataan dari sebuah wacana. Umumnya, belajar dari tema-tema on the spot essay tahun sebelumnya bisa jadi an instant way untuk update kabar Indonesia terkini selama kurun waktu satu tahun. Nah, yang mengambil kampus tujuan LN, sudah otomatis pakai Bahasa Inggris ya. Kalau yang univ luarnya Timur Tengah (LPDP Santri) yang melampirkan sertifikat bahasa asing TOAFL, bisa pakai bahasa Indonesia.

Dari ketiga tes di atas, semua dilakukan sekali duduk di depan komputer. Jadi perlu disiapkan stamina dan kondisi yang mapan. Dan, hasil skor TPA sebenarnya langsung muncul sesudah temen-temen menyelesaikan 60 soal. Namanya juga CBT atau Computer-based Test. Asyik kan tanpa menunggu lama-lama, kandidat akan tahu, mereka lolos seleksi berbasis kompter atau tidak. Semua hasilnya ditempel di papan pengumuman.

3. Seleksi Substansi

Saat saya berbagi dengan teman-teman saya terkait seleksi berbasis komputer, dalam hati saya yakin kalau saya akan lolos. Seperti apa yang tadi saya bilang, penentu masuk ke tahap ini adalah skor TPA. Tahapan ini adalah tahapan penuh kejutan, katanya. Banyak hal yang bisa saja terjadi di tahapan ini. Ada tiga jenis:

a. Verifikasi Dokumen

Persiapan semua dokumen asli yang kandidat sudah upload di tahap seleksi administrasi.

b. LGD (Leaderless Group Discussion)

Namanya juga leaderless, jadi tidak ada yang mengepalai. Semua punya status yang sama sebagai pelaku diskusi. Sesuai yang orang-orang katakan, di sini yang terpenting tidak mendominasi dan tidak rendah diri. Setiap pelaku diskusi harus bicara dengan porsi yang sama. Topik LGD disediakan secara on the spot yang dilengkapi dengan wacana, kemudian ada pertanyaan yang akan didiskusikan.

Walaupun nasehat untuk tidak mendominasi sudah menjamur, dalam praktikanya, ada saja ya anggota yang terkesan mendominasi. Di kelompok saya (yang sebelumnya sudah berkumpul di grup WA, berbagi dan bertemu langsung untuk sharing dan membangun chemistry) ada saja, pelaku diskusi yang naturally mempimpin diskusi. Dan yang terlihat lebih pasif, examiner meminta untuk dia bicara walaupun waktu sudah habis.

Terkait topik bisa upadate topik-topik seleksi sebelumnya dan topik-topik di tahapan berbasis komputer di on the spot essay.

c. Wawancara

Ini nih, yang bikin asam lambung naik karena saking nervous nya. Yang terpenting di sini adalah temen-temen bisa meyakinkan interviewer. Nah, ada beberapa tips agar bisa lolos tahapan ini:

1) Matangkan rencana kontribusi

Mau tidak mau, kontribusi ke depan harus jelas, harus relevan dengan pengalaman selama studi di PT sebelumnya, juga kegiatan yang sekarang harus ada kaitannya dengan kontribusi masa depan. PAST – PRESENT – FUTURE harus jelas dan saling berkesinambungan. Kalau belum? Silakan sambungkan dengan diplomasi bahasa yang rasional. Seorang tutor bercerita, ia butuh waktu tiga bulan lewat kontemplasi dan diskusi untuk menghasilkan satu kesimpulan kenapa dia harus melanjutkan s2 dengan jurusan itu dan universitas itu.

2) Matangkan rencana studi

Ini sangat terkait dengan poin pertama tadi. Kandidiat harus mantap dengan jurusan yang diambil. Juga harus tahu, akan belajar apa saja nantinya. Berapa sks yang diambil. Berapa lama akan ditempuh. Ini menandakan kesiapan bahwa kandidat siap menerima beasiswa dan melanjutkan kuliah.

3) Cari tahu list pertanyaan wawancara LPDP

4) Latihan wawancara dengan awardee

5) TOP (Tawakkal dan Optimis)

Sepuluh Bulanku di Kampung Inggris

Banyak sekali kenangan di tempat ini. Bagaimana hari-hari awalku berada di Pare, dengan suasana baru dan orang-orang baru. Belajar hal baru, dengan metode yang baru. Ada teman baru. Semangat baru. Inspirasi baru. Juga impian yang telah lalu, subur tumbuh terpupuk dengan suntikan orang-orang hebat di sekelilingku.

Aku bersyukur. Aku memilih jalanku. Dari kebosanan yang memuncak saat itu. Aku memutus pekerjaan lamaku. Mengundurkan diri dari masa bakti organisasiku. Pamit dengan bapak ibu nyai dari sekolah relijiusku. Berangkat dari rumah dengan kelabuku. Aku membuka sebuah lembaran baru untuk 10 bulanku.

Aku bertemu dengan tutor-tutorku. Orang-orang tua baruku. Ada yang mengajariku tentang kepekaan. Pentingnya kritis akan semua hal. Tentang ketakdziman. Mengekang ego. Menahan kebosanan. Menolak kemalasan. Memaksa kekompakkan. Dan menuntut kepekaan yang nyatanya implisit disampaikan.

Teman-teman seangkatanku. Mereka hebat. Dipertemukam dari banyak latar belakang dengan tujuan yang beragam, aku berusaha mengenal mereka meski kadang tak sempurna. Ada beda pemikiran, ketidakcocokan dan kekeliuran. Namun banyak hal manis yang tersimpan rapih di pikiran. Tentang kebersamaan. Kepedulian. Kekompakan. Kejayusan yang selalu diulang-ulang. Ah, teman seperjuangan.

Hingga sampai bertemu lebih banyak orang dari semua kalangan. Untuk memaksa perhatian. Melayani setiap keluhan. Membuat peraturan. Peka dengan pelanggaran. Berpindah dari yang bertingkat ke tempat kalangan konglongmerat hingga ke tempat yang tersembunyi rapat.

Bersyukur. Karena berbagi inipun membuka obrolan. Berlanjut ke pertemanan. Hingga lanjut persaudaraan. Meski selalu ada kurang. Tapi diri ini sungguh hebat menerima setiap tantangan. Menyesuaikan keadaan. Berupaya menyelesaikan permasalahan.

Patut berbangga. Lelah yang belum seberapa ini pasti akan terbayarkan. Dan akan terus bertemu dengan lelah-lelah lainnya di luar 10 bulan yang mengesankan dan mengajari banyak hal.

27/03/2019

To Learn is To Make Mistake

It was about 17 years ago, a girl named Wirdatul Aini was born. But people could call her Wirda for short. How happy Mr. And Mrs. Imam Syafii was. Now, she is navigating her dreams and getting the things in the name of to change the world.

Yeah, Wirda is me. I’m a girl whose sitting down at XII grade of Science. Everyday I always try to learn anything surround me. Going to school, helping my mom and going to bed. Those are the general activity I do everyday.

My parents are my heroes. Without them, we are nothing. They work everyday as hard as possible to expand our life. They have a pricipe that their children should get a good eduacation. My brother named Fatchullah Zarkasi. Now he’s 22 years old. He studies at IPRIJA Jakarta that actually it’s not what he wants. But, ALLAH has greater chances than someone plans. He lives with my uncle and I’m sure he is trying hard to be a better person. About my sister, she is Aula Risma whose sitting down at fifth grade of elementary school. She is 11 years old. I could say that she is a beautiful small girl. She is the one who always makes us laughing out loud in the middle of our works. But sometimes she is annoyed as a small kid.

I go to school everyday. There I can meet all people to share everything. Friend is a part of my life. We spend much of our time together. Sometimes it’s closer than others. What we feel as a person at the same age is matched of sharing together. There are many of topics we discuss in. Generally we discuss about the material and school assignment. But especially we share closer and closer to manifest our dreams.

Well, I’d like to tell some of people who inspire me a lot. First, she is Miss Khoeriyah. We often call her Miss Choey. She is a great woman. Absolutely she is smart and religous. About one thing I always remember of her that is her effort. It’s really started from zero. An entreupenership is her goal to achieve. To build a school is her golden dream she perchieves. Second, he is M. Luthfi Syamsudin. He opens my mind to move forward in getting a wish. Because if there is a will there is a way. So there should be a big dream to have bacause ALLah is the Lord of God who will give evrything for person who has a big dream to act. The last is Irsyad Muhammad. I know him from facebook when he chated on me first. I’m really envy with the things he has achieved. Started from the national award until an international competition he has joined. About one thing that make up my mind is his goal. Although he has intaken at NUS but he’ll Indonesian university to continue his study. I’m really happy to live with people whose higher than me. J

11 ‎April ‎2013, ‏‎4:15:44 in the morning

Getting bachelor degree is not a dream anymore

First and foremost, I thank to Allah Almighty for letting me graduate becoming Sarjana Sastra through such this way. Continuing my study after 3 years in Sekolah Vokasi (SV) UGM to this university has brought so many stories during 2 years of being a transfer student. This cannot be separated from people who are sent to me to be a part of this journey.

To my late mother, Kadar Wati, thank you for your support. Your permission letting me continue my study is one of your biggest gift you’ve ever given. Even though, your heart says no because your body wants me to be right beside you when you got sick. In fact, it is still my big sorry not to be with you while you’re dying. I want to say to you, “I already finish my bachelor degree!”

The next is my father. I can’t count how much his support on me, especially in tuition fee. He has accompanied me to far away places, to get what I want to achieve. He is an ambitious one to make sure all of her children get enough education. The reason for me to study is him. He deserves to get this bachelor degree. For my bro and sis, Mas Kasi and Risma, we will work together soon!

Also, I would like to thank to my lecturers of English Department UTY, Dr. R. Y. Radjaban, S.Pd. M.Hum., Dr. Eko S Humanika, M. Hum., Dr. Adnan Zaid, M.Sc., R. Bambang Edi Pramono MA., Dr. Tatit Hariyanti, M.Hum., Dr. Irwanto, MT., M.Pd., Novia Russilawatie, SS., M.Hum.,. Without your dedication, my way will not as great as like this. Also, your style of teaching have always carried memories. Furthermore, to the staff of UTY, thank you to teach me how to be patient and thorough of administration stuff. Hopefully all of the system will get much better based on technology as the motto of the university “smart in technology”.

Most importantly, none of this could happen without my family and friends at PP Inayatullah. Wise words and knowledge from Pak Kyai and Bu Nyai hopefully will be always implemented on ways of my life. Furthermore, mbak-mbak, thank you for your understanding through my self-discovery about these past four years. We pray, eat, laugh and sleep together. Sometimes, we adore same guy together. But remember, you, with your colors, blend on my color becoming a rainbow which will be remembered through the other days from now. You are a stories of mine that I will keep on. See you in another place and time, insyaAllah in His jannah.

Last but not least, Realia has become my workplace to fund my life. Of course, it is not only about money and stuff, but experiences, people and work life. How I can forget biking from campus hurriedly under the sunrise of noon in couples of minutes because I will have a class at 1 pm. New students are new characters, approaches and materials. A new coordinator is a new color. Mbak Martha and Bu Dias, I say thank you for being my great coordinators. Also for other teachers, you are great colleagues of mine. Realia, thank you for accepting me as your one of part time teachers for these past 2 years and a half. Hopefully, there will be many and many foreigners studying Bahasa Indonesia in your school.

Loves are sent to you all from me,

Wirda